KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH urgensi

Istimewa

URGENSI PENGUASAAN KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKANDI SATUAN PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHLUAN

A. LATAR BELAKANG

Kepala sekolah adalah tokoh sentral dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Berhasil atau tidaknya sebuah lembaga pendidikan khususnya pada satuan pendidikan akan sangat dipengaruhi oleh kompetensi yang dimiliki kepala sekolah tersebut,
PeraturanMenteriPendidikanNasionalNomor13Tahun2007tentangStandar Kepala sekolah/madrasahmenegaskan bahwa seorang kepala sekolah/madrasah harusmemilikilimadimensikompetensiminimalyaitu: kompetensikepribadian,manajerial,kewirausahaan, supervisi,dansosial.Kepalasekolah/madrasahadalahguruyangdiberitugastambahansebagaikepalasekolah/madrasah sehinggaiapunharusmemilikikompetensiyangdisyaratkan memilikikompetensiguruyaitu:kompetensipaedagogik, kepribadian,sosial,danprofesional.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka menjadi sangat penting bagi kepala sekolah menguasai Kompetensi Kepala Sekolah Dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan di Satuan Pendidikan.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana Pengertian Kompetensi Kepala Sekolah
2. Bagaimana Pengertian Urgensi Kompetensi Kepala Sekolah

C. TUJUAN PEMBAHASAN

1. Memahami Pengertian Kompetensi Kepala Sekolah
2. Mengetahui Pengertian Urgensi Kompetensi Kepala Sekolah

BAB II
PEMBAHASAN

 

A. KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH
Kompetensi memainkan peran kunci dalam mempengaruhi keberhasilan kerja, terutama dalam pekerjaan – pekerjaan yang menuntut sungguh-sungguh inisiatif dan inovasi. Kompetensi dipahami berkaitan dengan pentingnya hasrat untuk menguasai orang lain, dan secara lebih luas berkaitan dengan menciptakan peristiwa dan bukan sekedar menanti secara pasif, hasrat ini disebut motif kompetensi. Dalam diri orang dewasa motif kompetensi ini sangat mungkin muncul sebagai suatu keinginan untuk menguasai pekerjaan dan jenjang profesional.
Pengertian sederhana yang mendasar dari kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan (Syah,2000:229). Kemampuan atau kecakapan yang dimaksudkan dalam kompetensi itu menunjuk kepada satu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik kemampuan atau kecakapan kualitatif maupun kuantitatif.
Ranupandoyo dan Husnan (1995:155) mengidentikan kemampuan dengan ketrampilan kerja yang berbentuk dari pendidikan dan latihan serta pengalaman kerja. Keith Davis (dalam Anwar, 2000:67) membedakan kemampuan dengan ketrampilan.
Kompetensi merupakan perpaduan dari penguasaan pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak pada sebuah tugas/pekerjaan. Kompetensi juga merujuk pada kecakapan seseorang dalam menjalankan tugas dan tanggung-jawab yang diamanatkan kepadanya dengan hasil baik dan piawai/mumpuni (Margono,2003).
Dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 045/U/2002 disebutkan bahwa kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka yang dimaksud dengan kompetensi kepala sekolah adalah seperangkat kemampuan yang harus ada dalam diri kepala sekolah, agar dapat mewujudkan penampilan unjuk kerja sebagai kepala sekolah .
Adapun Kompetensi Kepala Sekolah adalah sebagai berikut :

1. Kompetensi Kepribadian
Definisi yang paling sering digunakan dari kepribadian dikemukakan oleh Gordon Allport hampir 60 tahun yang lalu. Ia mengatakan bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis pada masing-masing sistem psikofisik yang menentukan penyesuaian unik terhadap lingkungannya .
Dalam menjalankan tugas menejerial kepala sekolah dituntut memiliki kompetensi kepribadian, kompetensi ini menuntut kepala sekolah memiliki (1) integritas kepribadian yang kuat, yang dalam hal ini ditandai dengan konsisten dalam berfikir, berkomitmen, tegas, disiplin dalam menjalankan tugas, (2) memiliki keinginan yang kuat dalam mengembangkan diri sebagai kepala sekolah, dalam hal ini meliputi memiliki rasa keingintahuan yang tinggi terhadap kebijakan, teori, praktik baru, mampu secara mandiri mengembangkan diri sebagai upaya pemenuhan rasa ingin tahu (3) bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas, meliputi berkecenderungan selalu ingin menginformasikan secara transparan dan proporsional kepada orang lain mengenai rencana, proses pelaksanaan dan efektifitas program. (4) mampu mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan (5) memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin.
Berdasarkan definisi-definisi diatas dalam yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah integritas pribadi yang kuat, berkeinginan mengembangkan diri, terbuka dan minat dalam menjalankan jabatan sebagai kepala sekolah.

2. Kompetensi Manajerial
Manajemen atau pengelolaan dapat berarti macam-macam tergantung kepada siapa yang membicarakannya. Istilah manajemen sendiri berasal dari “manage” yang padanan dalam bahasa Indoensia adalah kelola. Pengertian umum dari manajemen adalah proses mencapai hasil dengan mendayagunakan sumber daya yang tersedia secara produktif (Depdiknas,2007:126).
Dalam kontek manajerial sekolah maka seorang kepala sekolah dituntut untuk dapat menjalankan kompetensi sebagai berikut : (1) menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan. perencanaan (2) mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai kebutuhan (3) memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayaagunaan sumber daya sekolah/ madrasah secara optimal, (4) mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajaran yang efektif (5) menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran anak didik (6) mengelola guru dan staff dalam rangka pendayagunaan sumberdaya manusia secara optimal (7) mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optima (8) mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan, ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah (9) mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik barn dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik. (10) mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai arah dan tujuan pendidikan nasional (11) mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien (12) mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/madrasah (13) mengelola unit layanan khusus sekolah/madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah (14) mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan (15) memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah (16) melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya.
Manajer adalah seorang yang berusaha untuk mencapai maksud-maksud yang dapat dihitung, dan administrator sebagai orang yang berikhtiar untuk maksud-maksud yang tidak dapat dihitung tanpa mengindahkan akibat akibat akhir dari pencapaiannya (Oteng Sutrisno, 1985:15).
Berdasar uraian diatas maka dalam yang dimaksud dengan kompetensi manajerial adalah kemampuan kepala sekolah dalam mengorganisasi dan mengembangkan sumber saya sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, efisien.

3. Kompetensi Kewirausahaan
Istilah kewirausahaan atau sering disebut wiraswasta, merupakan terjemahan dari istilah entrepreneurship. Istilah tersebut pertama kali dikemukakan oleh Ricard Cantillon, orang Irlandia yang berdiam di Perancis, dalam bukunya yang berjudul Essai Bar la Nature du Commercen,tahun 1755 (Depdiknas 2004). Dilihat dari segi etimologis, wiraswasta, merupakan suatu istilah yang berasal dari kata-kata “wira” dan “swasta”. Wira berarti berani, utama, atau perkasa. Swasta merupakan paduan dari kata “swa” dan “sta”. Swa artinya sendiri, sedangkan sta berarti berdiri. Dengan demikian maknanya menjadi berdiri menurut kekuatan sendiri. Jadi yang dimaksud dengan wiraswasta adalah mewujudkan aspirasi kehidupan mandiri dengan landasan keyakinan dan watak yang luhur.
Dari beberapa definisi diatas maka kompetensi kewirausahaan dalam adalah kemampuan kepala sekolah dalam mewujudkan aspirasi kehidupan mandiri yang dicirikan dengan kepribadian kuat, bermental wirausaha. Sedangkan jika ingin sukses dalam mengembangkan program kewirausahaan di sekolah, maka kepala sekolah, tenaga kependidikan baik guru maupun non guru dan peserta didik harus bisa secara bersama memahami dan mengembangkan sikap kewirausahaan sesuai dengan tugas masing-masing.

4. Kompetensi Supervisi
Sekolah melaksanakan tanggung jawab paling produktif jika terdapat konsensus tentang tujuan sekolah dan semua pihak bersama-sama berusaha mencapainya. Posisi kepala sekolah dalam hal ini adalah bertanggung jawab untuk menyelenggarakan sekolah secara produktif. Persoalannya adalah bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut kepala sekolah tidak mungkin melaksanakan seluruh kegiatan sendiri, oleh karena itu ada pendelegasian kepada guru maupun staff, untuk memastikan bahwa pendelegasian tugas itu dilaksanakan secara tepat waktu dengan cara yang tepat atau tidak maka diperlukanlah supervisi yaitu menyelia pekerjaan orang lain (Depdikbud, 2007:227).
Bentuk supervisi yang paling efektif terjadi jika staff,peserta didik, dan orang tua memandang kepala sekolah sebagai orang yang tahu persis tentang hal-¬hal yang terjadi disekolahnya. Dalam kontek ini, dengan melakukan supervisi maka akan dilakukan tindakan kunjungan kelas, berbicara dngan guru, peserta didik, dan orang tua, mengikuti perkembangan masyarakat sekolah, orang-orang dan peristiwa yang terjadi dalam rangka memenuhi tanggungjawab ini (Peter F.Olivia,1992).
Kompetensi supervisi ini setidaknya mencakup (1) merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru (2) melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan tehnik supervisi yang tepat (3) menindaklanjuti hasil supervisi akademis terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru (Depdiknas, 2007:228).
Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka yang dimaksud dengan kompetensi supervisi adalah pengetahuan dan kemampuan kepala sekolah dalam merencanakan, melaksanakan dan menindaklanjuti supervisi dalam upaya meningkatkan kualitas sekolah

5. Kompetensi Sosial
Pada hakekatnya manusia adalah makluk individu sekaligus sosial, dari sejak lahir hingga meninggal manusia perlu dibantu atau kerjasama dengan manusia lain, segala kebahagiaan yang dirasakan manusia pada dasarnya adalah berkat bantuan dan kerjasama dengan manusia lain, manusia sadar bahwa dirinya harus merasa terpanggil hatinya untuk berbuat baik bagi orang lain dan masyarakat (Retno Sriningsih,1999).
Kompetensi sosial menurut Sumardi (2006) adalah kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, bergaul, bekerjasama, dan memberi kepada orang lain. Sejalan dengan pemikiran ini Komara (2007) mendefinisikan kompetensi sosial sebagai (1) kemampuan seseorang untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesional (2) kemampuan untuk mengenal dan memahami fungsi-fungsi setiap lembaga kemasyarakatan dan (3) kemampuan untuk menjalin kerjasama baik secara individual maupun kelompok.
Berdasarkan batasan-batasan diatas maka yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan seorang kepala sekolah dalam bekerjasama dengan orang lain, peduli sosial dan memiliki kepekaan sosial .

B. URGENSI PENGUASAAN KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH.

Keunggulan dan mutu sebuah sekolah dipengaruhi oleh berbagai variabel, variabel manajerial kepala sekolah memiliki posisi yang sangat penting, kualitas kepemimpinan kepala sekolah akan mempengaruhi efektifitas sekolah, dengan manajemen yang tepat sekolah akan mampu menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif, yaitu lingkungan belajar yang memotivasi para anggota sekolah untuk mengembangkan potensi, kreatifitas, dan inovasi. Hanya kepala sekolah yang memiliki kompetensi tinggi yang akan memiliki kinerja yang memberi tauladan, menginspirasi dan memberdayakan, kondisi ini akan mendorong perubahan yang bermasyarakat, relevan, efektif biaya serta diterima oleh staf, murid dan masyarakat (Agus Darma, 2007 : 6).
Untuk memenuhi standar kompetensi seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 Tentang standar kepala sekolah maka sangatlah penting bagi kepala sekolah atau calon kepala sekolah menguasai Kompetensi Kepala Sekolah, menguasai bukan hanya dalam artian menghafal urutan-urutan peraturan yang tercantum dalam Peraturan Menteri tersebut namun lebih menitikberatkan implementasi dari lima dimensi kompetensi kepala sekolah.
Kompeteni dapat dipilah menjadi 3 aspek. Ketiga aspek yang dimaksud adalah: (1) Kemampuan, pengetahuan, kecakapan, sikap, sifat, pemahaman, apresiasi dan harapan yang menjadi penciri karakteristik seseorang dalam menjalankan tugas, (2) Penciri karakteristik kompetensi yang digambarkan dalam aspek pertama itu tampil nyata (manifest) dalam tindakan, tingkah laku dan unjuk kerjanya, dan (3) Hasil unjuk kerjanya itu memenuhi suatu kriteria standar kualitas tertentu.
Aspek pertama sebuah kompetensi menunjuk pada kompetensi sebagai gambaran substansi materi ideal yang seharusnya dikuasai atau dipersyaratkan untuk dikuasai oleh seseorang dalam menjalankan pekerjaan tertentu. Substansi materi ideal yang dimaksud meliputi: kemampuan, pengetahuan, kecakapan, sikap, sifat, pemahaman, apresiasi dan harapan-harapan penciri karakter dalam menjalankan tugas. Dengan demikian seseorang dapat dipersiapkan atau belajar untuk menguasai kompetensi tertentu sebelum ia bekerja.
Aspek kedua kompetensi merujuk kepada gambaran unjuk kerja nyata yang tampak dalam kualitas pola pikir, sikap dan tindakan seseorang dalam menjalankan pekerjaan secara mumpuni. Seseorang dapat berhasil menguasai secara teoritik seluruh aspek material kompetensi yang diajarkannya dan dipersyaratkan, namun begitu jika dalam praktek sebagai tindakan nyata saat menjalankan tugas atau pekerjaan tidak sesuai dengan standar kualitas yang dipersyaratkan maka ia tidak dapat dikatakan sebagai orang yang berkompeten, tidak mumpuni atau tidak piawai.
Aspek ketiga merujuk pada kompetensi sebagai hasil ( output dan atau outcome) dari unjuk kerja berpiawaian. Kompetensi seseorang mencirikan tindakan, berlaku serta mahir dalam menjalankan suatu tugas untuk menghasilkan tindakan kerja yang efektif dan efisien. Hasil tindakan yang efektif dan efisien merupakan produk dari kompetensi seseorang dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya. Kefektifan ini utamanya dinilai dari pihak luar dirinya. Sehingga ditinjau dari unjuk hasil kerjanya , pihak lain dapat menilai seseorang apakah dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya apakah berkompeten, efektif dan terkesan profesional atau tidak.

BAB III
PENUTUP

Berdasarkan pemaparan diatas maka sangatlah penting bagi kepala sekolah ataupun calon kepala sekolah menguasai Kompetensi Kepala Sekolah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di satuan pendidikan.
Kompetensi Kepala Sekolah antara lain: kompetensikepribadian,manajerial,kewirausahaan, supervisi,dansosial.

DAFTAR RUJUKAN

Darma, A. 2007. Manajemen Sekolah. Depdiknas: Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Informasi Kebijakan Direktorat Pendidikan Menengah Umum. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan. 2008. Penilaian Kinerja Kepala Sekolah.

Hidayat, Taufik. 2009. Kompetensi Sosial Guru. http/taufik hidayat71.Wordpress.

Kusdiyah, Ike. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta :Penerbit Andi

Mulyasa, H.E. 2008. Implementasi KTSP: Bumi Aksara: Jakarta.

Mulyasa, H.E.2007. Menjadi Kepala Sekolah Profesional: Bandung : Rosda

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 13 Tahun 2007 Tentang Standart Kepala Sekolah/Madrasah.

Olifia F. Peter.1992. Supervision For To Days Scools. Longman, New York.
Sarjilah. Kompetensi Kepala Sekolah. http://lpmpjogja.diknas.go.id ( 26 Januari 2009)
Slamet, Achmad. Manajemen Sumber Daya manusia :UNNES PRESS : Semarang
Sriningsih, Retno. 2000. Landasan Kependidikan ( Pengantar ke arah Ilmu Pendidikan Pancasila ) : Semarang : Ikip Semarang Press.
Wj, Admin. Upaya-Upaya Strategis Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Sekolah Di Era Implementasi KTSP.http/lpmpjogja.diknas.go.id (28 April 2008).
Widyorini, Endang.2008. Kompetensi sosial. Semarang : Dinas Pendidikan Prop.Jateng.

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kegiatan monitoring dan supervisi sekolah pasti harus diawali dengan penyusunan program kerja . Dengan adanya program kerja maka kegiatan monitoring dan supervisi dapat terarah dan memiliki sasaran serta target yang jelas.Segala aktifitas monitoring dan supervisi termasuk ruang lingkup , output yang diharapkan serta jadwal monitoring dan supervisi dituangkan dalam program yang disusun . Hal ini sekaligus menjadi dasar acuan dan pertanggungjawaban pengawas dalam bekerja .
Untuk dapat menyusun program monitoring dan supervisi dengan baik , seorang pengawas perlu memiliki pemahaman yang komprehensif mengenal lingkup tugasnya , menguasai prosedur penyusunan program kerja , serta kemampuan berfikir sistematis untuk merancang program dan kegiatan yang akan dilaksanakan sehingga produktif dan memberi kontribusi terhadap peningkatan mutu pendidikan .
Kepala sekolah adalah tenaga kependidikan professional guru yang diberi tugas tambahansebagai kepala sekolah yang menjadi unsur pelaksana supervisi pendidikan yang mencakup supervisi akademik dan supervise managerial .Supervisi akademik terkaid dengan tugas pemyang diampu guru dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran ,sedangkan supervisi managerial terkait dengan tugas pemyang diampu kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya dalam aspek pengelolaan dan administrasi sekolah .
Ragam kegiatan dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pengawas sekolah meliputi :
1. Pelaksanaan analisis kebutuhan
2. Penyusunan program kerja monitoring dan supervisi sekolah
3. Penilaian kinerja kepala sekolah , kinerja guru, dan kinirja tenaga kependidikan lain ( TU, laboran , dan pustakawan )
4. Pemyang diampu guru,dan tenaga kependidikan lain
5. Pemantauan kegiatan sekolah serta sumber daya pendidikan yang meliputi sarana belajar,prasarana pendidikan , biaya,dan lingkungan sekolah .
6. Pengolahan dan analisis data hasil penilaian ,pemantauan ,dan pemyang diampu .
7. Evaluasi proses dan hasil monitoring dan supervisi
8. Penyusunan laporan hasil monitoring dan supervisi
9. Tindak lanjut hasil monitoring dan supervisi untuk monitoring dan supervisi berikutnya.

B. LANDASAN HUKUM
1. Amanat Undang-Undang Dasar Th. 1945, amandemen ke-4 pasal 31 tentang Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 Th.2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (lembaran Negara Th. 2003 nomor 78,tambahan lembaran Negara nomor 4301) ;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
3. Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/ Madrasah
4. Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang standar pengelolaan
5. Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang standar Proses
6. Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 tentang standar sarana dan prasarana
7. Permendiknas Nomor 39 Th. 2009 tentang pemenuhan beban guru dan Pengawas satuan pendidikan
8. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI nomor 162/U/2003 tentang pedoman penugasan guru sebagai kepala sekolah
9. Peraturan Menteri Pendidikan nasional nomor 8 tahun 2005 tentang Organisasi dan tata kerja dan tata Kerja Direktorat jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan

C. TUJUAN
Setelah Kepala Sekolah melaksanakan program Monitoring dan Supervisi diharapkan :
1. Dapat menginventarisasi kekuatan dan kelemanhan yang ada di sekolah yang diampu sesuai ruang lingkup kemonitoring dan supervisi yang telah diprogramkan .
2. Temuan positif dan negative tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk menyusun program monitoring dan supervisi semester ganjil yang lebih baik pada tahun yang akan datang .
3. Kelemahan yang ada di sekolah sebagai bahan pemyang diampu bagi pemangku kepentingan tingkat sekolah , tingkat kabupaten.
4. Temuan tentang kekuatan maupun kelemahan di sekolah merupakan bahan pertimbangan untuk menentukan kebijakan oleh Pemangku kepentingan .

D. RUANG LINGKUP KEMONITORING DAN SUPERVISI
Berdasarkan jangka waktunya atau periode kerjanya, program monitoring dan supervisisekolah terdiri atas: (a) program monitoring dan supervisi tahunan, dan (b) programmonitoring dan supervisi semester. Program monitoring dan supervisi tahunan disusun dengan cakupankegiatan monitoring dan supervisi pada semua sekolah di tingkat kabupaten/kota dalamkurun waktu satu tahun. Program monitoring dan supervisi tahunan disusun denganmelibatkan sejumlah pengawas dalam satu Kabupaten/Kota. Programmonitoring dan supervisi semester merupakan penjabaran program monitoring dan supervisi tahunanpada masing-masing sekolah yang diampu selama satu semester. Programmonitoring dan supervisi semester disusun oleh setiap Kepala Sekolah sesuai kondisi obyektifsekolah yang diampuya masing-masing.
Berangkat dari tugas pokok Kepala Sekolah ,maka ruang lingkup kegiatan dalam program monitoring dan supervisi adalah sebagi berikut :

I. Penilaian kinerja
a. Guru
b. Tenaga kependidikan lain ( administrasi , laboran , perpustakaan )
II. Pemantauan yang diampu
a. Organisasi sekolah dalam menghadapi akreditasi
b. Guru dalam perencanaan , pelaksanaan , penilaian proses pembelajaran
c. Tendik lain dalam melaksanaakn tupoksinya
d. Penerapan berbagai inovasi pendidikan
e. MBS
III. Pemantauan
a. Pengeloaan dan administrasi sekolah
b. Pelaksanaan 8 Standar Nasional Pendidikan
c. Lingkungan sekolah
d. Pelaksanaan UN dan US
e. Pelaksanaan PPD
f. Pelaksanaan ekstra kurikuler
g. Sarana belajar ( alat peraga dan lain-lain )

Materi ruang lingkup kemonitoring dan supervisidi atas dalam pelaksanaannya diimplementasikan menjadi 2 (dua) tahap yaitu pada kegiatan kemonitoring dan supervisi semester 1 dan kegiatan monitoring dan supervisisemester 2 .
BAB II
PROGRAM KERJA
A. IDENTIFIKASI MASALAH
Untuk menyusun program kemonitoring dan supervisi semester , seorang Kepala Sekolah harus sudah memiliki data mengenai masalah-masalah yang ditemukan di sekolah yang diampu atau masalah-masalah yang dihadapi sekolah dan belum terpecahkan yang disampaikan kepada pengawas sekolah pada tahun sebelumnya .
B. PROGRAM MONITORING DAN SUPERVISI SEMESTER
1. Visi
TEKADKU PERPRESTASI, TERAMPIL DAN VERAKHLAK MULIA
2. Misi
2.1. MENINGKATKAN PELAYANAN BELAJAR SECARA EFEKTIF
2.2. MENCIPTAKAN LINGKUNGAN BELAJAR YANG NYAMAN, BERSIH DAN INDAH
2.3. MELAKSANAKAN PEMBINAAN DAN LATIHAN BIDANG OLAHRAGA
2.4. MEMBEKALI PESERTA DIDIK DENGAN KETRAMPILAN PRAKTIS AGAR MEREKA SIAP HIDUP DI LINGKUNGAN MASYARAKAT
2.5. MEMBENTUK PESERTA DIDIK PERPERILAKU TERTIB, JUJUR, SANTUN, DISIPLIN DAN BERTANGGUNG JAWAB PADA DIRI SENDIRI MAUPUN LINGKUNGANNYA.

3. Identifikasi Masalah ( yang akan dicari solusinya oleh Pengawas sekolah melalui kegiatan monitoring dan supervisi )
Catatan : Berdasarkan pengalaman empiric, masalah yang dihadapi sekolah standar nasional maupun sekolah potensial ( yang belum memenuhi 8 SNP ) tidak jauh berbeda masalah yang dihadapi .Untuk itu program kemonitoring dan supervisi dibuat sama .
Penilaian Kinerja
1) Penilaian kinerja guru
• Dalam waktu 1 (satu) semester seorang pengawas tidak bisa menilai kinerja guru sebanyak 100% dari jumlah guru yang ada dalam satu sekolah tersebut .Hal ini disebabkan karena waktu kunjungan 1 bulan 1 kali yang dilakukan oleh seorang pengawas .
• Penampilan guru dalam PBM pada kegiatan penutup belum memberitahu materi yg akan diberikan pada pertemuan berikutnya .Hal ini penting dan harus dilakukan guru berkaitan dengan alam takambang pada standar proses .
• Kegiatan inti yang tertulis pada RPP belum memenuhi permendiknas nomor 41 th.2007 tentang standar proses. ( Guru belum seluruhnya memahami tentang eksplorasi ,elaborasi dan konfirmasi )
2) Penilaian kinerja Kepala sekolah
Kepala sekolah belum memiliki kewirausahaan selain koperasi sekolah.
a. Pemyang diampu
1) Guru dalam perencanaan , pelaksanaan , penilaian proses pembelajaran
2) Organisasi sekolah dalam menghadapi akreditasi
3) Kepala sekolah dalam pengelolaan administrasi sekolah
b. Pemantauan
c. PPD
Jumlah pendaftar tidak melampaui daya tampung sekolah .
d. Administrasi kurikulum dan pembelajaran
RPP yang dibuat guru belum maksimal , kekurangan a.l.
Pada pelaksanaan pembelajaran (pendahuluan ,inti dan penutup)
e. Lingkungan sekolah
f. Pelaksanaan Ulangan semester ,UN dan US

4. Diskripsi Kegiatan

NO
KEGIATAN/ TUJUAN
SASARAN
INDIKATOR KEBERHASILAN
METODE KERJA/TEKNIK
WAKTU

1

2

3

PENILAIAN
Penilaian Kinerja :
1) Guru

2) Kepala sekolah

PEMYANG DIAMPU
a. Guru dalam perencanaan ,pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran

b. Organisasi sekolah dalam menghadapi akreditasi

c. Kepala sekolah dalam pengelolaan administrasi sekolah

PEMANTAUAN :
a. PPD

b. Administrasi kurikulum dan pembelajaran

c. Pelaksanaan 8 standar nasional pendidikan

d. Pelaksanaan Ulangan semester

- Untuk mengetahui sejauhmana pengertian guru dan pemahaman guru dalam membuat RPP
– Untuk mengetahui penampilan guru dalam pelaksanaan pembelajaran

- Untuk mengetahui aktivitas guru pada pelaksanaan PBM dalam membuka dan menutup pembelajaran

Mengetahuikeberhasilan melaksanakan TUPOKSI kepala sekolah :
a. Managerial

b. kewirausahaan

c. Supervisi

- Guru dapat mengembangkan silabus
– Guru dapat membuat RPP secara mandiri
– Guru melaksanakan KBM mengacu pada RPP yasng dibuat
– Guru dapat melakukan penilaian dengan berbagai teknik penilaian

Sekolah dapat memenuhi 8 standar nasional pendidikan

Kepala sekolah dapat mewujutkan semua administrasi sekolah dengan lengkap dan benar .

- Mengetahui transparansi PPD
– Mengetahui jumlah pendaftar dan jumlah siswa yang diterima
– Mengetahui jumlah ruang kelas dan rombel yang dimiliki
– Mengetahui keberhasilan pengelolaan administrasi sekolah

Sekolah dapat membuat kelengkapan administrasi kurikulum dan pembelajaran .

- Mengetahui sejauhmana sekolah dapat memenuhi 8 standar Nasional Pendidikan

- Apakah pelaksanaan ulangan semester sesuai dengan permendiknas no 20 th.2007,permendiknas no 22 dan no 23 th.2006

- Guru dapat membuat RPP sesuai permendiknas no. 41 th.2007 tentang standar proses

- Guru dapat melaksanakan dengan baik tentang :
1. Kemampuan membuka pelajaran
2. Sikap guru dalam proses pembelajaran
3. Penguasaan bahan belajar
4. KBM
5. Kemampuan menggunakan media pembelajaran
6. Evaluasi pembelajaran

- Guru dapat melaksanakan kegiatan membuka dan menutup pembel;ajartan dengan baik

a. Aspek managerial :
– Menyusun perencanaan sekolah
– Mengelola program pembelajaran
– Mengelola kesiswaan
– Mengelola sarana dan prasarana
– Mengelola personal sekolah
– Mengelola keuangan sekolah
– Mengelola hubungan sekolah dan masyarakat
– Mengelola administrasi sekolah
– Mengelola sistem informasi sekolah
– Mengevaluasi program sekolah
– . Meminpin sekolah

b. aspek kewirausahaan , :
– Mengembangkan usaha
Sekolah
– Membudayakan Perilaku
Wirausaha

c. aspek supervise :
– Merencanakan program
Supervise
– Melaksanakan program
Supervise
– Menindaklanjuti program supervisi

- Setiap guru memiliki perangkat pembelajaran
– Guru mampu melakukan revisi silabus / RPP tiap tahunnya
– Pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat
– Guru melaksanakan penilaian dengan teknik dan bentuk yang bervariasi

Tersedianya bukti fisik dari masing-masing standar nasional pendidikan .

Tersedianya administrasi sekolah dengan lengkap dan benar.

- Tidak ada pengaduan dari masyarakat dalam PPD
– Dimilikinya data jumlah pendaftar dan data yang diterima
– Dimilikinya data jumlah ruang kelas dan data jumlah rombel

- Dimilikinya kelengkapan administrasi :
1. Administrasi kurukulum dan pembelajaran
2. Administrasi kesiswaan
3. Administrasi pendidik dan tenaga kependidikan
4. Administrasi sarpras pendidikan
5. Administrasi keuangan
6. Administrasi program hubungan sekolah dengan masyarakat

7. Administrasi program BK
8. Administrasi persuratan

- Secara bertahap sekolah dapat memenuhi 8 standar Nasioanl Pendidikan

- Guru mapel membuat kisi-kisi soal
– guru membuat kunci jawaban
– guru membuat norma penilaian

- Observasi/ kunjungan kelas

- Observasi,studi document dan wawancara.

Ceramah,tanya jawab,pemberian contoh dan tugas.

Ceramah , pemberian contoh

Ceramah , pemberian contoh dan diskusi .

- Observasi,studi document dan wawancara.

- Ceramah , diskusi ,Tanya jawab ,dan workshop

- Observasi ,pemyang diampu

- Observasi , studi dokument

Agust 1,
Sept. 3,
Okt1,
Nov.2,3

Okt. 2

- Agustus ,1

Agustus ,2

September 4,oktober 4

- July 2,3

- Oktober minggu 2,4

- Agustus, oktober ,november 3,4

- Desember minggu 1


BAB III
JADWAL KEGIATAN MONITORING DAN SUPERVISI SEMESTER GASAL 2012/2013

NO
KEGIATAN
BULAN DAN MINGGU KE
JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
1 PENILAIAN
1) Kinerja Guru
2) Kinerja Kepala Sekolah
PEMYANG DIAMPU
a. Guru dalam pembuatan perencanaan pembelajaran,pelaksanaan , dan penilaian pembelajaran
b. Organisasi menghadapi akreditasi
c. Kepala sekolah dalam pengelolaan administrasi HARI HARI PERTAMA MASUK SEKOLAH

X

X

X LIBUR BULAN RAMADHAN , SEBELUM & SESUDAH HARI RAYA IDUL FITRI
X

X
X

X

X
X

X

X

X ULANGAN AKHIR SEMESTER

NO
KEGIATAN
BULAN DAN MINGGU KE
JULY AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
1 PEMANTAUAN
a. Pelaksanaan PPD
b. Administrasi kurikulum dan pembelajaran
c. Pelaksanaan 8 standar nasional pendidikan
d. Pelaksanaan ulangan semester HARI HARI PERTAMA MASUK SEKOLAH

X

X

X

LIBUR BULAN RAMADHAN , SEBELUM & SESUDAH HARI RAYA IDUL FITRI
X

X

X

X ULANGAN AKHIR SEMESTER

BAB IV
PENUTUP

Program monitoring dan supervisi sekolah merupakan pedoman bagi Kepala Sekolah dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya .Program monitoring dan supervisi disusun selaras dengan visi,misi dan tujuan pendidikan di sekolah yang diampu .Program yang disusun diarahkan pada layanan professional Kepala sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di sekolah . Untuk mewujutkan hal tersebut,terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan program monitoring dan supervisi sekolah ,antara lain :
1. Kegiatan monitoring dan supervisi sekolah dikembangkan atas dasar hasil monitoring dan supervisi pada tahun sebelumnya.Hal ini menunjukkan bahwa monitoring dan supervisi sekolah harus dilaksanakan dalam berkesinambungan .Dalam hal ini diterapkan prinsip peningkatan mutu berkelanjutan (continous quality improvement ) .Walaupun terjadi pergantian pengawas , pengawas sekolah yang baru harus tetap memperhatikan apa yang telah dilaksanakan serta dicapai oleh pengawas sebelumnya .

2. Kegiatan monitoring dan supervisi sekolah mengacu pada kebijakan pendidikan baik itu kebijakan pendidikan yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) ditingkat pusat maupun dinas pendidikan setempat (Kabupaten/Kota).

3. Program kegiatan monitoring dan supervisi memuat prioritas pemyang diampu dengan target pencapaiannya dalam jangka pendek (semester) , jangka menengah (1 tahun ) , dan jangka panjang (3-4 tahun ) .sasaran prioritas jangka pendek ditetapkan atas dasar persoalan / masalah yang dihadapi oleh setiap sekolah yang diampu .Keragaman persoalan yang dihadapi akan membedakan sasaran prioritas monitoring dan supervisi pada setiap sekolah .

4. Program kerja monitoring dan supervisi selalu diawali dengan penilaian kondisi awal sekolah berkaitan dengan sumber daya pendidikan ,program kerja sekolah ,proses bimbingan /pembelajaran dan hasil belajar / bimbingan siswa .Pada tahap selanjutnya dilakukan penilaian serta pemyang diampu berdasarkan hasil penilaian .Kegiatan monitoring dan supervisi dalam satu periode ( 1 tahun ) diakhiri dengan evaluasi hasil monitoring dan supervisi dan penyusunan laporan yang dapat digunakan sebagai landasan program monitoring dan supervisi .

5. Pelaksanaan program monitoring dan supervisi bersifat fleksibel namun tidak keluar dari ketentuan tentang penilaian ,pemyang diampu, dan pemantauan sekolah .Pengawas sekolah memiliki wewenang dalam menetapkan ,metode kerja,langkah-langkah, dan indicator keberhasilan program monitoring dan supervisi dengan memperhatikan kondisi obyektif sekolah yang bersangkutan .

DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 118/1996 yangdirubah dengan Keputusan Menpan No. 91/2001 tentang JabatanFungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentangStandar Nasional Kependidikan.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 Tahun 2007 tentang standar Proses

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang standar Penilaian

Ir. Adang Suryana,MSi , 2009 ,Penyusunan program Monitoring dan supervisi sekolah, Pusat pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan Tenaga kependidikan Pertanian

Drs. Dedy H. Karwan, MM, 2009 , Penilaian dan laporan Kinerja Kepala Sekolah ,Cianjur: PPPPTK Pertanian

SERAT SASTRA GENDHING

PUPUH I
S I N O M

  1. //Sri Nata Dipeng ngrat Jawa / Jeng Sultan Agung Matawis / kang ngadhaton aneng Karta / ing jaman sakeh pra Mulki / ngrat Jawa Nyakrawati / Sabrang Pasisir syud / Amiril Muminina / Sayidina Panata Gami / kyatireng ngrat wus sineksen saking Ngarab//
  2. //Winenang among dirjeng ngrat / Jeng Sultan Agung Matawis / awit jaksuh tranging tingal / lir surya angkara wening / wikan pranateng gaib / sakarsanira Hyang Agung / agung parosanira / Jawa den ulet lan kadis / mardikeng ngrat mustikaning jagad//
  3. //Narendra moncol sasama / mrojol ing kerep tan wigih / pinarak ngideri jagad / tyasnya maruta jinaring mumpuni agal rempit / kridhaning ngrat wus kawengku / miguna ing aguna / wujud langgeng datan lali / rasa mulya tinrusken rasa panedya//
  4. //Kaluhuring kamulyan / ing Jawa Narendra luwih / linuwih pinrih katrekah / sakeh rinuruh ingkang sih / jumenengnya winarni / Slasa kaping sadasa / mangsane wuku Warigalit / Alip lambing Langkir kang windu Mangkara//
  5. //Taun Dal sangkalanira / marga saking tata aji / lamine kraton Narendra / tigang dasa catur warsi / surutira marengi / Jumwah Legi Sapar tengsu /  tanggal kaping dwi dasa / wuku Wukir lambing Langkir / mangsa juga anuju kang windu Tirta//
  6. //Taun Be sangkalanira / asta nem margining kang wit / Panjenenganireng Nata / kasusra ambara murti / pinandhita trus suci / mot ing kawisesan luhur / rinilan geng mangunah / linulutan gung maharsi / mestu puja sinukmarjeng gung rasika//
  7. //Angglenggahi surya candra / ambeg susanta ber budi / yangyang samodra lukita / adil ber para marta mrik / kasub tinengen bumi / walikal waliyul lahu / dibya gung wikareng ngrat / nguni prasapeng sawuri / mring sangunge pra wayah trahing Mataram//
  8. //Yekti tan ingaken darah / yen tan wignya tembang kawi / kang kawrat sandining sastra / akathah logating tulis / kang dhingin basa kawi / tata trepsileng pamuwus / tumrap ing niti praja / kasusilan trus ing ngelmi / lawan kawi kang tumrap sandining sastra//
  9. //Kayata caraka basa / dasa nama atanapi / babasan amengku rasa / rasa karep marang pamrih / myat tuduh kang mangka wit / kanga ran kawi puniku / basa kang mengku rasa / wi : lepasireng pamusthi / mungging sastra karem lepasing graita//
  10. //Tumrap  sandining puspita / karem lepasing semadi / ngesthi tableh ing pangeran / linang sukma sarira nir / tandya puspita jati / mila sagutrah Mataram / den putus olah raras / sasmita sandining kawi / jakti angger satriya mangolah sastra//
  11. //Den eta ingaran tembang / tembang kang tumameng gendhing / anut wileting wirama / manising swara dineling / kang tumrap yuda nagri / raras manising pamuwus / kandel tipising basa / non tuduh manangka kardi / nora kena ninggal rarasing suwara//
  12. //Dene kang tumrap ing sastra / renggan wiramaning gendhing / kinarya ngimpuni basa/ memanise den reksani / lamun bubrah kang gendhing / sastra ngalih rahsanipun / kang tumrap ing pradangga / swara rinaras ing rakmi / anrus kongas asmara langening akal//
  13. //Kalengkanireng swarendah / serancak pineta ngesthi / kesti wirajeng wirama / tuduh pamudyaning dasih /  sih puji kahananipun / tan lyang kang Murbeng Jagad / kang pinuji swara Aji / nyampleng ingkang gendhing / trus kahanan tunggal//
  14. //Pramila gendhing yen bubrah / gugur sembahe mring Widi / batal wisikaning salat tanpa gawe olah gendhing / den eta kang ngran gendhing / swara saking osik jati / mring Hyang Ingkang Masung sih / sih puji kahananipun / osik mulya wentaring cipta surasa//
  15. //Surasing ngiskining kajat / kajat baka ingkang kadim / pramila mangolah gendhing / sedene merdanggeng gendhing / de ana rebut manis / swara manis wileting rum / nyang nyamlengireng raras / swara nrus pinnresing ngesthi / lamun bunrah tan kamot pamujining dat//
  16. //Marma sagung trah Mataram / kinon wignya tembang kawi / jer wajib ugering gesang / ngawruhi titining ngelmi / kqang tumrap ing praja di / tembang kawi asalipun / tarlen titising sastra / nora nana kang liyan tuduh ing sastra//

PUPUH II
ASMARADANA

  1. //Geng branta mangusweng gendhing / satengah wong parengutan / kang ahli gendhing padudon / lawan wong kang ahli sastra / arebut kaluhuran / iku wong tuna ing ngelmu / tan ada gelem kasoran//
  2. //Sejatinya wong ngagesang / apa ingkang binasan / iku kang kinarya luhur / ……………………………. /  yekti kekandangan kibir / rebut luhuring kagunan / dadi luput sakarone//
  3. //Luhuring sastra lan gendhing / takokna kang pra ngulama / kang terus dalil kadise / kang ngarani luhur gendhingnya / pinet saking kakekat / ing ngakal witing tuwuh / ananing Hyang saking akal//
  4. //Witing osikireng jalmi / gendhing akal ing kang warna / myang swara gangsa  cengklinge / tan kahanan wujudira / muhung kayarseng karna / tumruning swara linuhung / kasampurnaning panunggal//
  5. //Mangreh nrus swareng dumadi / myang nyamlenging wirama / tuduh ing katunggalane / de sastra ingaran andap / reh kawengku ing akal / lan kawayang warganipun / sastra gumelaring jagad//
  6. //Tambuh kang yakin ing ngelmi / dene wong kang ahli sastra / ingaran luhur sastrane / layak yen mangsi lan kretas / pantes ngran luhur ing akal / ing sastra suraosipun / luhur sejatining sastra//
  7. //Padha lair pan wus kari / gamelan tan dadi tandha / kamot ing praja karyane / laying praboting Negara / lumintu prakareng kukum, sanadyanta kanthi akal//
  8. //Dudu akal wosing gendhing / akal lelungiting sastra / ngakali gendhing yektine / babaring sandining sastra / kanyataning aksara / sabab alip ingkang tuduh / mengku gaibul hupiyah//
  9. //Dat mutlak dipun arani / myang latakyun ingaranan / durung kahanan laire / maksih wang wung kewala/ iku jatining sastra / anane saestu tuduh / dupi alip wus kanyatan//
  10. //Katandhan ing roh ilapi / goning alam karajiah / iku wit ana akale / denya wit wruh ing dat mutlak / saking kono kang marga / iku kawruhana sagung / endi ingkang luhur andhap//
  11. //Dat lawan sipat upami / sayekti dhingin datira / dupi wus ana sipate / mula jamah kahanannya / awal lan akhirira / kang sipat tansah kawengku / marang dat sjatinira//
  12. //Rasa pangrasa upami / yekti dhingin rasa nira / pangrasa ing kahanane / kang cipta kalawan ripta / saestu dhingin cipta / cipta kang gendhing mangapus / kang nembah lang kang sinembah//
  13. //Yekti dhing kang pinuji / kahanane ingkang nembah / saking kodrating Hyang Manon / mapan kinarya lantaran / saestuning panembah / wiseseng Dat kang rahayu / amuji mring dhawakira//
  14. //Upamane wong nggarbini / rare aneng jro wetengan / yen during prapteng laire / during kababar akalnya / maksih gaib sadaya / tambuh estri tambuh jalu / tambuh pejah tambuh gesang//

PUPUH III
S A R K A R A

  1. //Sinarkara pangawikan gaib / nora liya mung Allah ingkang Sa / dupi lair sing gaibe / panggawe kang rahayu / rahayune pratameng urip / urip tekeng antaka / tangkeping ngaluhur / kaluhuraning kasidan / tan lyan uwit sarengat pranatan bumi / sastra gumelaring jagad//
  2. //Mungguh hakekat kawruh ingesthi / ngijen-ijen trusing kasampurnan / hakekat wus nunggalake / makripat trusing kalbu / jalma ingkang ngluhuraken gendhing / pangesthining jro tekad / cangkring tuwuh bendhung / tegese bapa lan anak / dhingin anak bapa ginawe ing siwi / mendah yen mangkonoa//
  3. //Sayektine jagad tan dumadi / sabab kadim kadhinginan anyar / kasungsang iku dadine / nadyan kang ngarani luhur / gendhing temah tan dadi bayi / pesthi tetep kewala / nangis ki kayatun / lawan lapal ya bubana / wujud olah amengku dusul ngalamin / tuhu gumelaring jagad//
  4. //Pratandhane wujuding Hyang Widi / tuduh kinen puji kang kinarya / sastra lip endi jatine / kadya gigiring punglu / tanpa cucuk tan ngarsa wuri / tan gatra tan satmata / tan arah gon dunung / nora akir nora awal / datan pestha aprak kadya anrambahi / nging wajib ananira//
  5. //De kakekat asalireng gendhing / wus kanyatan ngelmuning Pamngeran / mungging pangrasa tuduhe / angler raseng kemumu / kang pramana anersandhani / tuhu tunggal pinangka / kajaten satuhu / saworing rasa pangrasa / pilih kawruhanan inganakken yekti / awimbuh kawimbuhan//
  6. //Amemuji tan pegat pinuji / yen tan pegat pinuji / yen ta aja urip aneng dunya / tan mbuh yen luhur gendinge / reh tan ana winuwus / kayun maksih kauban langit / sinangga ing bantala / mijil saking banyu / dadine sawabing bapa / yekti tetep luhur sajatining alip / lawan jatining akal//
  7. //Upamine wong jalu lan estri / jroning resmi nikmati samya / pracihna iku jatinbe / tuhu-tuhuning kawruh / ing pawore anyar lan kadim / ya lawan sipatira / sastra gendhingipun / kang rasa lawan pangrasa / estri priya pawore kapurna ing ning / atetep tinetepan//
  8. //Mula jamah loro\loro tunggil / tunggal rasa raseng kiwisesan / nging lamun dadi tuwuhe / pan wajib priyanipun / dadi akal kapurba alip / lir warna jro paesan / ya upaminipun / kang ngilo jatining sastra / wewayangan gendhing sirnanireng cermin / manjing jatining sastra//
  9. //Lir kemandhang lan swara upami / kang kemandhang gendhing ngibaratnya / sastra upama swarane / angler kemandhang mbarung / wangsul marang swara umanjing / lir mina jro samudra / mina gendingipun / sastra upama hudaya / mina yekti anane saking jaladri / myang kauripanira//
  10. //Pejahing mina saking jaladri / jro sagara pasthi isi mina / tan kena pisah karone / malih ngibaratipun / lir niyaga anabuh gendhing / niyaga pama sastra / gendhing gendhingipun/ barang reh purba niyaga / de niyaga amanut purbaning gendhing / panjang yen winursita//

