KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH urgensi

Istimewa

URGENSI PENGUASAAN KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKANDI SATUAN PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHLUAN

A. LATAR BELAKANG

Kepala sekolah adalah tokoh sentral dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Berhasil atau tidaknya sebuah lembaga pendidikan khususnya pada satuan pendidikan akan sangat dipengaruhi oleh kompetensi yang dimiliki kepala sekolah tersebut,
PeraturanMenteriPendidikanNasionalNomor13Tahun2007tentangStandar Kepala sekolah/madrasahmenegaskan bahwa seorang kepala sekolah/madrasah harusmemilikilimadimensikompetensiminimalyaitu: kompetensikepribadian,manajerial,kewirausahaan, supervisi,dansosial.Kepalasekolah/madrasahadalahguruyangdiberitugastambahansebagaikepalasekolah/madrasah sehinggaiapunharusmemilikikompetensiyangdisyaratkan memilikikompetensiguruyaitu:kompetensipaedagogik, kepribadian,sosial,danprofesional.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka menjadi sangat penting bagi kepala sekolah menguasai Kompetensi Kepala Sekolah Dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan di Satuan Pendidikan.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana Pengertian Kompetensi Kepala Sekolah
2. Bagaimana Pengertian Urgensi Kompetensi Kepala Sekolah

C. TUJUAN PEMBAHASAN

1. Memahami Pengertian Kompetensi Kepala Sekolah
2. Mengetahui Pengertian Urgensi Kompetensi Kepala Sekolah

BAB II
PEMBAHASAN

 

A. KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH
Kompetensi memainkan peran kunci dalam mempengaruhi keberhasilan kerja, terutama dalam pekerjaan – pekerjaan yang menuntut sungguh-sungguh inisiatif dan inovasi. Kompetensi dipahami berkaitan dengan pentingnya hasrat untuk menguasai orang lain, dan secara lebih luas berkaitan dengan menciptakan peristiwa dan bukan sekedar menanti secara pasif, hasrat ini disebut motif kompetensi. Dalam diri orang dewasa motif kompetensi ini sangat mungkin muncul sebagai suatu keinginan untuk menguasai pekerjaan dan jenjang profesional.
Pengertian sederhana yang mendasar dari kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan (Syah,2000:229). Kemampuan atau kecakapan yang dimaksudkan dalam kompetensi itu menunjuk kepada satu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik kemampuan atau kecakapan kualitatif maupun kuantitatif.
Ranupandoyo dan Husnan (1995:155) mengidentikan kemampuan dengan ketrampilan kerja yang berbentuk dari pendidikan dan latihan serta pengalaman kerja. Keith Davis (dalam Anwar, 2000:67) membedakan kemampuan dengan ketrampilan.
Kompetensi merupakan perpaduan dari penguasaan pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak pada sebuah tugas/pekerjaan. Kompetensi juga merujuk pada kecakapan seseorang dalam menjalankan tugas dan tanggung-jawab yang diamanatkan kepadanya dengan hasil baik dan piawai/mumpuni (Margono,2003).
Dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 045/U/2002 disebutkan bahwa kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka yang dimaksud dengan kompetensi kepala sekolah adalah seperangkat kemampuan yang harus ada dalam diri kepala sekolah, agar dapat mewujudkan penampilan unjuk kerja sebagai kepala sekolah .
Adapun Kompetensi Kepala Sekolah adalah sebagai berikut :

1. Kompetensi Kepribadian
Definisi yang paling sering digunakan dari kepribadian dikemukakan oleh Gordon Allport hampir 60 tahun yang lalu. Ia mengatakan bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis pada masing-masing sistem psikofisik yang menentukan penyesuaian unik terhadap lingkungannya .
Dalam menjalankan tugas menejerial kepala sekolah dituntut memiliki kompetensi kepribadian, kompetensi ini menuntut kepala sekolah memiliki (1) integritas kepribadian yang kuat, yang dalam hal ini ditandai dengan konsisten dalam berfikir, berkomitmen, tegas, disiplin dalam menjalankan tugas, (2) memiliki keinginan yang kuat dalam mengembangkan diri sebagai kepala sekolah, dalam hal ini meliputi memiliki rasa keingintahuan yang tinggi terhadap kebijakan, teori, praktik baru, mampu secara mandiri mengembangkan diri sebagai upaya pemenuhan rasa ingin tahu (3) bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas, meliputi berkecenderungan selalu ingin menginformasikan secara transparan dan proporsional kepada orang lain mengenai rencana, proses pelaksanaan dan efektifitas program. (4) mampu mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan (5) memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin.
Berdasarkan definisi-definisi diatas dalam yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah integritas pribadi yang kuat, berkeinginan mengembangkan diri, terbuka dan minat dalam menjalankan jabatan sebagai kepala sekolah.

2. Kompetensi Manajerial
Manajemen atau pengelolaan dapat berarti macam-macam tergantung kepada siapa yang membicarakannya. Istilah manajemen sendiri berasal dari “manage” yang padanan dalam bahasa Indoensia adalah kelola. Pengertian umum dari manajemen adalah proses mencapai hasil dengan mendayagunakan sumber daya yang tersedia secara produktif (Depdiknas,2007:126).
Dalam kontek manajerial sekolah maka seorang kepala sekolah dituntut untuk dapat menjalankan kompetensi sebagai berikut : (1) menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan. perencanaan (2) mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai kebutuhan (3) memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayaagunaan sumber daya sekolah/ madrasah secara optimal, (4) mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajaran yang efektif (5) menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran anak didik (6) mengelola guru dan staff dalam rangka pendayagunaan sumberdaya manusia secara optimal (7) mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optima (8) mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan, ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah (9) mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik barn dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik. (10) mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai arah dan tujuan pendidikan nasional (11) mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien (12) mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/madrasah (13) mengelola unit layanan khusus sekolah/madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah (14) mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan (15) memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah (16) melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya.
Manajer adalah seorang yang berusaha untuk mencapai maksud-maksud yang dapat dihitung, dan administrator sebagai orang yang berikhtiar untuk maksud-maksud yang tidak dapat dihitung tanpa mengindahkan akibat akibat akhir dari pencapaiannya (Oteng Sutrisno, 1985:15).
Berdasar uraian diatas maka dalam yang dimaksud dengan kompetensi manajerial adalah kemampuan kepala sekolah dalam mengorganisasi dan mengembangkan sumber saya sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, efisien.

3. Kompetensi Kewirausahaan
Istilah kewirausahaan atau sering disebut wiraswasta, merupakan terjemahan dari istilah entrepreneurship. Istilah tersebut pertama kali dikemukakan oleh Ricard Cantillon, orang Irlandia yang berdiam di Perancis, dalam bukunya yang berjudul Essai Bar la Nature du Commercen,tahun 1755 (Depdiknas 2004). Dilihat dari segi etimologis, wiraswasta, merupakan suatu istilah yang berasal dari kata-kata “wira” dan “swasta”. Wira berarti berani, utama, atau perkasa. Swasta merupakan paduan dari kata “swa” dan “sta”. Swa artinya sendiri, sedangkan sta berarti berdiri. Dengan demikian maknanya menjadi berdiri menurut kekuatan sendiri. Jadi yang dimaksud dengan wiraswasta adalah mewujudkan aspirasi kehidupan mandiri dengan landasan keyakinan dan watak yang luhur.
Dari beberapa definisi diatas maka kompetensi kewirausahaan dalam adalah kemampuan kepala sekolah dalam mewujudkan aspirasi kehidupan mandiri yang dicirikan dengan kepribadian kuat, bermental wirausaha. Sedangkan jika ingin sukses dalam mengembangkan program kewirausahaan di sekolah, maka kepala sekolah, tenaga kependidikan baik guru maupun non guru dan peserta didik harus bisa secara bersama memahami dan mengembangkan sikap kewirausahaan sesuai dengan tugas masing-masing.

