KOMPETENSI

Penelitian Ana Brodley yang dikutip Nursito (2002 :12) menyimpulkan bahwa kompetensi kepala sekolah yang dapat diunjukkerjakan  merupakan 30 persen faktor yang menentukan mutu sekolah. Dalam praktek di Indonesia, kepala sekolah adalah guru senior yang dipandang memiliki kualifikasi menduduki jabatan itu. Biasanya guru yang dipandang baik dan cakap sebagai guru mata pelajaran kemudian diangkat menjadi kepala sekolah. Dalam kenyataan, guru yang tadinya berkinerja baik menjadi tumpul ketika menjadi kepala sekolah. Umumnya mereka memiliki kompetensi yang rendah dalam kepribadian, menejerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial, orang-orang seperti ini telah mencapai puncak inkompetensinya dan akan tetap disitu sampai pensiun, bayangkan nasib sekolah yang dipimpin orang seperti ini (Depdiknas, 2007:6).

Kompetensi kepala sekolah bukan hanya penting dalam kerangka tuntutan mutu sekolah tetapi juga makin disadari bahwa problem yang dihadapi kepala sekolah makin komplek seperti tuntutan pengadaan laboratorium multimedia, website sekolah, sms gateway yang membutuhkan komitmen dan kebersamaan seluruh komponen sekolah karena tidak mungkin seorang menguasai segala hal (word pers, 2008).

Manifest kompetensi seseorang yang terlihat dalam tindakan, tingkah laku dan unjuk kerja pada dasarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain (Marhis dan Jackson, 2006 : 113) : 1) kemampuan individual untuk melakukan pekerjaaan tersebut, 2) tingkat usaha yang dicurahkan dan 3)dukungan organisasi. Bakhtiar Effendi (2008) mengatakan bahwa kemampuan dan kualitas indvidu kepala sekolah yang berpengaruh terhadap kinerjanya akan terbentuk jika kepala sekolah mengusai tantangan, memiliki keinginan maju, memiliki keinginan mencapai tujuan dan menyelesaikan tugas dengan baik. Kualitas kepribadian ini juga teridentifikasikan dengan makin meningkatnya kepercayaan diri, tanggung jawab, keberanian mengambil keputusan, pengendalian emosi, kejujuran, panutan, kebesaran jiwa.

Kompetensi kepala sekolah sebagai manajer pendidikan sebenarnya berjalan seiring dengan kemampuannya dalam banyak hal, secara ideal harus mampu mensinergikan kemampuan manajemen dan kemampuan kepemimpinan secara simultan. Dalam kontek ini harus benar dipahami bahwa kepala sekolah bukanlah penguasa tunggal sekaligus bukannya pelayan tunggal, oleh karena itu harus mampu melaksanakan fungsi-fungsi manajemen (Sudarwin Danim dan Suparno,2009:7).

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 Tentang standar kepala sekolah disebutkan bahwa untuk diangkat menjadi kepala sekolah maka seseorang wajib memenuhi standar kepala sekolah. Standar ini dibedakan menjadi kualifikasi dan kompetensi. Standar kompetensi untuk kepala SMP terdiri dari lima kompetensi kepala sekolah, yaitu : kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi supervisi, kompetensi sosial. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tersebut dinyatakan bahwa dalam hal kualifikasi jelas tercantum bahwa untuk menjadi kepala sekolah SMP maka harus memiliki sertifikat kepala sekolah. Dengan ketentuan tersebut bermakna bahwa kepala sekolah yang telah memiliki sertifikat kepala sekolah akan memiliki kompetensi yang lebih baik, dibanding yang belum memiliki sertifikat.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kompetensi kepala sekolah, diantarannya adalah Penilaian Kinerja kepala sekolah (PKKS) atau dengan Kegiatan Monitoring dan Evaluasi (ME), pelatihan dan sejenisnya  (Umaidi, 2000:8),  namun kenyataan dilapangan masih banyak sekolah yang prestasi belajarnya rendah, guru dan siswa kurang disiplin, kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran rendah serta lambannya pelayanan dari staff terhadap siswa. Masalah-masalah ini merupakan cerminan kurannya kemampuan kepala sekolah dalam memberdayakan staffnya, disamping rendahnya etos kerja komunitas sekolah secara keseluruhan, kepala sekolah seharusnya mampu mengelola semua sumber daya yang ada di sekolah secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan (Sudarwan Danim dan Suparno, 2009 :vii).