PUPUH IV
P A N G K U R

  1. //Kawuri pangesthining Hyang / tuduhira sastra kalawan gendhing / sokur yen wus sami rujuk / nadyan aksara Jawa / datan kari saking gendhing asalipun / gendhing wit purbaning kala / kadya kang wus kocap ngarsi//
  2. //Kadya sastra kalih dasa / wit pangestu tuduh kareping pujhi / puji asaling tumuwuh / merit sing akadiyat / ponang : ha na ca ra ka : pituduhipun : dene kang : da ta saw a la / kagentyan ingkang pinuji//
  3. //Wadat jati kang rinasan / ponang : pa dha jay a nya : / angyekteni / kang tuduh lan kang tinuduh / padha santosaniira / wahanane / wachadiyat pambilipun / dene kang ma gab a tha nga / wus kanyatan jatining sir//
  4. //Pratandhane Manikmaya / wus kanyatan kawruh arah sayekti / iku wus airing tuduh / Manikmaya antaya / kumpuling tyas alam arwah pambilipun / iku witing ana akal / akire Hyang Maha Manik//
  5. //Awal Hyang Manikmaya / gaibe tan kena winoring tulis / tan arah gon tanpa dunung / tan pesthi akir awal / manembahing manuksmeng rasa pandulu / tajem lir hudaya retna / trus wening datanpa tepi//
  6. //Iku telenging paningal / suerasane kang sastra kalih desi / lan merit sipat kahananing Dat / ponang akal during ana ananipun / kababaring gendhing akal / Manikmaya wus kang ngelmi//
  7. //Awiyar ripta pangrasa / Sang Nurcahya Nurasa wus kawuri / gumantyaning Sang Hyang Guru / nyata ngran caturbudya / winayeng Dat guru retuning tumuwuh / awale Hyang Manimaya / tumulya Kaneka Resei//
  8. //Sepuh minangka taruna / kang taruna minangka kang nyepuhi / pranyina cleaning kawruh / kahananing wisesa / pinresing Dat wus kanyata Sang Hyang Wisnu / winenang kamot nugraha / mangreh budyarjeng dumadi//
  9. //Dene watak nawasanga / wus kanyatan gumlaring bumi langit / iku kawruhanan agung / endi kang luhur andhap / upamane papan lawan tulisipun / kanyatahaning panembah / kalawan ingkang pinuji//
  10. //Papan moting kawisesan / Manikmaya purbane papan wening / tulise mangsi Hyang Guru / sastra upama papan / gending akal upama mangsi wus dhawuh / yen dhingina mangsinira / ngendi nggone tibeng tulis//
  11.  //Sayekti dhingin kang papan / kang anebut papan saking ing tulis / lan malih upamanipun / dhalang kalawan wayang / dhalang sastra wayang akal jatinipun / yekti dhingin dhalangira / kang murbeng sakehing ringgit//
  12. //Lir patine Resi Bisma / duk pinanah dening Wara Srikandhi / watgatanira tinundhung / mring panah Sang Arjuna / gendhing akal ngibarat Srikandhi kang hru / sastra ngibarat kang capa / Sang Parta  titising lungit//
  13. //Kayana Narendra Kresna / lawan Sang Hyang Batara Wisnumurti / iku ngibarat satuhu / karo-karone tunggal / tunggal rasa cipta urip pan wus campur / Sang Wisnu ngibarat sastra / Sri Kresna upama gendhing//
  14. //Horeg rug kambah barubah / lir Bathara Kalarsa badhog bumi / Sri Kresna datan kadulu / wus niring kamanungsan / kaprabawan wikramanira Hyang Wisnu / nanging datan saben dina / denyambeg wikrama werdi//
  15. //Yekti naggo kala masa / yen manggunga wikrama nora dadi / pasthi brastha tan kawuwus / tan ana ngarcapada / satemahe jagad palastha linebur / dening krodhaning Bathara / tan pedah gumlaring bumi//
  16. //Sang Wisnu nuksmeng Sro Lresna gung dumadi / mayu rahayu tumuwuh / anjaga jejeging ngrat / Prabu Kresna sapangreh nuksmeng ngaluhur / wasesa panciptanira / nyipta trus manuksmeng gaib//

PUPUH V
D U R M A

  1. //Durmaning kang ngluhuraken gendhing lan akal / pangesthinireng tokit / Hyang Wisnu lan Kresna / muhung Wisnu lan Kresna / muhung Wisnu Kewala / Sri Kresna datan kaliling / nadyan lebura / kang jagad tan marduliu//
  2. //Yen meksiya nyipta loro-loronira / yekti guguring ngesthi / temah tundha bema / araning Hyang Wisesa / sungsun-sungsun kalih-kalih / lan malihira / siyang kahanan yekti//
  3. //Wong lumaku wus prapteng gon kang sinedya / ndadak abali maning / temah moro cipta / tau renggeng gupita / tambuh kang yakining ngesthi /sajatinira / ujar den wolak-walik//
  4. //Awit dene asamar kahananing Hyang / remit sungil tan sipi / gaib tan wus kena / lamun kinaya ngapa / elok tan kena pinikir / wenanging tingkah / tan lyan harjeng ngesthi//
  5. //Esthiningtyas samya awas kawisikan / dene wong kang ngarani / luhur sastranira / tangeh lamun nyiptaa / sungsun-sungsun kalih-kalih / nora mangkana / pangesthinireng tokit//
  6. //Ana iku marganira saking ora / ora sing ana yekti / raseng ana ora / mantep Dating Wisesa / iku jatining sastra di / tan lawan-lawan / tan sungsun kalih-kalih//
  7. //Dene ingaran mableni mentahing lampah / iku mokal sayekti / tan mangkono lirnya / reh mesthinira ana / amot suksma glaring bumi / tinrus ing puja / mujarja dhiri wening//
  8. //Kawenangan manuhara aruming ngrat / trusing ngakal kalingling / nglanguting kalengkan / wali lungiting alam / ngenglenging ngalam / nglela anyar kalingling//
  9. //Marma ngelmu mulet patraping sarengat / maharjaning dumadi / dadya trus rumangsa / tinuduh trus utama / tumameng cipta pamuji / lamun meksiha / salah ciptaning ngesti//
  10. //Satemahe Sri Kresna pan during mulya / ingaran Harimurti / sarira Bathara / tan kewran salirira / kasumbaganing pamusthi / reh ngari loka / madyapada kalingling//
  11. //Pan wus dene pra nabi kang musna lena / tuwin kang para Wali / myang para Suhada / pra Iman kang minulya / kang rorijalla inganhi / kamg tuk nugraha / tan seda saben ari//
  12. //Yen sedaa pra Nabi salaminira / tan kocap aneng wuri / nadyan kang triloka / sayekti tan dumadya / dennya umangsah semedi / pan kala-kala / tebir lan aprang sabil//
  13. //Saben dina tan pegat racketing sukma / tan kewran denira mrih / pangesthining cipta / kaya lapal kang kocap / iya kayun pidareni / murading lapal / uriping desa kalih//
  14. //Desa lair desa batin wus kawangwang / sumbaganing musthi / harjaseng sucipta / trusing kayat wisesa / sarambut datan salisir / lan kawruhana / sagung kang rebut piker//
  15. //Eling ingkang samya ngudi nalar / away nganti nemahi / kerojoging tekad / tuduh ugering gesang / sayekti ambebayani / rungsiting gawat / watgateng trang ing urip//
  16. //Lawan aja asring padudon ing karsa / iku siriking ngelmi / yen during kaduga / luwung kendel kewala / nanging misilna tumuli / marang ngulama / myang para sujaneng ngelmi//
  17. //Salah siji jatining gendhing lan sastra / tuwa nome kang pundi / iku takokena / aywa was kaya-kaya / den trus lan saraking Nabi / dipun pracaya / nglakoni gama suci//
  18. //Titi tamat srat Sastrasandipradangga / kawrat esthining galih / puniku klimahnya / alime kang niyaga / wruh gangsa swara lan uning / myang aranira / gumlar sawiji-wiji//

Terjemahan :

PUPUH I
S I N O M

  1. Raja Agung di nusa Jawa, Baginda Sulta Agung Mataram, yang bertahta di Karta, pada zaman jaya dan mulia, menjadi raja besar di nusa Jawa, Negara di seberang lautan tunduk, Sri Sultan sebagai panglima para ulama, Sayid Panata Agama, kewibawaannya telah diakui oleh Negara Arab.
  2. Berwenang membina kesejahteraan Negara, Sri Sultan Agung Mataram, bijaksana dan awas penglihatannya, seperti pada waktu matahari bersinar terang, dapat mengetahui aturan yang gaib, dan segala kehendak Tuhan, benar-benar diperhatikan dan diusahakan, ia mempersatukan paham Jawa dengan hadist, kemerdekaan Negara benar-benar merupakan mustika di dunia.
  3. Baginda yang luar biasa ini, benar-benar pandai dan tak segan-segan, pergi mengelilingi dunia, hatinya seperti angin yang terjaring, sempurna dalam pengetahuan lahir dan batin, kridanya alam semesta telah dikuasai, dan dalam menjalankan apa saja menurut kepandaiannya, ia tidak melupakan Tuhan Yang Maha Baka, sedangkan kamulyaan rasa diteruskan dengan berdoa.
  4. Kenyataannya kemuliaan ini, di nusa Jawa seorang raja yang agung, kebaikannya perlu dicontoh dalam tingkah laku, dan dahulu naik tahta pada hari Selasa Legi tanggal 10 dalam bulan Sura, tahun Dal dan windu Angkara, kebetulan musin wuku Warigalit, dan berlambang Langkir.
  5. Tahunnya Dal diperingati dengan sengkalan, Marga Siking Tata Aji (tahun 1535 tahun saka), lamanya memerintah ada 34 tahun, wafatnya pada, hari Jumat Legi bulan Sapar, tanggal 20, wuku Wukir berlambang Langkar, musimnya bertepatan pada windu Tirta.
  6. Tahunnya Be dengan sengkalan, Asta Nem Marganing kang Wit (arti : dari delapan indera yang menyebabkan pulang ke asalnya/1568 tahun Jawa Islam), maka Sri Sultan berangkat ke rahmatullah, dan maharsi di alam suci, masuk kea lam kekuasaan agung, karena keimanannya yang tinggi, beliu dicintai banyak pendeta, yang memujanya penuh dengan rasa puas.
  7. Bersikap seperti matahari dan bulan, yaitu suka menolong rakyatnya, beliau biasa berkeliling di samodra kata-kata, berwatak adil dan suka memaafkan, termasyur di permukaan bumu, sebagai wakil Allah, berwibawa besar dalam negaranya, dan dahulu pernah bersabda, kepada semua keturunan Mataram.
  8. Benar-benar tidak akan diakui sebagai keturunan Mataram, jikalau tidak mengerti tembang kawi, yang termuat dalam rahasia tulisan, banyak watak dan arti dalam tulisan, yang pertama bahasa Kawi, tetap susila dalam pembicaraan, untuk memeriksa dalam pemerintahan, susila terus dengan ilmu, dan kawi untuk rahasia sastra.
  9. Seperti urutan bahasa, dan sepuluh macam nama, juga peribahasa yang mengandung rasa, rasa yang bertujuan menguntungkan diri, melihat pedoman yang permulaan, yang disebut “ka”, itu bahasa yang mengandung rasa, dan “wi” itu lepasnya pendapat, sedangkan tulisan itu lepasnya perasaan hati.
  10. Untuk rahasia dalam tembang, terbenam lepas dalam semedi, benar-benar patuh kepada Tuhan, tatkala suksma dan jasmani hilang, menjadi seperti bunga sejati, maka semua keluarga Mataram, supaya sempurna berolah rasa, pertanda dalam rahasianya kawi, dipastikan pula setiap satria berolah sastra.
  11. Adapun yang disebut tembang, itu khusus untuk gending, dan turut indahnya irama, manisnya suara terdengar, yang untuk Negara berperang, laras menisnya pembicaraan, tebal tipisnya bahasa, sebagai petunjuk karya, tidak boleh meninggalkan larasnya suara.
  12. Adapun yang untuk sastra, hiasan iramanya gending, untuk menghimpun bahasa, manisnya harus diperhatikan, sebab kalau rusak iramanya (maknanya), yang untuk pemain gamelan, suaranya diselaraskan dalam batin, terus timbullah cinta kasih yang menunjukkan keindahan akal.
  13. Karenanya suara yang indah, seperangkat (gamelan) harus diperhatikan, memperhatikan keindahan irama, sebagai petunjuk diri untuk memuja, kepada Tuhan Yang Maha Asih, asih memuji kepada-Nya, tak lain kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang dipuji suara raja, nikmatnya gending, terus ke keadaan tunggal.
  14. Maka gending itu kalau rusak, berarti gugur bektinya kepada Tuhan, menjadi batal hakekat sholatnya, tak berguna berolah gending, adapun yang disebut gending, yaitu merupakan suara yang timbul dari gerak hati sanubari, gerak mulia dari cipta dan rasa.
  15. Makna yang di dalam kayat, kayat yang bersifat baka dan kadim, maka mengolah gending, olah tembang dan memukul gamelan, ada yang berebut manis, suara manis dan harum, juga dengan nikmatnya laras, suara terus tekun dalam memuji, kalau rusak pasti kandas tujuannya ke Datullah.
  16. Maka semua keturunan Mataram, harus mengerti tembang kawi, karena wajib menjadi pegangan hidup, mengerti tentang kebenaran ilmu, yang terpakai dalam tata Negara, yang berasal dari tembang kawi, tak lain yaitu tepatnya sastra, dan pedoman bagi segenap manusia, tidak ada petunjuk lain kecuali sastra.

PUPUH II
ASMARADANA

  1. Yang cinta terhadap gending, banyak orang yang cemberut, yang ahli berolah gending bertengkar, dengan yang ahli sastra, berebut keunggulan, yaitu suatu kebodohan dalam dunia ilmu, satu dan lainnya tidak ada yang mau mengalah.
  2. Sesungguhnya manusia hidup itu, apa yang dilakukan
    Itulah yang akan memuliakan derajadnya, ……………………..………., selalu berlagak sombong, pamer kemulian dan kepandaian, malah kehilangan dua-duanya.
  3. Unggulnya sastra dang ending, tanyakanlah kepada para ulama, yang paham akan dalih dan hadis, yang mengatakan unggul gendingnya, dipandang dari kenyataan, pada akal mulainya tumbuh, dan adanya Tuhan dari akal.
  4. Dari gerak hati manusia, gending akal yang menceritakan, tentang gamelan berikut bunyi larasnya, kelihatan ujudnya, hanya suaranya terdengan di telinga, keluarnya suara yang luhur, adlah kesempurnaan ksesatuan.
  5. Suara kemanusian yang menembus, kedalam nikmatnya irama, menunjuk kepada keesaan-Nya, adapun sastra disebut rendah, karena ditopang gending, dan tergambar wujudnya, sastra yang terhampar di kenyataan., dikatan rendah, oleh karena dukuasai akal oleh akal, dan diatur warganya, selama ia merata di dunia.
  6. Entah bagi yang meyakini ilmu, bagi orang yang ahli sastra, mengatakan luhur sastranya, pantas kalau tinta dan kertasnya, dapat dikatakan luhur akalnya, tetapi dalam pemaknaan sastra, artinya benar-benar luhur sastranya.
  7. Kelahirannya saja sudah terbelakang, gamelan tidak jadi bukti, yang termuat dalam perabot tata Negara, akan tetapi surat menjadi perabot Negara, berjalan setiap hari, dan menyelesaikan perkara-perkara hokum, walaupun itu menggunakan akal.
  8. Bukan akal yang menjadi sarinya gending, sebab akal sangat berkaitan dengan sastra, dan menipu gending sebenarnya, penjelasan rahasia sastra, kenyataan ujudnya aksara, sebab alif yang menunjuk, mengusai ghaibul huwiyah.
  9. Dinamakan Dat mutlak, dan disebut Latakyun, itu belum ada kenyataan lahi, masih di dalam cakrawala kosong, di situ adanya sastra yang sejati, adanya menunjuk kebenaran, karena alif sudah nyata berrujud.
  10. Terbukti dengan adanya roh ilapi,tempatnya di alam karajiyah, pada saat ini mulai ada akalnya, adanya mengetahui tentang Dat mutlak, dari situlah jalannya, demikianlah untuk menjadi periksa semuanya, mana yang luhur dan mana yang rendah.
  11. Umpama Dat dengan sifat, sebenarnya yang terdahulu Datnya, akan tetapi setelah ada sifatnya, maka sama-sama tingkat keadaannya, pada awal dan akhirnya, sifat itu masih selalu dikuasai atau dihina, oleh Dat yang sebenarnya.
  12. Umpama rasa dengan perasaan, tentu yang terdahulu adalah rasa, dalam keadaan lahir perasaan;ah yang ada, cipta dengan riptanya, betul-betul terdahulu cipta, ciptalah yang mengatur gending, begitu pula yang memuji dengfan yang dipuji.
  13. Pasti dahulu yang dipuji, keadaan yang memuji, ada dari kodratnya Tuhan, memang sebagai syarat, sebenarnya memuji, itu dukuasai oleh Dat yang baka, memuji kepada pribadinya.
  14. Umpanya orang yang sedang mengandung, anak yang masih di dalam kandungan, jikalau belum kita tiba saatnya lahir, belum tumbuh akalnya, dan masih gaib semuanya, entah akan keluar putrid entah putra, dan entah hidup entah mati.

PUPUH III
S A R K A R A

  1. Ditembangkan dengan lagu sarkara tentang pengetahuan gaib, tidak lain hanya Tuhan Yang Maha Esa, setelah lahir dari gaibnya, sebagai Dat mutlak yang mulia, sehingga kemuliaannya itu sampai kepada hidupp, sedangkan hidup sampai kepada matinya, sikapnya yang luhur, adalah luhurnya kasidan (jalan sempurna kea lam kubur), tidak lain mulai dari syariat sebagai peraturab di bumi, dan sastra sebagai terwujudnya dunia.
  2. Adapun hakekat itu adalah pengetahuan yang diimankan, mengintai pada kesempurnaan, hakekat sudah memadukan (mempersatukan), sedangkan makrifat itu adalah yang sudah menembus ke sanubari, orang yang meluhurkan gending, berkeyakinan pada ikhtikadnya, bahwa cangkring menumbuhkan blending (biji cangkring), dalam arti bahwa antara ayah dan anak, lebih dahulu anak dan adanya ayah itu berasal dari anak, begitulah hal yang demikian.
  3. Sebenarnya dunia akan tidak terjadi, sebab kadim didahului yang baru, jadi letaknya terbalik adanya, meskipun yang mengatakan luhur gendingnya, akan tidak menjadi bayi, pasti akan tetap saja, tangisnya kayatun, dan lafalnya Yabuhana, wujud Allah menguasai Robul alamin, berarti sungguh-sungguh jadi adanya dunia.
  4. Sebagai tanda wujudnya Tuhan, petunjuk supaya memuji kepada yang membuat, sastra alif mana yang sejati, seperti tepinya punglu (bumi), tanpa pucuk tidak ada muka belakangnya, tidak berwujud dan tidak terlihat dengan mata, bukan arah dan tempat, bukan awal dan akhir, tetapi dekat merata bersatu, demikian maka wajiblah adanya.
  5. Adapun hakekat itu asalnya gending, sudah nyata ilmunya Tuhan, dan petunjuknya ada di perasaan, seperti rasanya kemumu (lumut laut), sedangkan pramanalah yang membebani, benar-benar tunggal, kenyataan sejati, dan bersatulah rasa dan perasaan, pilih pengetahuan ada yang diadakan juga, yaitu bina-membina.
  6. Memuji dengan tak hentinya dipuji, jikalau tidak hidup di dunia ini, dan jikalau tak mengetahui bahwa luhurnya gending, karena tidak banyak dibicarakan, keinginan berada di bawah langit, dan diatas bumi, keluar dari air, menjadi restunya ayah, jadi tetap luhur alif sejati, dari pada akal sejati.
  7. Umpama pria dan wanita, di dalam bersetubuh rasa nikmatnya sama, di sini sebenarnya, suatu pengetahuan yang sungguh-sungguh, mengenai berkumpulnya yang baru dan yang ladim, juga dengan sifatnya, sastra dengan gendingnya, yang rasa dengan perasaannya, yang pria dan wanita bersatunya diakhiri oleh keheningan, saling tatap menetapkan.
  8. Maka jamak dua-duanya bersatu, satu rasa dalam kekuasaan, akan tetapi kalau jadi tumbuhnya, prianyalah yang wajib, menjadi akal yang dipurba alif, seperti gambar yang terlihat dalam cermin, begitulah umpamanya, yang melihat dalam cermin itu sastra sejati, sedangkan gambar cermin itu sebagai gending dan hilangnya gambar iotu, masuk ke dalam sastra sejati.
  9. Seperti gema dengan suara umpanya, yang berkembang diumpamakan gending, sedangkan sastra diumpamakan suaranya, dan berkumandang bersamaan, kembali pada suara, seperti ikan di dalam laut, ikan umpamanya gending, dan laut sebagai sastranya, adanya ikan dari laut, begitu juga dengan kehidupannya.
  10. Matinya ikan pun dari laut, dan di dalam laut pasti isi ikan, kedua-duanya tidak bias dipisahkan, lagi ibaratnya, ibarat niyaga (penabuh gamelan) manbuh gending, niyaga bagaikan sastra, dang ending sebagai gendingnya, segala sesuatunya gending dikuasai niyaga, dan niyaga menurutkan purbanya gending, akan panjang sekalai jikalau terus diceritakan.@@@

PUPUH IV
P A N G K U R

  1. Sudah berlalu berimannya kepada Tuhan, dengan petunjuk yang diumpamakan sastra dang ending, syukur jikalau semua sudah menyetujui, meskipun huruf Jawa, juga tidak ketinggalan asalnya pun dari gending, gending yang menguasai waktu, seperti telah diuraikan di atas.
  2. Seperti sastra huruf dua puluh, karena restu petunjuk kehendak puji, memuji pada asalnya semua yang tumbuh, diambilkan dari akhadiyat, maka yang : ha na ca ra ka itu petunjuknya, adapun yang : da ta saw a la, diganti oleh yang dipuji.
  3. Wahdat sejati yang dirunding, yang pa da jay a nya sesungguhnya, yang menunjuk dan yang ditunjuk, sama-sama kuatnya, oleh karena itu itu wakhdiat menjadi akhir keadaannya, dan yang : ma gab a tha nga, itu sudah terbukti adanya yang sir sejati.
  4. Sebagai tanda Hyang Manimaya, sudah nyata tahu akan tujuannya, di situ sudah petunjuk yang terakhir, Manikmaya sekiranya, berkumpulnya hati alam arwah, di sinilah mulainya ada akal, akhirnya menjadi Hyang Mahamanik.
  5. Awalnya Hyang Manikmaya, gaibnya tidak boleh dicampur dengan tulisan ini, tidak berarah dan tak bertempat tinggal, tidak pasti awal akhir, menyembah dan menyatu pada rasa penglihatan, maka tahunya tajam seperti lautan jernih, dan terus hening tanpa ada batas.
  6. Itu adalah titik tengah dari penglihatan, maksudnya huruf dua puluh, sama dengan sifat dua puluh, yang menunjukkan keadaannya Dat, akal belum ada keadaannya, lahirnya gending akal, itu setelah Manikmaya sudah berilmu.
  7. Luasnya arti ripta dan perasaan, seperti halnya Sang Nurcahya dan Nurasa selesai, gantinya Sang Hyang Guru, nyata disebut catur baya, dalam kekuasaan Dat Guru sebagai rajanya yang tumbuh (manusia), awalnya Hyang Manikmaya, lalu Hyang Keneka Resi (narada).
  8. Yang tua menjadi muda, dan yang muda bertindak sebagai yang tua, agar jelas pengetahuannya, tentang keadaan yang berkuasa, dari adanya keadaan, maka sudah jelaslah kenyataan Sang Hyang Wisnu, yang berwenang membawakan bahagia, untuk manusia yang berbudi luhur.
  9. Adapun yang dinamakan watak Nawasanga, itu sudah nyata terbentangnya bumi dan angkasa, hal itu ketahuilah semuanya, mana yang luhur dan mana yangrendah, seumpama papan tulis dengan tulisannya, kenyataannya yang memuji, dengan yang dipuji.
  10. Papan tulis sebagai tempat kekuasaan, Manikmaya adalah yang menguasai adanya papan tulis yang wening, adapun tintanya adalah Sang Hyang Guru, sastra umpama papan, dang ending akal adaikan tinta sudah memerintah, kalau lebih dulu tintanya, di mana tempat tinta jatuh di situ akan tertera tulisannya.
  11. Sungguh terdahulu papan tulisnya, yang mengatakan papan tulis itu adanya dari tulisan, dan lagi umpamanya, dalang dengan wayangnya, dalang sebagai sastra wayang sebagai akal sejati, sungguh benar terdahulu dalangnya, yang menguasai dan membina seluruh wayang.
  12. Seerti wafatnya Resi Bisma, pada waktu dipanah oleh Wara Srikandi, anak panaknya Sang Harjuna, gending akal ibarat Wara Srikandi, sastra ibarat busurnya, Sang Harjuna, gending akal ibarat Wara Srikandi, sastra ibarat busurnya, Sang Harjuna merupakan titisan Dat yang berilmu tinggi.
  13. Seperti Batara Kresna, dengan Sang Hyang Wisnumurti, itu ibarat yang sebenarnya, kedua-duanya dalam keadaan tunggal, menyatu cipta dan rasanya dalam kehidupan, Sang Hyang Wisnu ibarat sastra, dan Sri Kresna ibarat gendingnya.
  14. Goncang dan porak-poranda, seperti Batara Kala akan menelan bumi, Sri Kresna tidak tampak, dan telah musnah kemanusiaannya, terpengaruh oleh wikramanya Sang Hyang Wisnu, akan tetapi tidak setiap hari, wikramanya dilakukan.
  15. Hanya pada saat-saat yang perlu, oleh karena jikalau terus menerus wikrama tidak aka nada barang jadi, semuanya lebur, dunia pun tidak ada, sebabnya dunia lebur, karena kridanya Sang Hyang Wisnumurti, tidak berguna adanya bumi.
  16. Sang Hyang Wisnu manitis pada Sri Kresna, supaya mulia segala sesuatu yang terbentang di atas bumi, melindungi segala yang tumbuh, menjaga tegak berdirinya dunia, tiap pendapat dan perintah Prabu Kresna pasti luhur, kekuasaannya untuk mencipta, mencipta terus menitis secara gaib.@@@

PUPUH V
D U R M A

  1. Tekad mereka yang meluhurkan gending dan akal, pendapatnya dalam tauhid, adalah bahwa Hyang Wisnu dan Kresna, hanya Hyang Wisnu yang ada, Sri Kresnatidak terpadu, walaupun dunia menjadi hancur lebur, tidak dihiraukan.
  2. Jikalau masih mencipta kedua-duanya, tentulah gugur buktinya,telah sia-sia belaka, nama Tuhan Yang Maha Kuasa, bersusun dua-dua, dan lagi, menyatu dengan keadaan yang sejati.
  3. Orang berjalan sudah sampai pada tujuannya, mendadak kembali lagi, berarti ciptanya bercabang dua, dalam merangkai karangan, entah mana yang benar-benar diyakini, yang sebenarnya, hal ini merupakan ungkapan yang dibolak-balik.
  4. Karena samar-samarnya keadaan Ilahi, sangat halus dan susah dijamah, dan gaib sudah tak terkirakan, apabila dikira-kira, elok dan tak terpikirkan, kekuasaan untuk bersikap, tidak lain hanya cipta yang suci.
  5. Dalam pikiran yang awas mendapat bisikan, adapun orang yang mengatakan luhur sastranya, susun dua-dua, tidak begitu, caranya menjalankan tauhid.
  6. Adanya itu berasal dari ketiadaan, sedangkan ketiadaan itu disebabkan dari ada, terasa ada atau tidak itu, kebenaran Datnya Yang Maha Kuasa, itulah sastra sejati, tanpa kawan, dan tidak tersusun dua-dua.
  7. Adapun yang dikatakan mengulangi perjalanannya kembali, itu mustahil benar, bukan demikian maksudnya, yang mestinya ada, dalam sukma terbentangnya bumi, maka terus dalam memuji, mengharap kebahagian agar dirinya wening (bersih, suci).
  8. Kemampuannya menyelami indahnya alam, terus di akal tampak, kesepian dalam kemasyuran, sebagai wakil rahasianya alam, itulah gambaran tentang rumitnya ilmu, terpaku dalam alam itu, maka tampaklah yang baru.
  9. Maka ilmu yang disertai dengan menjalani syareat, sejahteranya mahkluk, menjadi terasa terus utama, merasuk dalam cipta dan pujinya, bilamana masih salah cipta dan tekadnya.
  10. Menurut hematnya Sri Kresna belum mulia, disebut harimurti, maksudnya repot dalam segala hal, dari kemurniannya berfikir itu, keadaan ariloka, dan madyaloka telah dipahami semua.
  11. Adapun para Nabi yang sudah wafat, dan para wali, para syuhada, juga para imam yang mulia, yang rohnya inganhi, yang mendapat wahyu, tidak menjalani mati setiap hari.
  12. Adaikata para Nabi itu mati selama-lamanya, tidak dibicarakan kemudiannya, walaupun yang Triloka, pasti tidak ada, sebab perbuatan semedi, para Nabi dan lainnya itu hanya pada waktu tertentu, waktu takbir dan perang sabil.
  13. Setiap hari tidakpisah dengan Hyang Suksma, ia tidak sukar, menjalankan ciptanya, seperti lafal yang ada, Iya Kayu Pidareni, yang maksudnya, hidup di dalam dua desa (dua tempat).
  14. Desa lahir dan desa batin sudah terang, mengejar kebahagian, dari ciptanya yang suci, terus sampailah pada Kayat Yang Maha Kuasa, serambut saja tidak berbeda keadaannya, ketahuilah semua yang sedang berebut pikir.
  15. Ingatlah semua yang sedang mengolah nalar, jangan sampai mengalami, terlanjur tekadnya, menyimpang dari peraturan hidup, benar-benar berbahaya, gawatnya bukan main, tentang arah terangnya hidup.
  16. Dan jangan sering bertengkar dalam pendapat, itu syirik bagi orang berilmu, jikalau tidak cocok, lebih baik diam saja, akan tetapi lalu tanyakan pada ulama, atau para sarjana ilmu.
  17. Salah satu kebenarannya gending dan sastra, mana yang tua dan mana yang muda, tanyakan itu, jangan was-was (bimbang) dan ragu-ragu, supaya terus sampai saraknya Nabi, dengan penuh kepercayaan, menjalankan agama suci.
  18. Tamatlah serat sastra sandi pradangga, masuk di dalam hati, semua kalimahnya itu, alimnya niyaga, setelah ia mengetahui dan mendengar suara gamelan, tentang nama-namanya, jelas satu persatu. @@@

RANGGAWARSITA

JANGKA RANGGAWARSITAN
.I. JAKA LODANG, II. KALATIDA, III. SABDA TAMA,
IV. SABDA JATI, V. KALITIDA PININGIT,
VI. WEDATAMA PININGIT.

Ingkang ngimpun lan nyukani
Centangan
B.K.

Cap-capan IV – 1961

Penerbit
KELUARGA BRATAKESAWA
Yogyakarta
supaya pada emut
amawasa mbenjang jroning taun
windu kuning kono ana wewe putih
gagamane tebu wulung
arsa angrabaseng wedhon

(“Sabda_Tama” pada 15)

PRASABEN

ANGGEN KULA ngimpun lan ngedalaken serat “jangka” punika, boten jalaran kula rumaos mangertos dateng suraosipun, utawi boten sumedya ajak-ajak dateng para maos supados anggilut, langkung-langkung ajak-ajak gegan-geganen tanpa panimbang lan panglimbang, punika babar pisan boten. Tancebing sedya kula namung ngrecangi memetri ingkang nama kasusatran Jawi.

Kawuningana, para linangkung ingkang yasa jangka sakawit punika saged ugi asalipun saking tampi “ilham” ingkang dipun-alami salebetipun ….. sagebyaring kilat. Amila tangeh lamun sageda jelas jlentreh, destun titi mangsanipun kemawon terkadang mlesed.

Ingkang anggegelani manah punika, dene katah kemawon “jangka” susulan, ingkang asal-asalipun namung saking pangotak-atik utawi pangajeng-ajenging manahipun, terkadang angewahi utawi mewahi jangka ingkang sampun wonten, dipun-akeni damelanipun piyambak utawi dipun awadaken damelanipun tiyang sanes.

Bab nyuraos ungeling “jangka’ punika pancen angel. Para sarjana sujana anggenipun nyuraos jangka punika asring kapirid saking pipindaning kawontenan, tuwin kapirid saking tetembunganipun ingkang sinandi.

Ingkang kapirid saking pipindaning kawontenan, kados ta ungel-ungelan “begjane ula dahulu, cangkem silite anyaplok” (Sabda Tama 12) punika gampil pambatanganipun, inggih punika : tiyang ingkang mangro tinga. Sareng ungel-ungelan “ana wewe putih” (Sabda Tama 15), punika punapa, kula trima jembit.

Ingkang kapirid saking tetembunganipun ingkang sinandi, kados ta : kala 10 – 1 – 1955 wonten satunggaling priyagung atitel Mr. nglahiraken pamanggih wonten ing madyaning papanggihan : ngalembana kawicaksananipun Ki Pujangga Ranggawarsita, awit wontenipun ungel-ungelan “beda-beda ardane wong sanagara” (Katatida 2) tuwin ungel-ungelan “tyas riwut rawat dahuru, korup sinerung ing goroh” (Sabda Tama 4), punika dipun tegesi P.I.R. (Wangsanagara lan Hazairin) kala samanten, punapa dene ngrebdanipun tindak korupsi punika. Apa tumon? Kula trimah jembit, jer sanes bangsanipun sarjana sujana.

Titi mangsa ingkang kasebut ing “jangka” pinika nuwun inggih boten sadaya gampil dipun tegesi. Kados ta tumrap ungel-ungelan ing Jaka Lodang : “sirna tata estining wong” (1850), “nir sad estining urip” (1860, “wiku sapta ngesti ratu” (1877), “nembah nukswa pujangga ji” (1802) punika sadaya gampil dipuntegesi, awit punika sengkalan limrah. Ananging ungel-ungelan ing Sabda Tama : “taun windu kuning” punika tegesipun ingkang boten gagap-gagap : kados pundi?

Tumrap serat : “jangka” ingkang nama Kalatida Piningit tuwin Wedatama Piningit, atur kula dateng para maos perlu kula ambali malih : sampun ngantos anggega lan kuwatos, amargi :

Jangka wau sampun kliwat, tetela boten wonten punapa-punapa.
Snajan redi Merapi kala-kala bade kurda, nanging Pamarintah tansah anjagi lan damel ririgen saperlunipun.
Mirsanana centangan kula tumrap “jangka” wau ing kaca 34-35-36.
Ingkang ngimpun.

Karangbolotan, akhir Juni 1957.

@@@

I. JAKA LODANG

B E B U K A

Ronggh jleg tumiba | gagaran santosa | wartane meh teka | sikara karoda | tatage tan katon | barang-barang ngerong | saguh tanpa raga | katali katawar | dadal amekasi | tanda murang tata.

G A M B U H

Jaka Lodang gumandhul | praptaning pang ngethengkrang sru muwus | eling-eling pasti karsaning Hyang Widhi | gunung mendhak jurang mbrenjul | ingungsir praja prang kasor.
Nanging awya kliru | sumurupa kanda kang tinamtu | nadyan mendak mendaking gunung wis pasti | maksih katon tabetipun | beda lawan jurang gesong.
Nadyan bisa mbarenjul | tanpa tawing enggal jugrugipun | kalakone karsaning Hyang wus pinasti | yen ngidak sangkalanipun | sirna tata estining wong.
S I N O M

Sasedyane tanpa dadya | sacipta-cipta tanpolih | kang reraton-raton rantas | mrih luhur asor pinanggih | bebendu gung nekani | kongas ing kanistanipun | wong agung nis gungira | sudireng wirang jrih lalis | ingkang cilik tan tolih ring cilikira.
Wong alim-alim pulasan | njaba putih njero kuning | ngulama mangsah maksiat | madat madon minum main | kaji-kaji ambataning | dulban kethu putih mamprung | wadon nir wadorina | prabaweng salaka rukmi | kabeh-kabeh mung marono tingalira.
Para sudagar ingargya | jroning jaman keneng sarik | marmane saisiningrat | sangsarane saya mencit | nir sad estining urip | iku ta sengkalanipun | pantoging nandang sudra | yen wus tobat tanpa mosik | sru nalangsa narima ngandel ing suksma.
MEGATRUH

Mbok parawan sangga wang duhkiteng kalbu | jaka Lodang nabda malih | nanging ana marmanipun | ing weca kang wus pinesthi | estinen murih kelakon.
Sangkalane maksih nunggal jamanipun | neng sajroning madya akir | wiku Sapta ngesthi Ratu | ngadil parimarmeng dasih | ing kono kersaning Manon.
Tinemune wong ngantuk anemu kethuk | malenuk samargi-margi | marmane bungah kang nemu | marga jroning kethuk isi | kencana sesotya abyor.
CENTANGAN

(1). Bubukanipun serat “Jaka Lodang” punika mesi sandi-sama. Wiwitaning garis mangadep mungel “Ranggawarsita basa Kadaton”, dening pungkasaning garis mangandap mungel “Basa Kadaton Ranggawarsita”.

(2). Limprahipun serat “Jaka Lodang” inggih namung dumugi sekar Megatruh pada angka 3 punika. Nanging serat “Jaka Lodang” wedalan “Maha Dewa” tanpa bubuka, sarta wewah sekar Asmaradana kados ing ngandap punika :

ASMARADANA

Ingkang bisa nemu iki | nora saben sok uwanga | kudu ana pilihane | kang weruh jangkaning jaman | eling kanti waspada | tindak tuwajuh lan jujur | ingkang antuk kamurahan.
Aywa sira banjur wedi | samar nora kapanduman | elinga marang kodrate | Pangeran luwih kuwasa | adil tanpa upama | sapa angestokna dawuh | sayekti antuk nugraha.
Nugrahanira Hyang Widi | tan kena kinira-kira | margane sewu dadalane | Yogja den sebar darana | aywa kasesa-sesa | grusa-grusu narung binuh | ngrusakke tanceping tekad.
WEWAHAN

Wonten serat Jaka Lodang ingkang sanes yasanipun Ki Pujangga R.Ng. Ranggawarsita, isi sekar : (1) Dandanggula, (2) Pangkur, (3) Maskumambang, (4) Kinanthi, (5) Blabak, (6) Pucung, (7) Mijil, (8) Durma, (9) Asmaradana, (1)) Gambuh, (11) Sinom, (12) Megatruh, (13) Pututgelut, sami nigang pada gunggung 39 pada.

Ing wiwitanipun pupuh Gambuh inggih mungel, “Jaka Lodang gumandul, praptaning pang ngetangkrang sru wuwus sami kados Jaka Lodang hiyasan Ranggawarsitan. Nanging inggih namung 2 pada lingsa ing sekar Gambuh punika kemawon ingkang sami kaliyan “Jaka Lodang” Ranggawarsitan. Sanes-sanesipun boten wonten ingkang sami.

Dene isinipun serat wau ringkesipun kados ing ngandap punika :

Ken Limaran ing Dekah Dadapan nyapu, nanging tansah pulih malih larahanipun. Lajeng ngucapaken pasang giri : sinten ingkang saged nulungi damel resik, yen priya dadosa jatu-krama, yen wanita dadosa saderek sinarawedi.

Jleg, wonten wanara nama Jaka Lodang : dateng tanpa sangkan, sage ngleksanani pasang-giri wau. Ken Limaran lajeng dados simahipun Jaka Lodang. Ing wanci dalu, Jaka Lodang meling dateng simahipun, supados enjingipun ngintun dateng sabin, piyambakipun bade anggaru.

Enjingipun, Ken Limaran ngintun sayektos, nanging Jaka Lodang boten woten ing ngriku. Lajeng katungka Raden Putra (Panji Ino Kartapati) kanti punakawan, Ki Jodehsanto, rawuh ing ngriku, nitih kuda. Ken Limaran katantun bade kapundut garwa : purun. Wusana Jaka Lodang jleg dateng.

Raden putra trangginas bade ngayati jemparing, Jaka Lodang lajeng prasaja, yen piyambakipun punika dutaning Dewa, kinen manggihaken Ken Limaran kaliyan Raden Putra. Sampun pinasti jodo, benjing saged nurunaken ratu salebetipun pitung jaman. Jaka Lodang lajeng medaraken “jangka” salebetipun pitung jaman punika.

Pungkasanipun serat punika wau (sekar pututgelut) ungelipun :

Prapteng kono jangkane wus titi | pama gancaring wayang | carangane kang dinapur | neng jroning rat Jawa | tekeng jaman wekasan | trahira tumaruntun.

Punika ngewrat sandi-asmaning pangriptanipun, manggen wonten ing pungkasaning garis, mungel : “Tiyang Purwasantun” (= Purwasari, Surakarta), inggih punika K.R.T. Tandanagara Bupati Nayaka, pangiketipun nalika taksih asma R.T. Suradipura Buoati Anom.

Panjenenganipun rumiyin asmanipun M.Ng. Reksadipraja inggih Ki Jagawigata.

Serat wau nalika kaecap lan kawedalaken dening pangecapan Mardi Mulya ing Ngayogjakarta (± taun 1922) kanamakaken, serat Jaka Lodang. Sareng kawedalaken dening Toko Buku “Sadu Budi” sarta kaecap ing pangecapan “Marseh” Surakarta, (taun 1940) kanamakaken serat “Jangka Ketek Ogleng”.

Pancen lampahing cariyos ing serat punika wau sairib kaliyan lampahing cariyos tontonan kala jaman alitan kula, ingkang nama tontonan Ketek Ogleng. Bedanipun : Ing tontonan Ketek Ogleng, ingkang dipun kintun punika Raden Putra, ingkang ngintun anama Endang Lara Tompe. Wonten ing margi pun Endang dipun begal dening Ketek Ogleng, salajengipun pun ketek kaprajaya dening Raden Putra.

Wasana nyumanggakake.

@@@

II. K A L A – T I D A

S I N O M

Mangkya dalajating praja | kawuryan wus sunya ruri | rurah pangrehing ukara | karana tanpa palupi | atilar silastuti | sujana sarjana kelu | kalulun kalatida | tidhem tandhaning dumadi | ardayeng rat dene karoban rubeda.
Ratune ratu utama | patihe patih linuwih | pra nayaka tyas raharja | panekare becik-becik | parandene tan dadi | paliyasing Kala Bendu | malah sangkin andadra | rubeda kang ngriribedi | beda-beda ardane wong sanagara.
Katatangi tangisira | sira sang parameng kawi | kawilet ing tyas duhkita | kataman ing ren wirangi | dening upaya sandi | sumaruna anarawung | pangimur manuara | met pamrih melik pakolih | temah suka ing karsa kurang wiweka.
Kasok karoban pawarta | bebaratan ujar lamis | pinudya dadya pangarsa | wekasan malah kawuri | yen pinikir sayekti | mundhak apa aneng ngayun | andhedher kaluputan | siniraman banyu lali | lamun tuwuh dadi kekembanging beka.
Ujaring paniti-sastra | awawarah asung peling | ing jaman keneng musibat | wong ambeg jatmika kontit | mengkono yen niteni | pedah apa amituhu | pawarta lalawara | mundhak angreranta ati | angurbaya ngiketa cariteng kuna.
Keni kinarya darsana | panglimbang ala lan becik | sayekti akeh kewala | lelakon kang dadi tamsil | masalahing ngaurip | wahananira tinemu | temahan anarima | mupus pepesthening takdir | puluh-Puluh anglakoni kaelokan.
Amenangi jaman edan | ewuh aja ing pambudi | milu edan nora tahan | yen tan milu anglakoni | boya kaduman melik | kaliren wekasanipun | ndilalah karsa Allah | begja-begjane kang lali |
luwih begja kang eling lawan waspada.
Semono iku bebasan | padu-padune kepengin | enggih mekoten Man Doblang | bener ingkang angarani | nanging sajroning batin | sajatine nyamut-nyamut | wis tuwa arep apa |
muhung mahas ing asepi | supaya ntuk pangaksamaning Hyang Suksma.
Beda lan kang wus santosa | kinarilan ing Hyang Widhi | satiba malanganeya | tan susah ngupaya kasil | saking mangunah prapti | Allahu paring pitulung | marga samaning titah | rupa sabarang pakolih | parandene maksih taberi ikhtiyar.
Sakadare linakonan | mung tumindak mara ati | angger tan dadi prakara | karana riwayat muni | ikhtiyar iku yekti | pamilihing reh rahayu | sinambi budi daya | kanthi awas lawan eling | kanti kaesthi antuka parmaning Suksma.
Ya Allah ya Rasulullah | kang sipat murah lan asih | mugi-mugi aparinga | pitulung kang anartani | ing alam awal akhir | dumunung ing gesang ulun | mangkya sampun awredha | ing wekasan kadi pundi | mula mugi wontena pitulung tuwan.
Sageda sabar santosa | mati sajroning ngaurip | kalis ing reh aruraha | murka angkara sumingkir | tarlen meleng malat sih |
sanityaseng tyas memasuh | badharing sapu dhendha | antuk mayar sawetawis | borong angga sawarga mesi martaya.
CENTANGAN :

(1) Sasumerep kula serat-serat “Kalatida” cap-capan, ing pada 1 garis 1 punika sami kaserat “Mangkya dreajating praja”, namung “Kalatida” wedalan Pustaka Nasional Surabaya kaliyan serat punika ingkang kaserat “Mangkya dalajatingpraja”. Kinten-kula leres “dalajat”, amargi darajat ateges : ngalamat.