4. Kompetensi Supervisi
Sekolah melaksanakan tanggung jawab paling produktif jika terdapat konsensus tentang tujuan sekolah dan semua pihak bersama-sama berusaha mencapainya. Posisi kepala sekolah dalam hal ini adalah bertanggung jawab untuk menyelenggarakan sekolah secara produktif. Persoalannya adalah bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut kepala sekolah tidak mungkin melaksanakan seluruh kegiatan sendiri, oleh karena itu ada pendelegasian kepada guru maupun staff, untuk memastikan bahwa pendelegasian tugas itu dilaksanakan secara tepat waktu dengan cara yang tepat atau tidak maka diperlukanlah supervisi yaitu menyelia pekerjaan orang lain (Depdikbud, 2007:227).
Bentuk supervisi yang paling efektif terjadi jika staff,peserta didik, dan orang tua memandang kepala sekolah sebagai orang yang tahu persis tentang hal-¬hal yang terjadi disekolahnya. Dalam kontek ini, dengan melakukan supervisi maka akan dilakukan tindakan kunjungan kelas, berbicara dngan guru, peserta didik, dan orang tua, mengikuti perkembangan masyarakat sekolah, orang-orang dan peristiwa yang terjadi dalam rangka memenuhi tanggungjawab ini (Peter F.Olivia,1992).
Kompetensi supervisi ini setidaknya mencakup (1) merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru (2) melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan tehnik supervisi yang tepat (3) menindaklanjuti hasil supervisi akademis terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru (Depdiknas, 2007:228).
Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka yang dimaksud dengan kompetensi supervisi adalah pengetahuan dan kemampuan kepala sekolah dalam merencanakan, melaksanakan dan menindaklanjuti supervisi dalam upaya meningkatkan kualitas sekolah

5. Kompetensi Sosial
Pada hakekatnya manusia adalah makluk individu sekaligus sosial, dari sejak lahir hingga meninggal manusia perlu dibantu atau kerjasama dengan manusia lain, segala kebahagiaan yang dirasakan manusia pada dasarnya adalah berkat bantuan dan kerjasama dengan manusia lain, manusia sadar bahwa dirinya harus merasa terpanggil hatinya untuk berbuat baik bagi orang lain dan masyarakat (Retno Sriningsih,1999).
Kompetensi sosial menurut Sumardi (2006) adalah kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, bergaul, bekerjasama, dan memberi kepada orang lain. Sejalan dengan pemikiran ini Komara (2007) mendefinisikan kompetensi sosial sebagai (1) kemampuan seseorang untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesional (2) kemampuan untuk mengenal dan memahami fungsi-fungsi setiap lembaga kemasyarakatan dan (3) kemampuan untuk menjalin kerjasama baik secara individual maupun kelompok.
Berdasarkan batasan-batasan diatas maka yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan seorang kepala sekolah dalam bekerjasama dengan orang lain, peduli sosial dan memiliki kepekaan sosial .

B. URGENSI PENGUASAAN KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH.

Keunggulan dan mutu sebuah sekolah dipengaruhi oleh berbagai variabel, variabel manajerial kepala sekolah memiliki posisi yang sangat penting, kualitas kepemimpinan kepala sekolah akan mempengaruhi efektifitas sekolah, dengan manajemen yang tepat sekolah akan mampu menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif, yaitu lingkungan belajar yang memotivasi para anggota sekolah untuk mengembangkan potensi, kreatifitas, dan inovasi. Hanya kepala sekolah yang memiliki kompetensi tinggi yang akan memiliki kinerja yang memberi tauladan, menginspirasi dan memberdayakan, kondisi ini akan mendorong perubahan yang bermasyarakat, relevan, efektif biaya serta diterima oleh staf, murid dan masyarakat (Agus Darma, 2007 : 6).
Untuk memenuhi standar kompetensi seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 Tentang standar kepala sekolah maka sangatlah penting bagi kepala sekolah atau calon kepala sekolah menguasai Kompetensi Kepala Sekolah, menguasai bukan hanya dalam artian menghafal urutan-urutan peraturan yang tercantum dalam Peraturan Menteri tersebut namun lebih menitikberatkan implementasi dari lima dimensi kompetensi kepala sekolah.
Kompeteni dapat dipilah menjadi 3 aspek. Ketiga aspek yang dimaksud adalah: (1) Kemampuan, pengetahuan, kecakapan, sikap, sifat, pemahaman, apresiasi dan harapan yang menjadi penciri karakteristik seseorang dalam menjalankan tugas, (2) Penciri karakteristik kompetensi yang digambarkan dalam aspek pertama itu tampil nyata (manifest) dalam tindakan, tingkah laku dan unjuk kerjanya, dan (3) Hasil unjuk kerjanya itu memenuhi suatu kriteria standar kualitas tertentu.
Aspek pertama sebuah kompetensi menunjuk pada kompetensi sebagai gambaran substansi materi ideal yang seharusnya dikuasai atau dipersyaratkan untuk dikuasai oleh seseorang dalam menjalankan pekerjaan tertentu. Substansi materi ideal yang dimaksud meliputi: kemampuan, pengetahuan, kecakapan, sikap, sifat, pemahaman, apresiasi dan harapan-harapan penciri karakter dalam menjalankan tugas. Dengan demikian seseorang dapat dipersiapkan atau belajar untuk menguasai kompetensi tertentu sebelum ia bekerja.
Aspek kedua kompetensi merujuk kepada gambaran unjuk kerja nyata yang tampak dalam kualitas pola pikir, sikap dan tindakan seseorang dalam menjalankan pekerjaan secara mumpuni. Seseorang dapat berhasil menguasai secara teoritik seluruh aspek material kompetensi yang diajarkannya dan dipersyaratkan, namun begitu jika dalam praktek sebagai tindakan nyata saat menjalankan tugas atau pekerjaan tidak sesuai dengan standar kualitas yang dipersyaratkan maka ia tidak dapat dikatakan sebagai orang yang berkompeten, tidak mumpuni atau tidak piawai.
Aspek ketiga merujuk pada kompetensi sebagai hasil ( output dan atau outcome) dari unjuk kerja berpiawaian. Kompetensi seseorang mencirikan tindakan, berlaku serta mahir dalam menjalankan suatu tugas untuk menghasilkan tindakan kerja yang efektif dan efisien. Hasil tindakan yang efektif dan efisien merupakan produk dari kompetensi seseorang dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya. Kefektifan ini utamanya dinilai dari pihak luar dirinya. Sehingga ditinjau dari unjuk hasil kerjanya , pihak lain dapat menilai seseorang apakah dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya apakah berkompeten, efektif dan terkesan profesional atau tidak.

BAB III
PENUTUP

Berdasarkan pemaparan diatas maka sangatlah penting bagi kepala sekolah ataupun calon kepala sekolah menguasai Kompetensi Kepala Sekolah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di satuan pendidikan.
Kompetensi Kepala Sekolah antara lain: kompetensikepribadian,manajerial,kewirausahaan, supervisi,dansosial.

DAFTAR RUJUKAN

Darma, A. 2007. Manajemen Sekolah. Depdiknas: Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Informasi Kebijakan Direktorat Pendidikan Menengah Umum. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan. 2008. Penilaian Kinerja Kepala Sekolah.

