Kompetensi Kewirausahaan

Istilah kewirausahaan atau sering disebut wiraswasta, merupakan terjemahan dari istilah entrepreneurship. Istilah tersebut pertama kali dikemukakan oleh Ricard Cantillon, orang Irlandia yang berdiam di Perancis, dalam bukunya yang berjudul Essai Bar la Nature du Commercen,tahun 1755 (Depdiknas 2004). Dilihat dari segi etimologis, wiraswasta, merupakan suatu istilah yang berasal dari kata-kata “wira” dan “swasta”. Wira berarti berani, utama, atau perkasa. Swasta merupakan paduan dari kata “swa” dan “sta”. Swa artinya sendiri, sedangkan sta berarti berdiri. Dengan demikian maknanya menjadi berdiri menurut kekuatan sendiri. Jadi yang dimaksud dengan wiraswasta adalah mewujudkan aspirasi kehidupan mandiri dengan landasan keyakinan dan watak yang luhur.

Kewirausahaan dicirikan dengan :

-       Mempunyai kepribadian yang kuat, tanda manusia yang berkepribadian kuat adalah memiliki moral yang tinggi. Manusia yang bermoral tinggi bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

-       Memiliki sikap mental wirausaha, manusia yang bermental wiraswasta memiliki kemauan keras untuk mencapai tujuan dan kebutuhan hidupnya. Setiap orang mempunyai tujuan dan kebutuhan tertentu dalam hidupnya, sikap mental ini juga dicirikan dengan sifat kejujuran yang tinggi dan bertanggung jawab.

-       Memiliki kepekaan terhadap arti lingkungan, artinya manusia yang berjiwa wirausaha harus dapat mengenal lingkungannya, karena dengan ini manusia akan dapat mendayagunakan lingkungan secara efisien bagi kepentingannya.

-       Memiliki ketrampilan wiraswasta, untuk dapat menjadi manusia wiraswasta diperlukan beberapa ketrampilan seperti : ketrampilan berfikir kreatif, ketrampilan dalam kepemimpinan manajerial, ketrampilan dalam bergaul sesama manusia.

-       Memiliki kemampuan untuk mencari informasi, dalam realita sering terjadi kekurang berhasilan dalam berwiraswasta disebabkan karena keengganan untuk mencari informasi tentang beberapa hal yang menyebabkan mengapa suatu usaha dapat berhasil. Banyak wiraswasta yang dalam menjalankan usaha hanya apa adanya. Mereka pada umumnya hanya menjalankan apa yang sudah ada walaupun dalam kenyataan usaha tersebut tidak mengalami perkembangan.

Sikap entrepenur ini sangat penting, menurut  Charly Bhukori ( 2006) suatu kesuksesan memiliki banyak dimensi dan variasi tolok ukur. Beberapa dari kita meyakini bahwa entrepenur yang sukses berdimensi luas, ada yang mengaitkan dengan finansial, jabatan, predikat dari kolega dan khalayak atas prestasinya, namun dari berbagai definisi tolok ukur satu hal yang dapat disimpulkan adalah bahwa kesuksesan merupakan pencapaian impian melalui sebuah proses terstruktur dan terencana.