(2) Woten serat “Kalatida” ingkang ing pada 1 garis 5-6-7 punika mungel : “ponang parameng kawi, kawilet ing tyas malat-kung, kongas kasudranira”.

(3) Serat “Kalatida” seratan tangan kagunganipun R.Ng. Dwijawiyata, pensiunan Kepala Sinder pamulangan ing Ngayogyakarta, wonten 13 pada. Inggih punika : saderengipun mungel “Mangkya darajating praja” mungel makaten :

Wahyaning arda rubeda | ki pujangga amengeti | mesu cipta mati raga | medar warananing gaib | ananira sakalir | ruweding sarwa tumuwuh | wiwaling kang warana | dadi badaling Hyang Widi | amedarken pari-bawaning bawana.

Miturut keterangan ingkang kagungan, serat “Kalitida” 13 pada wau ugi sampun nate kaecap ing Surakarta, panjenenganipun asli nurun ingkang sampun cap-capan wau.

(4) Sadaya serat “Kalitida” ing pada pungkasan garis pungkasan, mungel : borong angga suwarga mesi martaya, punika mesi sandi-asmanipun ingkang mangripta (R.Ng. Ranggawarsita).

WEWAHAN :

Woten serat nama “Kalabrasta” nanging dereng nate kawedalaken warni serat mirungan, nalika ± taun 1910 nate kaewratwoten ing ari-warti “Darma Kanda” Surakarta, ± taun1930 nate kaewrat wonten ing ari warti :Sedya Tama” Ngayogyakarta. Ing jaman merdika punika nate kawedalaken awor serat-aerat jangka sanesipun, dados sabuku. Tuwin nate kaewrat wonten ing kala warti “Panyebar Semangat” Surabaya.

Serat “Kalabrasta” punika sekaripun Sinom kados “Kalatida” katahipun inggih 12 pada kados “Kalatida”. Bokmanawi ingkang ngripta dereng nate mrangguli “Kalatida ingkang 13 pada. Dene suraosipun angosok-wangsul serat Kalatida. Ing pada pungkasan mungel makaten :

Ilang kasmalaning nusa | yen minum tirta martani | warsitaning Kalabrasta | sirna sagunging prihatin | pan ing mangkya wus wanci | pambudi kamulyan umum | aywa katungkul pada | ambudi ajining diri | kang amangun dwijaning atmaja tama.

Ing garis pungkasan “kang amangun dwijaning atmaja tama” punika mesi sandi asmaning pangarangipun, inggih punika saderek Mangunatmaja, tilas lurah ing Karangwungu, bawah kabupaten Klaten, panuntunipun paguron “Sarekat Abangan”, kasebut ing serat “Falsafah Sitijenar” wedalan Kulawarga Bratakesawa.

Dados pangarangipun serat “Kalabrasta” punika priyantun jaman sapunika kemawon. Suraosipun : manawi para saderek Jawi sami kersa necep kawruh Sarekat Abangan (+minum tirta martani) bade sirna sadaya prihatos lan bebendu ing tanah Jawi punika. Para necep kawruh wau sinebut atmaja tama. Makaten punika panganggep lan pangajapipun sang dwija ingkang yasa serat “Kalabrasta” kala taun…… ± 1910.

@@@

III. SABDA TAMA

G A M B U H

Rasaning tyas kayungyun | angayomi lukitaning gambuh | nyambi-wara kalawan eninging ati | katenta kudu pitutur | sumingkir ing reh tyas mirong.
Den samya amituhu | ing sajroning jaman Kala-bendu | yogya sami nyunyuda ardaning ati | kang nuntun mring pakewuh | uwohing panggawe awon.
Ngajapa tyas rahayu | ngayomana sasameng tumuwuh | wahanane ngendhak angkara klindhih | ngendhangken pakarti dudu | dinuwa luwar tibeng doh.
Beda kang ngaji mumpung | nir waspada rubedane tutut | akinthilan tan anggop anggung tut-wuri | korup sinerung ing agoroh.
Ilang budayanipun | tanpa bayu weyane ngalumpuk | sakciptaning wardaya ambabayani | ubayane nora payu | kari ketaman pakewoh.
Rong asta wus katekuk | kari ura-ura kang pakantuk | dandanggula lagu palaran sayekti | ngluluri para leluhur | abot ing sihing swami karo.
Galap gangsuling tembung | Ki Pujangga panggupitanipun | rangu-rangu pamanguning reh harjanti | tinanggap prana tumambuh | katenta nawung prihatos.
Wartine para jamhur | pamawasing warsita tanpa wus | wahanane jaman owah angowahi | yeku sangsaya pakewuh | ewuh-aya kang linakon.
Sidining Kala-bendu | saya ndadra ardaning tyas limut | nora kena sinirep limpating budi | lamun durung mangsanipun | malah sumuke angrandon.
Tatanane tumruntun | panutaning tyas angkara antuk | kala-desa wenganing karsa kaeksi | limut kalimput angawut | mawut sangyaning dumados.
Ing antara sapangu | pangungaking kahanan wus mirut | morat-marit panguripane sesami | sirna katentremanipun | wong udrasa sa-nggon-enggon.
Kemat isarat lebur | bubur tanpa daya kabarubuh | paribasan tidhem tandhaning dumadi | begjane ula dahulu | cangkem silite anyaplok.
nDungkari gunung-gunung | kang geneng-geneng padha jinugrug | parandene tan ana kang nanggulangi | wedi kalamun sinembur | upase lir wedang umob.
Kalonganing kaluwung | prabanira kuning abang biru | sumurupa iku mung soroting warih | wawarahe para Rasul | dudu jatining Hyang Manon.
Supaya pada emut | amawasa benjang jroning taun | windu kuning kono ana wewe putih | gagamane tebu wulung | arsa angrebaseng wedhon.
Rasane wes karasuk | kesuk lawan kala mangsanipun | kawisesa kawasanira Hyang Widhi | wahyaning wahyu tumelung | tulus tan kena tinegor.
Karkating tyas katuju | jibar-jibur adus banyu wayu |yuwanane turun-temurun tan enting | liyan praja samya sayuk |keringan saenggon-enggon.
Tatune kabeh tuntunm | lelarane waluya sadarum | tyas prihatin ginantyan suka mepeki | wong ngantuk anemu kathuk | jro mesi dinar sabokor.
Amung padha tinumpuk | nora ana rusuh colong jupuk | raja kaya cinancangan aneng njawi | tan ana nganggo tinunggu | parandene tan cinolong.
Diraning durta katut | anglakoni ing panggawe runtut | tyase katrem kayoman ayuning budi | budyarja marjayeng limut | amawas pangesthi awon.
Ninggal pakarti dudu | kadarpaning parentah ginugu | mring pakaryan saregep temen nastiti | ngisor dhuwur tyase jumbuh | tan ana waon winaon.
Ngratani sapraja agung | keh sarjana sujana ing kewuh | nora kewran ing wicara agal alit | pulih duk jaman rumuhun | tyase teteg teguh tanggon.
CENTANGAN :

(1) Serat “Sabda Tama” sekar Gambuh 22 pada ing nginggil punika wau mesi sandi asmanipun ingkang iyasa, manggon wonten ing wiwitaning pada, mungel : “Raden Ngabehi Ranggawarsita ing Kedung Kol Surakarta-Adiningrat”

(2) Sandi-asma punika pancenipun kenging kangge titikan ingkang permati, nanging emanipun katah sandi asma ingkang gadungan. Boten kirang-kirang serat waosan tembang ingkang wonten sandi asmanipun Ranggawarsitan ananging sanes iyasanipun R.Ng. Ranggawarsita.

Ugi woten “jangka” sekar Gambuh 5 pada mawi sandi asma Ranggawarsitan gadungan, nate kaewrat wonten ing ari warti “Darma Kanda” ing Surakarta taun 1900 langkung welasan, ungelipun makaten :

Rong netra wus tumlakup | merem dipet ngatas mring Hyang Agung | nyuwun uning wahananira ing wuri | byar sumilak katon lugu | bakal ananing lalakon.
Galagate ing pungkur | wahanane jaman saya kisruh | akeh laku kang sungsang bawana balik | wanodya yun ngarah luhur | temah priyane keh asor.
Warnanen tyasing kakung | keh amirib pra wadon satuhu | cupar memet wetuning butuh tinliti | wit samar paparingipun | Hyang Suksma yen tan dumawoh.
Singlaring tyas puniku | nyudakaken tumuruning wahyu | sirna gempang pangandele mring Hyang Widhi | marma jagade barubuh | keh laku ingkang mbesejol.
Tatas katresnanipun | wonge cilik mring bangsa ngaluhur | wit kang ngembat praja yekti kurang adil | akeh raja tinarungku | ngono karsane Hyang Manon.
Makaten ungeling “jangka” wau. Miturt kasumerepan kula, ingkang andamel : salah satunggaling guru Sekolah Rakyat, asli Surakarta.

Wusana nyumanggakaken.

@@@

IV. SABDO JATI

M E G A T R U H

Hawya pegat ngudiya ronging budyayu | margane suka basuki | dimen luwar kang kinayun | kalising panggawe sisip | ingkang taberi prihatos.
Ulatna kang nganti bisane kepangguh | galedehan kang sayekti | talitinen awya kleru | larasen sajroning ati | den tumanggap dimen manggon.
Pamanggone aneng pangesti rahayu | angayomi ing tyas wening | eninging ati kang suwung | nanging sejatining isi | isine cipta kang yektos.
Lakonana klawan sabar ing kalbu | yen obah-obah niniwasi | kasusupan setan gundhul | ambebedung nggawa kandhi | isine rupiah kethon.
Lamun nganti korup mring panggawe dudu | dadi pakuwoning iblis | mlebu ing alam pakewuh | ewuh pananinging ati | temah wuru kabesturon.
Nora kengguh mring pamardi reh budyayu | ayuning tyas sipat kuping | kinepung panggawe rusuh | lali pasihaning Gusti | ginuntingan kaya mranos.
Parandene kabeh kang samya andulu | ulap kalilipen wedhi | akeh wong kang padha sujud | kinira yen Jabarail | kautus dening Hyang Manon.
Yeng kang uning marang sejatining kawruh | kewuhan sajroning ati | yen tan niru nora arus | uripe kaesi-esi | yen niruwa dadi asor.
Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung | anggelar sakalir-kalir | kalamun temen tinemu | kabegjane anekani | kamurahaning Hyang Manon.
Anuhoni kabeh kang duwe panuwun | yen temen-temen sayekti | Allah aparing pitulung | nora kurang sandhang bukti | saciptanira kelakon.
Ki Pujangga nyambi wara weh pitutur | saka mangunahing Widi | ambuka warananipun | aling-aling kang ngalingi | anglingkap temah katon.
Para jalma sajroning jaman pakewuh | kasudranira andadi | dahurune saya ndarung | keh tyas mirong murang margi | kasetyan wus nora katon.
Katuwane winawas dahat matrenyuh | kenyaming sasmita yekti | sanityaseng tyas malat-kung | kongas welase kepati | sulaking jaman prihatos.
Waluyane mbenjang lamun ana wiku | mumuji ngesthi sawiji | sabuk lebu lir majenun | galibedan tudang tuding | anacahken sakehing wong.
Iku lagi sirep jaman Kala-bendu | kala-suba kang gumanti | wong cilik bisa gumuyu | nora kurang sandhang bukti | sedyane kabeh kelakon.
Pandulune Ki Pujangga durung kemput | mulur lir benang tinarik | nanging kaserang ing umur | andungkap kasidan jati | mulih sajatining enggon.
Amung kurang wolung ari kang kadulu | emating pati patitis | wus katon neng lokil makpul | angumpul ing madya ari | amerengi ri Budha Pon.
Tanggal kaping lima antaraning luhur | sela-ning tahun jimakir | talu uma aryang jagur | sengara winduning pati | netepi ngumpul sak enggon.
Cinitra ri Budha kaping wolulikur | sawal ing tahun jimakir | candraning warsa pinetung | sembah mukswa pejangga ji | Ki Pujangga pamit layon.
CENTANGAN (mirsani kaca 25)

Manawi kula kapareng matur bares, sayaktosipun kula dereng yakin manawi serat “Sabda Jati” punika hiyasanipun swargi R.Ng. Ranggawarsita, amargi miturut pangenyam-kula : beda kaliyan serat-serat sanesipun hiyasanipun swargi wau. Kinten kula “Sabda Jati” punika damelipun saderek ingkang mewahi “Kalatida” dados 13 pada (mirsani kaca 14), sedyanipun ngluhuraken Ki Pujangga, dipun gambar-0gambar anggenipun saged miyak warana tuwin lepas pandulunipun “mulur lir benang tinari”. Punapa inggih tampi ilham punika kados makaten gambaranipun?

Dene titikan ingkang gampil kita raosaken, inggih punika bab pamasanging sandi asma ing pada wiwitan, garis 1,2,4,5, punika boten manut patokan. Ingkang sampun-sampun, manawi Ki Pujangga masang sandi asma sapada boten wonten ing wiwitaning garis punika, amesti dawah pedotaning wirama :

Aywa pegat ngudiya ronging baudyayu, manawi manut patokan umpamnipun : aywa mirong ngudiya marang budyayu;

Marganing suka basuki, manawi patokan umpananipun : den wrin marganing basuki;

Dimen luwar kang kinayun, sampun leres.

Kalis ing panggawe sisip, manawi miturut patokan upamanipun : ulah brata myang prihatos.

Ananging sarehning para sarjana sujana sami kagungan panganggep, bilih “Sabda Jati” punika karanganipun swargi, malah pada 14 punika kadamel rerenggan banciking reca Ranggawarsita ing museum Sriwedari Surakarta, jalaran ungel-ungelan “galibedan tudang-tuding, anacahken sakebhing wong” punika kaangep pralambangipun pemilihan umum, kula inggih namung nyumanggakaken.

@@@

V. KALA-TIDA PININGIT

S I N O M

Sinom susulan wirayat | Kala-tida kang piningit | calon kang gumantya nata | maksih sinengker Hyang Widi | ing ura-uru mbenjing | kang sumela dadya ratu | turune ping sadasa | nutuigaken wibawa mukti | pangarange Dyah Behi Ranggawarsita.
Duk kalanira angarang | wonten Landi sing Ustenril | Wenen nenggih kutanira | mlancong mring nagari Jawai | cekak minggah mring wukir | nyuwun premisi Sang Prabu | ningali kawahira | pucaking ardi Merapi | wangsulira pun tuwan asung carita.
Dateng nJeng Gusti kaping pat | enget kula sangkalani | gusti mbenjing ngesti nata | critane kang ardi mbenjing | kobong wit saking agni | slira catur ngesti ratu | pecahing ardi sigar | Yogya Kedu risak sami | yen ing Sala risake mung sawatara.
Nulya nJeng Gusti kaping pat | pangandikanira aris | dumateng Ranggawarsita | dulunen telenging ati | eningna aja gingsir | samdika umatur nuhun | Radyan Ranggawarsita | panca-driya kang kaesti | sapandurat tan antara ntuk wewengan.
Umatur leres pun tuwan mbenjing kalamun marengi | bade pecahing kang arga | lindu rambah kaping katri | punika pan sayekti | kapara dados susungut | kirang pitung ri dina | pitulas dinten marengi | pitulikur punika sampun pungkasan.
Derenging ambles kang arga | model sakit kang nganehi | mung sakedap nuli sirna | ing tanah Jawi meh wrdin | Sala Yogya akeni | lamine amung tri tengsu | wirayate wong wignya | nuju Panjengengan Aji | ping sadasa Nata krama ing Ngyogya.
Pra pangreh ing Surakarta | katah sumelang ing galih | wasana ngupaya mayar | angesti angga pribadi | kirang dwi warsa mbenjing | kalawan pecahing gunung | yen wus praptaning jangka | pecahing ardi Merapai | njeblos mawut sumebar ya banjir lahar.
Yogya karatone ilang | pecahing ardi Merapi | tirta ndut Sala lan Yogya | pisan tan anunggali siti | tengahing ardi dadi | kali agung anjogipun | samodra ingkang wetan | kilen Praja risak sami | ing Madura meg gatuk lan Surabaya.
nJeng Gusti malih ngandika | payo pada den-titeni | pinengetan mbok-manawa | anak putu amenangi | sandika Dyan Ngabehi | ing mbenjing sarenginipun | lawan ardi ing Clacap | ambles sareng ardi Merapi | rawa Pening kabeh kaurugan brama.
Risak tanah kilen Praja | katah jalma ingkang mati | antara mung panca dina | kobong ingkang para ardi | Gupermen anulungi | lawan praja liyanipun | durung kobong kang arga | lindu sadina kaping tri | jamanira sapungkure Jayabaya.
Meksih ratu ping sadasa | iku ingkang amandiri | praja di ing Surakarta | yen wirayat saking Jawi | taun Be ing wingking V sangkalanira pinetung V netra ngesti raja V ing Mangkunagaran mbenjing V kasusahan tan suwe antuk ngapura.
CENTANGAN :

Mirsani centanganipun serat “Wedatama Piningit” ing kaca 34-35-36.

@@@

VI. WEDA-TAMA PININGIT

PANGKUR

Sekar Pangkur pari purna | amedaraken weda-tama (kang) piningit | mirib jangkaning pra jamhur | jamane Jayabaya | iku mbenjang kang jumeneng madeg ratu | maksih putra ping sadasa | ingkang ngrenggani praja di.
Ingkang nutugna wibawa | wus ndilallah karsane Kang Luwih | bareng lan jaman dahuru | keh janma nandang susah | wit kawrattan pranatanireng praja | larang boga miwah sandang | katah kang nandang kaswasih.
Ya ta wonten resi Landa | asalira saking praja Ustentrik | Wanen kita krajanipun | mlancong mring tanah Jawa | sapraptanya nyuwun premisi Sang Prabu | sedya minggah mring aldaka | pucaking wukir Merapi.
Arsa amriksani kawah | dupi sampun terang anggenya ningali | wangsul sowan mring Sang Prabu | prelu atur uninga | praja tanah Jawa mbenjang risakipun | jalaran saking aldaka | wukir Mearapi kang mesti.
Dupi ingkang arga sigar | apan dadi kali Tanggung raneki | njog samodra ingkang kidul | Sang Nata dupi wus trang | sasmitaning dwija Landa gya dadawuh | dumateng Ranggawarsita | lan Gusti Mangkunagari.
Lah ta wa Ranggawarsita | apa nyata tuture swija Landi | Ranggawarsita amesu | ngeningaken panca-driya | anunuwun marang Iangkang Maha Luhur | katrima antuk wewengan | wus luwar saking samadi.
Glis munjuk mring Sri Pamasa | nggih leres aturipun resi Landi | mbenjing bade pecahipun | saderenge arga sigar | mawi gara-gara kalangkung gengipun | lindu sadinten ping tiga | kapareng dados miwiti.
Duk samana sami terang | resi Landa gya pamit mring Sang Aji | amundur pan nedya wangsul | mring Wanen kita raja | nanging mampir redi Clacap ciptanipun | kapriksa sawise terang | bareng bres lang gunung Merapi.
Duk samana sinengkalan | esti catur sabdanireng narpati | dene mbenjing pecahipun | Merapi ponang arga | wulan Sura taun Be sengkalanipun | wsti catur asta nata | Sang Nata ngandika aris.
Payo pada tinitenan | mbok-manawa anak putu menangi | Nata ping sanga ngadatun | kondur (nJeng) Mangkunagara | Raden Ranggawarsita nderek tut pungkur | mring dalem Mangkunagaran | anjujug ing ujung puri.
Nutugna wirayatira | lawan Ranggawarsita Dyan Ngabehi | priye dadine ing mbesuk | matur Ranggawarsita | apan sampun pinasti karseng Hyang Agung | risakipun Surakarta | karatin mbenjing ngalih.
Kacarita wetang bengawan | pan ing wana Ketangga dunung-neki | mangsuli wirayat wau | bade pecah kang arga | apan tirta amili campur lan endut | yogya karaton ilang | tuwin Kedu risak sami.
Rawa Pening ing mBarawa | mubal geni katah jalma ngemasi | kilen praja ugi katut | katah jalma pralaya | nanging, jaman punika mbenjing panuju | Si Narendra ping sadasa | ingkang ngrenggani praja di.
Yen wirayat saking Jawa | dupi woten penyakit nganeh-anehi | lamine tri wulan iku | wrata satanah jawa| pra kawula katah susah manahipun | kataman duhkitaning tyas | bareng lan mangsa paceklik.
Tuwin panjenengan Nata | ping sadasa krama putri linuwih | ngupaya lajering wahyu | daup putri Ngayogya | pun punika timbul lajering karatun | ing tanah Jawa wus sirna | surem sunaring praja di.
Sengkalanira ingetang | netra nenem Narendra nitih esti | neng Gusti ngandika arum | lah kang Ranggawarsita | payo pada pinengetan jroning kalbu | wisiking propesor Landa | kalawan wisiking Jawi.
Apa cocog apa ora | nanging ingsun lan sira pasti tan wrin | marma kawrta ing sastra yu | dimen putra wayah | ingkang mesti bisa menangi sastra wruh | jaman ingkang wus kawedar | supaya dadi pepeling.
Ilang kuwunging nagara | ingkang mengku praja ing wuri mbenjing | ugi anandang wulangun | ananging datan lama | antuk supangatira saking Hyang Agung | risakipun babar pisan | ing Surakarta praja di.
nJeng Gusti malih dawuhnya | marang Ranggawarsita Dyan Ngabehi | lah tutugna wirayatmu | kang kaweca ing jangka | Raden Ranggawarsita alon turipun | yen ing praja tanah Jawa | mulyane kalamun mbenjing.
Jumeneng Narendra | kaping kalih welas ingkang mandiri | bilih Nata ping sapuluh | ngalamat praja rengka | wit candrane narendra si Kala-mrecu | patihe Kala-wasesa |Kala-tida jamaneki.
Wong agung remen mbebahak | marang raja brananira wongcilik | ilang labeting budyayu | kisruh adiling Nata | pra kawula katah kang nandang margiyuh | kawrattan kang sapu-denda | kenging pajeg rupi kalih.
Katah gelaring kawula | kumpul-kumpul ting galubrag ting kacemil | pan wis ilang kemilipun | wit kapidih pranatan | ingkang ngasta pangadilan kwasa ngukum | wis pasrah mring seje bangsa | pan wis makaten kang jangji.
Ing tanah Jawa ketaman | ingkang ngasta nyakra (mang)gilingan (ra)neki | rikala kala jaman rumuhun | swarga eyang paduka | tabe-tabe nJeng Sinuwun Sultan Agung | ketaman pranatanira | Juru-taman kang sayekti.
Puniku pinanggihira | ngantos mbenjing dumugi Nata kaping | sawelas Kangjeng Sinuwun | punika sadaya wrat | pra kawula katah susah manahipun | ananging punika jaman | mung sakedap meh ngengkoki.
Wangsule wahyu Nurbuwah | mulih mulya praja ing tanah Jawi | namung wus pindah kadatun | ing Surakarta risak | apan dadya wana tuwin dados dusun | santun praja ing Ketangga | Nata kalih wlas mandiri.
Pulih gemah sarta harja | tata tentrem suka manahe tyang alit | sirna kang samya laku dur | murah sandang lan pangan | wit wong agung asih mring kawulanipun | gung paring dana tan kendat | murah pajegireng siti.
Sajung pajege satengah | tanpa uba-rampe lan biwit-biwit (?)| sirna ingkang raja pundut | tuwin pra luhur Jawa | pisah nggone saudara lan guprenur | kabeh ingkang bangsa sabrang | samya mulih sirna gusis.
CENTANGAN :

Serat “Kala-tida Piningit” punika anggen kula manggih wonten ing lacinipun redaksi ari warti “Sedya Tama” Ngayogya, kala taun 1930, awor naskah warni-warni ingkang dipun pekir. Wujudipun inggih cekak namung 11 pada sekar Sinan punika.

Dene serat “Weda-tama Piningit” punika anggen kula nurun kangunganipun R. Dibyaharjiya ing Ngayogya, kala taun 1951, seratan latin tik-tikan. Panjenganipun nurun saking pundi, kulo boten nyuwun katrangan, ananging kula saged nginten-inten : asal usulipun saking “Wedda-tama Piningit” aksara Jawi cap-capan. Amargi kala taun ± 1940 kula sampun nate sumerep serat wau ingkang cap-capan kadasaraken wonten sangajengipun Hotel Pasar Pon Surakarta, ananging kula boten nyatitekaken sinten Penerbitipun, kaecap ing pundi, taun pinten ngecapipun.

Serat warni kalih punika wau kula katutaken wonten ing serat “Jangka Ranggawarsitan” amargi wonten ing serat-serat ngriku ugi kasebutaken makaten. Ananging sinten kemawon saged mastani bilih serat-serat wau sanes yasanipun swargi Ranggawarsita. Kirang langkungipun wicalan wanda sekar, ingkang kula sukani tanda, saged dipun awadakane bokmanawi saking lepatipun nurun, ananging miturut pangenyam kula wonten titikanipun makaten :

Pangarangipun dereng kulina ngarang, kacihna wadag wadehing damelanipun.
Pangarangipun boten katah kawruhipun, kacihna anggenipun mastani tiyang Ustentrik : Landi, tuwin gadah panginten bilih Clacap utawi Tlacap (Kt.Pin. pada 9, Wt.Pin. pada 8) wonten redinipun latu. Bokmanawi ingkang dipun kajengaken punika redi Krakatau.
Pun pangarang kirang mangretos kraton Sala, kacihna anggenipun nyebut lan ngrumpaka imbal sabdanipun S.D.I.S. Kangjeng Susuhunan, K.G.P.A.A. Mangkunagara, tuwin R.Ng. Ranggawarsita : boten kantenan.
Pun pangarang gesang salebetipun abad 20 Masehi, kacihna ing Kt.Pin. wonten tembungipun : permisi, model, gipermen (pada 2-6-10); ing Wt.Pin. wonten tembungipun premisi, penyakit, propesor, guprenur (pada 3-14-16-27).
Miturut keterangan kula, sumiyaripun “jangka” punika wau anyarengi sumiyaripun pawartos bilih S.D.I.S. Kangjeng Susuhunan PB X bade daup akaliyan putri dalem S.D.I.S. Kangjeng Sultan HB VII. Pun pangarang ngenta-enta sinten ingkang bade jumeneng PB XI benjing, tuwin ngenta-enta lalampahan manawi pikraman wau saestu kalampahan, ingkang sajakipun pun pangarang boten nyuwaweni. Dene daup dalem PB X akaliyan putri dalem HB VII ingkang lajeng kajumenengaken G.K.R. Emas punika saestu kalaksanan nalika 17 Besar Jimawal 1845 (29-10-‘ 15).

Panginten kula Kt. Pin. punika wedalipun ngrumiyini, lajeng dipun monceraken dening pangarangipun Wt. Pin. mawi kaewahan lan kawewahan miturut sakajengipun piyambak, kados ta :

(1). Kt. Pin. “kali agung” (pada 9) = lepen ageng, ing Wt. Pin. ewah dados “kali Tanggung ranireki” (pada 5) = lepen anama Tanggung.

(2). Kt. Pin. “netra nem ngesti raja” (pada 11) = taun Jawi 1862, ing Wt. Pin. Ewah dados “netra nenem narendra nitih esti” (pada 16) = taun …….(?).

(3). Kt. Pin. Nyariyosaken datengipunsarjana Ustenrik punika kala jamanipun P.B. IX, M.N. IV lan Ranggawarsitan, kala taun Jawi “benjing gusti ngesti nata” (pada 3) = taun ……. (?); sarjana wau ameca panjeblugipun redi Merapi ing taun Jawi “slira catur ngesti ratu” (pada 3) = tahun 1848; ananging manawi miturut wirayat Jawi panjeblugipun ing taun Jawi “netra nem ngesti raja” (pada 3) = taun 1862, pinuju krama dalem P.B. X daup putri Ngayogya. Dene ing Wt. Pin. kacariyosaken bilih datengipun sarjana Ustenrik punika ing taun Jawi “esti catur sabdanireng narpati” (pada 9) = taun 1748, panjeblugipun redi Merapi ing taun Jawi “esti catur asta nata” (pada 9) = taun 1848, manawi miturut wirayat Jawi ing taun Jawi “netra nenem narendra nitih esti” (pada 16) = taun …… (?), ugi wekdal krama dalem P.B. X daup putri Ngayogya. Centangan : Kala taun Jawi 1748 punika dereng jaman P.B. IX, M.N. IV lan Ranggawarsitan, inggih punika jaman P.B. V, M.N. II lan Yasadipura I-II.

(4). Taun Ebe (Be) ingkang kasebut ing Kt. Pin. pada 11 punika sampun terang lepat panuruhipun, leresipun Eje (Je). Dene tembung “kilen praja” (Kt. Pin pada 8 , Wt. Pin pada 13) punika bokmanawi rumiyin mungel “kilen Praga”.

Wusana nyumanggakanen.

KIRIMAN “ALANG_ALANG KUMITIR “

KODE ETIK GURU DAN KARYAWAN

PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMP N 2 SRAGI
Alamat : Jl. Kalijambe-SragiTelp. (0285) 4476161 Kab. Pekalongan 51155

11 ( SEBELAS ) KODE ETIK GURU DAN KARYAWAN
TAHUN PELAJARAN 2012/2013

1. Guru dan karyawan diharapkan tiba di sekolah paling lambat 5 menit sebelum bel mulai pelajaran dimulai
2. Pada setiap hari kerja, guru dan karyawan diharapkan berpakaian seragam lengkap dengan atributnya, sesuai aturan yang digariskan pemerintah serta sekolah
3. Guru dan karyawan diharapkan membiasakan diri bersalaman dengan rekan lain pada waktu bertemu atau akan berpisah
4. Seluruh guru dan karyawan harus menghormati rekan yang lain, baik dalam bentuk sikap maupun pembicaraan
5. Selama interaksi, setiap permasalahan yang timbul antara sesama rekan kerja, sebaiknya diselesaikan dengan cara kekeluargaan
6. Guru dan karyawan adalah sebuah keluarga. Dilarang membicarakan kejelekan keluarga sendiri
7. Jika ada rekan yang sakit atau mempunyai hajat, rekan yang lain wajib memberikan perhatian baik dalam bentuk kunjungan atau bentuk lain.
8. Sesama guru dan karayawan harus saling mengingatkan jika menjumpai rekan lain yang dipandang melakukan sesuatu yang melangggar norma agama, sosial, adat, atau hukum
9. Cara mengingatkan haruslah tetap mempertimbangkan azas kesopanan dan kepatutan.
10. Setiap kebijaksanaan sekolah hendaknya dilakukan secara musyawarah, dengan tak lupa memperhatikan setiap dampak yang bakal timbul
11. Semua kebijaksanaan yang dikeluarkan sekolah adalah kebijaksanaan bersama. Jika ada yang kurang berkenan, sebaiknya didiskusikan langsung dengan pimpinan, dan tidak disebarluaskan ke pihak di luar sekolah.

Sragi, 14 Juli 2012
Kepala Sekolah,

Bangkit Riyowanto, S.Pd
NIP. 196405201989021001

APRESIASI

Sepuluh Pengertian Apresiasi dari Berbagai Referensi

1. Pengertian apresiasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penilaian baik; penghargaan; misalnya –terhadap karya-karya sastra ataupun karya seni.

2. Apresiasi berasal dari bahasa Inggris, appreciation yang berarti penghargaan yang positif. Sedangkan pengertian apresiasi adalah kegiatan mengenali, menilai, dan menghargai bobot seni atau nilai seni. Biasanya apresiasi berupa hal yang positif tetapi juga bisa yang negatif. Sasaran utama dalam kegiatan apresiasi adalah nilai suatu karya seni. Secara umum kritik berarti mengamati, membandingkan, dan mempertimbangkan. Tetapi dalam memberikan apresiasi, tidak boleh mendasarkan pada suatu ikatan teman atau pemaksaan. Pemberian apresiasi harus dengan setulus hati dan menurut penilaian aspek umum.

Dari pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa apresiasi positif dapat diberikan kepada seseorang, atau beberapa individu atau sebuah kelompok yang melakukan karya positif dengan suatu hal yang positif juga, atau sebaliknya.

http://hilman2008.wordpress.com/2009/06/19/apresiasi/

3. Pengertian apresiasi secara umum adalah suatu penghargaan atau penilaian terhadap suatu karya tertentu. Biasanya apresiasi berupa hal yang positif tetapi juga bisa yang negatif. Apresiasi dibagi menjadi tiga, yakni kritik, pujian, dan saran. Sementara itu, orang yang ahli dalam bidang apresiasi secara umum adalah seorang kolektor atau pencinta suatu seni pada umumnya. Tetapi dalam memberikan apresiasi, tidak boleh mendasarkan pada suatu ikatan teman atau pemaksaan. Pemberian apresiasi harus dengan setulus hati dan menurut penilaian aspek umum.
-http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081204221626AAdJoV5-

4. Pengertian apresiasi adalah 1. kesadaran terhadap nilai seni dan budaya; 2. penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu; 3. kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang itu bertambah;
ber•a•pre•si•a•si v mempunyai apresiasi; ada apresiasi;
meng•ap•re•si•a•si v melakukan pengamatan, penilaian, dan penghargaan (misalnya terhadap sebuah karya seni)
-http://www.artikata.com/arti-319466-apresiasi.html-

5. Apresiasi berasal dari bahasa Inggris “appreciation” yang berarti penghargaan, penilaian, pengertian, bentuk ituberasal dari kata kedua “to aprreciate” yang berarti menghargai, menilai, mengerti. Apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin, dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. (Aminuddin, 1987).

6. Secara makna leksikal, apresiasi (appreciation) mengacu pada pengertian pemahaman dan pengenalan yang tepat, pertimbangan, penilaian, dan pernyataan yang memberikan penilaian (Hornby dalam Sayuti, 1985:2002).

7. Apresiasi merupakan kegiatan mengakrabi karya sastra secara bersungguh-sungguh. Sehubungan dengan itu, apresiasi memerlukan kesungguhan penikmat sastra dalam mengenali, menghargai, dan menghayati, sehingga ditemukan penjiwaan yang benar-benar dalam (Elliyati, 2004)

8. Apresiasi adalah menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra (Effendi, 1973).

9. Apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaaan atau kepekaaan batin, dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang (Aminuddin, 1987).

10. Secara leksikografis, kata apresiasi berasal dari bahasa Inggris appreciation, yang berasal dari kata kerja to apreciate, yang menurut kamus Oxford berarti to judge value of understand or enjoyfully in the right way; dan menurut kamus Webstern adalah to estimate the quality of to estimate rightly to be sensitevely aware of. Jadi secara umum mengapresiasi adalah mengerti serta menyadari sepenuhnya, sehingga mampu menilai secara semestinya.
Dalam kaitannya dengan kesenian, apresiai berarti kegiatan mengartikan dan menyadari sepenuhnya seluk beluk karya seni serta menjadi sensitif terhadap gejala estetis dan artistik sehingga mampu menikmati dan manilai karya tersebut secara semestinya. Dalam mengapresiai, seorang penghayat sedang mencari pengalam estetis. Sehingga motivasi yang muncul adalah motivasi pengalaman estetis. Pengalaman estetis menurut Albert R. Candler adalah kepuasan kontemplatif atau kepuasan intuitif.
http://tjahjo-prabowo.staff.fkip.uns.ac.id/apresiasi-seni/-

PERMOHONAN BANTUAN TIK

PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

SMP NEGERI 2 SRAGI

Alamat : Jl. Kali Jambe Sragi – Kab. Pekalongan Telp. 51160

 

Nomor    :

Tanggal    :

Lampiran    : 1 (satu) berkas

Perihal    : Proposal Pelaksanaan Pengadaan Peralatan TIK

 

 

 

 

Yth. Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama

    Gedung E Lantai 15 Depdiknas

    Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta

 

 

 

 

Sebagai tindak lanjut penetapan sekolah kami sebagai penerima subsidi peralatan TIK Tahun 2010 dari Direktorat Pembinaan SMP, nomor …………… tanggal …………… 2012 tanggal …………………, sebagai prasyarat pencairan dana, bersama ini kami sampaikan Proposal Pelaksanaan Pengadaan Peralatan TIK.

 

Selengkapnya berkas yang kami kirimkan adalah :

 

1.     Daftar jenis, spesifikasi, jumlah peralatan dan kualitas peralatan yang akan diadakan.

2.    Rencana Anggaran Biaya ( RAB )

3.    Jadwal Pelaksanaan

4.    Berita Acara Rapat Pemilihan Peralatan Laboratorium IPA

5.    Pernyataan Kesanggupan Melaksanakan Pekerjaan Sesuai Dengan Ketentuan

6.    Copy Rekening Sekolah pada Bank Pemerintah
( diisi dengan Bank apa Cabang mana )

7.    Kuitansi Penerimaan Dana yang sudah ditandatangani oleh Kepala Sekolah.

8.    Copy Surat Keputusan P3L dan Berita Acara Pembentukan P3L

9.    Surat Pernyataan tentang kesanggupan sekolah mengangkat petugas khusus laboratorium (laboran/teknisi) selambat-lambatnya satu bulan setelah Surat Keputusan penetapan diterima , yang ditandatangani oleh Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah

10.    Surat Pernyataan kepala sekolah yang diketahui Ketua Komite Sekolah tentang kesanggupan sekolah menyediakan atau meningkatkan daya listrik sehingga memadai untuk beroperasinya peralatan (bila saat ini sekolah belum memiliki daya listrik yang memadai)

11.    Surat Pernyataan kepala sekolah yang diketahui oleh Ketua Komite Sekolah tentang kesanggupan sekolah untuk menyediakan bahan-bahan habis pakai yang digunakan untuk pemanfaatan peralatan yang diadakan.

  1. Surat Pernyataan kepala sekolah untuk memanfaatkan/mengelola / mengembangkan peralatan untuk kegiatan belajar secara optimal yang ditandatangani kepala sekolah yang diketahui oleh Ketua Komite Sekolah dilengkapi dengan ACTION PLAN Pengembangan peralatan untuk empat tahun ke depan

     

 

Demikian berkas ini kami sampaikan sebagai syarat pencairan subsidi pengadaan peralatan TIK SMP Negeri 2 Sragi, Kabupaten Pekalongan. Atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.

 

 

 

 

 

                                Sragi,

Mengetahui/Menyetujui :

Komite Sekolah                        Kepala SMP Negeri 1 Kesesi,

 

 

 

 

                

Ruspargi Priyoaji                        BANGKIT RIYOWANTO, S. P.d

                                NIP. 19640520 1989021 001

 

 

 


 

PERMOHONAN KE DIRJEN

PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN

DINAS PENDIDIKAN

SMP NEGERI 1 KESESI

Alamat : Jl. Raya Timur Kesesi – Kab. Pekalongan Telp. 0285.4483122

 

Nomor    :

Tanggal    :

Lampiran    : 1 (satu) berkas

Perihal    : Proposal Pelaksanaan Pengadaan Peralatan TIK

 

 

 

 

Yth. Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama

    Gedung E Lantai 15 Depdiknas

    Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta

 

 

 

 

Sebagai tindak lanjut penetapan sekolah kami sebagai penerima subsidi peralatan TIK Tahun 2010 dari Direktorat Pembinaan SMP, nomor …………… tanggal …………… 2010 tanggal …………………, sebagai prasyarat pencairan dana, bersama ini kami sampaikan Proposal Pelaksanaan Pengadaan Peralatan TIK.

 

Selengkapnya berkas yang kami kirimkan adalah :

 

1.     Daftar jenis, spesifikasi, jumlah peralatan dan kualitas peralatan yang akan diadakan.

2.    Rencana Anggaran Biaya ( RAB )

3.    Jadwal Pelaksanaan

4.    Berita Acara Rapat Pemilihan Peralatan Laboratorium IPA

5.    Pernyataan Kesanggupan Melaksanakan Pekerjaan Sesuai Dengan Ketentuan

6.    Copy Rekening Sekolah pada Bank Pemerintah
( diisi dengan Bank apa Cabang mana )

7.    Kuitansi Penerimaan Dana yang sudah ditandatangani oleh Kepala Sekolah.

8.    Copy Surat Keputusan P3L dan Berita Acara Pembentukan P3L

9.    Surat Pernyataan tentang kesanggupan sekolah mengangkat petugas khusus laboratorium (laboran/teknisi) selambat-lambatnya satu bulan setelah Surat Keputusan penetapan diterima , yang ditandatangani oleh Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah

10.    Surat Pernyataan kepala sekolah yang diketahui Ketua Komite Sekolah tentang kesanggupan sekolah menyediakan atau meningkatkan daya listrik sehingga memadai untuk beroperasinya peralatan (bila saat ini sekolah belum memiliki daya listrik yang memadai)

11.    Surat Pernyataan kepala sekolah yang diketahui oleh Ketua Komite Sekolah tentang kesanggupan sekolah untuk menyediakan bahan-bahan habis pakai yang digunakan untuk pemanfaatan peralatan yang diadakan.

  1. urat Pernyataan kepala sekolah untuk memanfaatkan/mengelola / mengembangkan peralatan untuk kegiatan belajar secara optimal yang ditandatangani kepala sekolah yang diketahui oleh Ketua Komite Sekolah dilengkapi dengan ACTION PLAN Pengembangan peralatan untuk empat tahun ke depan

     

 

Demikian berkas ini kami sampaikan sebagai syarat pencairan subsidi pengadaan peralatan IPA SMP 1 Negeri 1 Kesesi, Kabupaten Pekalongan. Atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.

 

 

 

 

 

                                Kajen,

Mengetahui/Menyetujui :

Komite Sekolah                        Kepala SMP Negeri 1 Kesesi,

 

 

 

 

                

Wachudin                            Y U SU F , S.Pd.

                                NIP. 19630318 198703 1 006

 

 

 


 

CONTOH RAKS 4 TAHUNAN

RENCANA KERJA     DAN ANGGARAN SEKOLAH

( RKAS-1)

SMP NEGERI 2 SRAGI

KAB. PEKALONGAN

TAHUN 2008/2009 – 2011/2012

 

 

  1. ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS

    Indonesia adalah Negara kepulauan dengan beragam suku dan budaya serta kekayaan alam yang melimpah. Hal ini merupakan sebuah modal yang sangat besar manfaatnya guna mencerdaskan bangsa dan mengembangkan potensi yang dimiliki generasi penerus bangsa tanpa meninggalkan norma-norma keragaman budaya yang kita miliki seperti yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 31.

    Keberagaman sosial budaya yang dimiliki oleh masing-masing suku di tanah air ini hendaknya menjadikan sarana untuk saling melengkapi guna membentuk bangsa yang mapan dan maju. Didukung letak geografis yang sangat strategis dan jumlah penduduk yang besar merupakan aset untuk menyerap informasi dan teknologi serta mengembangkannya, sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, disegani oleh negara-negara lain.

IPTEK berkembang sedemikan pesatnya. Perkembangan tersebut berdampak langsung terhadap sendi-sendi kehidupan baik sosial , ekonomi, politik, budaya dan berbagai bidang kehidupan lainnya. Indonesia sebagai salah satu bangsa tidak bisa menghindar dari proses globalisasi dunia. Pengaruh global terhadap bangsa Indonesia berdampak positif namun banyak juga banyak sisi negatifnya. Hal tersebut harus disikapi sebagai sebuah peluang dan sekaligus tantangan.

Salah satu pengaruh global terhadap kehidupan sosial bangsa Indonesia adalah mulai terkikisnya nilai-nilai dan norma-norma ketimuran, seperti gotong royong, kesantunan, dsb. Di sisi lain semakin suburnya individualisme, pragmatisme, materialisme,dsb. Ini merupakan sebuah tantangan bagi dunia pendidikan di Indonesia, sebagai tulang punggung filter transformasi budaya. bagaimana dunia pendidikan harus menyikapi hal tersebut.

Dunia pendidikan Indonesia dalam menyongsong masa-masa yang akan datang menghadapi banyak kendala. Namun hal itu tetap harus disikapi sebagai sebuah tantangan ke depan. Dengan tetap menjaga keutuhan , kepribadian dan budaya bangsa, dunia pendidikan memiliki peranan vital , untuk terus meningkatkan kwalitas sehingga mampu mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya, Pancasilais, dan mampu ikut serta dalam persaingan global.

 

  1. ANALISIS KONDISI PENDIDIKAN SAAT INI

    Kondisi pendidikan di Indonesia secara umum hanya berorientasi pada kuantitas. Hal ini akan menyebabkan tidak terakomodasinya kebutuhan masing-masing peserta didik untuk mengembangkan potensi kecerdasan dan bakatnya secara optimal. Selain itu sering terjadi perubahan kurikulum yang mengakibatkan kebingungan pada implementasi pembelajaran di sekolah.

    Sehubungan dengan hal tersebut diatas, kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh dari yang diharapkan meskipun secara kuantitas keberhasilan pendidikan individu cenderung baik.

    Dukungan sarana prasarana yang memadai khususnya Teknologi Informasi (TI) dalam menunjang pembelajaran perlu ditingkatkan. Peran serta masyarakat sebagai stakeholder utama di sekolah untuk ikut memiliki rasa tanggungjawab demi kemajuan pendidikan perlu ditingkatkan. Tidak kalah pentingnya guru harus selalu meningkatkan profesionalisme dalam pembelajaran dengan selalu melakukan inovasi-inovasi model atau metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Di samping itu siswa juga perlu mendapat perhatian langsung dari orang tuanya di antaranya semangat belajar dirumah, gizi dan makanan serta keperluan sekolah lainnya.

Peningkatan kemampuan IPTEK siswa harus disertai dengan peningkatan kualitas spiritual siswa, kesadaran mereka sebagai makhluk Tuhan yang hidup di bumi yang terlahir untuk menjaga kelestarian Alam demi kelangsungan hidup mereka. Hal itu harus dilakukan agar siswa tidak terpedaya dengan kemajuan IPTEK yang tidak semuanya berdampak positif bagi perkembangan mental siswa.

    Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa sistem, siswa, guru, masyarakat dan pemerintah merupakan komponen-komponen pendidikan yang harus dikolaborasikan dalam peningkatan kualitas pendidikan dengan prinsip keberhasilan pendidikan di Indonesia adalah tanggungjawab bersama. Satu komponen dengan komponen yang lain saling mendukung. Jika salah satu komponen tidak bisa dikolaborasikan, maka akan mengganggu komponen yang lain. Sehingga akan mengakibatkan tujuan dari pendidikan sulit akan tercapai.

 

  1. ANALISIS KONDISI PENDIDIKAN MASA DATANG

    Keberhasilan sistem pendidikan tidak terlepas dari kesungguhan peran pemerintah. Kesungguhan pemerintah untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak secara maksimal merupakan satu inovasi yang paling tepat dalam mengembangkan kemampuan sesuai dengan pertumbuhan pribadinya. Secara konkret bentuk layanan ini diberikan pada siswa berupa program reguler dan program/kelas khusus. Hal ini sesuai dengan yang diamanatkan dalam UU Sisdiknas.

    Pelayanan pendidikan yang kurang memperhatikan potensi peserta didik bukan saja merugikan anak itu sendiri melainkan akan merugikan perkembangan pendidikan dan percepatan pembangunan di Indonesia. Oleh karena itu pendidikan yang ada di Indonesia ke depan hendaknya berusaha menciptakan keseimbangan antara pemerataan kesempatan dan keadilan tanpa melihat perbedaan jenis kelamin, suku dan agama. Untuk mencapai hasil yang baik dalam pendidikan perlu kiranya memberikan perlakuan yang adil kepada siswa yang mempunyai bakat/kecerdasan istimewa, sehingga tampak keadilan dalam pelaksanaan pendidikan.

Dalam penyelenggaraan pendidikan harus memperhatikan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Berdasarkan PP NO. 19 Tahun 2005, sekolah perlu memenuhi 8 standar nasional pendidikan. Dengan pemenuhan 8 standar tersebut diharapkan sekolah mampu bersaing secara nasional maupun global untuk mengukir prestasi akademik dan non akademik.

  1. IDENTIFIKASI TANTANGAN NYATA (KESENJANGAN KONDISI) 4 TAHUN KE DEPAN

    Tantangan nyata yang dihadapi dunia pendidikan/sekolah 4 tahun ke depan, secara umum adalah peningkatan mutu lulusan baik dalam bidang akademi maupun non akademi. Untuk dapat meningkatkan mutu lulusan dibutuhkan antara lain ; isi kurikulum yang relevan dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan jaman, proses pembelajaran yang efektif, validitas sistem penilaian, sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai, pengelolaan manajemen pendidikan yang sistemik, tenaga-tenaga pendidik yang berkompeten dalam bidangnya, dan terpenuhinya anggaran yang dibutuhkan.

 

No 

Kondisi Pendidikan Saat Ini

Kondisi Pendidikan Masa Datang 

Besarnya tantangan nyata 

I 

Kelulusan 

     

a

Prestasi akademik : 

     

1 

Rata-rata Ujian Nasional  

6,83 

7,63

0,80

2 

Pencapaian Nilai UN 10 

0,47

10 % 

9,53 %

3 

Prosentase Kelulusan

99,53 %

100 

0,47

4 

Ketuntasan Minimal (LKKM) Kelas 7  

6,0 

7,63

1,63

5 

Ketuntasan Minimal (LKKM) Kelas 8  

6,2 

7,63

1,61

6 

Jumlah lulusan yang melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi  

81 % 

90 % 

9 % 

7

Rumpun mapel 

4 besar tk. Kab. 

2 besar tk. Kab.

2 tgkt 

8

Lomba Cerdas cermat 

8 besar tk. Kab.

5 besar tk. Kab.

3 tgkt 

11

Olimpiade sains 

0 

5 besar tk. Kab.

- tgkt

12

Sinopsis buku 

Juara 2 tk. kab. 

Juara 1 kab. 

1 tgkt 

13

Bahasa Jawa (geguritan,macapat) 

Juara 3 Kab. 

Juara 2 

1 tgkt 

b 

Prestasi Non Akademik

     
 

Olah Raga  

     
 

- Bola Voli 

Juara 1 Kec 

Semifinalis Tk. Kab. 

2 tgkt 

 

- Basket 

0 

Semifinalis Tk. Kab. 

2 tgkt 

 

- Atletik 

Juara 1 Kec  

Juara 3 Kab

2 tgkt

 

Kesenian  

     
 

- Seni Tari 

0 

Juara 3 Kab.

3 tgkt

 

- Seni Suara 

0

Juara 3 Kab.

2 tgkt

 

- Puisi 

0 

3 besar tk. Kab.

2 tgkt

 

- Story Telling 

0 

10 besar Tk. kab.

3 tgkt

c 

Keagamaan 

     
 

- Tartil 

1 kec. 

Juara 3 Kab.  

2 tgkt

 

- Qiro’ah 

1 kec. 

5 besar tk. Kab.

- tkgt

         

2 

Standar Isi

     

a 

Buku KTSP (Buku/Dokumen-1): 

     
 

Belum tersusun Buku KTSP


 

Tersusun 80% Buku KTSP 

100 % 

20 % 

b 

Silabus: 

Silabus: 

   
 

Tersusun silabus semua mapel  

Tersusun silabus semua mapel kelas VII dan VIII

Silabus kelas VII, VIII dan IX

1 kelas

3. 

Proses Pembelajaran: 

     

a 

Persiapan pembelajaran: 

     
 

Kepemilikan sumber belajar /bahan ajar:

 

 

 

Pengembangan perangkat instrumen untuk pemahaman guru terhadap karakteristik siswa:  

80%

 

 

 

 

30%

Kepemilikan sumber belajar/bahan ajar: 100%

 

Pengembangan perangkat instrumen untuk pemahaman guru terhadap karakteristik siswa: 100%

20%

 

 

 

 

70% 

b 

Persyaratan Pembelajaran 

     
 
  • Jumlah siswa per rombel

 

 

 

  • beban mengajar guru:

 

 

 

- ratio antara jumlah siswa dengan buku mapel

 


 

44

 

 

 

 

rata-rata 20 jam/ minggu

 

3:1

  • Jumlah siswa per rombel: 32 – 40 anak

 

  • Beban mengajar guru: ≥ 24 jam/minggu
  • Ratio antara jumlah siswa dengan buku mapel 1:1

Pengurangan jml siswa 4 -12 /kelas

 

+ 4 Jp/minggu

 

+ 2 buku / siswa

 


 

c 

Pelaksanaan pembelajaran:  

 

Pelaksanaan pembelajaran:  

 
 

Penerapan CTL

 

 

Penggunaan Media Pembelajaran Inovatif berbasis TIK pada KBM

 

 

 

 

 

memberikan pengalaman belajar dengan pengenalan lingkungan

 

 

 

 

Penerapan pembelajaran di luar kelas/sekolah

50%

 

 

20 %

 

 

 

 

 

 

 

15 %

 

 

 

 

 

 

20 % 

Penerapan CTL: 100%

 

Penggunaan Media Pembelajaran Inovatif berbasis TIK pada KBM (80%)

 

Memberikan pengalaman belajar dengan pengenalan lingkungan(75 %)

 

Penerapan pembelajaran di luar kelas/sekolah 60 %

50 %

 

 

60 %

 

 

 

 

 

 

 

60%

 

 

 

 

 

 

40 %

d

Pengawasan proses pembelajaran: 

     
 

Pemantauan kegiatan pembelajaran KBM oleh Kepala sekolah

 

 

 

Tindak lanjut hasil evaluasi pembelajaran

60%

 

 

 

 

 

60 %

Pemantauan kegiatan pembelajaran KBM oleh Kepala sekolah (80%)

Tindak lanjut hasil evaluasi pembelajaran 100% 

20%

 

 

 

 

 

40%

4. 

Penilaian 

     
 

Perangkat Penilaian sesuai KTSP yang berstandar SSN 

30 

100

70 

 

Pengembangan sistem penilaian berbasis ICT 

0 

50 

50 

 

Melengkapi administrasi penilaian semua guru 

80 

100 

20 

 

Melaksanakan pengukuran dan penilaian dengan memberikan tindak lanjut berupa perbaikan dan pengayaan untuk semua guru 

70 

100 

30 

 

Penyusunan Bank Soal

 

 


 

25 

100 

75 

         

5. 

Pendidik dan Tenaga Kependidikan: 

     
 

Kemampuan guru dan karyawan dalam penguasaan dan pengoperasian komputer, LCD, internet 

20 

75 

55 

 

Peningkatan kualitas guru melalui MGMP, seminar, workshop, pelatihan, dll 

40 

80 

40 

 

Kemampuan guru dalam penyusunan Penelitian Tindakan Ilmiah (PTK) 

3 guru 

10 guru 

7 guru 

 

Kemampuan guru berbahasa Internasional (Inggris) dalam pembelajaran 

11 % 

50 % 

39 % 

 

Magang dan kunjungan ke sekolah lain 

0 

5 x 

5 x 

 

Peningkatan kemampuan tenaga kependidikan

25 

75 

50 

6. 

Prasarana dan Sarana: 

     
 

Bangunan/Ruang Belajar Standar 

75 

90 

15 

 

Peningkatan Media Pembelajaran 

60 

80 

20 

 

Peningkatan Bahan/Sumber Belajar

(Buku-buku, kurikulum, dll) 

70 

90 

20 

 

Peningkatan pemanfaatan TV edukasi 

5 

50 

45 

 

Rehabilitasi lingkungan sekolah

60 

90 

30 

7. 

Pengelolaan 

     
 

Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah  

50

100 

50

 

Pengelolaan PSB yang baik dan selektif

75

100

25

 

Peningkatan kerjasama dengan stakeholder 

25 

75 

50 

 

Jaringan Informasi Sekolah 

30

60

30 

 

Monitoring dan Evaluasi

75 

100

25 

 

Pelaporan 

75 

100

25 

 

Dokumen program kerja komite sekolah:

Perolehan kerjasama dengan pihak lain

Bantuan biaya pendidikan dari orang tua siswa:

60%

 

2 instansi

 

10.000 rupiah/bl

100%

 

5 instansi

 

50.000 rupiah/bulan

40%

 

3%

 

40.000 rupiah/bl

 

Terpasangnya Paket Aplikasi Sekolah

0%

60% 

60% 

8. 

Pembiayaan 

     
 

Peningkatan penggalian sumber dana 

2 sektor 

4 sektor 

2 

 

Pengembangan unit usaha sekolah  

10% 

75 

65% 

 

Kerjasama Alumni 

10% 

60 

50% 

 

Kerjasama Sponsor 

10% 

60 

50% 

 

Kerjasama Komite Sekolah

75% 

100 

25% 

 


 

Subsidi silang siswa kurang mampu 

0 % 

75 

75 

 

Penyampaian pertanggungjawaban keuangan sekolah secara periodik

75 

100 

25 

9 

Pengembangan Budaya dan Lingkungan Sekolah 

     
 

Pengembangan budaya bersih 

60 

75 

15 

 

Penciptaan lingkungan sehat asri, indah, rindang dan sejuk

25% 

75 

50% 

 

Penciptaan budaya tata krama “in action” 

20% 

75 

55% 

         

 

  1. VISI SEKOLAH

     



    Bertaqwa, berilmu dan berbudaya tinggi “

 

  1. MISI SEKOLAH

    a. Membina budi pekerti yang luhur sesuai dengan tuntunan agama dan budaya bangsa

    1. Meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mengoptimalkan potensi akademik yang dimiliki oleh setiap siswa
    2. Meningkatkan pelayanan pembelajaran siswa melalui proses PBM yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan
    3. Menggali, memupuk, mengembangkan bakat, minat prestasi siswa dalam bidang seni, olah raga, ketrampilan melalui penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler yang efektif
    4. Meningkatkan kwalitas dan kwantitas kelengkapan sarana dan prasarana pembelajaran

      f. Mengenali budaya sekolah sebagai sumber pengembangan kreatifitas dan kesantunan terhadap lingkungan sekolah.

 

  1. TUJUAN SEKOLAH DALAM 4 TAHUN
    1. Meningkatkan nilai rata-rata akademis dan peningkatan prestasi akademis setiap tahunnya
      1. Meningkatkan prestasi non akademis setiap tahunnya.
      2. Menyusun KTSP dan perangkat-perangkat pembelajaran
      3. Melaksakan KBM yang parsitipatif, aktif, kreatif, efektif, menyenangkan.
      1. Mewujudkan pelaksanaan dan pengembangan penilaian berstandar nasioal
    2. Memiliki tenaga pendidik dan kependidikan berkwalitas yang mampu melaksanakan dan mengembangkan 8 standar nasional pendidikan
    3. Memiliki sarana dan prasarana pembelajaran standar nasional
    4. Melaksanakan MBS secara optimal.
    5. Mengelola sumber dana secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
    6. Mewujudkan sekolah yang berbudaya dan berwawasan lingkungan

 

  1. PROGRAM STRATEGIS
    1. Pengembangan sistem pendidikan yang bermutu, baik akademik maupun non akademik
      1. Penyusunan KTSP, Silabus, dan RPP.
      2. Peningkatan proses pembelajaran CTL dengan menggunakan media.
      3. Peningkatan dan pengembangan sistem penilaian
      1. Peningkatan SDM pendidik dan kependidikan melalui workshop, pelatihan, dll
        1. Peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana sekolah
        2. Peningkatan pengelolaan managemen berbasis sekolah
        3. Peningkatan pengelolaan sumber dana dan pembiayaan
        4. Peningkatan budaya tata krama dan budaya bersih di sekolah

     

  1. STRATEGI PELAKSANAAN/PENCAPAIAN
    1. a. Peningkatan kualitas Penerimaan Siswa Baru

    b. Peningkatan kualitas proses pembelajaran

    c. Peningkatan kualitas penilaian dalam proses belajar dan hasill belajar

    d. Penyelenggaraan tambahan jam pelajaran untuk semua jenjang kelas

    e. Peningkatan frekwensi dalam lomba akademis dan non akademis

    f. Bimbingan khusus siswa berprestasi untuk semua jenjang kelas

    g. Peningkatan kualitas kegiatan ekstra kurikuler

    h. Pembinaan khusus bagi anak kls IX yang nilainya kurang dari SKL

    1. a. Sosialisasi KTSP

b. Pelatihan Penyusunan KTSP

     c. Penyusunan KTSP, Silabus, RPP

     d. Pengembangan Silabus dan RPP melalui MGMP sekolah

  1. a. Penguasaan KTSP dan model pembelajaran
  1. Penguasaan penggunaan media pembelajaran
  1. a. Penguasaan jenis-jenis penilaian
    1. Penguasaan penskoran penilaian
    2. Penguasaan pembuatan perangkat penilaian
    3. Penguasaan pelaksanaan penilaian
    4. Penguasaan analisis butir soal dan analisis hasil tes siswa.
    5. Penggunaan ICT untuk penilaian
  2. a. Mengikuti pendidikan serendah-rendahnya S1
    1. Menyelenggarakan/mengikuti pelatihan, seminar, workshop, , dll
    2. Peningkatan penguasaan multi media, internet, dll.
    3. Menyelenggarakan program magang oleh guru di sekolah yang berprestasi
  3. a. Pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah yang ada
    1. Penambahan sarana dan prasarana sesuai kebutuhan
    2. Peningkatan kelengkapan sarana dan prasarana
  4. a. Penyelenggaraan penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah
    1. Merencanakan, melaksanakan pengelolaan sekolah sesuai standar MBS
    2. Menjalin kerjasama antara sekolah dengan komite sekolah, dan pihak lain yang terkait.
    3. Peningkatan jaringan informasi sekolah
    4. Menyelenggarakan monitoring dan evaluasi
  5. a. Perencanaan dan penggalian sumber dana
    1. Pemanfaatan sumber dana
    2. Penyelenggarakan subsidi silang bagi siswa kurang mampu
    3. Monitoring dan evaluasi pengelolaan dana

9.     a. Pengembangan budaya sekolah bersih dan lingkungan yang sehat

    b. Peningkatan budaya tata krama siswa

 

 

 

  1. HASIL YANG DIHARAPKAN
    1. Prestasi akademik 4 tahun mendatang mencapai :

Rerata UN 07/08

7,63

Pencapaian Nilai UN 10 

10 % 

Prosentase Kelulusan 

100 

Ketuntasan Minimal (LKKM) Kelas 7  

7,63

Ketuntasan Minimal (LKKM) Kelas 8

7,63

Jumlah lulusan yang melanjutkan studi

90%

Lomba Rumpun Mapel 

2 besar tk. Kab.

Lomba cerdas cermat 

5 besar tk. Kab.

Olimpiade sains 

5 besar tk. Kab.

Sinopsi buku

Juara 1 Kab. 

Bahasa Jawa (Keguritan dan macopat ) 

Juara 2 tk. Kab. 

 

  1. Prestasi non akademik 4 tahun mendatang mencapai :

Olah Raga  

 

- Bola Voli 

Semifinalis Tk. Kab. 

- Basket 

Semifinalis Tk. Kab. 

- Atletik 

Juara 3 Kab

Kesenian  

 

- Seni Tari 

Juara 3 Kab.

- Seni Suara 

Juara 3 Kab.

- Story Telling 

10 besar Tk. kab.

- Puisi

3 besar tk. Kab.

Keagamaan 

 

- Tartil 

Juara 3 Kab.  

- Qiro’ah 

Juara 5 Kab.

   

 

 

 

 

  1. Prestasi bidang Standar Isi 4 tahun mendatang :

Target yang harus dicapai 

% 

Kurikulum 100% memenuhi standar nasional pendidikan (perangkat pembelajaran sudah disusun untuk kelas VII – IX semua mapel)

90

   

Proses KBM dengan metode CTL didukung media pembelajaran yang memadai 

80

    

  1. Prestasi bidang Proses Pembelajaran 4 tahun mendatang

Pengembangan Proses Pembelajaran: 

 

Persiapan pembelajaran: 

Persiapan pembelajaran:

Kepemilikan sumber belajar /bahan ajar:

 

 

 

 

Pengembangan perangkat instrumen untuk pemahaman guru terhadap karakteristik siswa:  

Kepemilikan sumber belajar/bahan ajar: 100%

 

Pengembangan perangkat instrumen untuk pemahaman guru terhadap karakteristik siswa: 100%

Persyaratan Pembelajaran 

 

Jumlah siswa per rombelanak

 

 

 

 

beban mengajar guru:

 

 

 

ratio antara jumlah siswa dengan buku mapel

  • Jumlah siswa per rombel: 32 – 40 anak

 

  • Beban mengajar guru: ≥ 24 jam/minggu
  • Ratio antara jumlah siswa dengan buku mapel 1:1

Pelaksanaan pembelajaran:  

Pelaksanaan pembelajaran:  

Penerapan CTL

 

 

Penggunaan Media Pembelajaran Inovatif berbasis TIK pada KBM

 

 

 

 

 

 

memberikan pengalaman belajar dengan pengenalan lingkungan

 

 

 

 

 

 

Penerapan pembelajaran di luar kelas/sekolah

Penerapan CTL: 100%

 

Penggunaan Media Pembelajaran Inovatif berbasis TIK pada KBM (80%)

 

Memberikan pengalaman belajar dengan pengenalan lingkungan(75 %)

 

 

Penerapan pembelajaran di luar kelas/sekolah 60 %


 

Pengawasan proses pembelajaran: 

Pengawasan proses pembelajaran: 

Pemantauan kegiatan pembelajaran KBM oleh Kepala sekolah

 

 

 

 

 

Tindak lanjut hasil evaluasi pembelajaran  

Pemantauan kegiatan pembelajaran KBM oleh Kepala sekolah (80%)

 

Tindak lanjut hasil evaluasi pembelajaran 100%

 

  1. Prestasi yang diharapkan 4 tahun mendatang bidang penilaian

Pengembangan penilaian 

% 

Perangkat Penilaian sesuai KTSP yang berstandar SSN 

100 

Pengembangan sistem penilaian berbasis ICT 

50 

Melengkapi administrasi penilaian semua guru

100 

Melaksanakan pengukuran dan penilaian dengan memberikan tindak lanjut berupa perbaikan dan pengayaan untuk semua guru 

100 

Penyusunan Bank Soal 

100 

 

  1. Prestasi yang diharapkan 4 tahun mendatang bidang tenaga pendidik dan kependidikan

Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan:

 

Kemampuan guru dan karyawan dalam penguasaan dan pengoperasian komputer, LCD, internet 

75 

Peningkatan kualitas guru melalui MGMP, seminar, workshop, pelatihan, dll 

80 

Kemampuan guru dalam penyusunan Penelitian Tindakan Ilmiah (PTK)

10 guru 

Kemampuan guru berbahasa Internasional (Inggris) dalam pembelajaran 

50 % 

Magang dan kunjungan ke sekolah lain 

5 x 

Peningkatan kemampuan tenaga kependidikan 

75 

 

  1. Prestasi yang diharapkan 4 tahun mendatang bidang sarana dan prasarana

Pengembangan Prasarana dan sarana:

 

Bangunan/Ruang Belajar Standar 

90

Peningkatan Media Pembelajaran 

80

Peningkatan Bahan/Sumber Belajar

(Buku-buku, kurikulum, dll) 

90

Peningkatan pemanfaatan TV edukasi 

50

Rehabilitasi lingkungan sekolah

90

 

  1. Prestasi yang diharapkan 4 tahun mendatang bidang manajemen

Pengembangan Pengelolaan:

 

Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah  

100 

Pengelolaan PSB yang baik dan selektif

100

Peningkatan kerjasama dengan stakeholder 

75 

Jaringan Informasi Sekolah

60

Monitoring dan Evaluasi 

100

Pelaporan 

100

Dokumen program kerja komite sekolah:

 

Perolehan kerjasama dengan pihak lain

 

Bantuan biaya pendidikan dari orang tua siswa:

100%

 

5 instansi

 

50.000 rupiah/bulan

Terpasang Paket Aplikasi Sekolah

60%

 

  1. Prestasi yang diharapkan 4 tahun mendatang bidang pembiayaan

Pengembangan Pembiayaan:

 

Peningkatan penggalian sumber dana 

4 sektor 

Pengembangan unit usaha sekolah  

75

Kerjasama Alumni 

60

Kerjasama Sponsor 

60

Kerjasama Komite Sekolah 

100 

Subsidi silang siswa kurang mampu

75

Penyampaian pertanggungjawaban keuangan sekolah secara periodik 

100 

9. Prestasi yang diharapkan 4 tahun mendatang bidang Budaya dan Lingkungan Sekolah

Pengembangan Budaya dan Lingkungan Sekolah 

 

Pengembangan budaya bersih

75

Penciptaan lingkungan sehat asri, indah, rindang dan sejuk 

75

Penciptaan budaya tata krama “in action” 

75

   

 

 

  1. TONGGAK-TONGGAK KEBERHASILAN ( TARGET 2011/2012 )

 

NO 

ASPEK-ASPEK PROGRAM STRATEGIS 

TONGGAK-TONGGAK KEBERHASILAN 

07/08 

08/09 

09/10 

10/11

11/12 

             

1 

KELULUSAN 

a.

Prestasi Akademik

       
 

Rerata UN 07/08  

6,83 

6, 98

7,15

7,36

7,63

 

Pencapaian Nilai UN 10 

0,47 

2,5 

5 

7,5 

10 % 

 

Prosentase Kelulusan 

99,53 

99.61

100 

100 

100 

 

Ketuntasan Minimal (LKKM) Kelas 7  

60 

64

68

72

76.3

 

Ketuntasan Minimal (LKKM) Kelas 8  

61 

65

69

73

76.3

 

Jumlah lulusan yang melanjutkan studi

81%

83%

85%

87%

90%

 

Lomba Rumpun Mapel 

4 besar tk.Kab

3 besar tk.Kab

3 besar tk. Kab

3 besar tk. Kab

2 besar tk. Kab

 

Lomba cerdas cermat 

8 besar tk.Kab

6 besar tk.Kab

5 besar tk.Kab

5 besar tk. Kab

5 besar tk. Kab

 

Olimpiade sains 

0

10 besar tk.Kab

8 besar tk.Kab

5 besar tk. Kab

5 besar tk. Kab

 

Sinopsi buku

Juara 2 Kab.

Juara 2 Kab.

Juara 2 Kab.

Juara 2 Kab.

Juara 1 Kab.

 

Bahasa Jawa (Keguritan dan macopat )

Juara 3 Kab. 

Juara 3 Kab. 

Juara 2 Kab.

Juara 2 Kab.

Juara 2 Kab.

             

b.

Prestasi Non Akademik

       
 

- Bola Voli 

Juara 1 Kec 

Juara 1 Kec 

Semifinalis Kab.

Semifinalis Kab.

Semifinalis Kab.

 

- Basket 

0 

Juara 1 Kec 

Semifinalis Kab.

Semifinalis Kab.

Semifinalis Kab.

 

- Atletik 

Juara 1 Kec  

Juara 1 Kec  

Juara 3 Kab 

Juara 3 Kab. 

3 besar tk. Kab.

 

Kesenian  

         
 

- Seni Tari 

0 

Juara 1 Kec  

Juara 3 Kab.  

Juara 3 Kab.  

Juara 3 Kab.  

 

- Seni Suara 

0. 

Juara 1 Kec  

Juara 3 Kab.  

Juara 3 Kab.  

Juara 3 Kab.  

 

- Story Telling 

0 

Juara 1 Kec  

Juara 1 Kec  

10 besar Kab. 

10 besar Kab. 

 

- Puisi 

0 

Juara 1 Kec  

Juara 1 Kec  

10 besar Kab. 

Juara 3 Kab. 

c.

Keagamaan 

         
 

- Tartil 

1 kec. 

Juara 1 Kec  

10 besar Kab. 

5 besar Kab.

Juara 3 Kab. 

 

- Qiro’ah 

1 kec

Juara 1 Kec

Juara 1 Kec  

10 besar Kab. 

Juara 10 Kab.

II 

STANDAR ISI 

% 

% 

% 

% 

% 

a 

Buku KTSP (Buku/Dokumen-1): 

         
 

Penyusunan Buku KTSP

Tersusun 80% Buku KTSP 

85

90

95

100

b 

Silabus: 

Silabus: 

       
 

Tersusun silabus semua mapel  

Tersusun silabus semua mapel kelas 7 dan 8

Silabus kelas 7, 8, dan 9

Silabus kelas 7, 8, dan 9

Silabus kelas 7, 8, dan 9

Silabus kelas 7, 8, dan 9

III 

PROSES PBM 

         

a 

Persiapan pembelajaran: 

         
 

Kepemilikan sumber belajar /bahan ajar:

 

Pengembangan perangkat instrumen untuk pemahaman guru terhadap karakteristik siswa:

80%

 

 

 

 

30%

85

 

 

 

 

40%

90

 

 

 

 

50%

100

 

 

 

 

60%


 

100

 

 

 

 

70%

b 

Persyaratan Pembelajaran 

         
 
  • Jumlah siswa per rombel
  • beban mengajar guru:

 

 

 

 

- ratio antara jumlah siswa dengan buku mapel

44

 

rata-rata 20 jam/ minggu

 

 

3:1

40

 

rata-rata 20 jam/ minggu

 

 

2:1

36

 

rata-rata 21 jam/ mnggu

 

 

2:1

36

 

rata-rata 20 jam/ mggu

 

1:1 

32

 

rata-rata 20 jam/ mnggu

 

 

1:1 

c 

Pelaksanaan pembelajaran:  

         
 

Penerapan CTL

 

Penggunaan Media Pembelajaran Inovatif berbasis TIK pada KBM

 

memberikan pengalaman belajar dengan pengenalan lingkungan

 

Penerapan pembelajaran di luar kelas/sekolah

50%

 

20 %

 

 

 

15 %

 

 

 

 

20 % 

60%

 

30%

 

 

 

30%

 

 

 

 

25%

75%

 

40%

 

 

 

40%

 

 

 

 

30%

90%

 

50%

 

 

 

50%

 

 

 

 

35%

100%

 

60%

 

 

 

60%

 

 

 

 

40%

d

Pengawasan proses pembelajaran:

         
 

Pemantauan kegiatan pembelajaran KBM oleh Kepala sekolah

 

Tindak lanjut hasil evaluasi pembelajaran

60%

 

 

 

60
%

65%

 

 

 

70%

70%

 

 

 

80%

75%

 

 

 

90%

80%

 

 

 

100%

IV

PENILAIAN 

 

% 

 

% 

 

% 

 

% 

 

% 

 

Perangkat Penilaian sesuai KTSP yang berstandar SSN

30 

60 

90 

100 

100 

 

Pengembangan sistem penilaian berbasis ICT 

0 

20 

30 

40 

50 

 

Melengkapi administrasi penilaian semua guru 

80 

85 

90 

100 

100 

 

Melaksanakan pengukuran dan penilaian dengan memberikan tindak lanjut berupa perbaikan dan pengayaan untuk semua guru

70 

80 

90 

100 

100 

 

Penyusunan Bank Soal 

25 

50 

75 

100 

100 

             

V

SDM PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

 

% 

 

% 

 

% 

 

% 

 

% 

 

Kemampuan guru dan karyawan dalam penguasaan dan pengoperasian komputer, LCD, internet 

20 

40 

50 

60 

75 

 

Peningkatan kualitas guru melalui MGMP, seminar, workshop, pelatihan, dll

40 

50 

60 

70 

80 

 

Kemampuan guru dalam penyusunan Penelitian Tindakan Ilmiah (PTK) 

3 guru 

5 guru 

7 guru 

8 guru 

10 guru 

 

Kemampuan guru berbahasa internasional (Inggris)dalam pembelajaran

11

20 

30 

40 

50  

 

Magang dan kunjungan ke sekolah lain 

0 

2 x 

3 x 

4 x 

5 x 

 

Peningkatan kemampuan tenaga kependidikan 

25 

40 

50 

60 

75 

             

VI 

PENINGKATAN DAN PENGEMBANAN SARANA PRASARANA 

 

% 

 

% 

 

% 

 

% 

 

% 

 

Bangunan/Ruang Belajar Standar 

75 

80 

85 

90 

90 

 

Peningkatan Media Pembelajaran

60 

65 

70 

75 

80 

 

Peningkatan Bahan/Sumber Belajar

(Buku-buku, kurikulum, dll) 

70 

75 

80 

90 

90 

 

Peningkatan pemanfaatan TV edukasi 

5 

15 

25 

40 

50 

 

Rehabilitasi lingkungan sekolah 

60 

70 

75 

85 

90 

             

VII 

PENINGKATAN PENGELOLAAN MANAJEMEN SEKOLAH

 

% 

 

% 

 

% 

 

% 

 

% 

 

Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah  

50

90

90 

100

100 

 

Pengelolaan PSB yang baik dan selektif

75 

80 

85

90 

100

 

Peningkatan kerjasama dengan stakeholder 

25 

40 

50 

60 

75

 

Jaringan Informasi Sekolah 

30

35 

40 

50 

60

 

Monitoring dan Evaluasi 

75 

80 

90 

95 

100

 

Pelaporan 

75 

80 

90 

95 

100

 

Dokumen program kerja komite sekolah:

60

70

80

90

100

 

Perolehan kerjasama dengan pihak lain

2 instansi 

3

instansi

3

instansi

4 Instansi

5 Instansi

 

Bantuan biaya pendidikan dari orang tua siswa:

10.000 rupiah/bl

20.000 rupiah/bl

30.000 rupiah/bl

40.000 rupiah/bl

50.000 rupiah/bl

 

Terpasangnya Paket Aplikasi Sekolah

0

10

25

40

60

             

VIII 

PENINGKATAN DAN PENGELOLAAN SUMBER DANA DAN PEMBEAYAAN 

 

% 

 

% 

 

% 

 

% 

 

% 

 

Peningkatan penggalian sumber dana

2 sektor 

3 sektor 

3 sektor 

4 sektor

4 sektor 

 

Pengembangan unit usaha sekolah  

10 

25 

50 

60 

75 

 

Kerjasama Alumni 

10 

25 

40 

50 

60 

 

Kerjasama Sponsor 

10 

25 

40 

50 

60 

 

Kerjasama Komite Sekolah 

75 

80 

90 

100 

100 

 

Subsidi silang siswa kurang mampu

0 % 

25 

50 

75 

75 

 

Penyampaian pertanggungjawaban keuangan sekolah secara periodik 

75 

80 

90 

100 

100 

 

IX 

Pengembangan Budaya dan Lingkungan Sekolah 

 

% 

 

% 

 

% 

 

% 

 

% 

 

Pengembangan budaya bersih 

60 

65

70

75

75

 

Penciptaan lingkungan sehat asri, indah, rindang dan sejuk 

25 

40

50

60

75

 

Penciptaan budaya tata krama “in action” 

20% 

40

50

60

75

 

  1. MONITORING DAN EVALUASI (MONEV)
    1. Mewujudkan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pendidikan dan hasil-hasilnya oleh Kep. Sek 3 bulan sekali dan 1 kali satu tahun oleh konsultan.
    2. Mewujudkan supervisi klinis beserta tindak lanjutnya
    3. Mewujudkan supervisi klinis CTL
    4. Mewujudkan evaluasi kinerja sekolah
  2. menyusun tim evaluasi monitoring
  3. membuat instrumen evaluasi monitoring
  4. menganalisa hasil evaluasi
  5. validasi hasil evaluasi
  6. membuat laporan evaluasi dan monitoring


     

SEKOLAH MODEL

Model Pembaharuan pada Sekolah Menengah Umum :
Pengalaman Indonesia

Keinginan untuk meningkatkan mutu Sekolah Menengah Umum di Indonesia merupakan perhatian utama dari Proyek Peningkatan Mutu Sekolah Menengah Umum (ADB Loan # 1360 INO). Proyek ini menekankan pada pengembangan sarana, persiapan bahan pengajaran dan dukungan konsultan dalam hal pelaksanaan kurikulum, pengembangan buku teks, peningkatan sistem ujian, peningkatan pelayanan penataran guru, peningkatan pembinaan guru, peningkatan supervisi akademik, perawatan preventif, merancang kembali dan melaksanakan program laboratorium bahasa, serta mengembangkan model pengembangan dan pelaksanaan manajemen Sekolah Menengah Umum.

Kegiatan konsultasi untuk pengembangan model Sekolah Menengah Umum yang semula adalah untuk menciptakan beberapa sekolah model untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusus.. Namun, kemudian tim konsultan ditugaskan untuk menangani kegiatan ini bersama-sama dengan staf Dikmenum dan semua menyetujui bahwa konsep sekolah model yang lama tidak efektif dalam melaksanakan pengembangan sekolah. Konsep baru bagi model “pengembangan sekolah” telah didiskusikan oleh para konsultan Internasional, konsultan Nasional dan staf Dikmenum. Konsep “model” yang tradisional bergantung kepada gambaran sekolah yang sangat baik dan memperoleh tambahan input (uang, pelatihan, fasilitas dan sumber pembelajaran) menciptakan adanya model yang bagus yang akan ditiru oleh sekolah lain. Masalah yang terlihat jelas untuk pendekatan ini adalah bahwa sekolah biasa akan sulit untuk diubah menjadi sekolah yang bagus apalagi menjadi sekolah model. Masalah kedua adalah apabila input yang sama tidak diterapkan pada sekolah biasa, peniruan model tidak akan difasilitasi. Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini lihat Lampiran A.

Sebagai alternatif, mereka yang terlibat dalam sekolah model memilih untuk merencanakan langkah yang berbeda dalam pembuatan konsep pengembangan sekolah “model”. Kunjungan ke beberapa sekolah di wilayah yang berbeda oleh para konsultan membawa hasil akan kayanya informasi mengenai prakarsa Sekolah Menengah Umum yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sekolah setempat. Usaha inovatif ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk meningkatkan mutu sekolah basisnya ada pada tingkat sekolah. Dari sini jelas sekali terlihat oleh para konsultan, bahwa sekolah yang mengalami peningkatan dan pengembangan adalah yang dapat mewakili model pengembangan sekolah. Fokusnya adalah pada “proses” yang dialami oleh sekolah ketika mutu pendidikan meningkat. Apa yang terjadi di dalam sekolah yang membuat adanya pergeseran menuju kepada sekolah yang lebih efektif ? Dari sudut pandang ini konsep “model” pengembangan sekolah muncul. Perhatian kami ditujukan pada identifikasi apa yang terjadi di sekolah yang mengalami peningkatan atau perkembangan.

Untuk menjawab pertanyaan tentang “proses” pembaharuan, para konsultan mengajukan usul untuk mempelajari sejumlah kecil sekolah yang telah mengalami perkembangan. Dengan mengadakan penelitian pada sekolah-sekolah tersebut, para konsultan berharap akan menemukan beberapa sebutan nama umum yang dapat digunakan untuk Pengembangan Sekolah Model atau yang biasa disebut “model pembaharuan”. Dengan menganggap bahwa ada beberapa sebutan nama umum di antara sekolah-sekolah, ciri-ciri ini dapat dikembangkan menjadi model bagi sekolah lain. Jika demikian maka model tersebut adalah yang didasarkan pada pengalaman nyata pada sekolah-sekolah di Indonesia, sesuatu yang dapat ditiru dan dapat dikerjakan oleh sekolah-sekolah lain.

Delapan Sekolah Menengah Umum dari Jawa Barat, D.I. Yogyakarta dan Jawa Timur, telah dipilih karena sekolah-sekolah tersebut telah menunjukkan beberapa tingkat perkembangan selama satu atau dua tahun terakhir ini. Tim konsultan mengadakan wawancara yang intensif dengan Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru, Orang tua siswa, Siswa dan Tokoh Masyarakat (lihat Lampiran B sekolah-sekolah yang berperan serta di dalam program dan Lampiran C untuk Pertanyaan Wawancara). Pada beberapa kasus, wakil dari Kandep juga diwawancarai. Setelah semua sekolah diwawancarai, data tersebut diringkas dan dibandingkan sebagai pengalaman biasa.

Semua sekolah itu tampaknya kurang efektif atau hanya bertahan sebelum kehadiran Kepala Sekolah yang sekarang. Pengembangan sekolah sebelumnya dibatasi oleh sedikitnya peningkatan sarana. Pada semua kasus, Kepala Sekolah yang baru telah mencoba mengadakan penilaian mengenai kondisi sekolah baik secara formal maupun informal untuk merumuskan tujuan sekolah. Untuk mencapai tujuan ini, beberapa karakteristik mendasari pengembangan sekolah telah diamati. Karakteristik berikut ini menggambarkan tema biasa yang dapat dipelajari dari delapan model “Pengembangan Sekolah” (Pengembangan Sekolah Model).

Komunikasi yang lebih terbuka: secara umum komunikasi di antara para pemegang peran meningkat dari sebelumnya. Ada beberapa perbedaan tingkat keterbukaan dan cara pendekatan yang dikomunikasikan pada setiap sekolah. Pada beberapa sekolah, semua yang terlibat dan masalah-masalah disampaikan untuk menjadi perhatian para pemegang peran melalui rapat, diskusi informal dan surat (kepada orang tua siswa) atau melalui kegiatan sekolah biasa (misalnya pada upacara bendera setiap hari Senin). Pada sekolah lain frekuensi dan kesempatan untuk menerima umpan balik sangat kurang, walaupun pemegang peran merasa bahwa keadaan sekarang lebih baik daripada sebelumnya. Dengan adanya komunikasi yang lebih terbuka / transparan, maka para pemegang peran akan merasa lebih positif mengenai sekolah. Hal ini dapat menciptakan dasar yang kuat untuk mendukung pengembangan sekolah melalui peran serta para pemegang peran.

Pengambilan keputusan bersama: secara umum para pemegang peran mengalami lebih banyak tanggung jawab dalam pengambilan keputusan. Tingkat pengambilan keputusan yang harus diambil oleh para pemegang peran berbeda antara satu sekolah dengan sekolah yang lain. Seluruh pemegang peran mengalami peningkatan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan dibandingkan dengan sebelumnya. Para pemegang peran merasa lebih terlibat di dalam proses tersebut dan yakin bahwa Kepala Sekolah menghargai pendapat mereka. Hirarki pengambilan keputusan telah ditetapkan dan menunjukkan keputusan apa dan oleh siapa yang diperoleh bagi masing-masing pemegang peran.

Memperhatikan Kebutuhan Guru : perhatian dan kemampuan sekolah terhadap hal ini dapat memberikan berbagai tingkatan motivasi pada guru. Kebutuhan guru termasuk juga kesejahteraan pribadi, pengembangan profesional dan bantuan dalam pengajaran. Apabila kesejahteraan guru terjamin, guru dapat memberi perhatian yang lebih kepada pengajaran. Guru didukung untuk meningkatkan kualifikasi ke tingkat S1 dan didorong untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Dukungan dari kepala sekolah mengenai kenaikan pangkat bagi pegawai negeri dan kebutuhan pengembangan profesional dikomunikasikan kepada guru, bahwa hal tersebut penting demi tercapainya tujuan pendidikan sekolah. Akhirnya beberapa sekolah menyediakan bantuan pengajaran langsung dengan mengalokasikan dana untuk bahan pengajaran, pengembangan perpustakaan dan mengizinkan guru untuk lebih kreatif didalam kelas.

Memperhatikan Kebutuhan Siswa: sekolah yang memperhatikan kebutuhan siswa lebih diterima oleh siswa, orang tua dan masyarakat. Kebutuhan siswa termasuk pula peningkatan pengajaran, memberikan waktu pengajaran tambahan untuk persiapan EBTANAS, menambah kegiatan ekstra kurikuler, melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan mengenai masalah-masalah mereka, serta mengembangkan program pelatihan keterampilan (ekstra kurikuler) untuk mempersiapkan ke dunia kerja. Semua sekolah yang melakukan pembaharuan yakin, bahwa sekolah perlu dijadikan tempat yang menyenangkan bagi para siswa sehingga merasa betah berada di sana. Dengan memberikan ketrampilan yang menarik dan peningkatan kegiatan ekstra, siswa akan lebih termotivasi untuk pergi ke sekolah. Salah satu hasilnya adalah apabila kebutuhan siswa diperhatikan, siswa dari kecamatan lain akan tertarik untuk bergabung.

Keterpaduan Sekolah dan Masyarakat: sekolah mempunyai peran sosial yang penting dalam masyarakat. Yang termasuk masyarakat dalam konteks ini adalah orang tua siswa dan masyarakat setempat. BP3 adalah alat utama untuk saling bertemu bagi sekolah dan orang tua siswa. Biasanya rekomendasi kepala sekolah dikaji ulang dalam rapat BP3 dan anggotanya memutuskan rekomendasi mana yang akan didukung sebagai masalah utama yang perlu didanai. Rekomendasi kepala sekolah didasarkan pada perhatian tersebut, namun tercermin dalam pemikiran guru, siswa, orang tua siswa dan masyarakat. Perhatian pemegang peran telah dikomunikasikan secara formal melalui rapat (misalnya rapat guru) atau secara informal melalui diskusi perseorangan dengan kepala sekolah.

Karakteristik di atas memberikan kerangka kerja dalam pembuatan model pembaharuan bagi Sekolah Menengah Umum. Mereka konsisten dengan studi lain mengenai sekolah yang efektif di seluruh dunia. Bandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lezotte (1989), Lockheed &Levin (1990), and Squires, Huitt, & Segars.

Usulan Model Pembaharuan Untuk Pengembangan Sekolah

Mengembangkan model pembaharuan adalah tugas yang sulit karena proses pembaharuan adalah usaha yang multi-dimensional. Tidak ada satu model pun yang dapat menjelaskan dengan sempurna betapa rumitnya pengembangan sekolah. Yang akan diusulkan oleh para konsultan adalah kerangka kerja yang memberi pedoman pada proses pembaharuan (lihat Diagram 1). Dalam mengkaji-ulang data pada model “pengembangan sekolah” yang telah dipilih, dua proses utama telah diidentifikasi. Pertama, keinginan kepala sekolah untuk meningkatkan intensitas komunikasi di antara para pemegang peran merupakan alat untuk mengundang mereka untuk menjadi mitra dalam transformasi sekolah (lihat insert A). Kesadaran yang lebih tinggi tentang berbagai masalah dan pandangan para pemegang peran dapat menciptakan peluang untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh sekolah dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan. Kedua, dalam menggambarkan tanggung jawab pengambilan-keputusan oleh para pemegang peran mengakibatkan pemecahan masalah yang lebih cepat dan membebaskan kepala sekolah untuk berfungsi sebagai fasilitator dalam pengembangan sekolah (lihat insert B). Kedua proses tersebut menyebabkan adanya tanggung jawab yang lebih besar bagi para pemegang peran. Hal ini meningkatkan motivasi dan jati diri para pemegang peran. Pemegang peran menggunakan berbagai istilah, misalnya kemitraan dan suasana kekeluargaan untuk menggambarkan adanya hubungan yang baru di sekolah. Komponen yang lain akan didiskusikan secara rinci pada bagian berikutnya.

 
Diagram I. Model Pembaharuan untuk Pengembangan Sekolah

Salah satu keuntungan dari model ini adalah apabila sekolah sudah mencapai tingkat-tingkat komunikasi terbuka yang optimal dan pengambilan keputusan bersama, sekolah dapat menjadi mandiri. Hal ini secara tidak langsung menyatakan bahwa kepala sekolah berfungsi sebagai koordinator pada fungsi sekolah yang berbeda. Masalah utama adalah arah pengembangan sekolah dan identifikasi sumber keuangan untuk membantu pengembangan sekolah yang dapat berjalan terus menerus dalam kegiatan kepala sekolah. Dalam sistem pendidikan di mana kepala sekolah secara periodik diganti, pendekatan ini membuat pengembangan sekolah dapat tetap dilanjutkan meskipun kepala sekolah yang baru, baru diperkenalkan dengan sekolahnya.