Hidayat, Taufik. 2009. Kompetensi Sosial Guru. http/taufik hidayat71.Wordpress.

Kusdiyah, Ike. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta :Penerbit Andi

Mulyasa, H.E. 2008. Implementasi KTSP: Bumi Aksara: Jakarta.

Mulyasa, H.E.2007. Menjadi Kepala Sekolah Profesional: Bandung : Rosda

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 13 Tahun 2007 Tentang Standart Kepala Sekolah/Madrasah.

Olifia F. Peter.1992. Supervision For To Days Scools. Longman, New York.
Sarjilah. Kompetensi Kepala Sekolah. http://lpmpjogja.diknas.go.id ( 26 Januari 2009)
Slamet, Achmad. Manajemen Sumber Daya manusia :UNNES PRESS : Semarang
Sriningsih, Retno. 2000. Landasan Kependidikan ( Pengantar ke arah Ilmu Pendidikan Pancasila ) : Semarang : Ikip Semarang Press.
Wj, Admin. Upaya-Upaya Strategis Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Sekolah Di Era Implementasi KTSP.http/lpmpjogja.diknas.go.id (28 April 2008).
Widyorini, Endang.2008. Kompetensi sosial. Semarang : Dinas Pendidikan Prop.Jateng.

KAPITAYAN JATI

Originally posted on alangalangkumitir:

Karipta dening :
Drs. Chunaidi Soleh Masrum 

DHANDHANGGULA

  1. Amiwiti sekar dhandhang endhisa, angleluri ciptaning Jeng Sunan, kalijaga kang asmane, amurwa kani iku, piwulang kapitayan jati, tedhakan pangriptanya, Bisri Musthofa gung, nama Rowihatul Aqwam, anggennya paring gampil amangertosi, mring Aqidatul Awam.
  2. Slawat salam kunjuk Kangjeng Nabi, janma linuwihing sasama, anggenna nyawijekake, Gusti Allah puniku, raharja katetepna mugi, sakehing pra krabatnya, myang pndherek tuhu, margining agami nyata, sanes margining kang nalisir sami, kanthi pitaya bid’ad.
  3. Sun wiwiti nyebut asma Gusti, kang paring welas asih kawula, kang langgeng kebagusane, mangka memuji ingsun, maring Allah kang sipat Qadim, nora purwa wusana, ingkang langgeng iku, datan gingsir nora owah, mula sira padha mangerteni kaki ing kapitayanira.

KINANTHI

  1. Sigeging pambuka niku, ginantos sekar kinanthi, anggitaning Wali Sunan, Giri ing dhusun Geresik, Jaka Samudra alitnya, Raden Paku sami ugi.
  2. Temen sira padha weruh, sipating Allah kang wajib, cacahing ana dwi dasa, kang wajib den mangertosi, sipat ingkang…

View original 971 more words

SULUK SEH SITI DJENAR

Originally posted on alangalangkumitir:

PUPUH I
DHANDHANGGULA

  1. │Nahen wonten  Wali hambeg luwih │ nguni asal wrejid bangsa sudra │ antuk wenganing Tyas bolong │ tarbukaning Hyang Weruh │ Sunan Benang ingkang murwani │ tatkala mejang tekad │ muruk mirid kawruh │ ring jeng Sunan Kalijaga │ neng madyaning rawa nitih giyota di │ Sitibang antuk jarwa│
  2. │Mila mangke tyasnyarda kelair │ Umahywa tekad kajabariyah │ kadariyah mangsud tyase │ andhaku datullahu │ Budi eling den anggep Gusti │ Pangeraning manungsa │ isnipat rongpuluh │ mawujud kidam lan baka │ mukallapahlil kawadis nyulayani │ gumlarnya barang anyar│
  3. │Kodrat iradat jumenengnya elmi │ kayan samak basar lan kadiran │ muridan ngaliman kehe │ dwidasa cacah kaglung │ rumaket ing bumi lestari │ tegese wujud mutlak │ dadya dzat ranipun│ tan wiwitan tan wekasan│nora sangkan nora paran ngenalyakin │ ing tekad sipattolah│
  4. │Seh Sitibang manganggep Hyang Niddhi │ wujud nora kang katon satmata │ sarupa yayah dheweke │…

View original 12.833 more words

SULUK KUTUB

Originally posted on alangalangkumitir:

PUPUH
G A M B U H 

  1. Wonten malih kojah ingsun, lah ta iki caritaning Wali Kutub, saking Jawi nama Seh Sangsu Tabaris, langkung wanter tekadipun, tur karamate kinaot.
  2. Myang warnanira bagus, dedeg pideksa rada arangkung, alalana mring ngarab pindha rarya lit, ingkang ngumur tigang taun, pan sarwi wuda kimawon.
  3. Ingpraptanira nuju, ari Jumungah pepak kang pra kaum, myang ulama lebe modin lawan ketib, muwah saleh para jamhur, neng majid dilkharam kono.
  4. Lan pandhita gung-agung, miwah mulana amir khaji rum, dereng kondur dennya saking munggah kaji, ing ari Jumungah kumpul, kang rare prapta dumrojog.
  5. Tanpa larapan uluk, ing salame asalam ngalekum, ya tuwan-ku mulana Rum Amir khaji, ngandika sang mulana Rum Amir khaji, lan para Jumngah sadarum, pan samya jawab gumuroh.
  6. Ya ngalaisalamu, eh lare alit linggiha sireku, lajeng lenggah ing ngarsane amir khaji, ngandika sang mulana Rum, eh para sapa woh.
  7. Rare kang darbe sunu, para jumngah sadaya…

View original 1.401 more words

PUSTAKA RADJA MANTRAYOGA

Originally posted on alangalangkumitir:

Kiriman dari
Sdr. Jebalkober
Email : jebalkober@gmail.com 

Saka kitab ilmu-ilmu kasekten gaib 

SANG HARUMDJATI

 Kaecap kaping VI 

SB 

TOKO BUKU “SADU-BUDI” SOLO

 Penerbit “KANGAROO”

ISINE PUSTAKA

1. Soroging kori alam gaib.
2. Kasekten iku bisa tumeka kalawan cara kapriye ?
3. Sakti mandraguna.
4. Kalawan cara kapriye bisane nuwuhake kekuwatan ing ilmu kaluwihan (-Hikmah).
5. Tapa – yoga.
6. Ilmu cipta.
7. Kawigaten kang prelu ing dalem kasutapan.
8. Sirikan-sirikan kang prelu ing dalem kasutapan.
9. Maluyakake sakehing lelara kalawan kekuwatan gaib.
10. Ilmu maluyakake saka kadohan.
11. Ilmu maluyakake dhiri pribadi. 

@@@@@@@@ 

I
SOROGING KORI ALAM GAIB

Lumrahe kita pada ngarani mujijad, tumrap marang samubarang prakara kang kita ora bisa nerangake, utawa ora mangreti sabab sababe.

Dhek nalika lagi miwiti gawe dalan trem antarane secang lan Pingit iya iku terusane dalan saka Magelang menyang Bahrawa ing kono  ditindakake dening wong-wong kang padha…

View original 11.190 more words

KAPITAYAN JATI

Originally posted on alangalangkumitir:

Karipta dening :
Drs. Chunaidi Soleh Masrum 

DHANDHANGGULA

  1. Amiwiti sekar dhandhang endhisa, angleluri ciptaning Jeng Sunan, kalijaga kang asmane, amurwa kani iku, piwulang kapitayan jati, tedhakan pangriptanya, Bisri Musthofa gung, nama Rowihatul Aqwam, anggennya paring gampil amangertosi, mring Aqidatul Awam.
  2. Slawat salam kunjuk Kangjeng Nabi, janma linuwihing sasama, anggenna nyawijekake, Gusti Allah puniku, raharja katetepna mugi, sakehing pra krabatnya, myang pndherek tuhu, margining agami nyata, sanes margining kang nalisir sami, kanthi pitaya bid’ad.
  3. Sun wiwiti nyebut asma Gusti, kang paring welas asih kawula, kang langgeng kebagusane, mangka memuji ingsun, maring Allah kang sipat Qadim, nora purwa wusana, ingkang langgeng iku, datan gingsir nora owah, mula sira padha mangerteni kaki ing kapitayanira.