2.1  Kompetensi  Kepala Sekolah Kompetensi memainkan peran kunci dalam mempengaruhi keberhasilan kerja, terutama dalam pekerjaan – pekerjaan yang menuntut sungguh-sungguh inisiatif dan inovasi. Kompetensi  dipahami berkaitan dengan pentingnya hasrat untuk menguasai orang lain, dan secara lebih luas berkaitan dengan menciptakan peristiwa dan bukan sekedar menanti secara pasif, hasrat ini disebut motif kompetensi. Dalam diri orang dewasa motif kompetensi ini sangat mungkin muncul sebagai suatu keinginan untuk menguasai pekerjaan dan jenjang profesional. Oleh karena itu motif kompetensi ini banyak berkaitan dengan penemuan Hersberg yakni, bahwa kepuasan paling lama dari para akuntan dan insinyur berasal dari pemecahan masalah-masalah tehnis yang sulit. Menurut  Robert W. White motif kompetensi ini berkembang sejak anak-anak hingga dewasa (Saul W. Gellerman,1984:135 ). Charles E.Khnson dalam Moh.User Usman yang ditulis dalam Buletin PPPG edisi Nopember 2000 menyebutkan bahwa “Competency is rasional perfomance which satisfatory meets the objective for desired condition”. Bahwa kompetensi merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Dengan demikian, dapat disampaikan bahwa kompetensi atau kemampuan dapat dipandang dari dua kontek, pertama sebagai indikator kemampuan yang menunjuk kepada perbuatan yang bisa diamati. Kedua sebagai konsep, yang meliputi aspek kognitif, afektif, perbuatan (performance).

Pengertian sederhana yang mendasar dari kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan (Syah,2000:229). Kemampuan atau kecakapan yang dimaksudkan dalam kompetensi itu menunjuk kepada satu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik kemampuan atau kecakapan kualitatif maupun kuantitatif (Usman,1994:1). Lebih rinci  McAhsan (1981:45) mengemukakan bahwa kompetensi: “…is a knowledge, skills, and abilities or capabilities that a person achieves, which become part of his or her being to the extent he or she can satisfactory perform particular cognitive, affective, and psychomotor  behaviors”. Dalam hal ini kompetensi  berarti juga kemampuan  (ability ) merupakan kapasitas seorang individu untuk mengerjakan  berbagai tugas dalam pekerjaan (Stephen P. Robbin, 1996 :82). Kemampuan pada hakekatnya tersusun dari dua perangkat faktor yakni kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan mental. Setiap jenis pekerjaan menuntut kemampuan intelektual yang berbeda-beda. Sedangkan kemampuan fisik adalah kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas yang memerlukan stamina, kecekatan, kekuatan, dan ketrampilan serupa. Kemampuan intelektual dan fisik kusus diperlukan untuk kinerja yang memadai tergantung persyaratan kemampuan dari pekerjaan itu. Jika  para karyawan kekurangan kemampuan  yang dipersyaratkan kemungkinan mereka akan menemui kegagalan dalam menjalankan tugas, sebaliknya jika kemampuan berada jauh di atas yang disyaratkan kemungkinan dapat mengurangi kepuasan kerja dan apabila karyawan berhasrat menggunakan kemampuannya akan diperoleh frustasi atau ketidakpuasan. Merupakan suatu kenyataan bahwa setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Implikasi dari kenyataan tersebut bagi kehidupan organisasi adalah setiap orang memiliki kelebihan tertentu dan sekaligus kekurangan tertentu dibandingkan orang lain di organisasi tersebut. Kesesuaian pekerjaan-kemampuan dalam kontek kinerja karyawan penting untuk dipelajari, bahwa pekerjaan-pekerjaan mengajukan tuntutan yang berbeda-beda terhadap porang dan bahwa orang memiliki kemampuan yang berbeda. Oleh karena itu kinerja karyawan ditingkatkan bila ada keseuaian antara pekerjaan dengan kemampuan. Kemampuan intelektual atau fisik khusus yang diperlukan untuk kinerja yang memadai pada suatu pekerjaan, bergantung pada persyaratan kemampuan yang diminta. Jadi, misalnya , pilot pesawat terbang memerlukan kemampuan visualisasi-ruang yang kuat; penjaga keselamatan pantai memerlukan baik visualisasi ruang yang kuat maupun koordinasi tubuh; eksekutif senior memerlukan kemampuan verbal; pekerja konstruksi bangunan-tinggi memerlukan keseimbangan; dan wartawan dengan kemampuan penalaran yang lemah kemungkinan besar akan mendapat kesulitan dalam memenuhi standart  kinerja pekerjaan yang minimum .

Ranupandoyo dan Husnan (1995:155) mengidentikan kemampuan dengan ketrampilan kerja yang berbentuk dari pendidikan dan latihan serta pengalaman kerja. Keith Davis (dalam Anwar, 2000:67) membedakan kemampuan dengan ketrampilan.