Model ini merupakan tinjauan yang menyeluruh terhadap semua yang terlibat dalam proses pengembangan kondisi untuk pembaharuan di sekolah. Ketika Sekolah Menengah Umum berjalan menuju peningkatan mutu berbasis sekolah) hal ini menunjukkan kepada sekolah bahwa proses pengembangan akan tercapai.

Insert A. Menciptakan Komunikasi Terbuka Di Antara Para Pemegang Peran 

Salah satu elemen inti untuk mendorong pengembangan sekolah adalah kesempatan bagi pemegang peran untuk menanyakan pandangan-pandangan dan pertukaran gagasan. Melalui dialog ini dapat dicapai pemahaman yang lebih baik mengenai kebutuhan pemegang peran yang berbeda-beda dan dasar untuk mencoba memecahkan masalah yang biasa terjadi dan juga memecahkan konflik akan kebutuhan diantara mereka. Model Pengembangan Sekolah memperoleh pengalaman dalam keterbukaan dan transparansi di beberapa SMU. Perbedaan pendekatan di antara sekolah untuk komunikasi tercermin dari pilihan kepala sekolah. Kepala sekolah dan para guru mendukung adanya diskusi informal dengan orang tua siswa, siswa dan anggota masyarakat melalui pertemuan pribadi dan kegiatan sekolah atau masyarakat.

Kepala Sekolah mengumpulkan dukungan dari diskusi dengan para guru dalam usaha pengembagnan sekolah untuk menerima umpan balik dan mengusulkan alternatif pendekatan dan juga masalah-masalah pengembangan lainnya. Biasanya, kepala sekolah mengadakan rapat rutin untuk mendiskusikan masalah-masalah yang dihadapi oleh sekolah. Anggaran sekolah didiskusikan secara terbuka dan input bagaimana menyesuaikan anggaran agar tujuan sekolah dapat tercapai. Kepala sekolah menerima input dari semua pemegang peran dan mempresentasikannya kepada guru. Masalah-masalah pengembangan yang berhubungan dengan program akademik telah diperhatikan di sekolah. Hal lain telah mengacu pada rekomendasi BP3.

Masalah mendasar yang dirasa perlu untuk diperhatikan oleh kepala sekolah adalah menetapkan peran guru, siswa dan orang tua siswa. Harapan dan tanggung jawab telah ditetapkan sehingga setiap orang mempunyai pemahaman yang jelas. Hal ini menciptakan adanya arah dan tujuan bagi para pemegang peran. Juga memberikan tema umum bagi pengembangan sekolah. Berdasarkan kondisi sekolah yang ada, kepala sekolah, guru dan orang tua siswa mengembangkan misi dan visi yang memperhatikan kebutuhan dan aspirasi para pemegang peran.

Para Guru mampu mengkomunikasikan perhatian dan bertukar gagasan pada rapat rutin yang telah dijadwalkan dengan Kepala Sekolah. Hal ini bervariasi antara satu sekolah dengan sekolah yang lain dari satu kali dalam seminggu sampai satu kali dalam satu cawu. Guru mempunyai kebebasan untuk bertukar pandangan, termasuk juga pandangan yang bertentangan dengan sudut pandang kepala sekolah. Kepala sekolah yang mengkaji ulang anggaran sekolah bersama-sama dengan para guru, menemukan dukungan lebih untuk pelaksanaan program, khususnya apabila pandangan guru diperhatikan dalam penyusunan program. Guru merasa bahwa mereka sebagai mitra dalam pengembangan mutu sekolah. Rasa turut memiliki menambah minat dan peran serta dalam program. Komunikasi yang terbuka memberikan kesempatan kepada para guru untuk diperlakukan sebagai profesional dan memperoleh penghormatan yang patut diterima oleh para guru.

Siswa diundang untuk terlibat dalam diskusi dengan kepala sekolah dan guru, namun ada rasa enggan dan rasa malu dari siswa. Dukungan dan kemauan kepala sekolah untuk mendengarkan para siswa dapat memberikan dorongan kepada mereka. Melalui rapat “OSIS”, siswa belajar mengutarakan pendapat-pendapat dalam suasana yang nyaman dan belajar mengatasi masalah-masalah yang melibatkan mereka dengan cara yang terorganisasi. Juga melalui organisasi siswa, para siswa dapat mengutarakan pandangan-pandangan dan mengusulkan berbagai saran.

Perhatian Para Orang Tua Siswa ditujukan untuk peningkatan komunikasi. BP3 berfungsi sebagai alat untuk melibatkan para orang tua siswa dalam berbagai prakarsa untuk pengembangan. Jadwal pertemuan-pertemuan BP3 merupakan sarana komunikasi dengan berbagai anggota di sekolah. Program yang paling efektif adalah dengan rapat sebanyak empat kali dalam setahun dan menginformasikan kepada anggota mengenai kegiatan pengembangan pada setiap rapat. Orang tua siswa dapat menyampaikan perhatian mereka, bertanya dan mengkaji ulang pengeluaran untuk program-program yang disponsori oleh BP3 . Anggota memilih proyek yang akan dilaksanakan dengan mengambil suara terbanyak bagi pilihan yang ada. Begitupun juga mempunyai kesempatan untuk berbicara kepada Kepala sekolah dan guru secara informal.

Tokoh Masyarakat mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mendiskusikan masalah-masalah sekolah dan masyarakat dengan kepala sekolah dan BP3. Tokoh masyarakat diundang pada rapat sekolah ketika masalah tertentu yang berkaitan dengan masyarakat akan diselesaikan. Tokoh masyarakat merasa lebih enak berbicara dengan kepala sekolah dan guru secara informal. Terdapat hubungan informal yang kuat yang ada di antara guru dan staf dalam hidup di tengah masyarakat dan sebagai anggota masyarakat. Melalui interaksi formal dan informal, anggota masyarakat menganggap sekolah sebagai komponen penting bagi pengembangan masyarakat. Seorang tokoh masyarakat menjelaskan bahwa tanpa adanya sekolah masyarakat perkebunan karet yang dulu akan ketinggalan.

Insert B Berbagi tanggung jawab di antara para pemegang peran

Keberhasilan Pengembangan Sekolah Model dapat ditandai dengan terlaksananya praktek pembagian pengambilan keputusan bersama di sekolah. Dengan pembagian tanggung jawab di antara para pemegang peran, kepala sekolah dapat lebih memberi perhatian pada hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan sekolah dan strategi pendanaannya untuk pengembangan sekolah. Aspek lain dari pembagian tanggung jawab dalam pengambilan keputusan adalah memprofesionalkan staf serta mengajak mereka untuk bekerja lebih baik lagi. Rasa menghargai diri sendiri dan percaya diri dapat menggantikan sikap pesimis.

Peran Kepala Sekolah bergeser dari pengawas menjadi fasilitator. Dengan memberikan tanggung jawab kepada wakil kepala sekolah dan para guru dari hari ke hari, memungkinkan bagi kepala sekolah untuk memfokuskan tenaganya pada peningkatan program-program akademik dan cara-cara untuk mencapainya. Dia juga dapat memberi perhatian lebih pada pembentukan hubungan antara orang tua siswa dan masyarakat.

Para Wakil Kepala Sekolah diharapkan dapat bertanggung jawab penuh dalam pengambilan keputusan untuk bidangnya. Masalah-masalah yang terjadi di sekolah yang tidak dapat diselesaikan oleh lainnya akan diperhatikan. Pada kasus yang jarang terjadi, dan masalah yang tak dapat diatasi dibawa ke tingkat yang lebih tinggi untuk menjadi perhatian kepala sekolah. Dengan melaksanakan peran ini para wakil kepala sekolah memperoleh ketrampilan kepemimpinan dan pengalaman-pengalaman yang menjamin kesinambungan pengembangan sekolah meskipun kepala sekolah berhalangan untuk suatu kurun waktu tertentu.

Para Guru diberikan tanggung jawab yang lebih untuk peningkatan pengajaran dan kreatifitas di dalam kelas. Kepala sekolah dan staf pengawas lainnya siap untuk berdiskusi dengan para guru mengenai pendekatan inovasi di dalam kelas. Bersama-sama mereka dapat mengevaluasi efektifitas pendekatan dan membuat keputusan untuk keterlaksanaannya. Guru juga terlibat dengan siswa yang bermasalah secara lansung. Apabila dibutuhkan, guru dapat meminta orang tua siswa untuk berkunjung ke sekolah atau guru yang mengunjungi orang tua siswa. Dengan pemberian tanggung jawab yang lebih terhadap pencapaian akademis siswa, para guru terlatih untuk menjadi profesional dari pada hanya sebagai pegawai.

Siswa diberi kesempatan untuk mendiskusikan dan menyampaikan usulan yang berkenaan dengan mereka melalui OSIS. OSIS terdiri atas wakil dari setiap kelas dan kepala sekolah memimpin pertemuan. Wakil dari tiap kelas menyampaikan masalah-masalah yang perlu diperhatikan pada rapat OSIS. Mereka mendiskusikan hal tersebut dan berusaha mencari cara pemecahannya. OSIS memperhatikan usulan kegiatan yang berfokus pada keinginan dan minat siswa. Hal-hal yang dapat membawa pengaruh terhadap sekolah akan dibicarakan oleh Kepala sekolah dengan para guru. Masalah-masalah lain yang tidak menyangkut akademik akan disampaikan kepada BP3 untuk dipertimbangkan. Konsep yang diterapkan OSIS berhasil memecahkan beberapa masalah pengembangan yang penting. Pertama, hal tersebut membawa siswa menuju usaha pengembangan sekolah dengan memberi perhatian pada kebutuhan mereka serta menginformasikan kepada sekolah akan pandangannya terhadap pengembangan sekolah. Kedua, OSIS berfungsi sebagai contoh kehidupan bernegara di mana siswa belajar berorganisasi dan mengerti struktur politik. Hal ini juga merupakan pengalaman pembelajaran aktif dalam pendidikan bernegara. Ketiga, memperkenalkan dan mengembangkan potensi mereka dalam peran kepemimpinan di sekolah atau yang lebih dari itu.

Para Orang Tua Siswa lebih termotivasi dan berkeinginan untuk memberi sumbangan dalam kegiatan pengembangan sekolah pada saat diberi tanggung jawab dalam mengambil keputusan dan monitoring terhadap kegiatan sekolah yang didanai oleh BP3. Program-program BP3 yang efektif membuat para orang tua mengkaji ulang anggaran dan usulan perubahan, memilih usulan proyek sekolah yang diharapkan untuk didanai tahun ini, serta memonitor pelaksanaan dan pendanaan proyek tersebut. Para orang tua siswa berharap sumbangan BP3 dapat dimanfaatkan dengan tepat dan efisien.

Tokoh Masyarakat tidak secara langsung terlibat dalam keputusan-keputusan yang berbasis sekolah, namun mempunyai peran penting di luar sekolah. Dalam beberapa Model Pengembangan Sekolah, peran serta para tokoh masyarakat di sekolah dan rapat BP3 dapat berperan baik sebagai orang tua, peserta biasa ataupun undangan. Dengan berpartisipasi mereka dapat memberi informasi dan sumbangan dalam rapat pengambilan keputusan. Dengan melibatkan tokoh masyarakat, pegawai Depdikbud, pegawai pemerintah daerah dan tokoh usahawan setempat dalam diskusi sekolah mengenai peningkatan mutu, kepala sekolah tidak hanya mampu menjadi pendengar yang baik terhadap persoalan yang terjadi di sekolah, namun juga memperoleh bantuan dalam masalah lingkungan dan pembentukan kerja sama kemitraan demi kelanjutan terhadap dukungan sekolah.

Pada bagian berikut ini disampaikan inti temuan dari penelitian yang dilakukan pada sekolah-sekolah yang menjadi Model Pengembangan seperti tergambar pada Diagram 1 Model Pembaharuan dalam Pengembangan Sekolah.

Kepala Sekolah: kepala sekolah merupakan pribadi yang menjadi inti dalam peningkatan dan pengembangan sekolah. Para Konsultan melihat bahwa dalam Pengembangan Sekolah Model kepala sekolah mempunyai keinginan untuk memperbaharui sekolah. Tujuannya adalah memperhatikan kebutuhan pembelajaran siswa. Hal ini merupakan inti dari berbagai usaha pengembangan. Kepala sekolah memandu pemegang peran menuju pengembangan visi dan misi sekolah. Melalui diskusi yang diadakan bagi guru dan orang tua siswa, tujuan tertentu telah teridentifikasi untuk tiap tahun pelajaran. Melalui berbagai alat komunikasi, kebutuhan guru dan siswa telah diketahui dan dimasukkan dalam rencana pengembangan. Sebagai pemimpin dalam pengajaran, kepala sekolah menetapkan peranan dari setiap pemegang peran (orang tua siswa, siswa, guru, dan staf). Standar kedisiplinan telah dibuat dan didiskusikan sehingga tiap orang mengetahui pentingnya menciptakan lingkungan belajar. Untuk membantu kepala sekolah, pihak-pihak lain telah diundang untuk memikul bersama tanggung jawab bagi keseluruhan pengembangan sekolah. Guru diberi keleluasaan untuk mengawasi yang lebih dalam proses pembelajaran, namun harus menunjukkan adanya peningkatan prestasi siswa. Gagasan-gagasan telah didiskusikan dengan kepala sekolah lalu diujicobakan. Program yang berhasil akan dilanjutkan, yang tidak berhasil akan dibatalkan. Pemberian kesempatan kepada guru untuk menguji gagasan-gagasan baru mendukung sejumlah pengembangan kritis. Guru dianggap sebagai orang yang profesional dan menganggap sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang dinamis dan tidak membosankan. Pada akhirnya, hal ini akan membuat guru merasa diberdayakan.

Kebutuhan guru: guru merupakan dasar bagi semua usaha pendidikan. Mendukung mereka dalam berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah sangat penting. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu : kesejahteraan guru, pengembangan profesional dan bantuan dalam pengajaran. Untuk mendorong motivasi guru, semua itu perlu diperhatikan. Model pembaharuan mencatat adanya keterbukaan dalam komunikasi antara kepala sekolah dan para pemegang peran lainnya. Melalui proses ini, kebutuhan guru dapat diketahui dan dukungan yang memadai diperlukan dari kepala sekolah dan para orang tua siswa. Pengalaman dari Pengembangan Sekolah Model memperjelas adanya beragam cara untuk membantu guru. Kesejahteraan guru dapat ditingkatkan melalui pemberian biaya transport, makan siang gratis, pemberian honor tambahan untuk kelebihan jam mengajar atau mengikuti pelatihan khusus. Kepala sekolah mempunyai perhatian lebih dalam pengembangan profesional guru dengan mengkaji-ulang kriteria kenaikan pangkat pegawai negeri dan membantu guru dalam hal ini dan mendukung semua jenjang pelatihan. Semua sekolah menitikberatkan pada peningkatan pendidikan guru, agar sekurang-kurangnya berpendidikan S1. Hal ketiga adalah memperhatikan penyediaan bahan tambahan untuk mata pelajaran yang diajarkan, tambahan sumber perpustakaan, peningkatan laboratorium bahasa dan IPA, penyediaan laboratorium komputer dan perlengkapan audio-visual.

Kebutuhan Siswa: Tujuan utama sekolah adalah memberikan pendidikan yang baik bagi generasi muda Indonesia. Oleh karena itu pencapaian hasil belajar siswa merupakan perhatian utama dalam semua usaha pengembangan. Prestasi siswa tergantung pada banyak faktor. Salah satu yang sangat menentukan adalah motivasi belajar. Semua sekolah model menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini dapat tercapai melalui peranan yang jelas dari masing-masing pemegang peran termasuk siswa dan orang tua siswa. Siswa bertanggung jawab dalam belajar sedangkan yang lainnya membantu mereka. Guru dan kepala sekolah menaruh harapan yang tinggi terhadap masing-masing siswa. Apabila seluruh pemegang peran mempunyai pandangan yang sama mengenai pentingnya pembelajaran, keajegan dalam memberikan perhatian untuk keberhasilan siswa, hal itu merupakan pesan yang kuat kepada siswa. Selain mempunyai pemahaman umum mengenai peranan pendidikan, metode pengajaran dan bahan pengajaran yang tepat dan efektif akan memperkuat prospek keberhasilan siswa. Rencana lainnya yang dapat memberikan motivasi adalah penambahan kegiatan ekstra kurikuler yang menarik bagi siswa. Hal ini dapat bervariasi, mulai dari kegiatan olahraga, pendidikan keagamaan, program pelatihan ketrampilan untuk persiapan kerja (komputer, Bahasa Inggris, Pertanian dan botani). Peran serta siswa dalam pengambilan-keputusan merupakan sarana lain untuk memotivasi siswa. Beberapa kepala sekolah membentuk OSIS yang terdiri atas wakil-wakil dari setiap kelas untuk mendiskusikan kepada kepala sekolah apa yang menjadi perhatian siswa. Dalam hal ini siswa mengidentifikasi sendiri apa kebutuhan mereka yang dapat memberi sumbangan kepada pengembangan sekolah. Beberapa usulan kegiatan, pelaksanaannya menjadi tangung jawab siswa. Masalah-masalah lain yang juga menjadi perhatian dari semua sekolah adalah kebutuhan akan adanya lingkungan yang aman bagi siswa (dan guru) untuk datang ke sekolah. Semua sekolah menyatakan adanya kebutuhan akan adanya pagar yang dapat melindungi mereka dari hewan maupun orang yang tidak diinginkan serta mencegah siswa berkeliaran di luar. Dinding atau pagar yang mengelilingi lingkungan sekolah merupakan simbol yang menyatakan bahwa sekolah adalah tempat belajar bagi siswa. Hal ini merupakan masalah penting bagi semua sekolah.

Satu hasil penting yang tersirat namun belum diteliti adalah bahwa sekolah-sekolah tersebut sebelumnya hanya menarik bagi siswa di Kecamatan yang bersangkutan. Tetapi sekarang ini, sekolah dapat menarik perhatian siswa dari Kecamatan atau daerah lain. Dengan memperhatikan minat pendidikan dan pribadi siswa, tampak bahwa sekolah menerima penghargaan dan perhatian masyarakat luas.

Keterpaduan Masyarakat: Orang tua siswa dan masyarakat setempat sering kali tidak dilihat sebagai aset yang berharga dalam peningkatan mutu pendidikan. Dengan melibatkan orang tua siswa, kantor pendidikan dan pemerintah, serta pengusaha setempat, sekolah memperoleh sumber tambahan baik dalam hal dukungan pendidikan maupun sumber-sumber keuangan tambahan untuk pengembangan sekolah. Terdapat variasi fungsi BP3, namun program yang paling efektif dapat memberikan pertanggungjawaban terhadap organisasi dalam memutuskan program mana yang akan didanai. Pada umumnya kepala sekolah menerima masukan dari para pemegang peran mengenai cara meningkatkan sekolah. Biasanya kepala sekolah dan guru ingin mendiskusikan masalah-masalah yang terkait dengan upaya untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Gagasan-gagasan tersebut akan dirumuskan untuk menjadi program-program oleh kepala sekolah dan dipresentasikan kepada BP3 untuk disetujui. Berdasarkan dana yang tersedia (dan sumbangan khusus dari orang tua siswa dalam hal-hal tertentu), anggota BP3 memutuskan program mana yang akan dilaksanakan pada tahun tersebut. Selain para orang tua siswa, wakil masyarakat dapat pula berperan serta dalam rapat tersebut khususnya apabila bantuan mereka dibutuhkan untuk suatu proyek. Hal ini akan diikuti dengan pembentukan komite (yang beranggotakan para pemegang peran) yang akan mengawasi pelaksanaan program. Kepala sekolah berfungsi sebagai penasihat pada keseluruhan proyek ini. Motivasi orang tua siswa sangat tinggi ketika mereka diberi tanggung jawab dalam pengambilan keputusan. Beberapa sekolah mencatat adanya kenaikan sumbangan dari orang tua siswa walaupun mengalami masa krisis ekonomi di tahun 1997-1998. Pada sekolah lain, BP3 setuju untuk menurunkan sumbangan bulanannya karena menurunnya pendapatan orang tua siswa selama masa tersebut. Ketika anggota BP3 diberi tanggung jawab untuk menyetujui dan memonitor pemanfaatan dana, mereka cenderung untuk memberi sumbangan yang lebih banyak setelah mengetahui bahwa dana tersebut dimanfaatkan secara langsung untuk membantu sekolah.

Beberapa model “pengembangan sekolah” memperoleh keuntungan dengan bekerja sama dengan Kandep Dikbud dan Pemerintah Daerah setempat dalam mendukung program pendidikan atau meningkatkan lingkungan sekolah. Sebagai contoh, ada dua sekolah yang menerima bantuan dari Pemda setempat untuk memperbaiki gerbang sekolah. Sekolah lain memperoleh bantuan dari pengusaha setempat dalam mendanai pembangunan tembok sekeliling sekolah. Kemungkinan pencarian sumber dana secara lokal dapat membantu sekolah sehingga mereka tidak tergantung pada Depdikbud dalam pemenuhan semua kebutuhan mereka. Ketersediaan dana yang dapat dimanfaatkan segera dapat memberi peluang bagi sekolah untuk merencanakan pengembangan berikutnya dan pada saat yang sama terdapat kesinambungan di tingkat sekolah.

Referensi

Lezotte, L.W (1989). Effective Schools Research Model for Planned Change. Effective Schools Products, Limited. Michigan Okemos. July 1989.

 
 

Lockheed, M.E. & Levin, H.M (1990). “Creating Effective Schools”. Chapter 1 in Effective Schools in Developing Countries. H.M. Levinand M.E. Lockhead, Eds. Falmer Press. Washington, DC

 
 

Squires, D.A., Huitt, W.G., & Segars, J.K. Effective Schools and Classrooms : A Research-Based Perspective. Association for Supervision and Curriculum Development. Virginia, Alexandria.

 
 

Umaedi (1999) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Directorate Jenderal Pendidikan Dasar dan Menegah, Directorate Pendidikan Menengah Umum. Indonesia, Jakarta

 
 

LAMPIRAN A

Peninjauan Kembali Konsep Pengembangan Sekolah Model
(Suatu Konsep Baru untuk Direktorat Menengah Umum, Februari 1999)

Lebih dari 6 bulan kami telah menempatkan beberapa orang konsultan international untuk menangani pengembangan konsep sekolah model. Para konsultan tersebut telah bertemu dengan Bapak Budiono and Bapak Totok untuk mendiskusikan tentang perhatian dan visi untuk menentukan kebijakan. Dalam pertemuan para konsultan Pengembangan Sekolah Model, konsep tersebut dikembangkan lebih lanjut dan rencana pelaksanaan telah dipersiapkan oleh Pak Simon Ju. Konsep ini berawal dari konsep tradisional yang cukup penting mengenai “sekolah model”. Pandangan tradisional tersebut mendukung untuk mengidentifikasi sekolah yang sangat bagus, dan mengembangkannya agar memenuhi persyaratan untuk menjadi sekolah yang “ideal”. Dari diskusi lebih lanjut ternyata bahwa pendekatan ini tidak pernah berhasil untuk dilaksanakan. Empat diantara beberapa alasannya adalah:

  • Biasanya sekolah yang sangat bagus dipilih sebagai “sekolah model”, sehingga mempunyai keuntungan yang jelas dibanding sekolah biasa. Pertama-tama sekolah biasa perlu dikembangkan menjadi sekolah yang bagus, lalu kemudian mencapai kondisi yang lebih ideal untuk konsep sekolah “model”. Karena sekolah yang bagus ini dikembangkan terus menerus dan bergantung pada kontribusi dari orang tua siswa serta masyarakat yang dermawan, bentuk peniruan karakteristik semacam ini sulit dilakukan di sekolah biasa.
  • Pengembangan sekolah “model” memerlukan tambahan masukan seperti fasilitas, sumber-sumber pengajaran dan dana untuk mendukung upaya-upaya ekstra yang dilakukan oleh guru. Kontribusi semacam ini penting bagi sekolah. Hal ini menimbulkan masalah karena masukan yang sama dibutuhkan juga oleh sekolah lain yang ingin berkembang. Karena hal ini bukan suatu kasus, peniruan tidak mungkin dilakukan.
  • Ketika menerima bantuan dalam merubah sekolah yang baik menjadi sekolah “model”, mutu sekolah ikut meningkat. Namun ketika bantuan dihentikan, mutu tidak dapat dipertahankan. Sebagai contoh adalah pengalaman-pengalaman pada SMU Plus. Yang perlu diperhatikan disini adalah kesinambungannya.
  • Sekolah “model” mewakili situasi yang ideal. Keanekaragaman lingkungan di Indonesia mempersulit perhatian untuk semua kondisi. Ini mewakili pendekatan dari atas ke bawah, yang mutunya ditetapkan oleh kantor pusat. Sehingga perlu dikembangkan model yang sangat umum atau model yang banyak. Hal-hal tersebut tidak mempertimbangan keistimewaaan kepala sekolah, para guru, para siswa, para orangtua dan masyarakat. Kekakuan ini melemahkan kemampuan pemindahan model.

Kenyataan ini memaksa para konsultan untuk memandang model dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Kriteria pengembangan dari sudut pandang yang baru adalah sebagai berikut:

  1. Perhatian harus diberikan pada sekolah biasa.
  2. Model harus dapat ditiru, karena pengembangan sekolah didasarkan pada sumber setempat yang tersedia dan berbagai upaya dari sumber daya manusia yang ada.
  3. Model harus berkelanjutan, yaitu dengan cara memberikan kebebasan kepada sekolah dan masyarakat untuk mengembangkan diri.
  4. Model harus mudah dipindahkan, yaitu yang bisa dilaksananan di semua sekolah, tanpa memperhatikan keadaan lingkungan dan keistimewaaan sekolah serta masyarakat.

 
 

Berdasarkan kriteria tersebut, muncul konseptualisasi pandangan baru mengenai model. Sesuatu yang tidak didasarkan pada standar ideal, tetapi pada keadaan pembaharuan yang dialami oleh sekolah biasa. Jika kita dapat memodelkan proses pembaharuan tersebut, kita dapat memenuhi kriteria sebagai model seperti yang disebut diatas. Kunci dari pendekatan ini adalah mengenali sekolah-sekolah “biasa” yang telah melakukan pengembangan dan belajar dari pengalaman tersebut. Data dari proses perubahan yang terjadi di sekolah-sekolah tersebut, kemudian disusun sebagai model. Hal ini merupakan pergeseran yang sangat penting mengenai sekolah model dari sudut pandang tradisional. Pendekatan ini dengan jelas memenuhi kriteria model seperti yang tercantum diatas. Pertama, didasarkan pada sekolah nyata, yaitu sekolah biasa. Kedua, karena sekolah tersebut membuktikan bahwa perubahan dengan memanfaatkan sumber daya setempat adalah memungkinkan, maka akan dengan mudah dapat ditiru. Ketiga, karena sekolah dan masyarakat ikut terlibat dalam pengambilan keputusan dan mendukung pengembangan, maka akan terjadi kesinambungan dengan keterlibatan pribadi dari para pemegang peran. Keempat, karena berfokus pada model pembaharuan, maka dengan mudah dapat dialihkan untuk berbagai situasi lingkungan.

Konsep “model pembaharuan” merupakan cara yang unik untuk melihat pengembangan sekolah. Konsep ini juga mendukung visi Direktur Dikmenum dalam manajemen yang berbasis sekolah. Hal ini menciptakan otonomi dan kebebasan di tingkat sekolah. Di jaman reformasi dan krismon ini, pelimpahan tanggung jawab yang lebih besar di tingkat sekolah menjadi faktor penting dalam pengembangan sekolah. Desentralisasi dan pengurangan dana untuk sekolah-sekolah hanya akan menambah kebutuhan sekolah dalam memikul tanggung jawab yang lebih besar terhadap pengembangan sekolah. Pendekatan “Model pembaharuan” bagi Pengembangan Sekolah Model tampaknya merupakan suatu perpaduan yang baik untuk kondisi di Indonesia.

Komponen lain dari Pengembangan Sekolah Model adalah upaya untuk memberikan dukungan lebih lanjut kepada sekolah-sekolah yang termasuk dalam program ini (model pembaharuan sekolah). Hal ini menjadi penting untuk membantu sekolah-sekolah tersebut melalui suatu proses yang biasa untuk pembaharuan sekolah. Setiap usaha untuk mengganti upaya ini akan bertentangan secara alamiah dan menciptakan suatu situasi rekayasa. Tidak hanya adanya kebutuhan untuk mendiskusikan masalah yang sedang dihadapi sekolah serta jalan keluarnya, tetapi proses itu sendiri perlu dipertegas. Beberapa alasannya adalah:

  • Personil sekolah akan menjadi sumber daya rencana Pengembangan Sekolah Model ketika dilaksanakan pada tahun 2000.
  • Pemahaman yang lebih baik tentang proses dapat mengarah pada peningkatan komunikasi dan pelaksanaan program pengembangan sekolah.
  • Dengan berperan serta dalam lokakarya Pengembangan Sekolah Model, sekolah yang sedang dalam program dapat mengembangkan bahasa dari pengembangan sekolah dan membentuk dasar percontohan dan penelititan lebih lanjut mengenai pengembangan sekolah. Pada dasarnya personil tersebut akan menjadi ahli dalam mengembangkan sekolah dan sekolah mereka akan menjadi sekolah percontohan.

Upaya-upaya para konsultan selalu difokuskan pada perbaikan mutu sekolah. Pendekatan ini memberi kebebasan lebih kepada sekolah dan masyarakat untuk menentukan mutu dan mendukung program yang mengarah pada pembaharuan. Hal ini untuk memenuhi keperluan tertentu dari sekolah dan masyarakat. Dengan memperkenankan lebih banyak peran serta setempat dalam pengambilan keputusan, akan memperkuat potensi dari para guru, siswa, orangtua siswa, dan anggota masyarakat dalam mengembangkan sekolah.

 
 

LAMPIRAN B

Daftar sekolah yang diteliti untuk Model Pengembangan Sekolah Menengah Umum

No.

Nama sekolah

Jumlah Wakil

Kepala Sekolah

Jumlah Guru

Jumlah Siswa

  

  

  

T

H

J

  

1.

SMUN 1 Tigaraksa (Jawa Barat)

4

26

14

40

900

2.

SMUN 1 Labuan (Jawa Barat)

4

31

5

36

783

3.

SMUN 1 Cibeber (Jawa Barat)

4

39

3

42

756

4.

SMUN 23 Bandung (Jawa Barat)

4

51

13

64

1054

5.

SMUN 2 Wonosari ( D.I. Yogyakarta)

4

19

7

26

393

6.

SMUN 2 Playen ( D.I. Yogyakarta)

4

19

7

26

393

7.

SMUN 1 Mojoagung (Jawa Timur)

4

30

-

30

500

8.

SMUN 1 Sukadadi (Jawa Timur)

4

36

12

48

733

T : Guru Tetap

H : Guru Honorer

J : Jumlah

LAMPIRAN C

Pertanyaan wawancara untuk sekolah-sekolah model pembaharuan di Sekolah Menengah Umum

Para Konsultan untuk rencana Model Pembaharuan Sekolah Menengah Umum membuat panduan wawancara resmi untuk mengumpulkan informasi tentang proses perubahan di sekolah-sekolah yang telah dipilih. Cara ini diambil karena hasil kuesioner tidak menggambarkan informasi yang diinginkan. Lebih lanjut lagi, pengalaman menunjukan bahwa pertanyaan-pertanyaan dapat disalahartikan, dan sebagai hasilnya informasi yang terkumpul tidak relevan. Karena jumlah sekolah hanya sedikit maka tujuannya akan dapat tercapai. Untuk mengembangkan gambaran yang lengkap mengenai pembaharuan dan sudut pandang dari para pemegang peran, sekolah membuat jadwal wawancara dengan kepala sekolah, guru yang aktif dan kurang aktif, siswa yang aktif dan kurang aktif, para orang tua yang aktif dan kurang aktif serta tokoh masyarakat dan dalam beberapa kasus juga dengan wakil dari Kandep. Dengan membandingkan hasil data dari sumber-sumber tersebut, akan muncul gambaran proses pembaharuan di tiap sekolah. Untuk memperoleh information, pertanyaan pertanyaan-pertanyaan berikut ini dibuat sebagai pedoman untuk memperoleh informasi yang diinginkan. Pertanyaan tambahan diberikan untuk mengumpulkan informasi tambahan lain yang diperlukan.

Pertanyaan 1 : Pembaharuan apa yang terjadi di lingkungan sekolah sejak kepala sekolah ini tiba ?

Pertanyaan 2 : Bagaimana perubahan-perubahan sikap guru selama periode tersebut?

Pertanyaan 3 : Bagaimana perubahan-perubahan sikap siswa selama periode tersebut?

Pertanyaan 4 : Bagaimana perubahan-perubahan sikap orangtua selama periode tersebut?

Pertanyaan 4 : Dalam hal apa keterlibatan masyarakat berubah selama periode ini?

Pertanyaan 5 : Jika besok anda ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pembaharuan apa yang akan anda rekomendasikan?

Ref: SSEP (1999) 

 

DAYA TUNGGAL

KANGGO : “KANG KEPENGIN BISA NGGATHUKAKE RASA LAWAN PANCADRIYA “

Manawa gambang wilahane gulu : ditabuh, gender kang ana sacedhake kono : wilahane gulu milu muni mbrengegeng. Wilahan liyane kang dudu gulu : ora muni, sabab ora sarujuk larase. Yen kang ditabuh wilahan nem, ya wilahan gender nem kang muni, sabab nunggal laras.

Musik radio kang nunggal laras, sanajan pepisahan adoh, manawa kang siji diunekake, liyane milu muni, kayata : ing nagara Inggris ngunekake musik radiom, wong-wong nagara Darwis utawa Jerman terkadhang padha dansa, sabab musike milu muni (stelane nunggal pamancar).

Dewa ing Suralaya bisa aweh sasmita marang manungsa ing Ngarcapada, yen manungsa kang disasmitani mau rasa pangrasane bisa gathuk (nunggal laras), karo Dewa kang nyasmitani.

Wong ana ing Surakarta bisa ngosikake atine wong ana ing Surabaya yen wis padha aluse lan nunggal laras.

Manungsa sajati (Rasa) bisa nyasmitani marang pancadriya (wonge), yen pancadriya kang rinasuk ing kajaten mau : wis akeh bageane kang alus, yaiku yen bongkoting angen-angen lan rahsa wis nunggal laras karo pucuking Rasa.

Dadi tetela : kedher kang nunggal laras watake nunggal daya, bisa dayan-dinayan utawa weruh-wineruhan, ora peduli adoh.

Dayaning pandulu : weruh marang padhanging srengenge lan rurupan warna-warna, kang mencorong, kang abang ijo sapanunggalane.

Pandulu netepate yen pepadhanging srengenge lan rurupan iku : ana. Nanging ora nganggep marang ananing swara, (ngorakake marang ananing swara).

Pangrungu netepake yen swara iku ana (ngiyakake marang ananing swara). Nanging ora nganggep marang ananing cahya lan wewernan.

Besuk kapan pandulu bisane weruh marang swara, iku babar pisan ora kena diarep-arep, sabab mesthi ora bisa kelakon salawas-lawase, jer ora ana  swara dumunung ing alaming pandulu. Wiwit ANA nganti SIRNA : sipandulu mau tansah dadi pandulu bae, mangka – salawase isih dadi pandulu : dienas ora aweh weruh swara.

Besuk kapan sipangrungu bisane weruh marang rurupan, iku babar pisan ora kena diarep-arep, sabab mesthi ora bisa kelakon salawas-lawase, jer ora ana rurupan dumunung ing alaming pangrungu. Wiwit ANA nganti SIRNA : sipangrungu mau tansah dadi pangrungu bae. Mangka – salawase isih dadi pangrungu; dienas ora aweh weruh rerupan.

Pandulu karo pangrungu ka-aranan ora nunggal alam, ora nunggal daya.

Pangambu, seje maneh dayane utawa alame. Ing alaming pangambu ana maneh kahanan kang ora bisa dumunung ing alaming pandulu tuwin pangrungu, yaiku kang aran ambon-ambon. Kayata : wangi, sengir, langu sapanunggalane. Pandulu lan pangrungu padha netepake yen wangi, sengir, iku ora ana. Pangambu netepake yen wengi, sengir, mesthi anane, nanging abang, ijo : ora ana, mangkono uga : kumrincing jumlegur ya ora ana.

Cekake, indriya tetelu mau paido-pinaido, tambuh-mitambuhi. Mung bisa netepake marang kayakinane dhewe bae.

Pangrasa ilat, kapriye?? Ing dhuwur mau kabeh dipaido anane, dening pangrasa ilat. Pangrasa ilat netepake yen ing jagad iki kang ana mung : legi, pait, gurih sapanunggalane. Ora ana rerupan, ora ana swara, ora ana gegandan. Awit ing jagading rasa ilat mau : diubresa, ora tinemu karo kang aran abang, ijo, kumrincing, jumlegur tuwin wangi, sengir.

Pangrasa badan kepriye?? Kabeh mau dipaido anane dening rasa badan. Kang ditetepake anane mung : kasap alus, adhem panas, gatel, keri sapanunggalane. Oraweruh dhong-dhinge marang kang aran abang, ijo sarta mencorong, kelip-kelip. Ora weruh jawane marang kang aran wangi, bacin, ora wanuh kang diarani legi pait.

Piranti lelima mau dak arani lawananing pancadriya, sabab gunane kanggo nglawani (nglawehi) dayaning pancadriya.

Piranti lelima mau diratoni (diwengku) ing angen-angen.

Angen-angen luwih alus tinimbang piranti lelima mau, mulane bisa momot lan mengku marang kawruh-kawruh oleh-olehaning piranti lima mau. Sanajan limang warna mau paido-pinaido utawa tambuh-mitambuhi marang siji lan sijine, nanging angen-angen ngakoni marang kayakinaning siji-sijine, nanging angen-angen ngakoni marang kayakinaning siji-sijine piranti, ora ana kang di-orakake. Mulane mangkono, sabab angen-angen luwih alus.

Sadhengaha kang luwih alus, bisa momot marang kang kasar.

Samubarang kang kasar : watake cupet, mung ngengkoki marang kayakinane dhewe bae, maido kayakinaning liyan, sarta karepe : ngajak pepisahan.

Samubarang kang alus, watake jembar, mengku lan momot, bisa gathuk manjing ajur-ajer marang kayajinaning liyan kang luwih kasar, sarta watake : ngajak nunggal, ora ngajak pepisahan. Mangkono iku wataking kodrat.

Sarehning angen-angen iku mengku lan momot marang kawruh saka piranti lelima kang kasebut ing dhuwur, mulane angen-angen simpen kawruh akeh saka enggone ngimpuni oleh-olehaning pangalamane piranti lelima.

Apa angen-angen iku wis alus banget?? Durung.

Kang luwih alus saka angen-angen yaiku : Budi utawa Rasa Jati (manungsa sajati).

Manungsa sajati bisa momot sarta ngimpuni kawruh-kawruh kang saka pangalamaning angen-angen lan rahsa.

Pangalamaning angen-angen lan rahsa, ana kang aran swarga, kadewatan, ka-endran, jagading peri, jin, bekasakan, sapanunggalane. Sanajan sawarna0warnane padha paido-pinaidho, mung ngengkoki kayakinane dhewe bae, nanging kabeh diakoni benere dening Manungsa sajati, malah Manungsa sajati banjur oleh kawruh kan tanpa wates kehe lan gedhene, kaimpun saka pangalaman ing alam manekawarna. Impunan mau dadi srana nggayuh marang kasampurnan utawa panunggal.

Pandulune si Suta sanajan cedhak karo pangrungune dhewe, nanging ora weruh-wineruhan karo pangrugune dhewe, ora weruh-wineruhan karo panggandane si Suta dhewe. Iku arane : ora nunggal alam.

Pandulune si Suta, sanajan adoha karo pandulune si Naya nanging padha weruh-wineruhan karo pandulune si Naya. Iku arane nunggal alam. Mangkono uga pangrungune si Naya nunggal alam karo pangrungune si Suta lan si Dhadap.

Weruh-wineruhan iku tegese : seksen-sineksenan marang anane kahanan kang dialami.

Pandulune Suta, Naya, Dhadap, Waru, ………… padha seksen-sineksenan yen padhanging Srengenge lan wawernan iku ana.

Pandulune Suta, Naya, Dhadap, Waru, ………… padha seksen-sineksenan yen swara iku ana.

Mangkono sapiturute, dene kabeh sineksenan dening angen-angen. Wasana wong banjur nekseni yen alam donya : ana.

Swarga diakoni anane dening makhluk kang kadunungan rasa kaswargan (Mutmainah lan angen-angen kang bener). Makhluk kang ngalami padha seksen-sineksenan wani sumpah : ngakoni ing anane. Naraka diakoni anane dening makhluk kang kanggonan rasa kasetanan (Amarah lan angen-angen kang peteng). Alaming jin diakoni dening makhluk kang kaduk rasa kajiman, (Supiyah lan angen-angen kang kurang padhang). Alam donya diakoni dening makhluk kang kaduk rasa kuwadhagan (rasa kajasmanian). Alam panasaran utawa brekasakan, diakoni dening makhluk kang kaduk 6roh kasatoan, (angen-angen kang banget petenge = de donker).

Manungsa sajati luwih alus katimbang angen-angen lan rahsa kang kasebut mau kabeh, mulane bisa momot marang kawruh-kawruh kang dialami dening makhluk meneka warna ing alam kang beda-be6da mau. Malah manungsa sajati enggone ngrasuk badan maneka warna mau, prelune supaya bisa ngalami pangalaman warna-warna mau sumimpen ana ing sarira kang langgeng.

Gedhe banget paedahing sugih kawruh saka pangalaman maneka warna, awit dayane ngluhurake darajating manusa sajati, kongsi bisa nggayuh marang panunggal.

Wong turu lan melek,wong urip lan mati, sanajan WONGE ora ngakoni marang anane alam-alam mau, nanging MANUNGSANE SAJATI : ngakoni, sarta tansah oleh kawruh bae saka enggone tumimbal lair rambah-rambah sarta ngalami pangalaman warna-warna, kang alus lan kasar, kang luhur lan kang asor, kang padhang lan kang peteng, kang mulya lan kang sangsara.

Kawruh-kawruh mau durung dikabar-kabarake marang wonge (pancadriya kang rinasuk) iku ora sabab saka sungkan, mung sabab pancadriya (wonge) durung bisa nampani kabar, dening isih kasar.

Yen pancadriya sangsaya alus, marga tlaten lan lastari ngudi kawruh kabatinan, iku sangsaya lawas sangsaya bisa nampani kabar saka sathithik, ing batine dhewe. Mundhak aluse ya m6undhak cetahne enggoni nampani kabar.

Kang diarani kabar iku, thukuling Budi (Rasa) ing sanubarine.SERAT BAYANULLAH

Anggitanipun swargi Raden Panji Natarata
Kepala Dhistrik Ngijon Ing Ngayogyakarta
Inggih Raden Sasrawidjaja Guru Bahasa Jawi
Ing Pamulangan Calon Guru Surakarta

Ingkang nurun saha mewahi
Centhangan
B. K.

Penerbit : Yayasan “DJOJO BOJO”
Surabaya Tahun 1975
SANGKALA : RASANING KAWULA ASALIRA GUSTI

P R A W A C A N A
(Aturipun Ingkang Nurun)

G A M B U H

1. Sinawung sekar Gambuh, bubukaning atur kang manurun, lan ngedalaken serat Bayanullah wirid, gubahanira ing dangu, kanang wus minulya ing ndon.

2. Anenggih sang misuwur, ahli fasafah miwah tasawuf, Raden Panji Natarata pujangga di, minangkani usulipun, para mitra kang wus maos.

3. Srat gancaran ingkang wus, kita wedalaken namanipun, srat Falsafah Sijijenar kang umesi, pangrembag bab bedanipun, iktikad ingkang linakon.

4. Raden Panji puniku, lan iktikadira kang manurun, ing samangke pari kedah ngleksanani, Bayanullah wedalipun, karana tancebing batos.

5. Tebih saking pangaku, ing benere kawruh pribadyeku, babasan mung angadu pucuking eri, bagya pra maos sadarum, kang widagdeng panyuraos.

6. Tinarbuka ing kalbu, pribadi tan amung tiru-tiru, anirokken jarene kang kasbut tulis, myang jarene kyai guru, sabangsaning gugon tuhon.

7. Jarwa sutaning ngelmu, angelira yen durung ketemu, kang saweneh anjarwani kosok bali, angele yen wus ketemu, kalih pisan pan sayektos.

8. Sandyan ta kadyeku, sarehning wijidda waidahu, sapa temen tinemenan ing Hyang Widi, widagda wit saking atul, titi tulaten angilo.

9. Mulat saliranipun, anadene katrimaning ngelmu, yen wus ilang was-was sumelanging ati, gugon tuhone sirna wus, tan kepeingin kang sarwo elok.

10. Anenggih kang manurun, mung ndhak sungging sawontenipun, ing sasaged tiniti taliti, cocoge lan babonipun, tan namung juga kemawon.

11. Bayanullah nguni wus, medal minangka lampiranipun, pananggalan Jawi Wedalan H. Buning, taun sewu sangang atus, langkung welasan katonton.

12. Puniku kang tinurun, cinocogken lan babon lenipun, ingkang maksih seseratan tangan asli, yen wonten sulayeng tembung, p[inilih nut ing suraos.

13. nanging wetahing tembung, ingkang datan kapilih ing kidung, apa inggih kapratelakaken ugi, mungging centhangan puniku, mrih kawuningan pra maos.

14. Wondene kang pinangguh, terang kliru ing panuratipun, karoneyan lamun tinuruna sisip, lineresken sapantuk, ingkang lepat tan kacarios.