KINANTHI

  1. Sigeging pambuka niku, ginantos sekar kinanthi, anggitaning Wali Sunan, Giri ing dhusun Geresik, Jaka Samudra alitnya, Raden Paku sami ugi.
  2. Temen sira padha weruh, sipating Allah kang wajib, cacahing ana dwi dasa, kang wajib den mangertosi, sipat ingkang…

View original 971 more words

SULUK SEH SITI DJENAR

Originally posted on alangalangkumitir:

PUPUH I
DHANDHANGGULA

  1. │Nahen wonten  Wali hambeg luwih │ nguni asal wrejid bangsa sudra │ antuk wenganing Tyas bolong │ tarbukaning Hyang Weruh │ Sunan Benang ingkang murwani │ tatkala mejang tekad │ muruk mirid kawruh │ ring jeng Sunan Kalijaga │ neng madyaning rawa nitih giyota di │ Sitibang antuk jarwa│
  2. │Mila mangke tyasnyarda kelair │ Umahywa tekad kajabariyah │ kadariyah mangsud tyase │ andhaku datullahu │ Budi eling den anggep Gusti │ Pangeraning manungsa │ isnipat rongpuluh │ mawujud kidam lan baka │ mukallapahlil kawadis nyulayani │ gumlarnya barang anyar│
  3. │Kodrat iradat jumenengnya elmi │ kayan samak basar lan kadiran │ muridan ngaliman kehe │ dwidasa cacah kaglung │ rumaket ing bumi lestari │ tegese wujud mutlak │ dadya dzat ranipun│ tan wiwitan tan wekasan│nora sangkan nora paran ngenalyakin │ ing tekad sipattolah│
  4. │Seh Sitibang manganggep Hyang Niddhi │ wujud nora kang katon satmata │ sarupa yayah dheweke │…

View original 12.833 more words

SULUK MARTABATING KANUGRAHAN

Originally posted on alangalangkumitir:

PUPUH
S  I  N  O  M 

  1. Martabating kanugrahan, tan lyan ingkang sabar ririh, lawan malih, ingkang su’al, pinten ing kanugrahan ing, makripat mongka nuli, saurana den agupuh, iya amung satunggal, ana ing ananireki, nenggih karsa rahsa misesa priyongga.
  2. Pinten martabat kareman, saurana tri prakawis, para mukmin karem apngal, karem sipat para wali, dene ta para nabi, edat pakaremanipun, lire karem dattollah, sring wanter ing asya nenggih, karem sipat sok wontena gumletheka.
  3. Lire karem apngallullah, sok wontena obah osik, yen sabit paningalira, nenggih kabuka sayekti, ing sipatjalal tuwin, jamal kamal kaharipun, dadine imanira, makbul gumlethek ing ati, dadi antuk sampurna yhakiming gesang.
  4. Pinten martabat ing nyawa, saurana dipun alis, kathah ing nyawa satunggal, pan iya mung roh ilapi, marmane mung sawiji, tegeeesing urip puniku, pan iya mung roh ilapi, marmane mung sawiji, tegesing urip puniku, pan iya mung satunggal, tanana urip kakalih, ingpasthine amung kahanan satunggal.
  5. Lamun sira tinakonan, pundi…

View original 301 more words

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kegiatan monitoring dan supervisi sekolah pasti harus diawali dengan penyusunan program kerja . Dengan adanya program kerja maka kegiatan monitoring dan supervisi dapat terarah dan memiliki sasaran serta target yang jelas.Segala aktifitas monitoring dan supervisi termasuk ruang lingkup , output yang diharapkan serta jadwal monitoring dan supervisi dituangkan dalam program yang disusun . Hal ini sekaligus menjadi dasar acuan dan pertanggungjawaban pengawas dalam bekerja .
Untuk dapat menyusun program monitoring dan supervisi dengan baik , seorang pengawas perlu memiliki pemahaman yang komprehensif mengenal lingkup tugasnya , menguasai prosedur penyusunan program kerja , serta kemampuan berfikir sistematis untuk merancang program dan kegiatan yang akan dilaksanakan sehingga produktif dan memberi kontribusi terhadap peningkatan mutu pendidikan .
Kepala sekolah adalah tenaga kependidikan professional guru yang diberi tugas tambahansebagai kepala sekolah yang menjadi unsur pelaksana supervisi pendidikan yang mencakup supervisi akademik dan supervise managerial .Supervisi akademik terkaid dengan tugas pemyang diampu guru dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran ,sedangkan supervisi managerial terkait dengan tugas pemyang diampu kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya dalam aspek pengelolaan dan administrasi sekolah .
Ragam kegiatan dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pengawas sekolah meliputi :
1. Pelaksanaan analisis kebutuhan
2. Penyusunan program kerja monitoring dan supervisi sekolah
3. Penilaian kinerja kepala sekolah , kinerja guru, dan kinirja tenaga kependidikan lain ( TU, laboran , dan pustakawan )
4. Pemyang diampu guru,dan tenaga kependidikan lain
5. Pemantauan kegiatan sekolah serta sumber daya pendidikan yang meliputi sarana belajar,prasarana pendidikan , biaya,dan lingkungan sekolah .
6. Pengolahan dan analisis data hasil penilaian ,pemantauan ,dan pemyang diampu .
7. Evaluasi proses dan hasil monitoring dan supervisi
8. Penyusunan laporan hasil monitoring dan supervisi
9. Tindak lanjut hasil monitoring dan supervisi untuk monitoring dan supervisi berikutnya.

B. LANDASAN HUKUM
1. Amanat Undang-Undang Dasar Th. 1945, amandemen ke-4 pasal 31 tentang Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 Th.2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (lembaran Negara Th. 2003 nomor 78,tambahan lembaran Negara nomor 4301) ;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
3. Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/ Madrasah
4. Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang standar pengelolaan
5. Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang standar Proses
6. Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 tentang standar sarana dan prasarana
7. Permendiknas Nomor 39 Th. 2009 tentang pemenuhan beban guru dan Pengawas satuan pendidikan
8. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI nomor 162/U/2003 tentang pedoman penugasan guru sebagai kepala sekolah
9. Peraturan Menteri Pendidikan nasional nomor 8 tahun 2005 tentang Organisasi dan tata kerja dan tata Kerja Direktorat jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan

C. TUJUAN
Setelah Kepala Sekolah melaksanakan program Monitoring dan Supervisi diharapkan :
1. Dapat menginventarisasi kekuatan dan kelemanhan yang ada di sekolah yang diampu sesuai ruang lingkup kemonitoring dan supervisi yang telah diprogramkan .
2. Temuan positif dan negative tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk menyusun program monitoring dan supervisi semester ganjil yang lebih baik pada tahun yang akan datang .
3. Kelemahan yang ada di sekolah sebagai bahan pemyang diampu bagi pemangku kepentingan tingkat sekolah , tingkat kabupaten.
4. Temuan tentang kekuatan maupun kelemahan di sekolah merupakan bahan pertimbangan untuk menentukan kebijakan oleh Pemangku kepentingan .

