KOMPETENSI KEPRIBADIAN KEPALA SEKOLAH

KOMPEENSI KEPRIBADIAN

    Ketika kita berbicara mengenai kepribadian, bahwa yang kita bicarakan bukan hanya seseorang memiliki pesona (charm), suatu sikap positif terhadap hidup, wajah yang tersenyum, atau seorang finalis  dalam kontes Miss Amerika tahun ini. Para psikolog memandang kepribadian sebagai suatu konsep dinamis yang menggambarkan pertumbuhan dan pengembangan dari system psikologis keseluruhan dari seseorang (Stephen P. Robbins,2001:50).

         Definisi yang paling sering digunakan dari kepribadian dikemukakan oleh Gordon Allport hampir 60 tahun yang lalu. Ia mengatakan bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis pada masing-masing sistem psikofisik yang menentukan penyesuaian unik terhadap lingkungannya .

   Tingkah laku manusia dipengaruhi oleh banyak faktor, baik yang datang dari dalam maupun dari luar . Sebagai pribadi, manusia perlu mengembangkan diri, agar dikemudian hari ia dapat tampil sebagai manusia yang mantap dan harmonis. Dalam mengembangkan diri, manusia harus menggunakan perasaan, budaya, kehendak pribadi dan mengembangkan hubungan yang serasi dengan lingkungan (Soemarno Sudarsono,1999).

      Dalam menjalankan tugas menejerial kepala sekolah dituntut memiliki  kompetensi kepribadian, kompetensi ini menuntut kepala sekolah memiliki (1)  integritas kepribadian yang kuat, yang dalam hal ini ditandai dengan konsisten dalam berfikir, berkomitmen, tegas, disiplin dalam menjalankan tugas, (2) memiliki keinginan yang kuat dalam mengembangkan diri sebagai kepala sekolah, dalam hal ini meliputi memiliki rasa keingintahuan yang tinggi terhadap kebijakan, teori, praktik baru, mampu secara mandiri mengembangkan diri sebagai upaya pemenuhan rasa ingin tahu (3) bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas, meliputi berkecenderungan selalu ingin menginformasikan secara transparan dan proporsional kepada orang lain mengenai rencana, proses pelaksanaan dan efektifitas program. (4) mampu mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan (5) memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin.

Muchith (2007) menjelaskan bahwa kompetensi kepribadian sebagai perangkat kemampuan dan karateristik personal yang mencerminkan realitas sikap dan perilaku dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari . Pengertian lebih sederhana disampaikan oleh Afandi (2008) yaitu kemampuan untuk menjadi teladan. Keteladanan ini menurut Sarimaya (2008:18) merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, sehingga menjadi  dan beraklak mulia.

Gumelar dan Dahyat mengemukakan bahwa kompetensi kepribadian setidaknya harus memuat pengetahuan tentang adat istiadat baik sosial maupun agama, pengetahuan tentang budaya dan tradisi, pengetahuan tentang inti demokrasi, pengetahuan tentang estetika, apresiasi dan kesadaran sosial, sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan serta setia terhadap harkat dan martabat manusia (Ranty : 2009).

Pengembangan pribadi secara mandiri dapat dilakukan dengan upaya sebagai berikut : (1) berupaya memahami secara mendasar dan komprehensif bahwa pengembangan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi orang lain dan beraklak mulia akan menjadi salah satu pilar pendidikan berkualitas (2) mengembangkan aspek-aspek kepribadian empatik dalam kehidupan sehari-hari, yang meliputi aspek –aspek sebagai berikut : pertama, respek dan spresiasi terhadap diri sendiri, artinya harus memiliki rasa harga diri yang kuat yang menyanggupkan berhubungan dengan orang lain  atas dasar hal-hal positif, kedua, kemauan yang baik, yang meliputi minat yang tulus, jujur terhadap kebahagiaan orang lain, rasa hormat, percaya, dan menghargai orang lain, serta menghindarkan memanfaatkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya pribadi. Ketiga, mengembangkan diri menjadi pribadi yang otonom melalui pengembangan hidup yang sesuai dengan kepribadiannya sambil terbuka untuk belajar dari orang lain, dan menginternalisasikan berbagai konsep  dengan kondisi  yang ada, keempat, berusaha menjadi teladan, dengan cara selalu mengontrol dan mengendalikan kesadarannya bahwa apa yang diberikan kepada orang lain , apa yang diucapkan dan dilakukannya bukan hanya diterima tetapi juga akan ditiru, kelima, beroriebtasi untuk tumbuh dan berkembang, dalam pengertian berusaha untuk terbuka guna memperluas cakrawala wawasaannya, dan berusaha untuk meningkatkan kualitas kepribadiannya.