15. Kajawi kang kadyeku, wonten malih centhangan ing ngriku, bab maksuding ukara ing sawatawis, myang tegesing tembung-tembung, darapon trang kang suraos.

16. Centhangannya puniku, mung maligi anegesi lugu, datan mawi kawoworan ing pamanggih, sulaya tanapi rujuk, ing bab wedharaning kawroh.

17. Palasthaning panurun, Soma manis tumanggaping taun, rasaning kaula asalira gusti, Eje Sangara kang windu, salam kita mring pra maos.

Nuwun.

Pupuh I
DHANDHANGGULA

1. Kawruhana tataning wong urip, mangarepa harjaning tumitah, tumuwuh ing dunya angger, gugulangen kagelung, ginelunging sarkara mamrih, mrih padhanging pamawas, tanpa was wus kukuh, kukuh kuwating tyas terang, tetelaning medem kawruh kang sajati, jati-jatining tama.

2. Utamaning manuswa puniki, kudu mbudiya marang lukita, kang madhep trang weleh-weleh, ling-lingen liding semu, semu nyata karoban saksi, saksi kang tunggal karsa, karsane ki guru, guru pugering jiwa, jiwa raganira sumarah ing kapti, kapti kerdyating Suksma.

3. Wong tamarja harjaning dumadi, sangkan paran myang antaranira, wus kinawruhan salire, sedene ingkang durung, temen musti anteping pati, wit kahananing gesang, janma sadayeku, saking ngadam (1) purwanira, liring ngadam tanpa kantha tanpa kanthi, tan gatra tan satmata.

4. Datan nembah (2) tur datan amuji, iya iku aran tawang towang, suwung wang-wung sajatine, Allah malekat durung (3), durung ana kawula Gusti, jatine jaman ora, kidam tegesipun, dhingin nora kadhinginan, witing janma manuswa sangkaning tanpa kanthi, tan gatra tan satmata.

5. Supaya wruh sangkaning ngaurip, kang saweneh guru amumulang, asale janma ginawe, nembelas wijinipun, mapat-mapat ping pat sakawit, iku sayekti dora, tan pisan tinemu, tandha saksi nora ana, ana maneh saka wadi madi mani, maningkem yen mangkana.

6. Yekti dudu ngadam kang miwiti, kale (4) para manuswa wus nyata, saka ngadam pinangkane, marma sagung nak putu, parsudinen asalireki, dadining kanyatahan, ingkang tanpa tutur, saksi kodrating Pangeran, luwih bener bresih titi tur lestari, campuring kautaman.

————————————-

(1) Tembung Arab ‘adam tegesipun ora ana, dene adam namaning tiyang (nabi Adam), mbok manawi asal saking tembung Ibrani, ateges manungsa lanang.

(2) Wonten ing kaserat : datan embuh.

(3)  Suraosipun : ingkang yasa tembung Allah lan tembung malaekat pun manungsa punika.

(4)  Kale (kal – e). Indonesianipun hal – nya (bab – e).

7. Mangke paraning sangkaning urip, upayanen ywa nganti sumelang, aja tumpang suh pikire, lungane wong tumuwuh, luwih ewuh tur dhemit rungsit, glethakan sinamparan, saking gampangipun, kang saweneh pra ngulama (1), rina wengi sawarga pinusthi-pusthi, iku wong kabegalan.

8. Kang saweneh para pandhita di, ahli sorot gedhene samrica, kumilat thathit warnane, mijil sing netranipun, iku ingkang pinrih ngleboni, nemu ngalam gumelar, wong mangkono tamtu, ciptane sasar katriwal, ana maneh oliya (2) cipteng tyas milih, johar kanthaning warna.

9. Kang gumebyar-gebyar angebati, linebonan den anggep sawarga, neng kono Gusti pamore, lah iku wong kaliru, wus kadhadhung ginaweng jajil, saweneh malah ana, wruh cahya umancur, dinalih sipating Allah, iya iku kumpuling kawula Gusti, tetep wong kabegalan.

10. Ana ingkang pinanjingaken maring, sipat kodrat hu huteg tegesnya, iku goroh satemene, wit maksih bisa lebur, ajur mumur awor lan siti, pinendhem pajaratan, dinalih neng ngriku, ana ngalam jagad jembar, linebonan langgeng nora owah gingsir, iku ciptaning setan.

11. Kang saweneh sarjana mumpuni, ing sasmita ngelmu kasampurnan, Allah nunggal ing jisime, angen-angen rinengkuh, cinipta Hyang kang murbeng bumi, yen kinecapken lesan, uluk salalahu, iku tunggal cipta sasar, awit maksih kasipatan owah gingsir, tur maksih keneng edan.

12. Karsa murka dayaning panggalih, galih eling iku tunggal makna, neng angen-angen enggone, marmane iku kudu, sanyatane amung ngratoni, sabarang tingkah polah, wit dayaning kalbu, nanging yen den anggep Allah, tan pakantuk dadi begalaning urip, ing kono rasakena.

13. Prayogane kawruhana becik, kadayane angen-angenira, mukhammad (3) darma sapangreh, rasul rasaning manus, kabeh saka hagyaning (4) pikir, nanging dudu Pangeran, ing sajatinipun, kang saweneh pra pukaha (5), ingaranan tanpa kantha tanpa kanthi, tan gatra tan satmata.

——————————-

(1)   Ulama = para alim (para ahli ilmu).

(2)   Auliya = para wali (para tinarimah ing Pangeran, drajatipun sangandhaping Nabi).

(3)   Ingkang dipun kajengaken : badan wadag.

(4)   Wonten ingkang karesat : pratignyeng pikir.

(5)   Fukuha = para faqih (para ahli kawruh fiqhi).

14. Datan kakung tan wanudya yekti, napas miwah kang ngebaki jagad, den anggep Allah kanthane, wit datan lara ngelu, tanpa owah tan darbe kursi, iku dudu Pangeran, kang kasbut pituduh, kayun bilara ukinnya, pardikane urip tanpa roh sayekti, napas talining gesang.

15. Ana maneh ingkang angukuhi, ngalam insan kamil tegesira, ingsan manuswa jatine, kamil sampurnanipun, sawantahe tembung puniki, manuswa kang sampurna, iku maksih luput, saweneh guru mumulang, roh ilapi nur mukhammad (1) den leboni, tunggaling karusakan.

16. Kang kalantur cipta lan panggalih, kadhadhung ginaweng jajal lanat (2), pinuja-puji panjinge, lan malih para guru, amumulang patraping pati, pati titis anggepnya, samrica binubut, mijil saking githokira, manjing bayi putra-putraning narpati, iku kleru ing tekad.

17. Iya panitisan jaman mangkin, para Buda arane manuksma, dadi ping pindho uripe, lan ana manjing suwung, sajtine durung nglakoni, yen wong kang wicaksana sabarang reh putus, tatas pangawikanira, urip iki sajatine aran pati, pati ingran ora.

18. Jumenenge kawula lan Gusti, Allah Mukhammad lan rasulolah, wus dumunung sira kabeh, ing bumi langit pitu, saka ananira pribadi (3), mukhammad rasulolah, sajroning idhup, wijange lah rasakena, lire rasul rasanira kang sejati, tunggal rasaning Suksma.

19. Iku salah tampa ing panganggit, lamun rasa-rasaning Pangeran, nora mangkono patrape, Pangeran rasanipun, nora awor lan sira kaki, pamriksa pangandika, myang pamyarsanipun, nora tunggal lawan sira, kuwasane karsanira Hyang kang luwih, sayekti tan momoran.

20. Lah pisahen aywa tinggal budi, iku nyata panganggepmu ring Hyang, nanging Allahira dhewe, aywa salah pangawruh, dudu Pangeraning bumi langit, lan malih wekas ingwang, manuswa kalamun, ngaku kukuh kuwat ing tyas, angen-angen dinalih wujuding Gusti, patrape takokena.

——————————

(1) Wonten ing wirid : roh ilapi punika salah satunggaling roh kita ; nur mukhammad (cahya kang pinuji) punika asaling sadaya dumadi, nanging wonten ing ngriki dipun tegesi cahyaning netra ingkang katingalipun manawi dipun petel.

(2)  Jajal (iblis) ingkang tampi laknat (bendu).

(3)  Suraosipun : upami boten wonten manungsa inggih boten wonten ingkang mastani bumi lan langit.

21. Gusti iku mireng tanpa kuping, aningali datan mawi netra, tanpa prabot kuwasane, ngandika tanpa tutuk, lamun maksih nganggo piranti, tetep dudu Pangeran, jroning Qur’an nutur, kuwasanira Pangeran, marma akeh pra ngulama kliru tampi, pikir cinipta Suksma.

22. Dalil Qur’an wus amamancahi, pan mangkana ula murtasiman, fi kiyalihi tegese, tan kacakra Hyang Agung, mungging angen-angening janmi, sayekti dadi batal, pangawulanipun, wa la nufus Gusti Allah, tanpa napas marmane den anggep pasthi, napas ingaran Allah.

23. Iku aja temah kupur kapir (1), barat den anggep Hyang kang murbeng rat, temah kapiran uripe, kalamun maksih kukuh, angukuhi ingkang tinulis, prayoga sumingkira, tandha seje kawruh, kawruhing Buda katriwal, awawaton ngelmu saka Dewa Ruci, dudu wit saking Arab.

24.  Mamet Buda ingarabken dadi, kawruh nasar nunjang kitab Qur’an, ginalih suwung rasane, kitab kacakra suwung, nora weruh ragane sepi, cupet cingkranging nalar, pring suwung kumsnthung, kenthung-kenthung mung wawadhah, tanpa isi den iseni napas angin, pinuji tur sinembh.

25. Mantep tetep tur den aku Gusti, Allah ingkang murba miseseng rat, poma ywa mangkono angger, wajibe Gusti iku, samak basar kadirun ngelmi, rong puluh sipatira, jinereng ginulung (2), yen tetep sarjaningrat, nora kewran tur ing batin wus kapusthi, patitis dunya kerat.

26. Wus karasa narambahi budi, budi daya sangkan paranira, kinawruhan sadurunge, lamun micara idhup, ngadhepaken sangkaning urip, urip mangreh harja, harjaning tumuwuh, wuwuhing kawruh kang nyata, kanyatahan saka tandha lawan saksi, saksi kang wus pratignya.

27. Pratignyane narambahi urip, nadyan pati sajroning gesang, wus kadhadha sakabehe, myang gampange kacakup, cakep cukup rasaning ati, gegetun saka nyata, pungun-pungun njentung, tung-tunging driya pratela, salulut sih Gustiku kalawan dasih, jumeneng tan pantara.

28. Dhasar nyata wus tau nglakoni, saking temen yekti tinemenan, ana ing kono rasane, woring tyas tanpa catur, datan jalu datan pawestri, enenging tyas kang wus trang, judheg memet nyamut, lamat-lamat tan katara, rasaning dat wajibul wujud (3) nemahi, lir kang wus kanyatahan.

—————————-

(1)   Kafir punika tiyangipun, kufur (kufr) punika pahamipun.

(2)  Wonten ingkang nyerat : jinereng ginelung.

(3)  Dzat wajibul wujud = dat kang wajib anane.

29. Kang saweneh para sujana di jroning supena (1) den anggep ngalam, barang apa ana kabeh, sedene buwana gung, jagad cilik sajroning ngimpi, marmane datan siwah, jroning kalbu penuh, ngendi bae njero ana, papaesan ing dunya jro badan manggih, cinipta enggon mbenjang.

30. Iku salah kalantur katarik, cipta sasar kabalsar jurang iku dudu sayektine, dene impen puniku, sajatine ingsun tuturi, kuwasane pangrasa, manjing netranipun, dayaning kuripanira, mukhammad manjing mukadim maring ngelmi (2), ngelmi ingkang gumebyar.

31. Sun jarwani malih wong ngimpi, sayektine jroning netranira, mamanik iku namane, kaca benggala agung, sinendhekken neng nggon sawiji, njaban kaca sanyata, kadulu sadarum, barang apa manjing kaca, yen jinupuk jroning kaca dantan keni, iku dayaning netra.

Pupuh II
K I N A N T H I

1. Lawan malih ana guru, mumulang mring anak murid, ana rupa catur warna, ireng abang kuning putih, mbenjing prataning sakarat, kinen milih salah siji.

2. Lamun putih wijilipun, saking netra grana pasthi, iku kang den anggep nyata, samya kinen atut wuri, tamtu manjing maring wisma, nira langgeng tanpa wilis.

3. Iku wong ngelmune kathung, darbe kawruh Mung sacuwil, wus ngaku dadi sarjana, jumeneng guru mumurid, marang para punggung mudha, ngrasa wus putus patitis.

4. Sajatine durung weruh, ngawur kawoworan eblis, lawan malih asring Ana, pra ngulama ngaku wasis, rukyatolahi yen nendra (3), wruh ing rupanya pribadi.

5. Mawa praba smu umancur, lir wulan purnama sidhi, iku inganggep Pangeran, kang murba maseseng bumi, iku wong katunan ing tyaS, luput panampaning dalil.

————————

(1)  Ingkang dipun kajengaken supena salebetipun tilem utawi salebetipun sinau samadi. Mirsanan pupuh VII pada 6 lan 18.

(2) Pikajengipun : maos cathetanipun piyambak ingkang sumimpen wonten ing hafidh (onderbewustzijn).

(3) Ru’yatullahi = kayatahan wontenipun Pangeran : nendra ingkang dipun kajengaken ing ngriki tilem limrah utawi sinau samadi. Mirsanana centhangan bab supena ing pupuh I pada 29.

6. Awit ciptane wong iku, Allah manggon jroning pikir, sipate lir rupanira, tan siwah lawan Kang muji, lah iku sangsaya nglapra, dene Allah darbe warni.

7. Lawan malih ana gurU, yen mbenjang tumekeng janji, ana rupa kang sanyata, ya rupanira pribadi, sarta nggawa panengeran, alip mutaklimun wakid (1).

8. Saweneh ana wong putus, angukuhi ngelmu jati, sahadat kang sadu tanpa (2), wetuning napas sakalir, iku den arani salat, kang Mangkono datan yukti.

9. Ngaku-aku tanpa kusur, salusuran cipta silip, nyilip keleban babasan, basa kang nora patitis, yen wicaksaneng pamawas, nora arep nora melik

10. Yen jatine sadat Iku, la ilaha illallahi, lah kapriye jarwanana, iku sadat kang sajati, yen lumrahe jaman mangkya, sadat mangkono tinampik.

11. Iya iku wong kepaung, sahadat kalimah kalih, Tinampik sinampar-sampar, nora pisan den kawruhi, saking angele jarwanya, cocoge kalawan saksi.

12. Santri ingkang mendem kulhu (3), rina wengi muji dhikir, la ilaha illa allah, cinipta sajroning ati, ngonggrong-onggrong pupujiyan, mrih kinasihan Hyang Widi.

13. Widi adining tumuwuh, tan muwuhi mring wong muji, anyuda mring kang siya, lah rasakna kang patitis, ywa lir santri Panaraga (4), napi Isbat (4) kang pinusthi.

—————————

(1)  Punika istilah wirid, pikajengipun aksara alief (!) dumunung woten ing bathuk.

(2) Pikajengipun syahadat ingkang mboten mawi ngucapken ungel –  ungelan “asyhadu”…………… saterusipun.

(3)  Serat Ikhlash : qul huwa lahu ahad, kawancah : kulhu.

(4)  Panaraga punika rumiyin misuwur pasantrenipun.

14. Yen napi Allah liniru, wujudnya santri pribadi, lamun isbat wujudira, ing njero ika Hyang Widi, iku lakuning dubilah (1), laknat kawoworan peri.

15. Lawan malih ana guru, amangeran marang pasti, suwung wang-wung nora nana, tur durung putus ing westhi, iku wong pitung bedahab, kupuR kapir ngriribedi.

16. Lelethek duskarteng idhup, tan paten dipun luluri, marma sagung pra sujana, yen muruita met ngellmi, layang iki takokena, jarwane apa nimbangi.

17. Salah siji pasthi cundhuk, lamun maksih padha iki, lah age sira mundura, mung aja nyerikken ati, marma jaman sapunika, pira-pira guru ngelmi.

18. Lagi wruh mukhammad rasul, Allah angen-angen dadi guru wus sinembah-sembah, apese den aji-aji, kekethokan gulu ayam sega waduk ,ori muslim (2).

19. Sejatine durung weruh, ing ngelmu gaib-gaib, mung elu-elu kewala, jroning ati durung uning, bocah cilik bae ana, bisa dadi guru jati.

20. Anggere tan den du telu, tinilikan dina mbenjing, yen trima amung carita, nalar ngawur tanpa saksi, ingsun saguh ajajarwa, tanpa lawon wareg putik.

21. Nanging yen tinanya ingsun, kapriye rasaning pati, yen aweh semaya mbenjang, lah poma goleka kaki, guru kang bisa sung pejah, tinupiksa jroning urip.

—————————-

Wulanganipun boten namung babagan sarengat kemawon, ugi tarekat, kakekat, makripat. Nafi isbat punika namaning dzikir : la ilaha (ora ana sesembahan) = nafi (ora nganakake); illallah (kejaba mung Allah) isbat (netepake).

(1)  Donga tangawud audzu billahi minasysyai thannirajim, dipun wancah : dubillah setan, lajeng dipun wancah malih : dubilah.

(2) Namaning mori (lawon) ingkang sae kala jaman samanten, dados sanes muslimin ingkang ateges wong Islam.

22. Nanging mangkya para guru, arang ingkang nganggo saksi tansah crita ngayawara, warahe angupa pamrih, nora weruh sajatinya, trapsila laraping pati.

23. Aja sira dadi guru, laraping ngelmu sajati, tegese guru punika , paugeraning ngaurip, pangarep-areping pejah, kang jajah kawruh kang ngenting.

24. Tinakonan anak utu, bisa mangsuli patitis, kang kalawan kanyatahan, nyataning reh basa pati, lamun wong sarjaneng jagad, nora kewran amangsuli.

25. Lan malih sun wus kapranggul, para santri ahli ngelmi, barang-barang wujud Allah, bumi langit dadi Gusti,lah iku kumprung ing tekad, gandarwo momoran janmi.

26. Satengah ana wong putus, ratu den anggep Hyang widi, Gusti Allah nora ana, wujudnya Sri Narapati, yaiku wong salah ucap, nggasruh kawoworan peri.

27. Yeka wong ceguk truwilun, lonyo ucapingpisaci (1), supaya dipadonana, kaya paduning pulisi, kacara traping prakara, wus pasthi nora pinanggih.

28. Kang saweneh ana jamhur (2), tutur mubeng marang murid, lamun tinakonan patrap – ing pati datan patitis, ngawur ngawag ruwag-ruwag, saksine lamun kanthaning pati.

29. Embuh-embuh yen binuru, embuh yen wus prapteng ngakir, bisa mulih marang ora, tur amengku ngalam sahir (3), dudu swarga lan naraka, ngaku wruh wus mati.

30. Saweneh ana wong putus, lapaling kitab binudi, Tapsir awal akir wignya, Ngakaid Naula Tasrib, kitab Bajuri Jurmiyah, yayah putus liring dalil.

————————-

(1) Pisaca (pisaci = brekasaan.

(2) Arab Jamhuur = tiyang kathah (kamus Arab), ing basa Jawi dipun tegesi wong wicaksana, kakinten mirit saking nama ingkang kasebut ing Tajusalatin (Bausastra Jawi).

(3) Alam shaghir = jagad alit (badan kita).

Pupuh III
ASMARANDANA

1. Wonten sarjananing kyai, guru putus nalarnya trang, anggepe kaya Gupremen, mumpuni susilarjengrat, rat jagd tanpa sama, ngelmune winoran palsu, mulang ana muridira.

2. Napsu patang prakara wit, linungguhaken sarira, ing pancadriya rasane, malah mujudake rupa, ireng bang kuning seta, kanthi dunya ngakiripun, winorken ing malaekat.

3. Iku kang bisa nulungi, nuntun maningaken ring johar, aneng wudel panggonane (1), terkadhang pancer ing netra, iku kang linebonan, ginalih swarga gung, iku guru siya-siya.

4. Cupet nalare sacuwil, kumprung pengung guru desa, pantese njagong neng amben, ngedhangkrang madhep mangetan, sinebeng putra wayah, grudag-grudug saben dalu, anggepe kaya pandhita.

5. Sengguhe kaya pulisi, gehdag-gedhig pandirangan, kuma wasis wicarane, cara-carane cinakra, padesan tanpa krama, ngelmu den nggo agu-agul, nggulung kang tanpa tandha.

6. Kang den gantungi, paukuman siksa paksa, awit pra guru bujuke, mring wong tani ndesa-ndesa, kang tan wruh ing duduga – prayogane mung sadumuk, cingkrang nalare katunan.

7. Pinacuhan den gantungi, paukuman siksa paksa, awit pra guru bujuke, mring wong tani ndesa-ndesa, kang tan wruk ing duduga – prayogane mung sadumuk, cingkrang nalare katunan.

8. Truwilun kapara sugih, ki guru sukaning driya, muruk tani pamijange, donga japa mntra Buda, ambege lir sujana, kang weruh marang pakewuh, sejatine punggung mudha.

9. Wong sasar kagawang jalil, belis kang sipat manuswa, katara ing pamijange, sumengguh sumaguh terang, limpad ing kasusastran, sastra rajah Ngarap ndhusun, dinum dadi kaslametan.

—————————-

(1) Wonten ing wirid kasebut lintang johar.

10. Lah iku tekading kuthip (1), kewan kang tanpa Pangeran, sajatine ran wong nglamong, mamaganing dora cara, duduga cakra bawa, bawane lalantih ndhusun, marma sagung pra satriya.

11. Lamun ngguguru sujanmi, ngupayaha kang wus pana, pana pramanem tandhane, kaweca aneng wicara, pangracuting sasmita, Jawa Ngarap kang wus kaglung, dugga prayoga wiweka.

12. Lamun tyasira mangerti, niteni janma danurja, pasthi wruh ing sanyatane, aja sira anggugulang, yen durung wruh ing tama, tama-tamaning pituduh, duhkita tancebing nala.

13. Angel wong nedya mumurid, ngupaya pathining rasa, rasaning Hyang kawulane, bedane Allah manuswa, kumpul pisahing rupa, rupa keh kang mowor sambu, iku jaman sapunika.

14. Pintere amung sacuwil, lagi Allah lan mukhammad, rasul kang aneng jisime, pangrasane wus sampeka, nirdeya cipta rasa, rasaning Hyang kang maha gung, pangakune pudyotama.

15. Ambeg pangolah yodanting, kawruhnya kanthi den prada, pangalembana luhure, linarangan winaleran, mrih kawentar kawara, yaiku lakuning wedhus, mbludhus tan wruh ing sarira.

16. Ana maneh pasa wegig, kukuh kyat mamresing tekad, ngukuhi lapal unine, waman ngarafa nafsaha, fakod ngarafa laha, lah iku pengertinipun, sing sapa wruh ing sarira.

17. Temen-temen wruh Hyang Widi, dadi badane rumangsa, ngaku Allah sajatine, yen binuru atrangginas,  angen-angen pinuja, dhinaku dadya Hyang Agung, wus prasasat Palgunada (2).

18. Yaiku patraping  kucing, mindhik-mindhik angon ulat, anggoleki wong kang bodho, sinajarwa pinapajar, ujare ngelmu sasar, sarwa saru sasar susur, slusuran lir rajakaya.

19. Cacad wong tumitah urip, kurang mamresing tyas nyata, ngelmu pangolah yodane, panranging karti sampeka, susila pari krama, mumpuni mahambeg sadu, danurjaning kawruh mulya.

———————

(1)  Kuthip = nistha.

(2) Bok manawi namaning guru kala samanten, ingkang kapidana ing nagari kados Gus Djedig kasebut ing serat Wiraiswara.

20. Mulya sangkaning pangerti, wus gumelar ing kahanan, pancering urip jatine, prasasat samodrasmara, barang apa tumeka, umanjing dayaning kalbu, iku traping para wikan.

21. Wong nembah marang Hyang Widi, nora sipat nora kantha, nora warna enggon, nora suwung nora mamang, dudu pikir myang napas, dudu eroh duduwujud, nora suwung pasthi ana.

22. Anane saka ing abdi, dudu rasane manuswa, lah kapriye ing patrape, wong  nembah Hyang Sukma, sedene malaekat, nora beda wujudipun, angele yen wus pratela.

23. Gampange yen durung uning, ening pamawas tanpa was, wus waspada wasesane, heh saisining rat raya, sagung para sarjana, ywa gumampang dadi guru, yen durung wruh sandining Hyang.

24. Sandining Hyang nuksmeng wadi, kanyatahaning sasmita, memet nyamut kamot, winot kahir kabir (1) sirna, kabir sahirnya musna, kasok bali liru sambut, iku traping pangawikan (2).

25. Manuswa ingkang sayekti, dadi ling-alinge jagad, lah iku kang wus prasajeng, saksi manakseni kang dat, dating manuswa nyata, sampurna ananing makluk, sangkan paraning pratignya.

26. Kacakup jumbuh kapusthi, traping pati nora samar, wit saking kanyatahane, tata sumelang gaibing tyas, rumenggep ing pamudya, mudyastutining pakewuh, nora weruh tur waskitha.

27. Lamun wus terang pambudi, nora kewran kekupulan, lawan para gede-gede, wus mangkono tyas tetela, trang budi kanugrahan, ing ngelmu kang alus lurus, Suksma tan kacakra bawa.

28. Bawaning tyas wus maletik, sasat mabur tanpa elar, wit wicaksana driyane, nur kalbi (3) kang amarambah, pancadriya   sabadan, panjing wetune tan keguh, susilarja manrang cipta.

————————-

(1) Sahir (shaghir), mirsanana Pupuh I pada 29; kabir ing ngriki pikajenipun alam kabir = jagad ageng (gumelaring dunya punika).

(2) Suraosipun : tiyang ingkang ngertos dhateng badanipun piyambak, inggih boten kewran dhateng gumelaring dunya punika.

(3) Nurul qalbi = papadhanging manah.

29. Yen ngguguru sira benijing, sawise sira winejang, wijang-wijange kabeh, kang kadhadha ing tyas padhang, Allah mukhammad rasa, myang badan sakaliripun, tumuli sira takona.

30. Kapriye kanthaning pati, paran karaneng (1) agesang, urip kapriye patrape, lah thole ginawe apa, wong urip aneng dunya, pati ing ngakerat mbesuk, akerat ginane apa.

31. Priye parlune kang pasthi, lawan malih tatakona, mring gurumu kang wus waleh, asung ngelmu marang sira, apa sababe baya, wuwulang kang wus kacakup, yen nendra sirna sadaya.

32. Iku dayaning punapi, apa mudhun apa munggah, yen mudhun priye kanthane, yen munggah priye trapira, kang munggah kang tumedhak, den arani apa iku, dene dahat saka mokal.

33. Nora susah sira kaki, takon jumenenge Allah, mung weruha kuwasane, kang kagadhuh marang sira, gedhene tanpa sama, lembut tan kena junumput, saking rungsiting sasmita.

34. Lan malih yen sira ngimpi, wruh ing barang kaelokan, ing jro badan ana kabeh, iku mratandhani apa, den asmani reh paran, dayaning punapa iku, kabeh padha takokena.

—————————–

(1) Wonten ingkang kaserat : kalaning gesang.

Pupuh IV
S I N O M

1. Lan malih pitutur ingwang, lamun sira dadi murid, kang bisa pratameng weka, wiwekaning kawruh gaib, patakon kantho titi, surti ngati-ati tyasmu, tumancebing papadhang, ingkang nandhani tyas wening, nging tan wenang kalamun durung kakenan.

2. Kenanya saking pracaya, pinarcayeng dening saksi, saksi ingkang tunggal karsa, bangkit nyanyampahi silip, nora kilap kalempit, kanang karsane ki guru, guru kang nunggal misah, tunggalnya kang seje jinis, niskareng rat dhalang sajati weruha.

3. Iku pikir kang tan samar, waskitha kecaping wadi, nanging weruhnya ki dhalang, wit akil baleging pikir, kira-kiranya ngenting, pinter sangkaning sinau, marma dudu Pangeran, ywa den anggep jeneng Gusti, sajatine kang winastan johal awal.

4. Marma sagung pra sarjana, kang mantep tetep nastiti, titising reh pejah gesang, kasangsang madyaning bumi, rat jagad kagulung ngling, tumuruning manuswa sadu, lan malih sun wawarta, yen ana guru kang luwih, sung wasita jisime ginawa lunga.

5. Lunga ngalih ing ngalam rat, rat jagd kawengku siji, manjing jiwane sadaya, pangrasa sampurneng pati, lah iku tutur kidib, goroh growoh wong kebawur, ngawur kuwur tyas samar, durung wruh laraping pati, kang patitis tan mangkono anggepira.

6. Kalamun guru sanyata, manranging cipta nastiti, netepi daliling Qur’an, mutu bi lamuta pasthi, lapal wus den werdeni, mati sajeroning idhup, urip sajeroning pejah, rasakna prakara iki, patraping reh pepadhang kalingan padhang.

7. Yen wong danurja waskitha, aweh sandhang wong kang sugih, aweh payung wong payungan, anggendhong wong nunggang joli, sun teken dalan wradin, wong melek tinuntun-tuntun, sinung dalan kang padhang, wong minggir tinarik minggir, lah kepriye tutur iki rasakena (1).

8. Nadyan sudra dama papa, janma kang wruh ing wadi, wadi-wadining widyastha, sayekti janma sajati, ywa sumelang ing pangesthi, anggepen lantaran kawruh, muwuhi antepira, tepa-tepaning tyas sami, amijeni jumenenging gurunira.

9. Sasat sudaranta tunggal, tunggil wor budi sawiji, wajib iku kinurmatan, jinunjung ing sawatawis, nanging yen durung sami, ywa lonyo sabarang wuwus, temahan kabegalan, kalong linongan ing kuping, iya iku tinemu dadi kagunan.

10. Sapira yen wong sarjana, kawruh kang wus den tampani, nora mungkir asalira, seje wong kang tuneng budi, pinter sangkaning ngaji, den aku nora ngguguru, umuk saking supena, paparinge Sunan Kali, iya iku cipta kawoworan wisa.

11. Ambege waskitheng lembat, saking kawruh tanpa kardi, sinihan ing Hyang kang murba, supaya wong sami uning, oneng temahan asih, sih lulut dumadi pulut, muluti wong katriwal, sasar tyasnya sami wedi, pamrihing tyas wetuning arta baksana.

—————————–

(1) Bok manawi pikajengipun : guru ingkang waskitha punika anggenipun ngeblakaken wedharanipun namung dhateng siswa ingkang sampun tinarbuka manahipun.

12. Para kinarya kasugihan, ngelmune ginawe pokil, ngikal-ikal ngeka dasa, yayah dursileng pambudi, batine durung uning, yaiku rupaning punggung, kagunggung wong caksana, sejatine sepa sepi, sasat sapi tan wruh ingkang murweng sipat.

13. Purwa wiwitaning ngagesang , nora pisan den kawruhi, tansah mung dina akerat, pinundhi pinusthi-pusthi, pasti bakal nemahi, sebarang pituduhipun, ngakerat bakal mulya, wit saking wus den kawruhi, aneng dunya tinebus (1) sabar darana.

14. Nanging kang tys smupramana, makna mung kecaping lathi, katara ing solah bawa, bawaning pangucap wening, para ngulama kang wis, tanah Jawa ngalor ngidul, ngetan ngulon wus padha, kang kasub kalokeng bumi, ngetan Toyawangi ngulon tanah Serang.

15. Warata sun muruita, akeh kang kaliru tampi, kitab Qur’an tan pratela, ngulama kang bisa ngaji, ngawag kawoworan kucing, kang den anggo ngelmu kuwuk, nggandhuli kawruh Buda, den lih tembung Arabi, iya iku patrape wig (2) tanah Jawa.

16. Warna-warna piwulangnya, lir caritaningsun kang wis, saweneh ana kang sorah, saking primbon Semail (3), pangakune sing nginggil, tiban saking Hyang Maha Gung, terkadhang malih ana, wite dadi guru jati, ngimpi munggah mring langit biru sap sapta.

17. Ambedhah mumbul ing wiyat, neng dhuwur nampani wangsit, wusnya trang nuli mimijing, wijange ngelmu gaib, supaya antuk pokil, iku traping tikus clurut, tan pisan magepokan, patraping kawruh kang ykti, suprandene kanan kering keh wong prapta.

18. Dadya pakumpulaning wran, tani-tani den jarwani, kang tan wruh duga prayoga, iku ingkang den senengi, guru mangkono kaki, memper mawa ing wana gung, sipate kaya janma, nanging tan wruh kang patitis, aja sira pracaya ngelmu mangkana.

—————————

(1)  Bok manawi proyogi : tinebas sabar darana.

(2) Wig (awig) = saged. Ing  ngriki pikajengipun : tyas saged.

(3)  Semail = jimat, bok manawi saking : Ismail nama tiyang utawa Nabi Ismail.

Pupuh V
M E G A T R U H

1. Kang saweneh ana mukmin (1) sung pituduh, ing ngelmu sampurneng pati, kang patitis paranipun, ninging pralaya umanjing sadat sekarating maot.

2. Miwah puji tatkalanyarsa rinacut, neng lawang sawiji-wiji, ana dhewe pujinipun, lah iku mukmin niwasi tan yoga dipun pitados.

3. Iya iku wong pracaya marang wuwus, wuwus ingkang dakik-dakik, rehning sinalinan tembung, wong Jawa kang durung uning, basa Ngarab dadi elok.

4. Melok melik emeling cangkem sinengguh, nyataning kawruh kang luwih, saking cupeting panggayuh, yayah kabentur ing wangsit, wasita kawruh kang ngamong.

5. Omong-omong tutur kang wus kalantur, tur tuturunan jaman wis, wiwisikaning pra guru, alam Buda tanpa saksi, temah ngalingi lalakon.

6. Kaelokaning ngagesang kang kalantur, ana maneh ngulama di, ambaboni muruk kawruh, mruhken trap pati patitis, soroging wayangan tinon.

7. Mahyeng wujud putih mawenes tur mulus, sarupa ingkang ndarbrni, gumawang cahya ngunguwung, neng ngawang-awang kaeksi, ginulung parek wignyanjog.

8. Jajar linggih iku den anggep panutan, mring kamuksan kang patitis, titising tyas linalarut, kinarya gandhulan pati, manjingken swarga kinaot.

9. Iya iku guru kang maguru luput, padha bae salah tampi, suprandene wong kang kumprung, mathem tyas tinohan pati, tetep sumaguh pitados.

10. Nora weruh dayaning netra ndulu, nyipta apa bae keksi, rurupan kang gumun-gumun, kageleng nirmayeng batin, neng kono sayekti katon.

11. Nadyan Mekah Madinah cinipta wujud, pasthi neng kono kaeksi, saking dayaning pandulu, ripta ciptaning panganggit, anggiting guru sajatos.

12. Dupi weruh guru sajati sru gumun, resep seneng eneng ening, angen-angene anggugu, pracaya kang den tingali, kukuh kuwat wit tyas kamot.

————————–

(1) Mu’min = tiyang ingkang nandhang iman.

13. Iya iku tandha wong ciptaning kathung, rurupan ingkang kaesthi, yen guru kang ambek sadu, moncol cipta wig maletik, cakep cukup amaido.

14. Nora keguh sarambut pinara sewu, dudu yen maksih  kaeksi, dudu lamun maksih suwung, dene kang katon mawarni, dayane pangrasaning wong.

15. Cipta ripta saking netra dayanipun, tep-tinetepan kang uning,  durung ning jenenging guru, guru pugeraning jisim, durung jajah durung tanggo.

16. Marmanira dayaning sorot puniku, kadarbe wong kang miranti, yen wong wuta nora weruh, lah iku pikiren kaki, ywa pracaya wujud katon.

17. Ywa pracaya marang wujud ingkang suwung, lamun sira durung uning, nglakoni weruh ing suwung, myang nglakoni wrung ing isi, isen-isening tyas tanggon.

18. Enggon durung enggon uwis wus kacakup, balik panggonan saiki, golekana kang katemu, muwuhi patraping pati, urip ngarep-arep maot.

19. Yen sujana nirdeya manrang pakewuh, guruning  pati wong mati, guruning urip wong idhup, adheping kahanan jati, anane mengku sapakon.

20. Seje lawan janma rucah ngronce kalbu, pinter nggulung gulung gilig, sipat rong puluh ginelung, bisa ndadekaken siji, iku pintering gandarwo.

21. Kang sampeka anjereng sipat rong puluh, lakune sawiji-wiji, kosok baline kadulu, kacakup cakep nyukupi, praboting urip wus melok.

22. De wong cubluk patraping ngelmu kalimput, sidhakep suku tunggal ning, babahan nawa ditutp, pancadriyane pinatin, tikswaning grana den ilo.

23. Itu justak tidak sekali bertemu, wong Buda ngelmuning ringgit, ngelmu Buda kang wus bawuk, dudu agamaning Nabi, salalahu hurip manggon.

24. Yen nJeng  Nabi Mukhammad mustapalahu, manurat Qur’an njarwani, manuswa sipat rong puluh, ginelar ngupaya pamrih, mrih sampurna waspaos.

25. Yen tinutup mbatalken islaming manus, ngowahken napas tan kenging, pamyarsa pandulunipun, karsa pangandika sami, kinen mamrih trang mancorong.

26. Pira-pira kitab-kita Qur’an nutur, mring wong kang tuna ing budi, yen tan mulyayu (1) tan weruh, kalingan sasaring pikir, kira-kirane wong jomblo.

27. Jomblo suwung malompong lir pendah cumplung, rinubung ing laler wilis, jer pangananing kuwangwung, kukuwunge tan pinikir, kira-kirane kajlomprong.

28. Netranya ndik mantheleng soceng pring petung, peteng patine metengi, ing urip kang nora weruh, nora ngrungu wosing pati, uripe bae tan enjoh.

29. Aja maneh pati durung tau weruh, prandene ngaruh-aruhi, wong bodho nora wruh ngelmu, pangrasane sasar sisip, kang akeh janma momoyok.

30. Ing Ngayogya Surakarta myang Madiyun, sapangetan atas sami, kawruhing ngelmu meh jumbuh, para jamhur sring nanampik, ananacad wong kang bodho.

31. Keh padudon babantahan udur ngelmu, supaya wong kang prihatin, nuli enggala maguru, dheweke nampani pokil, sega wuduk ayam babon.

32. Ana maneh sarjana mbeg putus ngelmu, mulang wuruk marang murid, lungguhing sagara gunung, Mekah madinah neng jisim, ati pitu jantunging wong.

33. Lamun mulang tarekat dalaning kawruh, kalimah tayibah pinusthi, la ilaha ilolahu, den ubetken dhdhaneki, lebu wetune kabatos.

34. Puji napas tan kena pegat saidhup, wetune muni Allahi, lebuning napas muni HU, iku ingkang den kencengi (2), dadi sampurnaning maot.

35. Ana maneh kawruh Buda maksih klaku, sastrajendra yuning bumi, dadi pangruwating diyu, jare manuswa wruh pasthi, patine sirna krahayon.

36. Sastrajendra yuningrat sastra ha suku, hu huteg panjinging gaib, suprandene keh wong nungsung, yen wus winejang pinundhi, sasat wong nembah Tepekong.

37. Lah prayoga kucirana (3) bae bagus, klonthongan adol sembagi, teh tangkuweh gula batu, ing mangsa cembeng mumuji, mring klentheng nggone ngelmu wos.

38. Ana maneh guru muwus tiru-tiru, warangka manjing ing keris, keris manjing wrangkanipun, nanging tan bisa nakseni, iku temahane goroh.

39. Barang wuwus barang ngelmu barang laku, yen wong putus nganggo saksi, nyatane ingkang kawuwus, wirang den erang-erangi, dennya ndanani maring wong.

————————–

(1) Wonten ingkang kaserat : yen tan mudyayu.

(2) Wonten ingkang kaserat : den senengi..

(3) Ingkang nembah Toapekong punika bangsa Tionghwa. Kala jaman samanten jaleripun sami ngangge tauwcang (=kucir).

Pupuh VI
ASMARANDANA

1. Heh sagung kang samya myarsi, surasaning srta punika, putra wayah ingsun dhewe, aywa nganti kawadaka, binabar ing wong liya, reh iki dadalan kawruh, lothung kinarya ngupaya.

2. Ing ngelmu ginawa mati, kang patitis tanpa samar, aywa angantepi kiye, lan malih sira welasa, mring mukmin Sala Yoja, ngelmune akeh kasebut, aneng kene wijangira.

3. Lamun kongsi krungu kaki, sayekti dumadi kemba, trakadhang sengit mring kowe, saking cingkranging kawruhnya, wirang lamun takono, arsa madoni tan nggayuh, wit wus entek kawruhira.

4. Wataking mukmin samangkin, lamun kasor ing wicara, ing guna myang kasatene, dadi minggu tan micara, sumambung nora bisa, nedya urun luwih ewuh, reh nggepok laranganira.

5. Tandha malare sacuwil, weruhe kalingan netra , muwus kalingan cangkeme, mireng kalingan ing karna, mambu kalingan grana, kelantur tyase wus kasub, rejaseng kawruh kang samar.

6. Samare kalingan budi, budi tuna liwat salah, ngukuhi benere dhewe, pangrasane tanpa sama, yen tinakon muridnya, ngelmu ingkang ewuh-ewuh, cinakra nor pracaya.

7. Semu sengol amangsuli. Yaiku wong mukmin mamak, muk-mukan peteng tyas epeh, lawan malih asring ana, mukmin darbe papacak, marang putra wayahipun, tan pareng ngguguru liya.

8. Wus terang tan ana ngelmi, kang ngungkuli kawruhira, wong liya-liyane goroh, kadhang winastas kelangkah, mukmin ingkang  mangkana, angrasuk budining munyuk, samar lamun kaungkulan.

9. Kuwatir yen tan pinundhi, tandha yen ngelmune tuna, dene mukmin kang caksaneng, kawruh danurja mulyarja, tan sumelang kasoran, lamun nyata ngelmu putus, lir lisah kalawan toya.

10. Kawruh iku pami rukmi, pimendhema ing pawuhan, masthi tetela mancorong, yeku atine sujanma, kang putus sandining Hyang, sabarang nora kalimput, padhang ngungkuli baskara.

11. Clorot gebyaring Panganggit, kadya banguning kartika, tumibeng kisma pamine, wruhe sinasaban wuta, labeting kasucian, pintere kalingan punggung, tan katara sarjaneng rat.

12. Rat jagad kawengku siji, panjereng sasmitaning rat, ngebeki bumi langite, penggulunge ta katara, wruhing Gusti kawula, wruh rusaking barang wujud, weruh dadining kahanan.

13. Wruh jumenenging Hyang Luwih, weruh dadine kawula, pisah-pisahnya tunggal wor, kabengkas nirdeyanira, wus tan kacakra bawa, nggugulang ginulung-gulung, gelanganing tyas sampeka.

14. Kang saweneh mutangalim (1), sorah marang muridira, nora aweh atatakon, kinen ngkuhi kitabnya, puji dhikiring puja, asembahyang limang waktu, kewala ing cinipta.

15. Rina wengi puji dhikir, sahadat salat lan jakat, puwasa kaji tandane, yeku pikukuhing Islam, sayekti antuk ganjaran, nora aweh angguguru, takon marang wong sarjana.

16. Tansah ngukuhi pamuji, puji kang katur Hyang Suksma, sadat salat sadinane, bakal tanggung karusakan, ing dunya trus ngakerat, yeku wong kepaung wuwu, dadi nora waspada (2).

———————–

(1)  Muta’alim = ingkang putus ing ilmu.

(2) Wonten ingkang kaserat : nora pasaja.

17. Sadarpa ewuh wong muji, pujine katur mring sapa, priye dennya ngaturake, lamun wong kang wicaksana, tan mangran basa swara, swaraning Allah puniku, sayekti nora pracaya.

18. Sandining Hyang nuksmeng wadi, lamun durung kanyatahan, tandhaning asma kapriye, saestu banget tang nggega, yen durung tetela trang, trange kang sinembah iku, binatalaken kewala.

19. Ana maneh santri nisthip, wawarah mring muridira, sadat salat datan aweh, reh wus salat sadurungnya, wus pasa sadurungnya, yaiku santri kepaung, salah ucape kiyanat.

20. Iku wong ngukuhi pikir, psiking angen-angennya, awit ndhisiki tandhane, kang sembahyang iku Allah, kang akon iku Allah, janma kang mangkono gemblung, muyab atine ketriwal.

21. Heh ta sagung para murid, wekas ingsun poma-poma, ywa sira ngucap mangkono, iku setan sipat janma, mamak tan wruh ing tata, nadyan sira nora sujud, tan puwasa ywa mangkana.

22. Wong ngrusak sarengat Nabi, anglebur tataning praja, kang wus kanggo salawase, ywa darbe tekad mangkana, ing lesan lan wardaya, wong nalare mung sadumuk, iku angger den waspada.

23. Lan malih sun sring udani, ujaring wong jaman kuna, maksih den anggit saprene, kayata wong kang pracaya, ing barang kaelokan, pracaya ing kayu watu, patilasan jaman kuna.

24. Akeh bae wong samya ngling, kayata nJeng Nabi Duta, Mukhammad ingkang kinaot, mangkya maksih neng sawarga, ngenteni kawulanya, yeku ujar wong kepaung, sasat baung ing wanarga.

25. Ana maneh jaman iki, Kangjeng Sunan Kalijaga, maksih mriyanghyang uripe, akeh kang ngaku kepanggya, gadhung sreban jubahnya, kang saweneh ngegem wulung, jaman makam tan pratela.

26. Terkadang ana wong mukmin, ujar pinusthi pratignya, luwih kenceng panggepe, Ratu Kidul maksih ana, jin pri-prayangan setan, gandarwa sateribipun, iku ujare wong samar.