D. RUANG LINGKUP KEMONITORING DAN SUPERVISI
Berdasarkan jangka waktunya atau periode kerjanya, program monitoring dan supervisisekolah terdiri atas: (a) program monitoring dan supervisi tahunan, dan (b) programmonitoring dan supervisi semester. Program monitoring dan supervisi tahunan disusun dengan cakupankegiatan monitoring dan supervisi pada semua sekolah di tingkat kabupaten/kota dalamkurun waktu satu tahun. Program monitoring dan supervisi tahunan disusun denganmelibatkan sejumlah pengawas dalam satu Kabupaten/Kota. Programmonitoring dan supervisi semester merupakan penjabaran program monitoring dan supervisi tahunanpada masing-masing sekolah yang diampu selama satu semester. Programmonitoring dan supervisi semester disusun oleh setiap Kepala Sekolah sesuai kondisi obyektifsekolah yang diampuya masing-masing.
Berangkat dari tugas pokok Kepala Sekolah ,maka ruang lingkup kegiatan dalam program monitoring dan supervisi adalah sebagi berikut :

I. Penilaian kinerja
a. Guru
b. Tenaga kependidikan lain ( administrasi , laboran , perpustakaan )
II. Pemantauan yang diampu
a. Organisasi sekolah dalam menghadapi akreditasi
b. Guru dalam perencanaan , pelaksanaan , penilaian proses pembelajaran
c. Tendik lain dalam melaksanaakn tupoksinya
d. Penerapan berbagai inovasi pendidikan
e. MBS
III. Pemantauan
a. Pengeloaan dan administrasi sekolah
b. Pelaksanaan 8 Standar Nasional Pendidikan
c. Lingkungan sekolah
d. Pelaksanaan UN dan US
e. Pelaksanaan PPD
f. Pelaksanaan ekstra kurikuler
g. Sarana belajar ( alat peraga dan lain-lain )

Materi ruang lingkup kemonitoring dan supervisidi atas dalam pelaksanaannya diimplementasikan menjadi 2 (dua) tahap yaitu pada kegiatan kemonitoring dan supervisi semester 1 dan kegiatan monitoring dan supervisisemester 2 .
BAB II
PROGRAM KERJA
A. IDENTIFIKASI MASALAH
Untuk menyusun program kemonitoring dan supervisi semester , seorang Kepala Sekolah harus sudah memiliki data mengenai masalah-masalah yang ditemukan di sekolah yang diampu atau masalah-masalah yang dihadapi sekolah dan belum terpecahkan yang disampaikan kepada pengawas sekolah pada tahun sebelumnya .
B. PROGRAM MONITORING DAN SUPERVISI SEMESTER
1. Visi
TEKADKU PERPRESTASI, TERAMPIL DAN VERAKHLAK MULIA
2. Misi
2.1. MENINGKATKAN PELAYANAN BELAJAR SECARA EFEKTIF
2.2. MENCIPTAKAN LINGKUNGAN BELAJAR YANG NYAMAN, BERSIH DAN INDAH
2.3. MELAKSANAKAN PEMBINAAN DAN LATIHAN BIDANG OLAHRAGA
2.4. MEMBEKALI PESERTA DIDIK DENGAN KETRAMPILAN PRAKTIS AGAR MEREKA SIAP HIDUP DI LINGKUNGAN MASYARAKAT
2.5. MEMBENTUK PESERTA DIDIK PERPERILAKU TERTIB, JUJUR, SANTUN, DISIPLIN DAN BERTANGGUNG JAWAB PADA DIRI SENDIRI MAUPUN LINGKUNGANNYA.

3. Identifikasi Masalah ( yang akan dicari solusinya oleh Pengawas sekolah melalui kegiatan monitoring dan supervisi )
Catatan : Berdasarkan pengalaman empiric, masalah yang dihadapi sekolah standar nasional maupun sekolah potensial ( yang belum memenuhi 8 SNP ) tidak jauh berbeda masalah yang dihadapi .Untuk itu program kemonitoring dan supervisi dibuat sama .
Penilaian Kinerja
1) Penilaian kinerja guru
• Dalam waktu 1 (satu) semester seorang pengawas tidak bisa menilai kinerja guru sebanyak 100% dari jumlah guru yang ada dalam satu sekolah tersebut .Hal ini disebabkan karena waktu kunjungan 1 bulan 1 kali yang dilakukan oleh seorang pengawas .
• Penampilan guru dalam PBM pada kegiatan penutup belum memberitahu materi yg akan diberikan pada pertemuan berikutnya .Hal ini penting dan harus dilakukan guru berkaitan dengan alam takambang pada standar proses .
• Kegiatan inti yang tertulis pada RPP belum memenuhi permendiknas nomor 41 th.2007 tentang standar proses. ( Guru belum seluruhnya memahami tentang eksplorasi ,elaborasi dan konfirmasi )
2) Penilaian kinerja Kepala sekolah
Kepala sekolah belum memiliki kewirausahaan selain koperasi sekolah.
a. Pemyang diampu
1) Guru dalam perencanaan , pelaksanaan , penilaian proses pembelajaran
2) Organisasi sekolah dalam menghadapi akreditasi
3) Kepala sekolah dalam pengelolaan administrasi sekolah
b. Pemantauan
c. PPD
Jumlah pendaftar tidak melampaui daya tampung sekolah .
d. Administrasi kurikulum dan pembelajaran
RPP yang dibuat guru belum maksimal , kekurangan a.l.
Pada pelaksanaan pembelajaran (pendahuluan ,inti dan penutup)
e. Lingkungan sekolah
f. Pelaksanaan Ulangan semester ,UN dan US

4. Diskripsi Kegiatan

NO
KEGIATAN/ TUJUAN
SASARAN
INDIKATOR KEBERHASILAN
METODE KERJA/TEKNIK
WAKTU

1

2

3

PENILAIAN
Penilaian Kinerja :
1) Guru

2) Kepala sekolah

PEMYANG DIAMPU
a. Guru dalam perencanaan ,pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran

b. Organisasi sekolah dalam menghadapi akreditasi

c. Kepala sekolah dalam pengelolaan administrasi sekolah

PEMANTAUAN :
a. PPD

b. Administrasi kurikulum dan pembelajaran

c. Pelaksanaan 8 standar nasional pendidikan

d. Pelaksanaan Ulangan semester

- Untuk mengetahui sejauhmana pengertian guru dan pemahaman guru dalam membuat RPP
- Untuk mengetahui penampilan guru dalam pelaksanaan pembelajaran

- Untuk mengetahui aktivitas guru pada pelaksanaan PBM dalam membuka dan menutup pembelajaran

Mengetahuikeberhasilan melaksanakan TUPOKSI kepala sekolah :
a. Managerial

b. kewirausahaan

c. Supervisi

- Guru dapat mengembangkan silabus
- Guru dapat membuat RPP secara mandiri
- Guru melaksanakan KBM mengacu pada RPP yasng dibuat
- Guru dapat melakukan penilaian dengan berbagai teknik penilaian

Sekolah dapat memenuhi 8 standar nasional pendidikan

Kepala sekolah dapat mewujutkan semua administrasi sekolah dengan lengkap dan benar .

- Mengetahui transparansi PPD
- Mengetahui jumlah pendaftar dan jumlah siswa yang diterima
- Mengetahui jumlah ruang kelas dan rombel yang dimiliki
- Mengetahui keberhasilan pengelolaan administrasi sekolah

Sekolah dapat membuat kelengkapan administrasi kurikulum dan pembelajaran .