DYP Sugiharto (2008:9) menyebutkan bahwa untuk mengembangkan pribadi di antaranya dapat dilakukan dengan: (1) mengembangkan kebiasaan hidup efektif, dalam hal ini bersikap dan berprilaku proaktif, yang maknanya lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Bersikap proaktif artinya bertanggungjawab atas perilaku kita sendiri (di masa lalu, sekarang, dan yang akan datang) dan membuat pilihan-pilihan berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai ketimbang pada suasana hati atau keadaan. Orang-orang proaktif adalah  pelaku-pelaku perubahan  dan memilih untuk tidak menjadi korban, untuk tidak bersikap reaktif, untuk tidak menyalahkan orang lain. Mereka melakukan ini dengan mengembangkan serta menggunakan pendekatan dari dalam ke luar untuk menciptakan perubahan. Mereka bertekad menjadi daya pendorong kreatif dalam hidup mereka sendiri, yang adalah keputusan paling mendasar (2) merujuk pada tujuan akir, segalanya diciptakan dua kali pertama secara mental, kedua secara fisik. Individu, keluarga, tim, dan organisasi, membentuk masa depannya masing-masing dengan terlebih dulu menciptakan visi serta tujuannya. Mereka bukan menjalani kehidupannya hari demi hari tanpa tujuan yang jelas dalam benak meraka. Secara mental mereka identifikasikan prinsip-prinsip, nilai-nilai, hubungan-hubungan, dan tujuan-tujuan yang paling penting bagi mereka sendiri dan membuat komitmen terhadap  diri sendiri untuk melaksanakannya. Suatu pernyataan misi adalah bentuk tertinggi dari komitmen terhadap diri sendiri untuk melaksanakannya. Pernyataan misi adalah keputusan utama, karena melandasi keputusan-keputusan lainnya. Menciptakan budaya kesamaan misi, visi dan nilai-nilai adalah inti dari kepemimpinan, (3) mendahulukan yang utama, yaitu penciptaan kedua secara fisik. Mendahulukan yang utama artinya mengorganisasikan dan melaksanakan, apa-apa yang telah diciptakan secara mental. Hal-hal sekunder tidak didahulukan. Hal-hal utama tidak dibelakangkan, individu dan organisasi memfokuskan perhatiannya pada apa yang paling penting, entah mendesak entah tidak. Intinya adalah memastikan diutamakannya hal yang utama, (4) berfikir menang, yaitu cara berfikir  yang berusaha mencapai keuntungan bersama dan didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi. Dalam kehidupan berkeluarga maupun bekerja, para anggautanya berpikir secara saling tergantung dengan istilah “ kita”, bukannya aku. Berpikir menang/menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan, (5) mewujudkan sinergi, yaitu menghasilkan alternatif ketiga, bukan caraku, bukan caramu, melainkan cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita masing-masing. Memanfaatkan perbedaan-perbadaan dalam menyelesaikan masalah, memanfaatkan peluang. Tim-tim serta keluarga-keluarga yang sinergis memanfaatkan kekuatan masing-masing individu secara keseluruhan lebih besar  mengesampingkan sikap saling merugikan.

Berupaya meningkatkan kualitas pribadi merupakan hal yang amat penting, peningkatan kualitas pribadi ini dari tingkat reaktif personality, proactive personality, independent personality, menuju spiritual personality (Sugiyarto, Nugroho, 2008:8). Reactive personality merupakan tingkatan kepribadian tercermin dari perilaku-perilaku yang sifatnya reaktif yaitu perilaku yang lebih bersifat spontan tanpa pertimbangan-pertimbangan nilai moral. Misalnya, tersinggung sedikit saja beraksi dengan memukul atau mengeluarkan kata-kata kotor tanpa timbangan apakah perbuatan itu sopan atau tidak, baik atau jelek, menyakiti hati orang lain atau tidak,  perilaku pribadi dalam tingkat kepribadian seperti ini lebih banyak dikendalikan gejolak emosional yang menuntut kepuasannya sendiri tanpa mempertimbangkan berbagai timbangan nilai. Proactive personality, merupakan tingkatan kepribadian yang ditandai oleh kemampuan melakukan hubungan timbal balik dengan berbagai aspek dalam dirinya sendiri dengan kendali emosi yang mantap.   Individu dengan tingkat kepribadian ini mempunyai kualitas keberdayaan sedemikian rupa sehingga mampu mewujudkan perilaku aktif dan terarah sesuai dengan tuntutan dirinya sendiri dan lingkungan. Tingkatan kepribadian ini disebut juga sebagai kepribadian yang dilandasi oleh “ emosional intelegensi “ yaitu kualitas kemampuan menampilkan kepribadian dngan kekuatan emosional yang mantap sehingga mampu mewujudkan perilaku yang sesuai dengan timbangan moral. Selanjutnya yang disebut dengan kepribadian interdependent personality adalah kepribadian yang ditandai oleh kemampuan individu untuk melakukan hubungan timbal balik secara sehat antara dirinya dengan orang lain dan lingkungan yang lebih luas. Perilaku individu dalam tingkatan kepribadian ini lebih banyak didasarkan atas timbangan moral. Oleh karena itu tingkatan kepribadian ini juga disebut sebagai moral intelligence atau kecerdasan moral.

Berdasarkan definisi-definisi diatas dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah integritas pribadi yang kuat, berkeinginan mengembangkan diri, terbuka dan minat dalam menjalankan jabatan sebagai kepala sekolah.

1 thought on “KOMPETENSI KEPRIBADIAN KEPALA SEKOLAH”

  1. terima kasih atas tulisanya sangat bermanfaat buat kami semoga menjadi berkah buat kita semua aimn

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.