Jenni S. Bev (dalam Charly Bhukori:2006) seorang konsultan,   entrepenur sukses menyatakan bahwa ada sepuluh unsur kepribadian sukses yang berkaitan dengan kewirausahaan ini meliputi : (1) keberanian untuk berinisiatif, kekuatan yang sebenarnya tidak lagi menjadi rahasia kesuksesan orang terkenal yaitu orang yang selalu punya ide cemerlang, tetapi semua ortang sebenarnya memiliki inisiatif dan inisiatif menjadi kekayaan semua orang, tinggal orang tersebut mau atau tidak mengemukakan ide-idenya, (2) tepat waktu, satu hal yang semua orang menghadapi dunia ini adalah bahwa waktu kita adalah 24 jam. Seorang yang menepati janji dan tepat waktu menunjukkan bahwa dia adalah orang yang memiliki kemampuan mengatur waktu, kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua keberhasilan, terutama keberhasilan dalam berbisnis dan berinteraksi. Memberikan perhatian lebih kepada waktu adalah pencerminan dari respek kita terhadap diri dan orang lain, (3) senang melayani dan memberi, sebuah rumus sukses dari banyak orang sukses adalah mampu memimpin yang didalamnya terkandung makna malayani dan memberi. The more you give to others, the more respect you get in return. Dan, keiklasan adalah kunci untuk kesuksesan ini, kebaikan lain akan terus mengalir tanpa henti saat kita mampu memberi dan melayani dengan iklas. Ini mungkin bisa dibilang sebagai efek saja, tetapi setidaknya akan menunjukkan kepada teman dan sahabat bahwa betapa suksesnya diri kita  sehingga membuat orang lain menjadi bersemangat bermitra dengan kita (4) membuka diri terlebih dahulu, rasa percaya dan kebesaran hati untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman dengan diri sendiri, sehingga tidak perlu menutupi dengan orang lain (5) senang bekerjasama dan membina hubungan baik, kemampuan bekerjasama ini adalah salah satu kunci sukses sebab selain secara internal akan berdampak kokohnya hubungan dalam sekolah/group juga secara eksternal memperkokoh kepercayaan orang lain terhadap kita (6)  senang mempelajari hal-hal baru telah menginspirasi Ciputra dan Aburizal Bakri, mereka mendirikan universitas dan tidak kemudian menjadi pengajar, kemampuan ini makin membuka peluang bisnis, entrepenur sejati terus meluncur pada kemungkinan- kemungkinan baru (7) jarang mengeluh, profesionalisme adalah paling utama, berkenaan dengan ini Lance Amstrong mengatakan bahwa hanya ada dua hari yakni hari yang baik dan hari yang sangat baik. Adalah baik bagi kita jika tak pernah mengeluh, walaupun mungkin suatu hari kita akan gagal dan jatuh, adalah kesempatan bagi kita untuk belajar mengatasi masalah (8) berani menanggung resiko, jelas tanpa ini tidak ada kesempatan untuk sukses. Sebenarnya setiap hari  kita menanggung resiko, walaupun kadang tidak sepenuhnya kita sadari, resiko hanya berakibat dua hal yakni menjadi hari baik atau menjadi hari yang sangat baik, (9) tidak menunjukkan kekawatiran atau dengan kata lain adalah berpikir positif, dengan pikiran positif maka perbuatan kita akan didasarkan pada getaran energi positif, sehingga hal positif akan menjadi makin besar, semakin positif menyikapi hambatan maka semakin besar menemukan pemecahan masalah (10) menjadi diri sendiri, orang sukses tidaik menutupi dirinya sendiri baik dengan hal buruk maupun dengan kebohongan, kenyamanan menjadi diri sendiri adalah mindset yang penting. 

Sedang menurut Meredith dalam Suprobo Pusposutardjo (1999), memberikan ciri-ciri wirausaha (entrepenuer) sebagai orang yang (1) percaya diri, (2) berorientasi tugas dan hasil, (3) berani mengambil resiko, (4) berjiwa kepemimpinan, (5) berorientasi ke depan, dan (6) keorisinilan.

Pentingnya kewirausahaan ini juga berkaitan dengan tantangan persaingan antar sekolah dimasa mendatang, dijelaskan bahwa ketika pasar bebas benar-benar telah dilaksanakan tanpa kendali termasuk pendidikan maka sekolah-sekolah di Indonesia tidak hanya berkompetisi dengan sekolah-sekolah luar negeri seperti Singapura, Malaysia dan Australia yang begitu menarik banyak anak bangsa tetapi juga sekolah-sekolah yang luar negeri yang kemungkinan akan membuka cabang atau agen di Indonesia, belum lagi ketika berbicara mengenai persaingan antar manajer sekolah terutama antara manajer dalam negeri dengan manajer dari luar negeri . Pada sisi lain tantangan dan perkembangan lingkungan strategis baik nasional maupun internasional dalam berbagai bidang juga makin berat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi dan komunikasi saling berkait dengan kemampuan kewirausahaan di jaman sekarang (Indra Djati Sidi : 2001 :13).