Kompetensi merupakan perpaduan dari penguasaan pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak pada sebuah tugas/pekerjaan. Kompetensi juga merujuk pada kecakapan seseorang dalam menjalankan tugas dan tanggung-jawab yang diamanatkan kepadanya dengan hasil baik dan piawai/mumpuni  (Margono,2003).

Kompeteni dapat dipilah menjadi 3 aspek. Ketiga aspek yang dimaksud adalah: (1) Kemampuan, pengetahuan, kecakapan, sikap, sifat, pemahaman, apresiasi dan harapan yang menjadi penciri karakteristik seseorang dalam menjalankan tugas, (2) Penciri karakteristik kompetensi yang digambarkan dalam aspek pertama itu tampil nyata (manifest) dalam tindakan, tingkah laku dan unjuk kerjanya, dan (3) Hasil unjuk kerjanya itu memenuhi suatu kriteria standar kualitas tertentu.

Aspek pertama sebuah kompetensi menunjuk pada kompetensi sebagai gambaran substansi materi ideal yang seharusnya dikuasai atau dipersyaratkan untuk dikuasai oleh seseorang dalam menjalankan pekerjaan tertentu. Substansi materi ideal yang dimaksud meliputi: kemampuan, pengetahuan, kecakapan, sikap, sifat, pemahaman, apresiasi dan harapan-harapan penciri karakter dalam menjalankan tugas. Dengan demikian seseorang dapat dipersiapkan atau belajar untuk menguasai  kompetensi tertentu sebelum ia bekerja.

Aspek kedua kompetensi merujuk kepada gambaran unjuk kerja nyata yang tampak dalam kualitas pola pikir, sikap dan tindakan seseorang dalam menjalankan pekerjaan secara mumpuni. Seseorang dapat berhasil menguasai secara teoritik seluruh aspek material kompetensi yang diajarkannya dan dipersyaratkan, namun begitu jika dalam praktek sebagai tindakan nyata saat menjalankan tugas atau pekerjaan tidak sesuai dengan standar kualitas yang dipersyaratkan maka ia tidak dapat dikatakan sebagai orang yang berkompeten, tidak mumpuni atau tidak  piawai.

Aspek ketiga merujuk pada kompetensi sebagai hasil ( output dan atau outcome)  dari unjuk kerja berpiawaian. Kompetensi seseorang mencirikan tindakan, berlaku serta mahir dalam menjalankan suatu tugas untuk menghasilkan tindakan kerja yang efektif dan efisien. Hasil tindakan yang efektif dan efisien merupakan produk dari kompetensi seseorang dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya. Kefektifan ini utamanya dinilai dari pihak luar dirinya. Sehingga ditinjau dari unjuk hasil kerjanya , pihak lain dapat menilai seseorang apakah dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya  apakah berkompeten, efektif dan terkesan profesional atau tidak.

Dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 045/U/2002 disebutkan bahwa kompetensi sebagai  seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu

Sedangkan Sugiharto dan Nugroho (2008:3) menyebutkan bahwa kompetensi adalah pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Kompetensi merupakan kebulatan penguasaan, ketrampilan, dan sikap yang ditampilkan melalui unjuk kerja.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kompetensi kepala sekolah adalah seperangkat kemampuan yang harus ada dalam diri kepala  sekolah, agar dapat mewujudkan penampilan  unjuk kerja sebagai kepala sekolah .

Dalam Pasal 38 Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 Tentang Standart Nasional Pendidikan telah ditetapkan kriteria untuk diangkat menjadi kepala sekolah, namun belum secara jelas memerinci standart kompetensi dalam perilaku yang dapat diamati, sehingga belum dapat diukur dengan baik, padahal kenyataannya kompetensi ini tidak dapat secara langsung diukur, oleh karena itu diperlukan ukuran kinerja yang fungsinya untuk mengukur kadar kompetensi kepala sekolah. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no 13 tahun 2007 tanggal 17 April 2007 kompetensi kepala sekolah juga belum secara jelas mencamtumkan ukuran kinerja, yang ada adalah penjabaran dari dimensi kompetensi ke kompetensi- kompetensi yang dapat dikembangkan kearah ukuran kinerja .  Ukuran kinerja ini dapat dipakai untuk mengetahui kadar kompetensi kepala sekolah dan bahkan kebutuhan pelatihannya. Selain itu, untuk keperluan penyiapan dan pengembangan kepala sekolah, dalam setiap kompetensi dan ukuran kinerja masing-masing, diperlihatkan jenis pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan (Sarjilah,2008).

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.