- Mengetahui sejauhmana sekolah dapat memenuhi 8 standar Nasional Pendidikan

- Apakah pelaksanaan ulangan semester sesuai dengan permendiknas no 20 th.2007,permendiknas no 22 dan no 23 th.2006

- Guru dapat membuat RPP sesuai permendiknas no. 41 th.2007 tentang standar proses

- Guru dapat melaksanakan dengan baik tentang :
1. Kemampuan membuka pelajaran
2. Sikap guru dalam proses pembelajaran
3. Penguasaan bahan belajar
4. KBM
5. Kemampuan menggunakan media pembelajaran
6. Evaluasi pembelajaran

- Guru dapat melaksanakan kegiatan membuka dan menutup pembel;ajartan dengan baik

a. Aspek managerial :
- Menyusun perencanaan sekolah
- Mengelola program pembelajaran
- Mengelola kesiswaan
- Mengelola sarana dan prasarana
- Mengelola personal sekolah
- Mengelola keuangan sekolah
- Mengelola hubungan sekolah dan masyarakat
- Mengelola administrasi sekolah
- Mengelola sistem informasi sekolah
- Mengevaluasi program sekolah
- . Meminpin sekolah

b. aspek kewirausahaan , :
- Mengembangkan usaha
Sekolah
– Membudayakan Perilaku
Wirausaha

c. aspek supervise :
- Merencanakan program
Supervise
- Melaksanakan program
Supervise
- Menindaklanjuti program supervisi

- Setiap guru memiliki perangkat pembelajaran
- Guru mampu melakukan revisi silabus / RPP tiap tahunnya
- Pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat
- Guru melaksanakan penilaian dengan teknik dan bentuk yang bervariasi

Tersedianya bukti fisik dari masing-masing standar nasional pendidikan .

Tersedianya administrasi sekolah dengan lengkap dan benar.

- Tidak ada pengaduan dari masyarakat dalam PPD
- Dimilikinya data jumlah pendaftar dan data yang diterima
- Dimilikinya data jumlah ruang kelas dan data jumlah rombel

- Dimilikinya kelengkapan administrasi :
1. Administrasi kurukulum dan pembelajaran
2. Administrasi kesiswaan
3. Administrasi pendidik dan tenaga kependidikan
4. Administrasi sarpras pendidikan
5. Administrasi keuangan
6. Administrasi program hubungan sekolah dengan masyarakat

7. Administrasi program BK
8. Administrasi persuratan

- Secara bertahap sekolah dapat memenuhi 8 standar Nasioanl Pendidikan

- Guru mapel membuat kisi-kisi soal
- guru membuat kunci jawaban
- guru membuat norma penilaian

- Observasi/ kunjungan kelas

- Observasi,studi document dan wawancara.

Ceramah,tanya jawab,pemberian contoh dan tugas.

Ceramah , pemberian contoh

Ceramah , pemberian contoh dan diskusi .

- Observasi,studi document dan wawancara.

- Ceramah , diskusi ,Tanya jawab ,dan workshop

- Observasi ,pemyang diampu

- Observasi , studi dokument

Agust 1,
Sept. 3,
Okt1,
Nov.2,3

Okt. 2

- Agustus ,1

Agustus ,2

September 4,oktober 4

- July 2,3

- Oktober minggu 2,4

- Agustus, oktober ,november 3,4

- Desember minggu 1


BAB III
JADWAL KEGIATAN MONITORING DAN SUPERVISI SEMESTER GASAL 2012/2013

NO
KEGIATAN
BULAN DAN MINGGU KE
JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
1 PENILAIAN
1) Kinerja Guru
2) Kinerja Kepala Sekolah
PEMYANG DIAMPU
a. Guru dalam pembuatan perencanaan pembelajaran,pelaksanaan , dan penilaian pembelajaran
b. Organisasi menghadapi akreditasi
c. Kepala sekolah dalam pengelolaan administrasi HARI HARI PERTAMA MASUK SEKOLAH

X

X

X LIBUR BULAN RAMADHAN , SEBELUM & SESUDAH HARI RAYA IDUL FITRI
X

X
X

X

X
X

X

X

X ULANGAN AKHIR SEMESTER

NO
KEGIATAN
BULAN DAN MINGGU KE
JULY AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
1 PEMANTAUAN
a. Pelaksanaan PPD
b. Administrasi kurikulum dan pembelajaran
c. Pelaksanaan 8 standar nasional pendidikan
d. Pelaksanaan ulangan semester HARI HARI PERTAMA MASUK SEKOLAH

X

X

X

LIBUR BULAN RAMADHAN , SEBELUM & SESUDAH HARI RAYA IDUL FITRI
X

X

X

X ULANGAN AKHIR SEMESTER

BAB IV
PENUTUP

Program monitoring dan supervisi sekolah merupakan pedoman bagi Kepala Sekolah dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya .Program monitoring dan supervisi disusun selaras dengan visi,misi dan tujuan pendidikan di sekolah yang diampu .Program yang disusun diarahkan pada layanan professional Kepala sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di sekolah . Untuk mewujutkan hal tersebut,terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan program monitoring dan supervisi sekolah ,antara lain :
1. Kegiatan monitoring dan supervisi sekolah dikembangkan atas dasar hasil monitoring dan supervisi pada tahun sebelumnya.Hal ini menunjukkan bahwa monitoring dan supervisi sekolah harus dilaksanakan dalam berkesinambungan .Dalam hal ini diterapkan prinsip peningkatan mutu berkelanjutan (continous quality improvement ) .Walaupun terjadi pergantian pengawas , pengawas sekolah yang baru harus tetap memperhatikan apa yang telah dilaksanakan serta dicapai oleh pengawas sebelumnya .

2. Kegiatan monitoring dan supervisi sekolah mengacu pada kebijakan pendidikan baik itu kebijakan pendidikan yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) ditingkat pusat maupun dinas pendidikan setempat (Kabupaten/Kota).

3. Program kegiatan monitoring dan supervisi memuat prioritas pemyang diampu dengan target pencapaiannya dalam jangka pendek (semester) , jangka menengah (1 tahun ) , dan jangka panjang (3-4 tahun ) .sasaran prioritas jangka pendek ditetapkan atas dasar persoalan / masalah yang dihadapi oleh setiap sekolah yang diampu .Keragaman persoalan yang dihadapi akan membedakan sasaran prioritas monitoring dan supervisi pada setiap sekolah .

4. Program kerja monitoring dan supervisi selalu diawali dengan penilaian kondisi awal sekolah berkaitan dengan sumber daya pendidikan ,program kerja sekolah ,proses bimbingan /pembelajaran dan hasil belajar / bimbingan siswa .Pada tahap selanjutnya dilakukan penilaian serta pemyang diampu berdasarkan hasil penilaian .Kegiatan monitoring dan supervisi dalam satu periode ( 1 tahun ) diakhiri dengan evaluasi hasil monitoring dan supervisi dan penyusunan laporan yang dapat digunakan sebagai landasan program monitoring dan supervisi .

5. Pelaksanaan program monitoring dan supervisi bersifat fleksibel namun tidak keluar dari ketentuan tentang penilaian ,pemyang diampu, dan pemantauan sekolah .Pengawas sekolah memiliki wewenang dalam menetapkan ,metode kerja,langkah-langkah, dan indicator keberhasilan program monitoring dan supervisi dengan memperhatikan kondisi obyektif sekolah yang bersangkutan .

DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 118/1996 yangdirubah dengan Keputusan Menpan No. 91/2001 tentang JabatanFungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentangStandar Nasional Kependidikan.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 Tahun 2007 tentang standar Proses

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang standar Penilaian

Ir. Adang Suryana,MSi , 2009 ,Penyusunan program Monitoring dan supervisi sekolah, Pusat pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan Tenaga kependidikan Pertanian

Drs. Dedy H. Karwan, MM, 2009 , Penilaian dan laporan Kinerja Kepala Sekolah ,Cianjur: PPPPTK Pertanian

SERAT SASTRA GENDHING

PUPUH I
S I N O M

  1. //Sri Nata Dipeng ngrat Jawa / Jeng Sultan Agung Matawis / kang ngadhaton aneng Karta / ing jaman sakeh pra Mulki / ngrat Jawa Nyakrawati / Sabrang Pasisir syud / Amiril Muminina / Sayidina Panata Gami / kyatireng ngrat wus sineksen saking Ngarab//
  2. //Winenang among dirjeng ngrat / Jeng Sultan Agung Matawis / awit jaksuh tranging tingal / lir surya angkara wening / wikan pranateng gaib / sakarsanira Hyang Agung / agung parosanira / Jawa den ulet lan kadis / mardikeng ngrat mustikaning jagad//
  3. //Narendra moncol sasama / mrojol ing kerep tan wigih / pinarak ngideri jagad / tyasnya maruta jinaring mumpuni agal rempit / kridhaning ngrat wus kawengku / miguna ing aguna / wujud langgeng datan lali / rasa mulya tinrusken rasa panedya//
  4. //Kaluhuring kamulyan / ing Jawa Narendra luwih / linuwih pinrih katrekah / sakeh rinuruh ingkang sih / jumenengnya winarni / Slasa kaping sadasa / mangsane wuku Warigalit / Alip lambing Langkir kang windu Mangkara//
  5. //Taun Dal sangkalanira / marga saking tata aji / lamine kraton Narendra / tigang dasa catur warsi / surutira marengi / Jumwah Legi Sapar tengsu /  tanggal kaping dwi dasa / wuku Wukir lambing Langkir / mangsa juga anuju kang windu Tirta//
  6. //Taun Be sangkalanira / asta nem margining kang wit / Panjenenganireng Nata / kasusra ambara murti / pinandhita trus suci / mot ing kawisesan luhur / rinilan geng mangunah / linulutan gung maharsi / mestu puja sinukmarjeng gung rasika//
  7. //Angglenggahi surya candra / ambeg susanta ber budi / yangyang samodra lukita / adil ber para marta mrik / kasub tinengen bumi / walikal waliyul lahu / dibya gung wikareng ngrat / nguni prasapeng sawuri / mring sangunge pra wayah trahing Mataram//
  8. //Yekti tan ingaken darah / yen tan wignya tembang kawi / kang kawrat sandining sastra / akathah logating tulis / kang dhingin basa kawi / tata trepsileng pamuwus / tumrap ing niti praja / kasusilan trus ing ngelmi / lawan kawi kang tumrap sandining sastra//
  9. //Kayata caraka basa / dasa nama atanapi / babasan amengku rasa / rasa karep marang pamrih / myat tuduh kang mangka wit / kanga ran kawi puniku / basa kang mengku rasa / wi : lepasireng pamusthi / mungging sastra karem lepasing graita//
  10. //Tumrap  sandining puspita / karem lepasing semadi / ngesthi tableh ing pangeran / linang sukma sarira nir / tandya puspita jati / mila sagutrah Mataram / den putus olah raras / sasmita sandining kawi / jakti angger satriya mangolah sastra//
  11. //Den eta ingaran tembang / tembang kang tumameng gendhing / anut wileting wirama / manising swara dineling / kang tumrap yuda nagri / raras manising pamuwus / kandel tipising basa / non tuduh manangka kardi / nora kena ninggal rarasing suwara//
  12. //Dene kang tumrap ing sastra / renggan wiramaning gendhing / kinarya ngimpuni basa/ memanise den reksani / lamun bubrah kang gendhing / sastra ngalih rahsanipun / kang tumrap ing pradangga / swara rinaras ing rakmi / anrus kongas asmara langening akal//
  13. //Kalengkanireng swarendah / serancak pineta ngesthi / kesti wirajeng wirama / tuduh pamudyaning dasih /  sih puji kahananipun / tan lyang kang Murbeng Jagad / kang pinuji swara Aji / nyampleng ingkang gendhing / trus kahanan tunggal//
  14. //Pramila gendhing yen bubrah / gugur sembahe mring Widi / batal wisikaning salat tanpa gawe olah gendhing / den eta kang ngran gendhing / swara saking osik jati / mring Hyang Ingkang Masung sih / sih puji kahananipun / osik mulya wentaring cipta surasa//
  15. //Surasing ngiskining kajat / kajat baka ingkang kadim / pramila mangolah gendhing / sedene merdanggeng gendhing / de ana rebut manis / swara manis wileting rum / nyang nyamlengireng raras / swara nrus pinnresing ngesthi / lamun bunrah tan kamot pamujining dat//
  16. //Marma sagung trah Mataram / kinon wignya tembang kawi / jer wajib ugering gesang / ngawruhi titining ngelmi / kqang tumrap ing praja di / tembang kawi asalipun / tarlen titising sastra / nora nana kang liyan tuduh ing sastra//

PUPUH II
ASMARADANA

  1. //Geng branta mangusweng gendhing / satengah wong parengutan / kang ahli gendhing padudon / lawan wong kang ahli sastra / arebut kaluhuran / iku wong tuna ing ngelmu / tan ada gelem kasoran//
  2. //Sejatinya wong ngagesang / apa ingkang binasan / iku kang kinarya luhur / ……………………………. /  yekti kekandangan kibir / rebut luhuring kagunan / dadi luput sakarone//
  3. //Luhuring sastra lan gendhing / takokna kang pra ngulama / kang terus dalil kadise / kang ngarani luhur gendhingnya / pinet saking kakekat / ing ngakal witing tuwuh / ananing Hyang saking akal//
  4. //Witing osikireng jalmi / gendhing akal ing kang warna / myang swara gangsa  cengklinge / tan kahanan wujudira / muhung kayarseng karna / tumruning swara linuhung / kasampurnaning panunggal//
  5. //Mangreh nrus swareng dumadi / myang nyamlenging wirama / tuduh ing katunggalane / de sastra ingaran andap / reh kawengku ing akal / lan kawayang warganipun / sastra gumelaring jagad//
  6. //Tambuh kang yakin ing ngelmi / dene wong kang ahli sastra / ingaran luhur sastrane / layak yen mangsi lan kretas / pantes ngran luhur ing akal / ing sastra suraosipun / luhur sejatining sastra//
  7. //Padha lair pan wus kari / gamelan tan dadi tandha / kamot ing praja karyane / laying praboting Negara / lumintu prakareng kukum, sanadyanta kanthi akal//
  8. //Dudu akal wosing gendhing / akal lelungiting sastra / ngakali gendhing yektine / babaring sandining sastra / kanyataning aksara / sabab alip ingkang tuduh / mengku gaibul hupiyah//
  9. //Dat mutlak dipun arani / myang latakyun ingaranan / durung kahanan laire / maksih wang wung kewala/ iku jatining sastra / anane saestu tuduh / dupi alip wus kanyatan//
  10. //Katandhan ing roh ilapi / goning alam karajiah / iku wit ana akale / denya wit wruh ing dat mutlak / saking kono kang marga / iku kawruhana sagung / endi ingkang luhur andhap//
  11. //Dat lawan sipat upami / sayekti dhingin datira / dupi wus ana sipate / mula jamah kahanannya / awal lan akhirira / kang sipat tansah kawengku / marang dat sjatinira//
  12. //Rasa pangrasa upami / yekti dhingin rasa nira / pangrasa ing kahanane / kang cipta kalawan ripta / saestu dhingin cipta / cipta kang gendhing mangapus / kang nembah lang kang sinembah//
  13. //Yekti dhing kang pinuji / kahanane ingkang nembah / saking kodrating Hyang Manon / mapan kinarya lantaran / saestuning panembah / wiseseng Dat kang rahayu / amuji mring dhawakira//
  14. //Upamane wong nggarbini / rare aneng jro wetengan / yen during prapteng laire / during kababar akalnya / maksih gaib sadaya / tambuh estri tambuh jalu / tambuh pejah tambuh gesang//