Salah satu aplikasi manajemen pendidikan, teriutama manajemen berbasis sekolah dan dikaitkan dengan kewirausahaan ini adalah secara ekonomi mampu mendorong masyarakat, khususnya orang tua siswa, untuk menjadi fondasi utama operasi sekolah, mengingat pendidikan persekolahan itu tidak gratis ( education is not free ). Persoalan pembiayaan pendidikan  ( Sudarwan Danim dan Suparno, 2009 :141) bukan terletak pada gratis  atau tidak, melainkan siapa yang membayar ? secara akademik , masyarakat akan melakukan fungsi kontrol sekaligus pengguna lulusan. Disinilah akuntabilitas sekolah teruji. Secara proses, masyarakat berhak mengkritisi kinerja sekolah dan kepala sekolah agar lembaga milik publik ini tidak keluar dari tugas pokok dan fungsi utamanya. Artinya, dengan MBS adalah keniscayaan bagi masyarakat untuk menjadi fondasi sekaligius tiang penyangga utama pendidikan persekolahan yang berada pada radius tertentu dimana msyarakat itu bermukim.

Berbicara wirausaha menurut  Hisrich dan Peters (1992)  adalah berbicara mengenai perilaku, yang mencakup pengambilan inisiatif, mengorganisasi dan mereorganisasi mekanisme sosial dan ekonomi terhadap sumber dan  situasi  ke dalam praktek, dan penerimaan resiko kegagalan. Para ahli ekonomi mengemukakan bahwa wirausaha adalah orang yang dapat meningkatkan nilai tambah  terhadap sumber tenaga kerja, alat, bahan dan aset lain  serta orang yang memperkenalkan perubahan, inovasi dan cara-cara baru ( Mulyasa,2007:179).

Berwirausaha disekolah berarti memadukan kepribadian, peluang, keuangan, dan sumber daya yang ada di lingkungan sekolahan guna mengambil keuntungan. Kepribadian ini mencakup pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan perilaku  (Steinhoff (1993). Dalam kontek realitas di sekolahan maka kepala sekolah harus mampu menafsirkan berbagai kebijakan dari pemerintah sebagai kebijakan umum, sedangkan operasionalisasi kebijakan tersebut untuk mencapai hasil yang maksimal perlu ditunjang oleh kiat-kiat kewirausahaan. Misalnya jika dana bantuan dari pemerintah terbatas sedangkan suatu kegiatan harus tetap dilaksanakan atau diadakan maka kepala sekolah harus mampu menggali potensi sumber dari masyarakat dan orang tua siswa.

Mulyasa (2007:180) menggarisbawahi bahwa dalam kontek MBS sekolah akan menjadi unit layanan masyarakat yang sangat diperlukan, oleh karena itu, kepala sekolah harus mampu meningkatkan kualitas sekolah. Jika kualitas sekolah baik, masyarakat, terutama orang tua  akan bersedia berperan aktif di sekolah, karena yakin anaknya akan mndapat pendidikan yang baik. Di sanalah pentingnya pribadi wirausaha kepala sekolah, untuk mencari jalan meningkatkan kualitas sekolah agar masyarakat dan orang tua percaya terhadap produktifitas sekolah dan mau berpartisipasi dalam berbagai program sekolah.

Dari beberapa definisi diatas maka kompetensi kewirausahaan dalam penelitian ini adalah kemampuan kepala sekolah dalam mewujudkan aspirasi kehidupan mandiri yang dicirikan dengan kepribadian kuat, bermental wirausaha. Sedangkan jika ingin sukses dalam mengembangkan program kewirausahaan di sekolah, maka kepala sekolah, tenaga kependidikan baik guru maupun non guru dan peserta didik  harus bisa secara bersama memahami dan mengembangkan sikap kewirausahaan sesuai dengan tugas masing-masing.