27. Yen wong waskitha ing westhi, nora samar kaelokan, masthekken dening kawruhe, yen dinulu nora ana, jin pri-prayangan setan, gunung-gunung guwa samun, tan ana sawiji apa.

28. Wong ajli rasa sajati, tan nyakra bawa kang sunya, wit pancadriya jinereng, wruh ing ganal-ganal lembat, cakraning tyas klantipan, ing mangke ratuning tamtu, jin setan peri tan ana.

29. Mung kandheg babasan kidib, goroh tyase wong kasasar (1), kalantur kuna-kunane, kongsi prapteng jaman mangkya, maksih akeh wong Buda, sipating manuswa cukup, ananging sasat gupala.

30. Candhi Sewu ngapit margi, mung badane darbe krekat, yen mangkono tunggak growong, ing jero isi canthuka, tan pisan nyipta padhang, peteng tyase nyamut limut, dudu patraping manuswa.

31. Dene kang panggalih wening, jin setan sipat manuswa, kuna praptane samangke, kang mitenah mring sesama, tan liya padha bangsa, sengit tresna wit ing laku, ing kono lah rasakena.

32. Yen maksih pracayeng kidib, barang cukul ingkang mokal, den anggep lir weruh dhewe, iku wong atine sasar, kalantur-lantur katriwal, mumuk petengnya tinutup, pancadriyanya priyangga.

33. Sejatine pikir sisip, angen-angen kang mblasar, kleru tampa panampane, wus mangkono yen wong Buda (2), sanajan den jujuwa, ing ngelmu kang memet nyamut, yekti anasar kewala.

34. Lamun wong tuna ing budi, malah nyimpang saking padhang, mring pepeteng pangancame, nggugu crita ngayawara, kang den anggep sanyata, nanging nyatane nora wruh, iku wong pikire tuna.

35. Yen mangkono tanpa kardi, ngelmu Ngarab prapteng Jawa, kitab Qur’an sasmine, winedhar ing wali sanga, dalil asung pratela, jarwa-jarwa mrih nuntun, mring manuswa punggung mudha.

36. nanging keh kaliru, uning tekade kudu manuswa, klaut ing jaman samangke, kapulet mulet ing jajal, jin setan nora uwal, iyeku atining manus, kang durung pratameng sastra.

37. Akeh wong kang bisa nulis, ngaji sastra Jawa Ngarab, arang kang bisa cumanthel, awit katarik ing tekad, mring bangsa kaelokan, lah iku margane kliru, saka kawruhe priyangga.

————————

(1)  wonten ingkang kaserat : wong kang samar.

(2) Sadaya ingkang mungel “Buda” wonten ing serat ngriki punika boten ateges Buddhist utawi Buddhisme, pikajengipun : animist utawi animisme.

Pupuh VII
M  I  J  I  L

1. Ingsun uwis mlaya njajah bumi, ngalor ngidul ngulon, ngetan tepung tanah Jawa kiye, muruita para wegig-wegig, lir critengsun kang wis, para guru-guru.

2. Amimijang lir patraping jajil, kukutug kang elok, asasaji barang rupa sajen, pambengate ngelmu tanpa saksi, sinaksen ing ati, ati kang kalantur.

3. Lamun guru tanah Panaragi, kang pinutheng batos, manembah mring Hyang Suksma patrape, den tangisi rina lawan wengi, mring sawarga adi, akiring tumuwuh.

4. Amuwuhi reribeting pikir, kang tansah sumedhot rina wengi kleru pangancame, mamangani sir ingkang nalisir, nora ana den sir, sucipta kang jumbuh.

5. Neng Pacitan sun wus amumurid, winejang trap layon, ngelmu nakisbandiyah arane, pamawase saka puji dhikir, pinanjingken maring, sajroning sastra hu.

6. Ingkang kongsi wuru cipteng batin, batine mancorong, swarga nraka yekti katon kabeh, nadyan para luluhur ingkang wis, katon lir wong ngimpin, ngakerat neng ngriku.

7. Marma wong kang panganggitnya tipis, yen mentas wruh njontong, njetung ngungun ing kanyatahane, akeh padha udarasa luh mijil, siksaning Hyang Widi, kang katon neng ngriku.

8. Dadya kenceng pamuseng pambudi, ngadekken lalakon, setya wardaya smu panganggite, patrap ingkang mangkoneku kaki, lanating Hyang Widi, dalil nora nutur.

9. Kasasaring cipta ripteng pikir, pikire wong jomblo, duga prayogane mung sepele , dadi mathem mantepe ing ati, tan wruh ati tipis (1), pracayeng pangridhu.

10. Ridhuning wong tumitah neng bumi, ingkang elok-elok, mokal-mokal dayaning cipta ne, cipta culika ngeculken wadi, dadi wit piningit, sinengguh neng ngriku.

11. Barang apa ingkang elok prapti, gya pinusthi katon, lah ing kono pikiren dayane, yen wus weruh pikiren kang bersih, tintingen kang enting, wong sinau putus.

—————————–

(1) Tan wruh (deweke) ati tipis, wonten ingkang kaserat : tan wruh (marang) ati titis.

12. Tumulyengsun angguguru malih, ngelmu kang sajatos, Bendhadhapit ing padhukuhane, tanah Blitar wus kasusreng warti, titining pangeksi, niskaraning ngelmu.

13. Malem Jumungah winejang ngenting, winruhken trap goroh, Allah Mukhammad neng netro karo, rasulolah rasa kang sajati, jitine umanjing, jroning netra nemu.

14. Ngalam jembar kababaring wiji, cukul langgeng awor, Allah Mukhammad langgeng wujude, aneng kono langgeng tan pantawis, sinasaban puji, salat karya sintru.

15. Nuli ngalih angguguru malih, ngelmu traping maot, aneng nagri Kadhiri winaleh, ing sasmita kang  bakal pinanggih, dunya prapteng ngakir, gya kinen andulu.

16. Wayanganing janma kang kaeksi, putoih amancorong, nora siwah ing salagehane, lir kang darbe wayangan tan slisir, sanyata kaeksi, den anggep Hyang Agung.

17. Yen wus weruh kang mangkono pasthi, sirnanya njog, ring kamuksan langgeng salamine, wusnya trang sun luru guru malih, antuk sawiji wig, ing Maglaran dhusun.

18. Gya winejang kinen aningali, rupa kang mancorong, kadya wulan purnama tandhane, jroning guling kaeksi lir ngimpi, ngimpi dudu ngimpi, iku maksih luput.

19. Awit angen-angen kang ningali, warna kang mangkono, tandha durung lunga saka kene, sigra ngalih malih guru nadi, neng Gembong umanggih, guru tameng tuwuh.

20. Tanpa tutup pamejange gaib, mung kanthi pasemon, kadadyaning manuswa akire, tibeng suwung mengko (1) ana jati, mratani sabumi, iku kinen ngluru.

21. Iya iku barat kang nrambahi, bumi sa-antro, napasing wong iku sajatine, asal saka angin dadi angin, kang bakal pinanggih, lirnya manjing suwung.

22. Suwung wangwung wuluh wungwang isi, napas angining wong, ywa pracaya ngelmu kang mangkono, padha lawan agama Sarani (2), saben Ngahad manjing, greja Yesus Kritus.

————————————

(1)  Bok manawi leresipun : mengku ana jati.

(2) Kala rumiyin tiyang Jawi ingkang ngrungkebi agami Nasarani punika taksih kalebat nganeh-anehi.

23. Minta jembar kubure yen mati, lepas paranya doh, iku desa Negara panggonane, Majakerta araning nagari, meh lumrah wong Jawi, Ngisa gama luhung.

24. Kang mangkono iku datan yukti, wirangimng lalakon, nora weruh agamane dhewe, ngelmu apa bae anjarwani, ingkang dakik-dakik, lembut memet nyamut.

25. Saking anggele agama Nabi, Mukhammad kinaot, dening  kanang pangolah yodane, jatha antayaning kwula Gusti (1), wit urip mring pati, titi temah jumbuh.

26. Anakseni bisa dadi saksi, ring kawruh kinaot, wong maguru dadi guru dhewe, Kangjeng Nabi Mukhammad Siyidin, mustapa sinelir, para manuswa nung.

27. Nung winenang atine awening, nJeng Nabi setyandon, tan kacakra bawa pasemone, janma mangke kang angaku nabi, bisaha mangirib, kadibyan ingkang wus.

28. Nyatane Mukhammad luwih sungil, angeling lalakon, nora aweh yen durung pratameng, gampang wong kang ngaku aran nabi, lirnya nabi wening, wenang njereng ngejum.

29. Min awal ( ﻣ )sirah : akhe ( ﺤ ) ing dhadheki, mim akhir ( ﻤ ) wudel wong, dal ( ﺩ ) sukune (2) kewala tan angel, sedene ros (3) rasane Hyang Widi, gampang bae kaki, saben bocah keh kawruh.

30. Lah kapriye patraping pangesthi, tirta nirmayanjog, jaman muksa menyang ndi parane, jaman urip kinarya punapi, patine nyang endi, apa sebabipun.

31. Pupujanen kang kanthi prihatin, patraping lalakon, wajib wenang sira kinen golek, rehning wong urip jodhone pati, tan kena sumingkir, tumempuh ing idhup.

—————————

(1) Bok manawi pikajengipun : prakawis anekadaken bab sipating kawula kaliyan dating Gusti.

(2)  Kinten-kinten gambaripun makaken.

(3)  Bok manawi leresipun roh (mirs. XIII : 11).

32. Kaya priye adheping patitis, janma sura tanggon, ngenggon-nggoni ing sangkan parane, myang antara kapundhi kapusthi, yen wus kroban saksi, sanyataning laku.

33. Sun wus manjing guru tanah Pasir, ngelmune kacrios, sadat sakarat ing pamejange, wijang-wijanging sawiji-wiji, la ilah illahi, dununging palungguh.

34. Ringkesing jumbuh kumpul siji, umanjing mring njero, lawan ana tnadha katontone, neng njro carmin pangiloning warni, binuwang kaca nir, maksih lu-dinulu.

35. Iku maksih kuwur wor ijajil, jajal lanat melok, nuli ana wong pratama maneh, tanah Clacap desa Jeruklegi, pamariding ngelmi, dakik sengguh nyamut.

36. Memet umeting Mukhammad nabi, sajatining uwong, myang sipat asma apengale, lirnya kang dat angen-angen batin, sipat wujud janmi, asma araning hu.

37. Apngal panggawening lahir batin, batine Hyang Manon, napasing wong den upamakake, kemladeyan nunut anguwati, pamejangnya remit, thuk-thuk adu bathuk.

38. Larangane kang winanti-wanti, tan kena kacrios, kudu uluk salam salamete, warna-warna jroning tanah jawi, akeh kang anyami, ing papacuhipun.

Pupuh VIII
P U C U N G

1. Sun nggaluyur, murang marga luru-luru, sampurnaning gesang, miwah sampurnaning pati, kaya priye trape kang pinudyeng taya.

2. Nuli nemu, neng Pakalongan wong putus, wewejanganira, la ilaha illallahi, wusnya kawin nulya nglunturken wasita.

3. Kang tinutur, pralambang patraping ngelmu, mangkana bakunya, kang kinarya nomer siji, randhu alas mrambat witing kasembukan.

4. Iya iku, raganing wong pami randhu, napase sembukan, uripe manuswa iki, saking napas lebu wetune pinuja.

5. Malihipun, nomer ro ingkang tinutur, cebol nggayuh lintang, lumpuh angideri bumu, iya iku dayaning pikir manuswa.

6. Tunggal wujud, angen-angen siring kalbu, pratandhane ana, manuswa lungguh neng ngriki, pikir bisa mubeng anjajah nagara.

7.Nomer telu, wijining-wijang tinutur, uga linambangan, uget-uget nguntal bumi, iya iku babaring pancering netra.

8. Dene lamun, nedya manyatakken kawruh, wuwuhing sampurna, kudu wruh kanthaning pati, nuli ingsung binungkem dalaning napas.

9. Sru tinutup, dadalan weruh ing maut, patraping palastra, napas nora kena mijil, lah ta iku rasane luwih rekasa.

10. Rehning ingsun, wong bodho cegik truwilun, banget sewu nrima, ngungun ing tyas trima kasih, sun rumangsa rejaseng sik Suksmantaya.

11. Pangrasaku, ndulu tan liya kang ndulu, kulunging wardaya, narambahi budi mletik, nora weruh ngelmu Buda kang katriwal.

12. Tan pakantuk, yaiku guru ketawur, yen wong kang wus pana, nadyan angicipi pati, kang patitis tan mangkono patrapira.

13. Qur’an nutur, watasimuka billahu, werdine mangkana, heh janma kang ati-ati, padha sira ngreksaha talining Allah.

14. Kale iku, napas tinutup tan metu, yekti nora kena, dadi tetep ran wong musrik (1), tan prayoga guruning peri prayangan.

15. Yen wong putus, sandining Hyang tan kalimput, sampurnaning pejah, tan sudi memet puniki, yen wong mati gurune janma pralaya.

16. Yen wong idhu, maguruwa janma idhup, adeping ngagesang, kasangsang madyaning bumi, amijeni mring putra wayah tumerah.

17. Reh kacakup, cangcut kyat cakep kacukup, pamedharing ganal, nyamut lembut wus kapusthi, pasthi pedhot sasmita kawruh sampeka.

——————————

(1) Musrik = ingkang nyakuthokaken Pangeran.

18. Wiweka gung, kageleng dadi gumulung lekasing ngagesang, miwah manising pambudi, dadi daya tarbukaning tyas kang samar.

19. Luwih ewuh, dalane wong tumuwuh, mrih wuwuhing rasa, martandhani kehing urip, urip iku dayaning sasmitaning rat.

20. Kang dadi wus, wasesa semune luhur, bayan Allah (1) terah, mratandhani kehing urip, urip iku dayaning sasmitaning rat.

21. Musthika gung, ing dunya tan na kadulu, mratani kahanan, amung manuswa kang luwih, iya iku sewu nugraha mawantah.

22. Marmanipun, bagus dudu rupa wangun, mung tandha kang nyata, padhanging ati nrambahi, ing wicara kang wus carem liring limpad.

23.Sukur bagus, rupa myang wicara wangun, ngelmu kasusastran, Jawa Ngarab kang patitis, myang sandining tulis basukining basa.

24. Mangkya wangsul, mangsuli laku nggaluyur, mbraung njajah praja , angupaya ngelmu jati, jatining wong kabutuh tan mengku drajad.

25. Amung lothung, tinimbang dadi wong gemblung, padune wus kalah, kinarya narimeng pasthi, reh papasthen dinulu nora pratela.

26. Ngulon nurut, saking Pakalongan terus, sarwi nungsung warta, angupaya ngulama wig, dupi prapta dhusun Tanjung bawah Tegal.

27. Sun angrungu, ana sajuga wong putus, tatas kawruhnya trang, nuli sun maguru ngabdi, amiminta lumunturing kang wasita.

28. Aneng ngriku, kongsi antuk tingang tengsu, reh tanpa prabeya, marma kalampahan ngabdi, saking welas tumulyantuk kawelasan.

29. Kang tinutur, patrap pratikeling lampus, aran panengeran, kapriksa sajroning urip, kurang patang puluh dina wus pratela.

30. Iya iku, neng tutuk panggonanipun, palenggahan rasa kalamun wus nora keri, kurang patang puluh dina prapteng mangsa.

—————————-

(1) Bayan Allah (bayaanu’llah) panerangan bab Allah.

31. Kurang pitung, ari kinen andudulu, wus tan kantha warna, telung dina kulit daging, tan kumrisik lamun wus kurang sadina.

32. Napas mlebu, metu asrep kewala wus, cupet ing ngagesang, nulya na rupa sajati (1), cahya lembut sarambut keksi ing ngarsa.

33. Pecatipun, nyawa saking jempol suku, munggah mring gelangan, nemu regol den arani, nganti lawang sapta trus munggah ing utak.

34. Nuli nemu, rurupan kang gumun-gumun, ing kono kapanggya, lawan Hyang kang murbeng bumi, kantha warna lir rupaningsun priyangga.

35. Glis lumebu, mring kantha ingkang kadulu, yen wus nuksmeng kana, nulya jumeneng narpati, iya iku nggoning swarga kang mulya.

36. Bakin (2) terus, urip nora keneng lampus, enak tan pantara, den arani sipat kadim (3), lirnya kadim badan alus mengku sipat.

37. Mangkoneku, guru linglung tanpa kusur, kaleru ing tekad, tur nora bisa nekseni, datan weruh ing agama Sangkreta.

38. Tegesipun, Sangkreta tembung Indhu, mangkono tekadnya, dhasar sun wus minta wangsit, neng Betawi angguguru wong Turkistan.

39. Kacek tembung, maksih basane wong Indhu, memper Kawi-jarwa, dene kyai Tanjung nguni, mung badane tolek (4) tembunge wong Arab.

40. Dadi luhur, akeh wong ingkang sumungsung, tur den alembana, pribadi sangsaya wingit, pangakune saking Grebon Kangjeng Sunan.

——————————

(1)          Wonten ingkang kaserat : rupa sawiji.

(2)          Bakin (baqaa) = langgeng.

(3)          Qadiem (qidam) = wonten wiwit rumiyin mila.

(4)          Tolk = juru basa ; ing ngiki pikajengipun : basa.

41. Jamanipun, wali titinggalan iku, maksih rupa derah (1), binuntel sap pitu putih, kinutungan ing dupa saben Jumungah.

42. Nembah jumbuh, lir brahala sru mabukuh, kukuh adheping tyas, yen siswa di ambek julig, nora sudi nadyan Qur’an sinembah.

43. Wit mituhu, tembunging kitab pepacuh, tan kalilan nembah, rurupan liyaning Rabil-ngalamina (2) ingkang kak wujuding Suksma.

44. Nulya ingsun, aneng Betawi kaparanggul, gurune wong kalap, gama Kristen kitab Injil (3), sun muruita trap pratikeling sampurna.

45. Tan sinung wruh, mung kinen madhep kang sujud, nora sah ing kajat, jatining kawula Gusti, manuswa gung kabeh putrane Hyang Suksma.

46. Kang sumengkut, angenggon – nggoni kang jumbuh, ngaku Nabi Ngisa, rohullah kang mengku urip, iya iku angen-angen lawan napas.

47. Kang mangestu, ing mbenjing masthi katemu, Kangjeng Nabi Ngisa, sayektine maksih nganti, kawulane aneng sawarga kasapta.

48. Iya iku, wong kabentur tembung bagus, Injil crita mulya, kang den pertal tembung Jawi, luwes dhemes tuwan Winter Surakarta.

49. Ingkang bagus, luwih rerengganing bagus, mulya di utama, kang memelas asih-asih, sing amulat wong Jawa akeh kagiwang.

50. Nora weruh, peteng atine kalimput, mepeti tyas mamak, muk-mukan tan darbe pikir, kira-kira lan panyanane katriwal.

51. Wong Jawa gung, ing Batawi samya nungsung, salin sesembahan, manut tataning Sarani, malbeng greja manembah arep-arepan.

52. Kang sinengguh, Nabi Ngisa maksih idhup, iku dadi tandha, linglung klalanganing pikir, wirang isin wong Jawa alin agama.

53. Gamanipun, Ngarab pribadi tan weruh, nggayuh gama liya, suprandene den antepi, wus prasasat wong Ngara ing Majakerta.

——————————

(1)  Derah = pepethan.

(2) Rabbul ‘alamien = ingkang mangerani sadaya alam.

(3) Pamanggihipun pangripta tumrap Islam ingkang namung sak pitados thok, mirsanana Pupuh VI: 14 – 18.

Pupuh IX
P A N G K U R

1. Wong Kristen agama Ngisa, tanah Jawa tekade keh ngantepi, kelu crita edi nyamut, pangrasane tetela, ing Batawi Samarang Surabaya gung, Pasuruan Sidaharja, ing Malang tuwin Kadhiri.

2. Desa Gombong tanah Ngroma, tuwa anom lanang wadon mestuti, mring Injil pituturipun, ingkang luwih sampeka, anyukupi urip prapteng patinipun, yen guneman amacithat, nanacad amomoyoki.

3. Marang agama Mukhammad, kang mangkono iku datan prayogi, awit ing sayektinipun, sakabehing agama, nora ana ingkang ala ingkang bagus, de anggepe bangsa Islam, tan ana ingkang ngungkuli.

4. Agama Nayakaningrat, Kangjeng Nabi Mukhammad kang sinelir, nganggit Qur’an kang dhumawah, dadi umuling (1) kitab, pira-pira kawruh ingkang bagus-bagus, ngencengaken marang tekad, ala becik den kukuhi.

5. Pangudining sangkan paran, kauripan kang jumbuh tur pinardi, sinajarwa winawuruk, kadadyaning tumitah, angawruhi sabarang reh kang gumulung, gelenganing tyas narawang, goroh yekti kanthi saksi.

6. Neng Batawi sun muruwita, mring wong Cina panengeran Bah Tik Suwi, winruhken kawruh kang jentus, panggonane kang murba, dununge neng ngisor bumi kang kapitu, iyeku Allahing Cina, ajujuluk Kok Hong Sang Ti.

7. Pardikane kinawasa, kang masesa sesining buwana di, yen pinuju muji jumbuh, sayektyasmu pratela, neng papreman lir manuswa sipatipun, de lungguhnya kang sanyata, aneng manik netra kalih.

8. Iku ingkang jinalukan, rina wengi kang mathentheng ing ati, yekti apa kang kinasdu, ing dunya trus ngakerat, pasthi nemu sabarang reh tekadipun, mangkono patraping Cina, tan beda sujud ring Widi.

—————————–

(1) Ummul kitabi = (letterlijk) babning kitab.

9. Akeh-akeh pituturnya, mokal-mokal tan kasebut neng ngriki, dene riringkesanipun, wong ulah ngelmu Cina, kang wus pana sajroning limalas taun, bisa bali marang dunya, tumitis marang babayi.

10. Sun malih terus ngupaya, sampurnaning pati ingkang patitis, neng Cikandhi raning dhusun, bawah ing kutha Serang, yen ing kono ana wong kacrita putus, tumulya sun muruita, wanci ratri sinung wangsit.

11. Winejang ing tembung Arab, sahadat la ilaha illallahi, wa annahu Mukhammadun, rasulullah mustapa, linungguhken sastrane sajuru-juru, aneng badane manuswa, luwih dakik gaib-gaib.

12. Ngelmu sarengat tarekat, kakekat lan makripat ing palinggih, suku wudel dhadha terus, resik bersih sabadan, asal-asal mula bukane tinutur, miwah akiring tumitah, manjing  ing sawarga nangim (1).

13. Nuli araning sagara, linungguhken aneng badan sajalir, kaya usus puniku, uga aran sagara, winastanan sagara rante puniku, gigir winastan sagara, ageng ingkang tanpa tepi.

14. Jantung ingaran Madinah, betal makmur (2) ing Mekah kang palinggih, iyaku aneng sastra hu, lan malih sinajarwan, surya wulan sumurup ing netranipun, de putih irenging netra, dadi rina lawan wengi.

15. Saking cupeting tyas ingwang, sru narima suka sukur ing Gusti, pungun-pungun getun ngungun, ngangseg mantep ing driya, pangrasengsun ngelmu lembut memet nyamut, wruh umetnya mim mukhammad, tablege (3) pratistheng jisim.

16. Rumangsa rejaseng tingal, salulut sih Gusti kalawan dasih, mathem mathentheng ing kalbu, musthi ring Suksmantaya, maletiking jatha tan rumangsa manus, ambeg Sang Seh Sitijenar, tan wruh yen agama kang wis.

———————————

(1)   Jannatun (suwarga) na’im.

(2)  Betal Makmur (griya parameyan) wonten ing wirit dipun tegesi uteg (sastra hu = huteg).

(3) Tableg = tetep ; sanes tabligh : nekake dhawuhing Pangeran, ingkang lajeng ateges propaganda agami.

17. Yeku agama Pakuwan, Hyang Brahma kang mbaboni amiwiti, uga Buda jamanipun, luhurnya prapteng mangkya, sinalinan tembung Arab kang kalaku, jaman agama Mukhammad, met kitab sangkaning kidib.

18. Supayeku ginuguwa, sajatine tapsir awalnya sepi, suwung kabeh nora nutur, yaiku ngelmu karang, pardikane karang anggitaning manus, nutur ngelmune wong Buda, den lih tembunging Arabi.

19. Angelokken ing pangucap, sipayane nyalini gama kang wis, sajatine nora santun, maksih gandhulan kuna, ngelmu Budawaka kang maksih linantur, lulurine kakek moyang, den kencengi prapteng pati.

20. Akeh wong Jawa mangkana, para guru para murid tan slisir, ambeg cakep putus cukup, ing ngelmu kasampurnan, satemene wong mangkono maksih linglung, ngengleng lir wong kalang-langan, pikir pinetengan pati.

21. Prandene akeh wong prapta, anggugulang kalanggenganing ngakir, kira-kirane kadaut, sulaping tyas kang samar, ngawur nasar-nasaran sruwa kaliru, wus mangkono salaminya, janma kang nora patitis.

22. Datan patitis ing cipta, wit kaliru kajurang-jurang margi, muk-mukan tur nyanuk-nyanuk, buteng prasasat ayam, nucuk jagung neng conthongan manthuk-manthuk, tarathakan tan wruh marga, wutane prakara pati.

23. Wong wuta nadyan weruha, tan pratela sajatine kang gaib, prayoga ingkang  ngguguru, ing tyas kawicaksanan, reh wus geneb manuswa sipat rong puluh, yen sinau pasthi bisa, ngulah sasmita lulungid.

24. Jroning pikirira ana, ngelmu apa bae kang luwih-luwih, nanging kang pratameng kewuh, ywa ge sira pracaya, saksenana ing panimbang myang panggayuh, tingtingen sarining rasa, rasane, rasane tumitah urip.

25. Sasmita kawruh sanyata, lan panganggit kang titi kang patitis, ywa tinggal sabarang guru, guneme pra ngulama, jaman mangke akeh kang nglakokken palsu, wit kehing ngelmu gumelar, gumrudug akeh mestuti.

26. Kang akeh para ngulama, amumulang mring para anak murid, yen maksih anyar ki guru, mimijining tanpa sarat, mung rasulan lan mori sakwasanipun, yen wus dadi jaran kepang, jathilan ngupaya dhuwit.

27. Gya nganggo srikawin semat, wus mangkono paguron yen wus dadi, laris manglaras mumuruk, mundut arta busana, angarani ing pamrih wetuning bujuk, wahyaning pokil pitenah, marma sagung wong ber budi.

28. Layang iki takokena, aja merang isin ngelmu den cupi, cinupan gandhulanipun, larangan kang pinuja, salawase ana ing kene kasebut, mung padha mamriha tambah, sagung kang maca miyarsi.

29. Lumembak mbalabar wutah, lembak-lembak sarehning wadhah cilik, rupek ciyut mawut-mawut, prayoga den pasanga, tanggap ing tyas pandulu pamyarsanipun, mung lathung aywa sumelang, gagandhulaning patitis.

30. Binabar ing kene aja, uwas watir nir-niran tyasmu isin, murih jembaring panggayuh, ngayah mangayuh yoda, yekti dadi sarjanambeg putus ngelmu, kasampurnaning ngagesang, sangkan paraning patitis.

31. Titising kawruh narawang, wawangunaning ngelmu kang tininting, enting tan ana kadulu, luluh lebur sinangga, kang wus mathem ing tekad miwah ing laku, kukuh kuwating pamudya, mudyastuti ing pamardi.

32. Wus nora kena kasoran, kawruh iki mung siji kang ngungkuli, arta kang pratameng lembut, saliyane punika, nora keguh sarambut pinara sewu, mung tinimbang karo mlarat, becik ingkang sugih ngelmi.

Pupuh X
MASKUMAMBANG

1. Ing wilapa kumambang gatining tulis, tulus panedyanya, manuswa kanggonan budi-daya karsa beda-beda.

2. nandhing milih mangayuh budi maletik, mamrih wicaksana, kang ewuh lembut pinikir, kira-kirane kang nyata.

3. Ngakal-akal cukuling kagunan mijil, ing pangreka daya, kang kanthi saksi, angel wong tumitah gesang.

4. Luwih gampang wong mikir laraping pati, wus pasthi sampurna, sadaya anyaring bumi, ing kono lah rasakena.

5. Kang tumancep ing driya panggalih wening, ning kang wus winenang, netepi uning ananing (1), anane kang wus pratignya.

6. Lawan malih pikiren kang mesthi kenging, jumenenging Allah, nora dumunung ing langit, tan dumunung ngawang-awang.

7. Tan dumunung ana sa-njeroning jisim, tan dumunung njaba, kale kak wujuddullahi, tembunging lapal mangkana.

8. Wa-ama burhanu wujudu lillahi, pokudulul ngalam, tegese tandhaning Gusti, mangka anyaring ngalam bab.

9. Lirnya ngalam saben maujud kaeksi, sinipatan ngaral, tagayur kang pwah gingsir, mung Allah ingkang kadiman.

10. Mangka ngalam iku kudu nganggo nganti, teteping anyarnya, patang prakara kang dhihin, isbatu jais tetepnya.

11. Kaping pindho anyare kang den kawruhi, kaping tri kang mokal, anyaring ngalam sakalir, ping catur tan wiwitan.

12. Sayektine dunya puniki tanpa wit, bumi langit lintang, surya wulan kang kaeksi, sadaya saking manuswa.

13. Lire saking manuswa ingkang akardi, sagunging kahanan, kalamun manuswa sepi, sayekti tan darbe aran.

14. Lah ta poma pikiren prakara iki, supaya tyas padhang, bisa maratani bumi, atining siswa kang terang.

15. Wus tan samar tanpa kira-kiranya nir, tan kacakra bawa, nora methok nora miring, iku sandining bawana.

16. Manuswa gung sadaya sangkaning bayi, datan darbe karsa, tan mosik nora mumuji, nadyan Allah durung ana.

17. Bareng prapteng mangsa ran isbatul jais, bisa nebut namaning Allah kang murbeng bumi, tiru-tiru saka liya.

———————————

(1) Puniku uger dhong-dhinging sekar, suraosipun boten kaeblakaken, dados sanes ukara : uning (sumerep) ananing (kawontenanipun).

18. Luwih mokal luwih gaib sungil, nanging sewu gampang, wong ulah laraping pati, pati saking sangkanira.

19. Marma sagung putra wayah sun prih wegig, mumpung maksih gesang, sirnakna mamanging ati, kapriye trapmu mumuja.

20. Yen wus mati tan bisa sira mijeni, putra wayah wuntat, aywa kalantur lir kang wis, mbalasar kajurang-jurang.

21. Ngelmu dudu den antepi den pupundhi, tur kanthi kethokan, gulu ayam babon putih, karemaning rasulullah.

22. Begja temen wong kang bisa anglakoni, apa nora wirang, mumulang mring anak murid, yen kaweleh ing sarjana.

23. Wong kang putus tan bisa sung patrap pati, tan bisa mumulang mring anak murid, yen kaweleh ing sarjana.

24. Ywa mangkono wong ulah sasmita gaib, kudu kang ajajah, sarining kawruh kang suci, kasebat ing kanyatahan.

25. Jaman iki mulyadi akeh janma wig, akeh sarjaneng rat, wong kang mangulah patitis, ywa lonyo sabarang wulang.

26. Nora gampang amumuruk marang murid, kaki mbok manawa, katanggor janma kang luwih, wusanane kathetheran.

27. Calurutan guru tinon lir thokrani (1), cangkem kacemutan, yayah palwaga den misri (2), sun wus tau kasusahan.

28. Sun mimijang mring sarjana putus westhi, tan wruh yen wong pana, nuli sun binudi-budi, tinakonan kang sanyata.

29. Dadi meneng ingsun tan bisa mangsuli, temah kawanguran, nora bisa sung patitis, sun iki nedya tatanya.

30. Wekasane kelantur bodhoku dadi, guru garagapan, mamangan kawruh tan yukti, awit tan gelem kasoran.

31. Marma sagung putra wayah kang niteni, yen ana sujanma semu putus liring ngelmi, aywa isin muruita.

————————

(1)  Thokrani (bathok digarani) = siwur.

(2)  Den misri = dipun endemi cekakik.

Pupuh XI
DHANDHANGGULA

1. Nuli ingsun saking Serang bali, mring Batawi nedya muruita ngelmu kasidan patrape, antuk warta saestu, kampung krukut jujuluk Sayid Odrus putreng Ajeman, Kramat langkung kasub, tumulyengsun puruita, tan alami nunuwun lumunturing sih, sampurnaning kasidan.

2. Sidaning wong tumitah neng bumi, urip iku jodhone palastra, saben ri kalong nyawane, tan weruh kantunipun, sapira yen maksih taruni, tan pisan nyipta pejah, wusnya prapteng sepuh, saben dina gung sumelang, awit jisim anyar lawase mrepeki, anggege pulang kadhang.

3. Pikir mumpus-mumpus meksa mapit, sumpeging driya aninggal dunya, yen tinariya patine, saestu matur nuwun, mopo awit seneng ing ati, gumelaring rat dunya, lumyat wayah sunu, kula warga wangsa-wangsa, wus mangkono wong aras-arasen mati, aja maneh manuswa.

4. Nadyan kewan kang tan wruh ing pati, yen katempuh lara kasangsaran, sikil pincang dhengkleh-dhengkleh, suprandene lumayu, golek urip andhelik-ndelik, yen mangkono pra sipat, ingkang kayat kayun, tan gelem katekan pejah, marma sagung sarjana kang mamres budi, budinen traping muksa.

5. Kang supaya tan sumelang ing pati, wong sumelang durung trang pamawas, marang laraping patine, anaha ingkang weruh, met wawarah guru kang urip, iku durung pratela, pati kang satuhu, tuhu-tuhining pralaya, pati iku rumaket sajroning urip, nyirnakken was sumelang.

6. Melang-melang wong kang durung uning, tansah kacakra panggonan mbenjang, nemu swarga sawarege, ananging durung tau, anglakoni panggawe pati, lamun janma kang pana pramanem kang durung, awit saking dening nyata, angguguru marang janma kang wus mati, dadi tan ngayawara.

7. Wusnya sun matur mring tuwan Sayid, gya winejang wijanganing sasmita, kang nyamut memet umete, ing kene tan kasebut, awit waleh melehken kidib, manawa kawadaka wiwijanganipun, salah tampane kang tampa, tan prayoga nguculi ngelmu ingkang wis, manawa kathetheran.

8. Kang wus klantur ngelmu nguni-uni, yen kawiyak kawruh kang sanyata, isin nampik gandhulane, wus mangkono pra guru sesenengan dupi wruhnyataning, tininting tek entekan, neng kene kasebut, dadi mothok lir pathokan, nora kongkih tur ing batin mikir-mikir, anggayuh saya tuna.

9. Amilia wong ngguguru yun luwih , kaluwihan ngelmu kang sampurna, lir Sayid Odrus sajare, pinapajar jinuju, purwa madya wusana ngenting, mangulah rejaseng tyas, ingkang tyas wus kasub, jumbuh pamusthining nala. Lelejeming kakekat makripat tunggil, tarekat lan sarengat.

10. Sipat-sipateng badan sakalir, dayaning tyas mokal kang nyata, saka saksi-saksi kabeh, kiniyas (1) tanpa catur, yen jinereng ngebeki bumi, asal-usule gumelar, melar malar kaglung, gugulanganing pranyata, nyataning dat sajati pinundhi-pundhi, nora kinaya ngapa.

11. Susetyaning tyas ngeningken wadi, sandining sasmita ngelmu rasa, sandining urip praptameng, pathining rasa kaglung, kulunging tyas semu mantesi, sandining puji puja, pujining tumuwuh, tumuwuhing budi tama, tameng sandi janma tumitah neng bumi, sayogya met budyarja.

12. Harjaning wong tumitah kang wegig, mumpuni reh pangulahing gesang, kusung-kusung pamusenge, wiging sasmita kenyut, ngayut tuwuh jodhoning pati, pati titising cipta, tandha saksine trus, nrusi ngengrenganing warah, ngarah-arah anon – tuhoning pangeksi, medeming tyas narawang.

13. Wong wus carem sandining Suksma di, myang sandining rasa myang Mukhammad, datan pinikir nyatane, kang pinikir pinikut, lakuning wong marcapada wig. Wignaning (2) pancadriya, pangambu pangrunggu, paningal myang pangandika, tep-tinetep tetepe pada nguwati, jumenenging sirullah.

14. Angen-angen kang munah murbani, kuwaseng reh masesa sabadan, kuwat saka pusarane, napas talining idhup, prasasat Hyang kang murbrng jisim, ngratoni sajagad rat, cangkremeng siswantuk, pati munah kawuleng Hyang, mung upama mangkono ywa den antepi, dhinaku aran Suksma.

———————-

(1)  Kiniyas = dipun samekaken (sk qiyaas = ukuran).

(2) Wigna ing ngriki ateges kabisan utawi kaluwihan.

15. Allah iku dudu johar manik, dudu nur mukhammad rupa cahya, dudu roh saanterone, tan njaba njero dudu, marma wong kang anjala wening, ninging cipta sarasa, tan pisah angluru, ruruba katur Hyang Suksma, mung weruha kawasanireng rat jisim, ing kasantikanira.

16. Sewu mokal kahananing gaib, kang dumunung badaning manuswa, kang gampang myang pakewuhe, angel sungil wit lembut, memet nyamut pratignyeng pikir, awasna wawasen tyas, pancadriya tyasmu, mobah molah pari polah, mosik meneng anteng lageyaning budi, catur wiwara warta.

17. Ing pangeksi tep-tinetep ugi, ing wicara careming susetya, sedya loro ngucap ijen, pangrungu lan pangambu, bangkit ngaturaken patitis, sampyuhe lir cancala, tumempuh ing laut, keplas loro wujud tunggal, seje jinis mungguh wong Buda njarwani, badan alus lan wadhag.

18. Lirnya alus angen-angen batin, wadhag jisim kang katon satmata, mratandhani kawulane, woring pupu-pinupu, ingaranan kawula Gusti, nanging ywa salah tampa, dudu Hyang Maha Gung, dudu Allahu Tangala, mung jumeneng guru pikiranmu pribadi, marmane keneng edan.

19. Ingkang salah tampa wor ijajil, Gusti Allah neng sajroning badan, marma tumpang suh pikire, napas pikir rinengkuh, sanubari kratoning Gusti, ana mring sipat kodrat, myang rasa tuwin nur, daliling Ngakaid terang, sung pepeling wujuding Hyang Maha Suci, la dihni la karija.

20. Tegese Hyang dudu bangsa ati, dudu njaba kang sipat pratela, wa la joharin tegese, dudu nur mukhammadu, wa la nufus Gusti Allahi, sayekti tanpa napas, nadyan napas dudu, myang au la murtasiman fi kiyali tan kacakra Maha Suci, angen-angening janma.

21. Lowah nglangut tan kaeksi, awit lajamana la makana, nora mangsa nora enggen, pasthi wujudullahu, wa la lidin tur wa la nidin, tan lawan datan timbang, myang la yukayafu, tan kena kinaya ngapa, kang pramana sandining Hyang pikir mletik, sayekti nora kewran.

22. Den alingana sagara geni,  bumi sap pitu langit sap sapta, nora ewuh pambatange, lageyan liding semu, lajeming tyas tan mirang-miring, pambabaring widyastha, wus nora pakewuh, wih kaling-kalingan wrana, rangkep sasra winiyak sapa kaeksi, seje kang ati tuna.

23. Denya tan wruh padhang kang ngalingi, sujanma wruh kalingan ing netra, ngucap kalingan cangkeme, kuping kalingan krungu, gugon tuhon barang tan yukti, mambu kalingan grana, mangkono truwilun, luwih angel sung wawarah, yen wong wuta tinuntun ratuning gampil, yen wong kalingan padhang.

24. Luwih ewuh pakewuh sinung wrin, saka pangakune tetela trang, nggandhuli kakek moyange, atine kang kalimput, angen-angen anarik silib, ngapusi kanyatahan, mila keh wong kleru, angen-angen cinipta Hyang, yen wong pana pramanem rasaning wadi, pikiran jajal lanat.

Pupuh XII
G A M B U H

1. Ywa sira tumbak tambuh, angen-angen jajaling tumuwuh, sapiraha pikir yen maksih basuki, meh pantes dadi Hyang Agung, awit kuwasa satyelok.

2. Nanging yen krasa dudu, nora pisan pantes yen dhinaku, nedya nyebrot miwah ngecu ngampak maling, angen-angen wus lumaku, apa sasedya rumojong.

3. Heh den awas puniku, wong sinau putus ing panggayuh, de yen mukmin kang cingkrang durung patitis, hawa nafsu cukulipun, ati pitu jantunging wong.

4. Pinara pitu dinum, lagehane wawatekanipun, sinalinan tembung basane Arabi, ginambar rupane saru, pating cloreng dubang kecoh.

5. Ting ceno pating trutul, pantes temen sastra Ngarab kluwus, tilas tetes dinilatan mratani, sarwa saru yen dinulu, ukara basane crobo.

6. Kithal kaworan dhusun, yeku derah kangwus pating dhrawul, dhodhal-dhadhil sarta den enggoni tinggi, biniyak bubar lumayu, pinithes ingambung sengog.

7. Lah iku mukmin dhusun, ngathik-athik karya kethuk mbujuk, ngalam pitu kalimah tayibah tinulis, Allah lan Mukhammad den du, sastrane ginawe elok.

8. Akeh caritanipun, jroning derah ingkang gumun-gumun, iya iku kang dadi metengi pikir, nanarik ati anggugu, ngguguru tulisan goroh.

9. Goroh garan pambujuk, nora weruh yen ngelmu kepaung, nuli ingsun neng Singapura kepanggih, lan Seh sarjanambeg ngelmu, derah sun dadi guguyon.

10. Wekasan ngungun njetung, sun nora wruh ngelmu kang satuhu, ngalor ngidul kawruh tan pisah sanyari, marma wong sarjaneng kawruh, sandining bawana ngeglo.

11. Datan wawaton tutur, mung pambudi dalaning panggayuh, ngayuh ayah-ayah yoda mrih maletik, tikswaning tyas tajem kaglung, nggugulang budi krahayon.

12. Wong kang pana ing lembut, yen wus weruh sangkan paranipun, kanthi saksi nyataning kawruh kang sungil, gampang angele kacakup, cakep cukup urip maot.

13. Jajah sagara madu, pathining rasa musthikeng kawruh, nora keguh wruh kawruh kang dakik-dakik, wit wus tininting kapupus, susetya di wruh pakewuh.

14. Pati iku tan ewuh, wong kang wenang wawarah kang wus wuk, bali musthi titise kawruh sajati, ingkang titi titis jumbuh tambuh-tambuh traping maot.

15. Wus sirna wus pakewuh, bangsa pati kang durung wus  kaglung, ginagulang gegelenganing dumadi, dadi kadadeyanipun, wus tan kacakreng pasemon.

16. Tan pralambang tan semu, datan kira-kira tanpa tutur, sangkan paran antara kang den kawruhi, tan njala kang durung-durung, tan mikir kang wus kalakon.

17. Wit sampyuhing pangeyut, pandulu myang pamyarsa pemuwus, panjerenge pangikete kang wus pinardi, adi-adining tumuwuh, barang wujud ingkang katon.

18. Dadi contoning laku, datan pae lan wujud wajibu (1), cucukulan kang gumelar aneng bumi, mratani dadi panggayuh, mamrih saksining krahayon.

19. Yuwana tekad putus, manatasi sukertining ngelmu, jumenenging  caksana murtining gaib, nora kewran ing alembut, myang agal kang wus kabatos.

20. Batine angguguyu, mring sasmita getun ngungun njetung, tungtunging tyas wening mratani sabumi, cakraning buwana kemput, iku manuswa waspaos.

21. Siliring maruta nrus, mratani ing jagad kawengke, bumi langit cucukulan kang kaeksi, tempuhing manday

 

***

NGERTI mono “daya kodrating manungsa”, yaiku : ngerti mar6ga mikir (pamikir), ngreti marga krasa (ngrasak6ake, nggraita).

NGERTI ya bisa marga “daya 6gaibing Gusti” (tun6arbuka).

PELAJARAN SENI BUDAYA KL VII

Tag

CATAGORY SENI BUDAYA KL VII

SENI RUPA

DAFTAR ISI

  1. SENI BUDAYA     1
    1. Pengertian Budaya     1
    2. Pengertian Seni     1
    3. Pengertian Warna     2
    4. Macam-macam Seni Rupa     3
  2. APRESIASI     3
  3. GAMBAR EKSPRESI
    1. Pengertian Gambar Ekspresi     4
    2. Pengertian Menggambar     4
    3. Pengertian Melukis     4
    4. Aliran-Aliran dalam Seni Lukis     4
    5. Pengertian Gambar Bentuk     4
  4. PERSPEKTIF DAN PROYEKSI
    1. Pengertian Perspektif     5
    2. Pengertian Proyeksi     6
      1. Proyeksi System Eropa     6
      2. Proyeksi System Amerika     6
    3. Pengertian Desain     6
    4. Pengertian Illustrasi     7
    5. Pengertian Seni Kriya     8
    6. Pengertian Seni Batik     8
    7. Pengertian Seni Plastic/Patung     9
    8. Pengertian Keramik     9
    9. Pengertian Reklame     10
    10. Pengertian Seni Grafik     11
    11. Pengertian Seni Photography     11
      PAMERAN ATAU PERGELARAN
  • Pengertian Pameran     12

  • Pengertian Pergelaran     12

  1. PERENCANAAN PAMERAN/PERGELARAN
    1. Pengertian Perencanaan     13
    2. Contoh Model Rencana Kegiatan     13
  1. ORGANISASI
    1. Pengertian Organisasi     14
    2. Contoh Model Susunan Kepanitiaan     14
    3. Contoh Model Tugas Panitia     14
  1. ISTILAH-ISTILAH DALAM SENI RUPA     15

SENI BUDAYA

  • Pengertian Budaya : Budaya berasal dari bahasa Sansekerta (Buddayah), dan bentuk jamaknya adalah Budi dan Daya.
  • Budi     :    artinya akal, pikiran, nalar
  • Daya    :    artinya usaha, upaya, Ikhtiar
  • Jadi Kebudayaan adalah segala akal pikiran dalam berupaya atau berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
  1. Pengertian Seni :
    Ki. Hadjar Dewantara     :     Seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dan bersifat indah,                                                             menyenangkan dan dapat menggerakan jiwa manusia,
    Herbert Read               :     Aktivitas menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan,
    Ahdiat Karta Miharja     :     Kegiatan rohani yang merefleksi pada jasmani, dan mempunyai daya yang bisa                                                membangkitkan perasaan/jiwa orang lain.