Kompetensi Kewirausahaan

Istilah kewirausahaan atau sering disebut wiraswasta, merupakan terjemahan dari istilah entrepreneurship. Istilah tersebut pertama kali dikemukakan oleh Ricard Cantillon, orang Irlandia yang berdiam di Perancis, dalam bukunya yang berjudul Essai Bar la Nature du Commercen,tahun 1755 (Depdiknas 2004). Dilihat dari segi etimologis, wiraswasta, merupakan suatu istilah yang berasal dari kata-kata “wira” dan “swasta”. Wira berarti berani, utama, atau perkasa. Swasta merupakan paduan dari kata “swa” dan “sta”. Swa artinya sendiri, sedangkan sta berarti berdiri. Dengan demikian maknanya menjadi berdiri menurut kekuatan sendiri. Jadi yang dimaksud dengan wiraswasta adalah mewujudkan aspirasi kehidupan mandiri dengan landasan keyakinan dan watak yang luhur.

Kewirausahaan dicirikan dengan :

-       Mempunyai kepribadian yang kuat, tanda manusia yang berkepribadian kuat adalah memiliki moral yang tinggi. Manusia yang bermoral tinggi bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

-       Memiliki sikap mental wirausaha, manusia yang bermental wiraswasta memiliki kemauan keras untuk mencapai tujuan dan kebutuhan hidupnya. Setiap orang mempunyai tujuan dan kebutuhan tertentu dalam hidupnya, sikap mental ini juga dicirikan dengan sifat kejujuran yang tinggi dan bertanggung jawab.

-       Memiliki kepekaan terhadap arti lingkungan, artinya manusia yang berjiwa wirausaha harus dapat mengenal lingkungannya, karena dengan ini manusia akan dapat mendayagunakan lingkungan secara efisien bagi kepentingannya.

-       Memiliki ketrampilan wiraswasta, untuk dapat menjadi manusia wiraswasta diperlukan beberapa ketrampilan seperti : ketrampilan berfikir kreatif, ketrampilan dalam kepemimpinan manajerial, ketrampilan dalam bergaul sesama manusia.

-       Memiliki kemampuan untuk mencari informasi, dalam realita sering terjadi kekurang berhasilan dalam berwiraswasta disebabkan karena keengganan untuk mencari informasi tentang beberapa hal yang menyebabkan mengapa suatu usaha dapat berhasil. Banyak wiraswasta yang dalam menjalankan usaha hanya apa adanya. Mereka pada umumnya hanya menjalankan apa yang sudah ada walaupun dalam kenyataan usaha tersebut tidak mengalami perkembangan.

Sikap entrepenur ini sangat penting, menurut  Charly Bhukori ( 2006) suatu kesuksesan memiliki banyak dimensi dan variasi tolok ukur. Beberapa dari kita meyakini bahwa entrepenur yang sukses berdimensi luas, ada yang mengaitkan dengan finansial, jabatan, predikat dari kolega dan khalayak atas prestasinya, namun dari berbagai definisi tolok ukur satu hal yang dapat disimpulkan adalah bahwa kesuksesan merupakan pencapaian impian melalui sebuah proses terstruktur dan terencana.

Jenni S. Bev (dalam Charly Bhukori:2006) seorang konsultan,   entrepenur sukses menyatakan bahwa ada sepuluh unsur kepribadian sukses yang berkaitan dengan kewirausahaan ini meliputi : (1) keberanian untuk berinisiatif, kekuatan yang sebenarnya tidak lagi menjadi rahasia kesuksesan orang terkenal yaitu orang yang selalu punya ide cemerlang, tetapi semua ortang sebenarnya memiliki inisiatif dan inisiatif menjadi kekayaan semua orang, tinggal orang tersebut mau atau tidak mengemukakan ide-idenya, (2) tepat waktu, satu hal yang semua orang menghadapi dunia ini adalah bahwa waktu kita adalah 24 jam. Seorang yang menepati janji dan tepat waktu menunjukkan bahwa dia adalah orang yang memiliki kemampuan mengatur waktu, kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua keberhasilan, terutama keberhasilan dalam berbisnis dan berinteraksi. Memberikan perhatian lebih kepada waktu adalah pencerminan dari respek kita terhadap diri dan orang lain, (3) senang melayani dan memberi, sebuah rumus sukses dari banyak orang sukses adalah mampu memimpin yang didalamnya terkandung makna malayani dan memberi. The more you give to others, the more respect you get in return. Dan, keiklasan adalah kunci untuk kesuksesan ini, kebaikan lain akan terus mengalir tanpa henti saat kita mampu memberi dan melayani dengan iklas. Ini mungkin bisa dibilang sebagai efek saja, tetapi setidaknya akan menunjukkan kepada teman dan sahabat bahwa betapa suksesnya diri kita  sehingga membuat orang lain menjadi bersemangat bermitra dengan kita (4) membuka diri terlebih dahulu, rasa percaya dan kebesaran hati untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman dengan diri sendiri, sehingga tidak perlu menutupi dengan orang lain (5) senang bekerjasama dan membina hubungan baik, kemampuan bekerjasama ini adalah salah satu kunci sukses sebab selain secara internal akan berdampak kokohnya hubungan dalam sekolah/group juga secara eksternal memperkokoh kepercayaan orang lain terhadap kita (6)  senang mempelajari hal-hal baru telah menginspirasi Ciputra dan Aburizal Bakri, mereka mendirikan universitas dan tidak kemudian menjadi pengajar, kemampuan ini makin membuka peluang bisnis, entrepenur sejati terus meluncur pada kemungkinan- kemungkinan baru (7) jarang mengeluh, profesionalisme adalah paling utama, berkenaan dengan ini Lance Amstrong mengatakan bahwa hanya ada dua hari yakni hari yang baik dan hari yang sangat baik. Adalah baik bagi kita jika tak pernah mengeluh, walaupun mungkin suatu hari kita akan gagal dan jatuh, adalah kesempatan bagi kita untuk belajar mengatasi masalah (8) berani menanggung resiko, jelas tanpa ini tidak ada kesempatan untuk sukses. Sebenarnya setiap hari  kita menanggung resiko, walaupun kadang tidak sepenuhnya kita sadari, resiko hanya berakibat dua hal yakni menjadi hari baik atau menjadi hari yang sangat baik, (9) tidak menunjukkan kekawatiran atau dengan kata lain adalah berpikir positif, dengan pikiran positif maka perbuatan kita akan didasarkan pada getaran energi positif, sehingga hal positif akan menjadi makin besar, semakin positif menyikapi hambatan maka semakin besar menemukan pemecahan masalah (10) menjadi diri sendiri, orang sukses tidaik menutupi dirinya sendiri baik dengan hal buruk maupun dengan kebohongan, kenyamanan menjadi diri sendiri adalah mindset yang penting. 

Sedang menurut Meredith dalam Suprobo Pusposutardjo (1999), memberikan ciri-ciri wirausaha (entrepenuer) sebagai orang yang (1) percaya diri, (2) berorientasi tugas dan hasil, (3) berani mengambil resiko, (4) berjiwa kepemimpinan, (5) berorientasi ke depan, dan (6) keorisinilan.

Pentingnya kewirausahaan ini juga berkaitan dengan tantangan persaingan antar sekolah dimasa mendatang, dijelaskan bahwa ketika pasar bebas benar-benar telah dilaksanakan tanpa kendali termasuk pendidikan maka sekolah-sekolah di Indonesia tidak hanya berkompetisi dengan sekolah-sekolah luar negeri seperti Singapura, Malaysia dan Australia yang begitu menarik banyak anak bangsa tetapi juga sekolah-sekolah yang luar negeri yang kemungkinan akan membuka cabang atau agen di Indonesia, belum lagi ketika berbicara mengenai persaingan antar manajer sekolah terutama antara manajer dalam negeri dengan manajer dari luar negeri . Pada sisi lain tantangan dan perkembangan lingkungan strategis baik nasional maupun internasional dalam berbagai bidang juga makin berat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi dan komunikasi saling berkait dengan kemampuan kewirausahaan di jaman sekarang (Indra Djati Sidi : 2001 :13).