  1. Cabang-cabang Seni ada 5 yaitu :
    a. Seni Rupa
    b. Seni Suara/Vocal/Musik
    c. SeniTeater/drama
    d. Seni Tari/gerak
    e. Seni Sastra

    Macam-Macam Seni Rupa :
    1. Seni lukis
      Seni Patung
      Seni Reklame
      Seni Kriya
      Seni Dekorasi
      Seni Arsitektur, dll.
      1. Macam-Macam Seni Suara/Musik :
        1. Musik klasik
        1. Musik jazz
        1. Musik pop
        1. Musik bosa
        1. Musik rock
        1. Musik tradisional, dll.
      2. Macam-Macam Seni Tari/Gerak :
        1. Tari klasik
        1. Tari kreasi baru
        1. Tari tradisional
        1. Tari modern, dll.
      3. Macam-Macam Seni Sastra :
        1. Puisi
        1. Cerpen
        1. Prosa
        1. Pantun, dll.
  2. Macam-Macam Seni Teater/Drama :
  • Teater lama
  • Teater komedi
  • Teater baru
  • Sendratasik (seni drama dan musik)
  • Seni Rupa Menurut Fungsinya :
  1. Seni Rupa Murni (Fine Art) :

Seni rupa yang diciptakan tanpa mempertimbangkan kegunaannya atau seni bebas (Free Arat).

Contoh : seni lukis, seni patung, seni grafika dll.

  1. Seni Rupa Terapan/pakai (Applied Art) :

    Seni rupa yang diciptakan dengan mempertimbangkan kegunaannya atau fungsinya.

    Seni terapan (Applied Art) adalah karya yang mempunyai nilai keindahan (estetis) dan juga berguna dalam kehidupan sehari-hari.

  • Macam-macam seni terapan :
  • Seni Batik
  • Seni Mode
  • Seni Kriya
  • Seni Illustrasi
  • Seni Dekorasi
  • Seni Keramik
  • Seni Reklame/Iklan
  • Seni Arsitekstur/bangun

  • Seni Rupa Menurut Ujudnya :
  1. Seni Rupa Dua Demensi (dwi matra) :

    Karya seni rupa yang mempunyai dua ukuran (panjang dan lebar).

    Contoh : lukisan, batik, illustrasi, photo, dll

  2. Seni Rupa Tiga Demensi (tri matra) :

    Karya seni rupa yang mempunyai tiga ukuran (panjang, lebar, tinggi).

    Contoh : patung, kursi, meja, monument, motor, taman, dll

  • Unsur-unsur Seni Rupa :
  • Garis     :    garis lurus (vertikal, horizontal), garis lengkung, garis patah-patah
  • Bidang    :    bidang lingkaran, elips, segi tiga, bujur sangkar, dll.
  • Gelap Terang     :     tebal-tipis karena pengaruh cahaya.
  • Texstur    :    nilai raba dari permukaan (texstur nyata dan texstur semu).
  • Warna    :    memberikan makna simbolis pada karya.

W A R N A

  • Pengertian Warna

  • Warna menurut ilmu Fisika adalah kesan yang di timbulkan oleh cahaya pada mata
  • Warna menurut ilmu bahan adalah berupa pigmen-pigmen

  • Jadi dengan adanya cahaya maka benda-benda di alam semesta ini menjadi berwarna. Benda yang terkena cahaya akan memantulkan pigmen-pigmen warna dan pigmen warna tersebut diterima oleh mata. Tanpa ada cahaya semua benda tak berwarna/gelap/hitam.

  • Secara umum warna terdiri dari 3 macam, yaitu :

1. Warna Primer, 2. Warna Skunder, 3. Warna Tertier

  1. Primer     : adalah warna dasar, warna yang tidak terbuat dari campuran warna lain.
    1. Warna Merah
    2. Warna Kuning
    3. Warna Biru

  2. Skunder    : adalah warna campuran dua warna primer
    1. Merah + Kuning    :    Orange
    2. Kuning + Biru    :    Hijau
    3. Biru + Merah    :    Ungu/Violet

  3. Tertier     : adalah campuran dari warna primer dengan warna skunder
  • Ungu + Merah    :    Coklat
  • Ungu + Biru    :    Ungu kebiruan
  • Hijau + Biru    :    Hijau kebiruan, dll.
  • Makna Simbolis Warna
1. Merah : hidup, riang, berani, dinamis 6. Hijau : segar, damai, harapan
2. Biru : dingin, tenang, jauh 7. Coklat : kukuh, kuat, stabil
3. Kuning : gembira, luhur, agung 8. Hitam : sedih, berkabung, menyerah
4. Orange : riang, panas 9. Putih : suci, sedih, pasif, menyerah
5. Ungu : tenang, rahasia 10. Jambu : ringan, tenteram, romantis

MACAM – MACAM SENI RUPA

  1. Seni Lukis

    Karya seni dua demensi yang bisa mengungkapkan pengalaman atau perasaan si pencipta. Pelukis yang sedang sedih akan tercipta karya yang bersifat susah, sedangkan pelukis yang sedang gembira akan tercipta karya yang riang. Karya tersebut terlihat pada goresan, garis-garis dan pewarnaan.

  2. Seni Illustrasi

    Kata Illustrasi berasal dari Bahasa Inggris (Illustrare) artinya menghias, menerangkan atau menjelaskan dengan gambar. Contoh : gambar illustarsi pada buku Biologi, fisika, inggris, dll.

  3. Seni Reklame

    Reklame berasal dari Bahasa Latin (Re dan Clamo) artinya berteriak berulang-ulang. Tujuannya untuk mempengaruhi, mengajak, menghimbau orang lain. Contoh : iklan, spanduk, poster, dll.

  4. Seni Grafik (mencetak)

    Suatu karya yang dihasilkan melalui cetak-mencetak dari klise. Contoh : sablon, klise photo.

  5. Seni Patung

    Karya seni tiga demensi yang bisa mengungkapkan pengalaman atau perasaan si pencipta.

  6. Seni Bangun (arsitektur)

    Karya seni tiga demensi yang mempunyai nila estetik. Contoh : rumah, monument, jembatan. Dll

  7. Seni Dekorasi

    Karya seni yang bertujuan menghias suatu ruangan agar lebih indah.

    Contoh : Interior (dalam ruang : kamar, ruang pertemuan, panggung, dll)

    Eksterior (luar ruang : taman, kebun)

  8. Seni Ukir (pahat)

    Karya seni terapan dua demensi yang cara pembuatannya dengan cara di ukir. Contoh : kursi ukir

    Ukir gaya Jepara, gaya Bali, Gaya Yogyakrta, gaya Cirebon, gaya Surakarta, dll.

  9. Seni Kerajinan

    Karya seni terapan yang biasanya untuk hiasan dan cenderamata. Contoh : kipas, gelang, cincin.

  10. Seni Mode

    Karya ini merupakan seni tata busana/pakaian.

  11. Seni Fotografi (Potret)

    Fotografi merupakan media yang digunakan untuk mengabadikan suatu moment penting. Dengan media fotografi segala peristiwa dan pengalaman bisa kita pelajari untuk masa depan yang lebih baik lagi.

A P R E S I A S I

  • Pengertian Apresiasi

Apresiasi berasal dari bahasa Inggris (Appreciate) artinya penghargaan. Jadi apresiasi karya seni rupa adalah penghargaan/menghargai karya dengan kriteria-kriteria tertentu.

  1. Kriteria Ber-apresiasi meliputi :
    1. Ide atau Gagasan
    1. Teknik dan Representatif/Daya tampil
    1. Kreativitas
    1. Daya Guna
    1. Gaya/Ciri individu

  2. Tingkat-Tingkat Apresiasi Seni Rupa :
    1. Penikmatan
    1. Penghayatan
    1. Pemahaman
    1. Implikasi/Penerapan
    1. Penilaian
    1. Keamanan

  3. Prinsip-Prinsip Apresiasi Seni Rupa
    1. Komposisi
    1. Harmoni/Keselarasan
    1. Proporsi
    1. Ritme/Irama
    1. Center of Interest/Pusat perhatian
    1. Unity/Kesatuan
    1. Balance/Keseimbangan
    1. Kontras/Ketegasan

GAMBAR EKSPRESI

  1. Pengertian Gambar Ekspresi

Gambar ekspresi adalah gambar yang bisa mengungkapkan pengalaman atau perasaan si pencipta. Pelukis yang sedang sedih akan tercipta karya yang bersifat susah, sedangkan pelukis yang sedang gembira akan tercipta karya yang riang. Karya tersebut terlihat pada garis-garis dan pewarnaan.

  1. Pengertian Menggambar dan Melukis :
    1. Menggambar     :    adalah memindahkan bentuk-bentuk yang kita lihat ke dalam bidang gambar. Bentuknya sama dengan yang kita lihat tanpa memberi rasa pada benda tersebut.
    2. Melukis     :    adalah memindahkan bentuk-bentuk yang kita lihat dengan memberi rasa sesuai dengan perasaan pelukis. Bentuk tidak selalu sama dengan yang kita lihat.
  • Dua Unsur dalam seni lukis
  1. Unsur Phisik : Adalah unsur wujud karya yang bisa kita lihat dengan mata, yaitu :

Garis, bidang, bentuk, warna dan komposisi.

  1. Unsur Psikis : Adalah Unsur kejiwaan yang tersirat di balik unsur Phisik, yaitu :

Daya khayal (imajinasi), ide/gagasan, keindahan (estetis) dan isi pesan/cerita.

  • Aliran/Gaya dalam Seni Lukis
  1. Naturalisme    :    melukis dengan meniru alam dan mengutamakan keindahan
  2. Realisme    :    melukis dengan meniru alam apa adanya
  3. Empresionisme    :    melukis dengan mengutamakan kesan saja
  4. Ekpresionisme    :    melukis dengan goresan cepat dan spontan, tegas dan dinamis.
  5. Abstrak    :    melukis dengan wujud yang tidak menyerupai alam, tetapi

        mengandung makna yang sangat dalam.

GAMBAR BENTUK

  • Pengertian Gambar Bentuk

Menggambar bentuk adalah memindahkan benda-benda yang diamati ke dalam bidang gambar (2 demensi) sesuai dengan apa adanya. Gambar di ciptakan tanpa memberikan rasa/ekspresi/kejiwaan pada gambar tersebut.

  1. Benda dibedakan 2 macam yaitu :
  • Kubistis     :    adalah benda yang berbentuk kotak atau kubus
    • Sifat Kubistis    :    Kaku, laki-laki (maskulin)
    • Contoh    :    Kotak, kubus, meja, almari

  • Silindris    : adalah benda yang berbentuk bulat/elips.
    • Sifat Silindris    :    Luwes, halus, lentur, perempuan (Feminim)
    • Contoh    :    Bola, Ember, gelas, piring, botol

  • Alat Gambar/Melukis    :    Pensil, pena, cat air, cat minyak, tinta gambar, crayon/pastel, pensil warna, kuas, palet dan lainnya.

  • Media Gambar/Melukis    :    kertas, kain kanvas, plastic, papan kayu, standard bidang gambar/meja gambar dan lainnya.

PERSPEKTIF DAN PROYEKSI

  • Pengertian Perspektif

Ilmu perspektif adalah ilmu yang mempelajari tentang menggambar benda-benda yang bervolume , berisi, beruang/berongga (Tiga Demensi) pada bidang gambar. Gambar terlihat seperti benda yang sebenarnya sehingga benda mempunyai kesan besar-kecil, jauh-dekat, dalam-dangkal, terang-gelap, tinggi-pendek dan lainnya.

  1. Jenis Gambar Perspetif
    1. Perspektif Katak    :    menggambar benda dari bawah benda (Horison dibawah benda)
    2. Perspektif Biasa    :    menggambar benda tepat depan mata (Benda tepat di Horison)
    3. Perspektif Burung    :    menggambar benda dari atas beda (Horison diatas benda)

  2. Unsur Perspektif adalah :
    1. Horison    :    Penghabisan pandangan mata (Cakrawala)
    2. Garis batas    :    Penghabisan pandangan dari semua bidang horizontal
    3. Titik Lenyap/Hilang     :    Titik tempat menghilangnya benda-benda yang menjauh dari pandangan mata. Titik lenyap terletak di garis cakrawala.
    4. Titik Mata    :    titik tempat menghilangnya benda-benda yang menjauh dari pandangan mata untuk benda yang tegak lurus dengan bidang (Vertikal).
  3. Bidang mata horizontal    :    bidang horisontalyang melalui ke dua manik mata kita
  4. Bidang mata Vertikal    :    bidang vertikal yang melalui ke dua manik mata kita
    1. Tinggi mata        :    letak tinggi-rendahnya mata ketika melihat benda sehingga menentukan letak garis cakrawala.

  1. Cara Menggambar Perspektif
    1. Satu titik lenyap    :    benda di lihat tepat di depan mata
    2. Dua titik lenyap    :    benda di lihat dari samping/sudut
    3. Tiga titik lenyap    :    seperti dua titik lenyap tetapi di tambah satu titik lenyap di bawah horizon

  2. Gejala Perspektif
    1. Jalan, rel kereta api semakin jauh kelihatan semakin menyempit dan bertemu pada satu titik
    2. Tiang listrik semakin jauh kelihatan semakin pendek
    3. Mulut ember kelihatan berbentuk elips
    4. Air laut semakin jauh kelihatan seolah bertemu dengan langit
    5. Gunung dari kejauhan kelihatan berwarna hijau/biru dan rata, walau sebenarnya berwarna coklat dan tidak rata.

  3. Hukum Perspektif
    1. Gambar benda yang jauh dari mata, makin kecil dan menghilang
    2. Gambar benda yang besar makin jauh, kelihatan makin mengecil
    3. Gambar benda yang tinggi, makin jauh kelihatan makin rendah
    4. Semua garis yang sejajar dengan horizon tetap sejajar dengan horizon
    5. Semua garis yang menuju horizon bertemu pada titik lenyap di horizon
    6. Garis yang tegak lurus/vertical terhadap garis horizon akan tetap tegak lurus/vertical.

  4. Posisi Bidang Menurut Letaknya
    1. Bidang Frontal    :    posisinya tepat di depan mata
    2. Bidang Orthogonal    :    posisinya tegak lurus dengan bidang mata (vertical)
    3. Bidang Horisontal    :    Posisinya mendatar

P R O Y E K S I

  1. Pengertian Proyeksi

    Proyeksi adalah bayangan dari suatu benda yang di bentuk oleh garis tegak lurus. Tujuannya untuk menunjukan bagian-bagian dari suatu benda agar dapat dilihat dari segala pandangan. Gambar yang besar harus menggunakan skala.

Contoh skala 1 : 10, 1 : 100 dan sebagainya.

  1. Unsur-Unsur Gambar Proyeksi
    1. Garis Proyeksi    :    garis yang membentuk gambar proyeksi
    2. Bidang Proyeksi    :    bidang yang digunakan untuk memproyeksikan
    3. Benda Proyeksi    :    benda yang diproyeksikan
    4. Gambar Proyeksi    :    gambar yang terbentuk oleh garis-garis proyeksi

    1. Macam-Macam Garis Proyeksi
    2. Garis tebal    :    garis penampang yang kelihatan
    3. Garis strip-strip    :    garis penampang yang tidak kelihatan
    4. Garis strip titik    :    garis sumbu
    5. Garis Proyeksi    :    garis tipis, garis penunjuk ukuran, garis arsiran

    1. Sistem Proyeksi ada 2 yaitu :
    2. Proyeksi system Eropa (3 arah pandangan)
      1. Proyeksi I    :    dilihat dari atas/tampak atas
      2. Proyeksi II    :    dilihat dari depan/tampak depan
      3. Proyeksi III    :    dilihat dari samping/tampak samping

    3. Proyeksi system Amerika ( 6 arah pandangan)
      1. Proyeksi I    :    dilihat dari atas/tampak atas
      2. Proyeksi II    :    dilihat dari bawah/tampak bawah
      3. Proyeksi III    :    dilihat dari depan/tampak depan
      4. Proyeksi IV    :    dilihat dari belakang/tampak belakang
      5. Proyeksi V    :    dilihat dari samping kanan
      6. Proyeksi VI    :    dilihat dari samping kiri


D E S A I N

  • Pengertian Desain

Kata desain berasal dari bahasa Inggris (Design) artinya rencana/rancangan. Jadi desain adalah suatu gambar rencana/rancangan yang dibuat berupa konsep-konsep awal. Desain ini merupakan pola rancangan suatu bentuk dasar yang akan di buat suatu bentuk yang sesungguhnya.

  • Orang yang membuat desain disebut Desainer.

  1. Unsur-Unsur Gambar Desain
    1. Garis/line
    1. Tekstur
    1. Bidang/shape
    1. Ukuran
    1. Bentuk/volume
    1. Gelap terang
    1. Warna/colour

  2. Prinsip-Prinsip Desain
    1. Unity/kesatuan
    1. Harmoni/keselarasan
    1. Balance/keseimbangan
    1. Rythme/irama
    1. Proporsi/perbandingan
    1. Center of Interest/pusat perhatian

I L L U S T R A S I

  1. Pengertian Gambar Illustrasi

Kata Illustrasi berasal dari Bahasa Inggris (Illustrare) artinya menghias, menerangkan atau menjelaskan dengan gambar. Gambar ini bisa sebagai alat komunikasi pada suatu peristiwa, cerita, artikel, ide, dan lainnya.

Contoh : gambar illustarsi pada buku Biologi, fisika, inggris, dll.

  1. Fungsi Gambar Illustrasi
    1. Dapat menimbulkan daya tarik, sehingga orang lain jadi ingin membaca suatu cerita
    2. Dapat memberi keterangan isi naskah
    3. Dapat memberi gambaran atau perasaan baru terhadap gambar yang dilihatnya
    4. Mampu menterjemahkan suatu objeck
    5. Pengisi bagian ruang kosong pada lembar buku (Illustrasi Hias)
    6. Dapat menyampaikan suatu ide, kritik, saran dalam bentuk gambar.
  2. Syarat Gambar Illustrasi
    1. Garis-garis harus tajam/tegas
    2. Dapat menimbulkan daya tarik/perhatian
    3. Mampu menterjemahkan objeck dengan goresan-goresan
    4. Menonjolkan ciri-ciri khusus dari objeck yang di utamakan
  1. Prinsip Gambar Illustrasi
    1. Bentuk gambar harus jelas
    2. Gambar harus sesuai dengan tema objeck suatu cerita
    3. Harus sesuai dengan konsep (gambar anak-anak, dewasa, orang tua).
    4. Gambar harus jelas dan mempunayai niali estetis
  2. Unsur Gambar Illustrasi
    1. Manusia
    1. Alam benda
    1. Binatang
    1. Tumbuhan
    1. Tumbuhan
    1. Dan lain-lain
  1. Teknik Mengambar Illustrasi
    1. Arsir
    1. Plakat
    1. Dussel
    1. Pointilistis
    1. Blok
    1. Transparant
  1. Jenis – Jenis Illustrasi
    1. Kartun
    1. Komik
    1. Karikatur
    1. Manuskrip
    1. Photo
    1. Vignet

SENI KRIYA

  • Pengertian Seni Kriya

Karya seni terapan yang mengutamakan kegunaan dan keindahan (estetis) yang bisa menarik konsumen. Seni kriya/kerajinan (handy Craff) ini biasanya untuk hiasan dan cenderamata. Karena karya ini termasuk karya yang di perjual belikan dan berguna bagi kehidupan masyarakat sehari-hari baik untuk alat rumah tangga maupun untuk hiasan. Bahkan satu desain kriya ini bisa di produksi dalam jumlah banyak oleh industri dan di pasarkan sebagai barang dagangan.

  • Macam-Macam Kerajinan
  1. Kerajinan Kulit
    1. Dompet
    2. Sepatu, dll

  2. Kerajinan Logam
    1. Teknik Tempa    :    Kapak, pisau, cangkul dll
    2. Teknik Ukir    :    Bolor, Vas bunga, Piring, bros dll
    3. Teknik Patri    :    gelang, kalung, cincin dll
    4. Teknik Cor    :    Patung, teralis, pagar dll

  3. Kerajinan Kayu/Ukir    :    Meja, Kursi, Pigura dll
  4. Kerajinan Anyaman    :    Kipas, Tas, tikar, topi dll
  5. Kerajinan Kain     :    Batik, tenun
  6. Kerajinan Tanah     :    Keramik, gerabah dll

SENI BATIK

  • Pengertian Seni Batik

Seni batik adalah karya seni yang tercipta dari ungkapan rasa haru dan rasa keindahan. Batik berkembang di pulau jawa khususnya Yogyakarta dan surakarta. Mula-mula batik diciptakan dengan di tulis satu persatu kemudian berkembang menjadi batik cap/cetak. Awalnya hanya dipakai sendiri oleh si pembuat, dan sekarang sudah di produksi oleh industri/perusahaan, dan menjadi bahan sandang/pakaian yang dipakai sehari hari oleh masyarakat luas.

  1. Motif-Motif Batik
    1. Sido Mukti
    1. Parang Rusak
    1. Sido Luhur
    1. Parang Gurdo
    1. Parang Kusumo
    1. Kawung dll

  2. Desain/Pola-Pola Batik
    1. Tumbuhan
    1. Alam benda
    1. Binatang
    1. Manusia dll

  3. Teknik Membuat Batik
    1. Trknik tulis
    1. Teknik celup
    1. Teknik cap/cetak
    1. Teknik kerok

  4. Bahan-Bahan Pembuatan Batik
    1. Malam
    1. Pewarna (Nila, Soga, Serenan) dll
    1. Lilin
    1. Kain/mori

  5. Alat-Alat Pembuatanan Batik
    1. Canting
    1. Anglo/kompor
    1. Wajan Kecil
    1. Gawangan/Srandard

SENI PLASTIC/PATUNG

  1. Pengertian Seni Plastic/Patung

Seni Patung termasuk karya 3 Demensi. Karya seni ini termasuk seni murni yang diciptakan untuk mengungkapkan ide-ide dan perasaan dari seniman yang mempunyai nilai estestis yang tinggi.

  1. Bentuk-Bentuk Patung
    1. Torso    :    Patung badan, tanpa kepala, tanpa tangan dan kaki
    2. Boss/Sedada    :    Patung setengah badan (dari kepala sampai dada, tanpa tangan)
    3. Kepala    :    Patung kepala dan leher saja
    4. Free Standing    :    Patung seluruh tubuh dalam posisi berdiri
    5. Zonde    :    Patung seluruh tubuh dalam posisi tidak beridi (duduk, tiarap, bersila dll)

  2. Jenis-Jenis Relief
    1. Relief Tinggi
    1. Relief cekung
    1. Relief Rendah
    1. Relief Tembus

  3. Fungsi Patung
    1. Hiasan Interior
    1. Patung Religius
    1. Hiasan Eksterior
    1. Patung Peringatan/monumen
    1. Patung Souvenir/cederamata/industr
    1. Dan lainnya

  4. Bahan-Bahan Membuat Patung
    1. Kayu
    1. Batu
    1. Besi
    1. Lilin
    1. Tanah
    1. Semen dll

  5. Teknik Membuat Patung
    1. Pahat/Ukir
    1. Cor/cetak
    1. Butsir
    1. Tempa dll

  6. Gaya/Corak Seni Patung
    1. Imanjinatif/patung khayalan
    1. Abstrak/tidak meniru alam
    1. Figuratif/meniru alam
    1. Primitif/tradisional/kedaerahan

K E R A M I K

  1. Pengertian Keramik

Keramik adalah karya seni 3 demensi yang di buat dari bahan tanah liat dan di bakar. Karya ini diciptakan sejak jaman nenek moyang sebagai kebutuhan sehari-hari.

  1. Fungsi Keramik
    1. Alat rumah tangga
    1. Hiasan
    1. Alat upacara adat
    1. Bahan Bangunan dll

  2. Bahan Membuat Keramik : Tanah liat

  1. Teknik Membuat Keramik
    1. Teknik Butsir
    1. Teknik pilin (diputar dengan Subang pelarik)
    1. Teknik Cor
    1. Teknik Cetak

  2. Proses Pembakaran Keramik
    1. Pembakaran rendah (Biscuit)     :    dengan suhu 200 – 900 ˚C
    2. Pembakaran tinggi ( Glassir)     :    dengan suhu 1050 – 1300 ˚C
  3. Pewarnaan Keramik
    1. Pewarnaan dengan pembakaran suhu rendah dengan menggunakan cat tembok, cat air, cat poster dan lainnya
    2. Pewarnaan dengan pembakaran suhu tinggi dengan menggunakan glassir (zat warna kaca)
    3. Pewarnaan dengan Engobe. Engobe adalah cairan kental tanah liat di campur oksidasi warna dan glassir. Keramik yang sudah selesai dibakar lalu di dinginkan selanjutnya di olesi engobe kemudian di bakar lagi. Sehingga keramik setelah selesai dibakar yang ke dua kali, terlihat mengkilap dan licin seperti gelas atau kaca.

R E K L A M E

  1. Pengertian Reklame

Reklame berasal dari Bahasa Latin yaitu Re dan Clamos.

  • Re    :    Pengulangan kembali/berulang-ulang
  • Clamos    :    Seruan, ajakan, himbauan
    • Jadi Reklame adalah berteriak berulang-ulang untuk mengajak/mempengaruhi atau menawarkan suatu dagangan atau barang produksi kepada orang lain.

  1. Tujuan Reklame
    1. Reklame Komersial (Profit Oriented)

      Reklame yang bertujuan untuk ajang promosi produk dan mencari keuntungan dengan menjaring konsumen sebayak-banyaknya.

      Contoh : Iklan barang-barang industri.

    2. Reklame Non Komersial (Non Profit Oriented).

      Reklame yang bertujuan untuk menghimbau, menganjurkan, mempengaruhi masyarakat yang bersifat sosial/iklan layanan masyarakat.

      Contoh : Poster anti narkoba, poster keamanan.

  2. Media Reklame
    1. Visual            :    Cara menikmati dengan indra penglihatan/mata (Poster, spanduk)
    2. Audio        : Cara menikmati dengan indra pendengaran/telinga (iklan di radio)
    3. Audio Visual    : Cara menikmati dengan indra pendengaran dan penglihatan (iklan di TV
  3. Unsur-Unsur Reklame
    1. Tipografi    :    bentuk huruf yang cocok untuk membuat kata-kata/kalimat
    2. Illustrasi    :    gambar yang sesuai dan memperjelas reklame
  4. Syarat Pembuatan Reklame
    1. Estetis    :    reklame yang mengandung nilai-nilai keindahan
    2. Etis    :    reklame yang bresifat sopan dan santun/mengandung norma kebaikan
    3. Persuasif    :    reklame yang menarik perhatian orang banyak
    4. Edukatif    :    reklame yang mengandung pendidikan/ajakan bebuat positif
    5. Harmonis    :    reklame yang mengandung komposisi warna, bidang dan objeck yang selaras.
  5. Bentuk Reklame
    1. Simetris    :    objeck gambar/ tulisan kanan-kiri seimbang
    2. Asimetris    :    objeck gambar/ tulisan kanan-kiri tidak seimbang
  6. Jenis-Jenis Reklame
    1. Iklan
    1. Etalase
    1. Slide
    1. Baliho/Bilboard
    1. Etiket
    1. Logo
    1. Poster
    1. Plakat
    1. Pamflet
    1. Embalase
    1. Brosur
    1. Monogram
    1. Spanduk
    1. Initial
    1. Papan nama
    1. Buklet

SENI GRAFIK

  1. Pengertian Seni Grafik

Seni grafik adalah karya seni dua demensi yang dihasilkan melalui proses cetak-mencetak dari suatu klise. Karya ini bisa seni murni dan bisa seni terapan. Dengan proses mencetak, satu klise bisa di cetak/di produksi lebih dari satu dengan hasil yang sama.

  1. Macam-Macam Seni Grafik
    1. Cetak saring/Sablon
    1. Stensil
    1. Cetak sinar/Photo
    1. Cetak tinggi/Stempel
    1. Cetak datar/Foto Copy
    1. Cetak dalam

  2. Macam-Macam Hasil Seni Grafik
    1. Batik cap
    1. Photo
    1. Badge
    1. Buku
    1. Kaos team
    1. Kain

  3. Bahan Membuat Klise Grafik
    1. Kayu
    1. Plastik
    1. Karet
    1. Tinta
    1. Besi
    1. Cat

SENI PHOTOGRAPHY

  1. Pengertian Seni Photography

Seni Photografi adalah karya seni 2 demensi yang dihasilkan dengan cara mengambil gambar dengan menggunakan alat kamera. Setelah melakukan pemotretan, selanjutnya dilakukan proses cetak dengan menggunakan klise.

  1. Kegagalan-Kegagalan dalam memotret

  1. Karena masalah ketrampilan dalam memotret
  2. Karena kerusakan atau ketidak sempurnaan kamera
  3. Pengaturan jarak yang tidak tepat (tidak focus)
  4. Pengaturan cahaya yang tidak merata
  5. Pengaturan kecepatan yang tidak sempurna
  6. Pengambilan objeck yang tidak tepat

  1. Yang Perlu di Perhatikan dalam Memotret

  1. Focus    :    Pengaturan jarak harus tepat
  2. Sinar    :    Pengaturan cahaya harus merata
  3. Objeck    :    Memilih objeck yang baik
  4. Kaca    :    Tidak menghadap kaca, karena cahaya kamera akan memantul
  5. Matahari    :    Tidak menghadap sinar matahari, karena gambar akan terbakar
  6. Api    :    Cahaya api bisa merusak objeck menjadi kabur.

Jadi untuk menghasilkan gambar yang baik dalam memotret adalah, harus memperhatikan sinar/cahaya yang masuk kedalam kamera. Kalau terlalu banyak maka akan membakar film atau gambar photo terlalu terang. Tetapi apabila cahaya terlalu kurang maka gambar yang diperoleh terlalu gelap. Maka dalam memotret cahaya yang masuk harus merata dan jarak focus harus tepat. Memotret dengan mematui aturan-aturan yang ada dan menggunakan metode yang benar, maka akan dihasilkan gambar photo yang benar-benar bagus.

PAMERAN ATAU PERGELARAN

  1. Pengertian Pameran

Pameran adalah memperkenalkan atau menunjukan hasil karya seni rupa atau hasil produksi kepada masyarakat luas. Pameran merupakan cara untuk melakukan komunikasi antara pencipta karya dan penikmat karya seni rupa.

  • Pameran bersifat Statis/diam : Pameran lukisan, pameran patung, pameran bunga.

  1. Pengertian Pergelaran

Pergelaran/Pementasan adalah memperkenalkan atau menunjukan hasil karya seni musik, tari, teater/drama dan lainnya kepada masyarakat luas. Pergelaran merupakan cara untuk melakukan komunikasi antara pencipta karya dan penikmat karya .

  • Pergelaran bersifat Dinamis/bergerak : Pergelaran musik, pergelaran tari, pergelaran busana.

  1. Manfaat Pameran atau Pergelaran :
    1. Melatih meng-apresiasi karya
    1. Melatih tanggung jawab
    1. Melatih meng-evaluasi karya
    1. Membangkitkan motivasi
    1. Melatih kegiatan bersama
    1. Melatih mandiri

  2. Tujuan Pameran atau Pergelaran
    1. Menawarkan karya kepada masyarakat
    1. Berkomunikasi dengan masyarakat
    1. Memberikan Informasi Kepada msyarakat
    1. Melatih masyarakat untuk ber- apresiasi

  3. Fungsi Pameran atau Pergelaran
    1. Sarana Apresiasi
    1. Sarana Rekreasi
    1. Sarana Edukasi/Pendidikan
    1. Sarana ajang prestasi

  4. Istilah-Istilah dalam Pameran atau Pergelaran
    1. Pameran/Pergelaran
    1. Exhibition
    1. Eksposisi/Pertunjukan
    1. Festival/Perayaan/Pesta
    1. Show
    1. Bazar/Pameran dan menjual karya

  5. Perlengkapan Pameran atau Pergelaran :
    1. Karya Seni
    1. Dekorasi/tata ruang
    1. Meubeler
    1. Sound system
    1. Tempat/Ruang
    1. Buku Katalog
    1. Tempat Display
    1. Buku Tamu dan buku Kesan/Pesan

  6. Perencanaan Pameran atau Pergelaran :
    1. Pembuatan denah ruang
    1. Penataan karya/penampilan
    1. Seleksi karya
    1. Penata Ruang/tempat

  1. Cara-Cara Melakukan Apresiasi adalah :
  1. Mengamati
  1. Menghayati
  1. Memahami
  1. Menanggapi
  1. Menilai
  1. Implementasi/Penerapan

  1. Tempat Pameran atau Pergelaran ada 2 yaitu :
    1. Pergelaran Tertutup    :    Tempat pergelaran di dalam gedung
    2. Pergelaran Terbuka    :    Tempat pergelaran di luar gedung

PERENCANAAN PAMERAN/PERGELARAN

  1. Pengertian Perencanaan

Penrencanaan adalah pedoman yang akan memandu pelaksana kegiatan, agar dapat bekerja secara teratur menurut tahapan-tahapan kegiatan yang telah di tentukan.

  1. Perencanaan yang Baik harus menggambarkan :
    1. Tujuan yang akan di capai
    1. Target waktu yang harus dicapai
    1. Sarana dan Prasarana yang diperlukan
    1. Tahapan-tahapan kegiatan/mekanisme
    1. Pelaku-pelaku kegiatan

  2. Fungsi Perencanaan
    1. Sebagai langkah awal yang akan dilakukan para pelaksana
    2. Sebagai arah yang akan menjadi pedoman para pelaksana
    3. Sebagai kendali agar bisa bekerja secara efektif dan efisien
    4. Sebagai tolok ukur dalam meng-evaluasi hasil kegiatan

  3. Prinsip Perencanaan
    1. Arah    :    Mempunyai tujuan/arah yang akan di capai
    2. Kolektifitas    :    Hasil pendapat/pikiran/masukan dari beberapa orang
    3. Fleksibilitas    :    Bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada
    4. Obyektivitas    :    Sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada
    5. Mandiri    :    Mampu melaksanakan dan bertanggung jawab sendiri dalam organisasi

  4. Rencana Kegiatan
    1. Menentukan Bentuk Kegiatan
      1. Pameran seni lukis
      1. Pergelaran musik
      1. Pameran seni patung
      1. Pergelaran tari

    2. Menentukan Tema Pergelaran
      1. “Dengan pameran seni lukis, kita hindari penggunaan narkoba”
      2. “Dengan pergelaran musik akan meningkatan kreativitas siswa”

    3. Menentukan Rencana Kegiatan
      1. Persiapan kegiatan
      1. Pembahasan rencana kegiatan
      1. Penyusunan rencana kegiatan
      1. Evaluasi
      1. Tindak lanjut rencana kegiatan

  5. Contoh Rencana Kegiatan

RENCANA KEGIATAN PAMERAN SENI LUKIS

TINGKAT SEKOLAH SMP NEGERI 3 BAYAT KLATEN

  1. Maksud dan Tujuan :
    1. Menampilkan karya siswa
    2. Meningkatan apresiasi siswa
    3. Sebagai sarana ajang prestasi

  2. Tema :

    “Dengan pameran seni lukis dan patung, kita hindari penggunaan narkoba”

  1. Bentuk Kegiatan :
    1. Pameran seni lukis
    2. Pameran seni patung

  1. Waktu dan Tempat :
    1. Tanggal : Sabtu, 16 Agustus 2008
    2. Waktu : Pukul 08.00 – 12.00 WIB
    3. Tempat : Aula SMP Negeri 3 Bayat


  1. Tahapan Kegiatan :
    1. Persiapan : Mulai 2 Agustus 2008
    2. Pelaksanaan : Sabtu, 16 Agustus 2008
    3. Evaluasi : Selasa, 19 Agustus 2008

  1. Sarana Pendukung :
    1. Gedung
    2. Mebelair
    3. Sound System
    4. Armada/angkutan

  1. Pelaksana
    1. Panitia (Siswa SMP Negeri 3 Bayat)
    2. Relawan (Alumni SMP Negeri 3 Bayat)

ORGANISASI

  1. Pengertian Organisasi ada 2 yaitu :

  1. Merupakan suatu wadah kerja sama untuk melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan rencana dan tujuan yang sama
  2. Merupakan suatu proses kerja sama antara dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan yang telah di tentukan terlebih dahulu.

  1. Unsur-Unsur Organisasi
    1. Mempunyai tujuan tertentu
    2. Wadah untuk bekerja sama
    3. Merupakan proses kerja sama dua orang atau lebih
    4. Masing-masing anggota mempunyai tugas dan kedudukan

  2. Manfaat Organisasi
    1. Melatih Kerja sama
    1. Melatih menghormati pendapat orang lain
    1. Melatih ber-musyawarah
    1. Melatih bertanggung jawab dan mandiri

  3. Susunan Kepanitiaan

  1. Penaggung Jawab
  2. Ketua
  3. Wakil Ketua
  4. Sekretaris I
  5. Sekretaris II
  6. Bendahara I
  7. Bendahara II
  8. Seksi-Seksi :
  9. Seksi Usaha/Dana
  10. Seksi Humas
  11. Seksi Publikasi
  12. Seksi Perlengkapan
  13. Seksi Dokumentasi
  14. Seksi Dekorasi
  15. Seksi Operasional
  16. Seksi Keamanan
  17. Seksi Konsumsi
  18. Seksi PPPK

  1. Tugas Panitia

  1. Penanggung Jawab    :    Bertanggung jawab atas semua kegiatan
  2. Ketua I    :    Meng-koordinasi-kan semua panitiya atas semua pelaksanaan kegiatan
  3. Ketua II    :    Membantu ketua I atas pelaksanaan kegiatan
  4. Sekretaris I    :    Melaksanakan kegiatan bidang administrasi
  5. Sekretaris II    :    Membantu sekretaris I atas terlaksananya kegiatan administrasi
  6. Bendahara I    :    Mengurus bidang keuangan
  7. Bendahara II    :    Membantu terlaksananya bidang keuangan
  8. Seksi Usaha/Dana    :    Bertugas mencari dana/sponsor
  9. Seksi Humas    :    Melakukan hubungan dengan pihak luar/masyarakat yang berkaitan
  10. Seksi Publikasi    :    Membuat pengumuman/berita
  11. Seksi Perlengkapan    :    Menyiapkan tempat dan alat-alat yang diperlukan
  12. Seksi Dokumentasi    :    Membuat dokumen dan membuat arsip
  13. Seksi Dekorasi    :    Mengatur dan menghias tempat
  14. Seksi Operasional    :    Menjaga, mengatur dan memandu tamu/pengunjung
  15. Seksi Keamanan    :    Menjaga keamanan dan ketertiban atas kegiatan
  16. Seksi Konsumsi    :    Mengadakan dan mengatur konsumsi (makan dan minum)
  17. Seksi PPPK    :    Menjaga kesehatan panitiya dan mengatasi kecelakaan panitiya/tamu.


ISTILAH-ISTILAH DALAM SENI RUPA

  1. Apresiasi    :    Kesadaran untuk menghargai nilai-nilai seni dan budaya
  2. Artisitik    :    Berniali seni, mempuyai nilai keindahan
  3. Maestro    :    Sebutan orang yang ahli dalam bidang seni
  4. Nirmana    :    Desain, rancangan, konsep
  5. Desainer    :    Orang yang ahli dalam membuat gambar desain
  6. Illustrator    :    Orang yang ahli membuat gambar illustrasi
  7. Arsitek    :    Orang yang ahli membuat desain rancang bangun/bangunan
  8. Arsitektur    :    Bangunan
  9. Kartunis    :    Orang yang ahli membuat gambar kartun
  10. Pelukis/Painter    :    Orang yang ahli membuat lukisan/melukis
  11. Kritikus    :    Orang yang ahli menilai baik/buruk terhadap karya seni
  12. Filosof    :    Orang yang alhli filsafat/ahli pikir
  13. Sketsel    :    Tempat memajang karya seni dua demensi
  14. Sketsa    :    Lukisan cepat, sederhana dan hanya garis-garis, gambar rencana
  15. Publikasi    :    Pengumunan
  16. Display    :    Menata/menyusun benda-benda yang akan di pamerkan
  17. Dokumentasi    :    Penngumpulan dan penyimpanan data sebagai arsip
  18. Multimedia    :    Berbagai jenis alat
  19. Tembikar    :    Barang kerajinan terbuat dari tanah yang dibakar
  20. Demensi    :    Ukuran (panjang, lebar, tinggi)
  21. Distorsi    :    Penyimpangan dari bentuk alami
  22. Stilasi/Stilir    :    Merubah dari bentuk alamiah menjadi bentuk baru
  23. Ekspresi    :    Pengungkapan perasaan atau gagasan
  24. Mood    :    Puncak kepuasan dalam berkarya seni
  25. Epos    :    Cerita kapahlawanan
  26. Fundamental    :    Bersifat dasar
  27. Ikonografi    :    Ilmu tentang seni membuat arca
  28. Simultan    :    Terjadi atau berlaku dalam waktu yang bersamaan
  29. Textur    :    Nilai raba suatu permukaan
  30. Transparant    :    Bening, tembus, kelihatan, terbuka
  31. Eksperimen    :    Percobaan yang bersistem dan berencana
  32. Komposisi    :    Susunan, penataan, tata letak
  33. Subang Pelarik    :    Meja putar untuk membuat seni keramik
  34. Konteksvisual    :    Situasi yang berhubungan dengan penglihatan
    1. Tonil    :    Gambar background (latar belakang) dalam pertunjukan kethoparak, wayang orang, drama dan sebagainya
  35. Seni Klasik    :    Karaya seni yang mengalami keemasan pada masa tertentu
  36. Pola/Pattern    :    Motif, corak, Ragam bentuk
  37. Form    :    Ujud
  38. Palet    :    Alat/tempat untuk mencampur warna
  39. Mistar    :    Penggaris
  40. Figura    :    Bingkai lukisan/photo
  41. Humanistis    :    Bersifat kemanusiaan
  42. Balance    :    Keseimbangan
  43. Kontras    :    Berlawanan
  44. Kontur    :    Garis pembatas
  45. Bidang    :    Area/wilayah dua demensi yang dibatasi oleh garis
  46. Imanjinasi    :    Khayalan, Rekaan, daya angan-angan
  47. Gradasi    :    Perubahan, perpindahan
  48. Monoton    :    Berulang-ulang
  49. Advertensi    :    Iklan, promosi, pemberitahuan barang produksi

PASRAH PENGANTEN PUTRA

Atur pasrah penganten putra

Nugroho soho sih wilasaning gusti, mugi tansah kajiwo, kasariro dumateng kito sedoyo, waradin sagung dumadi.

 Nuwun sagunging poro tamu kakung sumawono putri, wredo mudo ingkang hanggung marsudi luhuring kautaman. Langkung-langkung poro sarjono sujaning budi, miwah poro alim ulama, kyai ingkang siyang ratri, tansah sumanding kitab suci, sarono kiblating panembah soho panuntuning budi luhur.

 Saderengipun kulo matur, langkung rumiyin kulo nuwun gunging pangaksami jalaran kulo kumowantun munggel pangandikan, nyahak kamardikan dumateng panjenengan sami. Jalaran awrating jejibahan kulo minongko talanging atur saking pepunden kulo bopo ………………. sekalian garwo.

 Wigatosipun kinen nyowanaken putro calon pinangantin kakung ingkang sesilih bagus ………………….

 Saderengipun kulo hanjangkepi atur, salam taklim saking panjenenganipun bopo soho ibu ……………… mugi katur dumateng panjenenganipun bopo soho ……..(beksan).

 Soho lampah kulo anganti putro calon pinanganten kakung dalasan pangombyong, wiwit saking tlatah ………. dumugi papan meniko lulus raharjo tanpo pambeng satunggal punopo.

 
 

Kajawi saking meniko, minangkani pamundutipun pamangku gati, mbokbilih ing titi wanci wekdal puniko, kulo sampun kasembadan nyowanaken putro calon pinanganten kakung pun bagus …………………… ingkang bade anjatu krami atmojo putri saking panjenenganipun bopo soho ibu ……………..(beksan) ingkang sesilih rara ayu ………..

 
 

Mugi-mugi berkah pangestunipun poro sepuh miwah rahmating gusti ingkang moho agung, andayanano dumateng putro kekalih anggenipun sami bangun bebrayan. Satemah anyipto kaluargo ingkang sakinah, mawadah, waromah. Jumbuh kang ginayuh, sembodo kang sinedyo, dadi kang kaesti.

 Sagunging poro pepunden, mbok bilih hamung meniko ingkang saged kulo aturaken, wulayan saking pepunden kulo bopo soho ibu ……………. lumantar kawulo. Mestikemawon gonyak ganyuk kurang anuju prono, jalaran kiranging sesrepan, cubluking pangertosan. Nglengggono kulo hamung titah sawantah, tasih kasinungan kalepatan.

 
 

Awit saking puniko, kunjuk dumateng poro sesepuh, keparengo kulo nuwun lumunturing sih pangeksomo.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.