Salah satu aplikasi manajemen pendidikan, teriutama manajemen berbasis sekolah dan dikaitkan dengan kewirausahaan ini adalah secara ekonomi mampu mendorong masyarakat, khususnya orang tua siswa, untuk menjadi fondasi utama operasi sekolah, mengingat pendidikan persekolahan itu tidak gratis ( education is not free ). Persoalan pembiayaan pendidikan  ( Sudarwan Danim dan Suparno, 2009 :141) bukan terletak pada gratis  atau tidak, melainkan siapa yang membayar ? secara akademik , masyarakat akan melakukan fungsi kontrol sekaligus pengguna lulusan. Disinilah akuntabilitas sekolah teruji. Secara proses, masyarakat berhak mengkritisi kinerja sekolah dan kepala sekolah agar lembaga milik publik ini tidak keluar dari tugas pokok dan fungsi utamanya. Artinya, dengan MBS adalah keniscayaan bagi masyarakat untuk menjadi fondasi sekaligius tiang penyangga utama pendidikan persekolahan yang berada pada radius tertentu dimana msyarakat itu bermukim.

Berbicara wirausaha menurut  Hisrich dan Peters (1992)  adalah berbicara mengenai perilaku, yang mencakup pengambilan inisiatif, mengorganisasi dan mereorganisasi mekanisme sosial dan ekonomi terhadap sumber dan  situasi  ke dalam praktek, dan penerimaan resiko kegagalan. Para ahli ekonomi mengemukakan bahwa wirausaha adalah orang yang dapat meningkatkan nilai tambah  terhadap sumber tenaga kerja, alat, bahan dan aset lain  serta orang yang memperkenalkan perubahan, inovasi dan cara-cara baru ( Mulyasa,2007:179).

Berwirausaha disekolah berarti memadukan kepribadian, peluang, keuangan, dan sumber daya yang ada di lingkungan sekolahan guna mengambil keuntungan. Kepribadian ini mencakup pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan perilaku  (Steinhoff (1993). Dalam kontek realitas di sekolahan maka kepala sekolah harus mampu menafsirkan berbagai kebijakan dari pemerintah sebagai kebijakan umum, sedangkan operasionalisasi kebijakan tersebut untuk mencapai hasil yang maksimal perlu ditunjang oleh kiat-kiat kewirausahaan. Misalnya jika dana bantuan dari pemerintah terbatas sedangkan suatu kegiatan harus tetap dilaksanakan atau diadakan maka kepala sekolah harus mampu menggali potensi sumber dari masyarakat dan orang tua siswa.

Mulyasa (2007:180) menggarisbawahi bahwa dalam kontek MBS sekolah akan menjadi unit layanan masyarakat yang sangat diperlukan, oleh karena itu, kepala sekolah harus mampu meningkatkan kualitas sekolah. Jika kualitas sekolah baik, masyarakat, terutama orang tua  akan bersedia berperan aktif di sekolah, karena yakin anaknya akan mndapat pendidikan yang baik. Di sanalah pentingnya pribadi wirausaha kepala sekolah, untuk mencari jalan meningkatkan kualitas sekolah agar masyarakat dan orang tua percaya terhadap produktifitas sekolah dan mau berpartisipasi dalam berbagai program sekolah.

Dari beberapa definisi diatas maka kompetensi kewirausahaan dalam penelitian ini adalah kemampuan kepala sekolah dalam mewujudkan aspirasi kehidupan mandiri yang dicirikan dengan kepribadian kuat, bermental wirausaha. Sedangkan jika ingin sukses dalam mengembangkan program kewirausahaan di sekolah, maka kepala sekolah, tenaga kependidikan baik guru maupun non guru dan peserta didik  harus bisa secara bersama memahami dan mengembangkan sikap kewirausahaan sesuai dengan tugas masing-masing.


About these ads