PUPUH III
S A R K A R A

  1. //Sinarkara pangawikan gaib / nora liya mung Allah ingkang Sa / dupi lair sing gaibe / panggawe kang rahayu / rahayune pratameng urip / urip tekeng antaka / tangkeping ngaluhur / kaluhuraning kasidan / tan lyan uwit sarengat pranatan bumi / sastra gumelaring jagad//
  2. //Mungguh hakekat kawruh ingesthi / ngijen-ijen trusing kasampurnan / hakekat wus nunggalake / makripat trusing kalbu / jalma ingkang ngluhuraken gendhing / pangesthining jro tekad / cangkring tuwuh bendhung / tegese bapa lan anak / dhingin anak bapa ginawe ing siwi / mendah yen mangkonoa//
  3. //Sayektine jagad tan dumadi / sabab kadim kadhinginan anyar / kasungsang iku dadine / nadyan kang ngarani luhur / gendhing temah tan dadi bayi / pesthi tetep kewala / nangis ki kayatun / lawan lapal ya bubana / wujud olah amengku dusul ngalamin / tuhu gumelaring jagad//
  4. //Pratandhane wujuding Hyang Widi / tuduh kinen puji kang kinarya / sastra lip endi jatine / kadya gigiring punglu / tanpa cucuk tan ngarsa wuri / tan gatra tan satmata / tan arah gon dunung / nora akir nora awal / datan pestha aprak kadya anrambahi / nging wajib ananira//
  5. //De kakekat asalireng gendhing / wus kanyatan ngelmuning Pamngeran / mungging pangrasa tuduhe / angler raseng kemumu / kang pramana anersandhani / tuhu tunggal pinangka / kajaten satuhu / saworing rasa pangrasa / pilih kawruhanan inganakken yekti / awimbuh kawimbuhan//
  6. //Amemuji tan pegat pinuji / yen tan pegat pinuji / yen ta aja urip aneng dunya / tan mbuh yen luhur gendinge / reh tan ana winuwus / kayun maksih kauban langit / sinangga ing bantala / mijil saking banyu / dadine sawabing bapa / yekti tetep luhur sajatining alip / lawan jatining akal//
  7. //Upamine wong jalu lan estri / jroning resmi nikmati samya / pracihna iku jatinbe / tuhu-tuhuning kawruh / ing pawore anyar lan kadim / ya lawan sipatira / sastra gendhingipun / kang rasa lawan pangrasa / estri priya pawore kapurna ing ning / atetep tinetepan//
  8. //Mula jamah loro\loro tunggil / tunggal rasa raseng kiwisesan / nging lamun dadi tuwuhe / pan wajib priyanipun / dadi akal kapurba alip / lir warna jro paesan / ya upaminipun / kang ngilo jatining sastra / wewayangan gendhing sirnanireng cermin / manjing jatining sastra//
  9. //Lir kemandhang lan swara upami / kang kemandhang gendhing ngibaratnya / sastra upama swarane / angler kemandhang mbarung / wangsul marang swara umanjing / lir mina jro samudra / mina gendingipun / sastra upama hudaya / mina yekti anane saking jaladri / myang kauripanira//
  10. //Pejahing mina saking jaladri / jro sagara pasthi isi mina / tan kena pisah karone / malih ngibaratipun / lir niyaga anabuh gendhing / niyaga pama sastra / gendhing gendhingipun/ barang reh purba niyaga / de niyaga amanut purbaning gendhing / panjang yen winursita//

PUPUH IV
P A N G K U R

  1. //Kawuri pangesthining Hyang / tuduhira sastra kalawan gendhing / sokur yen wus sami rujuk / nadyan aksara Jawa / datan kari saking gendhing asalipun / gendhing wit purbaning kala / kadya kang wus kocap ngarsi//
  2. //Kadya sastra kalih dasa / wit pangestu tuduh kareping pujhi / puji asaling tumuwuh / merit sing akadiyat / ponang : ha na ca ra ka : pituduhipun : dene kang : da ta saw a la / kagentyan ingkang pinuji//
  3. //Wadat jati kang rinasan / ponang : pa dha jay a nya : / angyekteni / kang tuduh lan kang tinuduh / padha santosaniira / wahanane / wachadiyat pambilipun / dene kang ma gab a tha nga / wus kanyatan jatining sir//
  4. //Pratandhane Manikmaya / wus kanyatan kawruh arah sayekti / iku wus airing tuduh / Manikmaya antaya / kumpuling tyas alam arwah pambilipun / iku witing ana akal / akire Hyang Maha Manik//
  5. //Awal Hyang Manikmaya / gaibe tan kena winoring tulis / tan arah gon tanpa dunung / tan pesthi akir awal / manembahing manuksmeng rasa pandulu / tajem lir hudaya retna / trus wening datanpa tepi//
  6. //Iku telenging paningal / suerasane kang sastra kalih desi / lan merit sipat kahananing Dat / ponang akal during ana ananipun / kababaring gendhing akal / Manikmaya wus kang ngelmi//
  7. //Awiyar ripta pangrasa / Sang Nurcahya Nurasa wus kawuri / gumantyaning Sang Hyang Guru / nyata ngran caturbudya / winayeng Dat guru retuning tumuwuh / awale Hyang Manimaya / tumulya Kaneka Resei//
  8. //Sepuh minangka taruna / kang taruna minangka kang nyepuhi / pranyina cleaning kawruh / kahananing wisesa / pinresing Dat wus kanyata Sang Hyang Wisnu / winenang kamot nugraha / mangreh budyarjeng dumadi//
  9. //Dene watak nawasanga / wus kanyatan gumlaring bumi langit / iku kawruhanan agung / endi kang luhur andhap / upamane papan lawan tulisipun / kanyatahaning panembah / kalawan ingkang pinuji//
  10. //Papan moting kawisesan / Manikmaya purbane papan wening / tulise mangsi Hyang Guru / sastra upama papan / gending akal upama mangsi wus dhawuh / yen dhingina mangsinira / ngendi nggone tibeng tulis//
  11.  //Sayekti dhingin kang papan / kang anebut papan saking ing tulis / lan malih upamanipun / dhalang kalawan wayang / dhalang sastra wayang akal jatinipun / yekti dhingin dhalangira / kang murbeng sakehing ringgit//
  12. //Lir patine Resi Bisma / duk pinanah dening Wara Srikandhi / watgatanira tinundhung / mring panah Sang Arjuna / gendhing akal ngibarat Srikandhi kang hru / sastra ngibarat kang capa / Sang Parta  titising lungit//
  13. //Kayana Narendra Kresna / lawan Sang Hyang Batara Wisnumurti / iku ngibarat satuhu / karo-karone tunggal / tunggal rasa cipta urip pan wus campur / Sang Wisnu ngibarat sastra / Sri Kresna upama gendhing//
  14. //Horeg rug kambah barubah / lir Bathara Kalarsa badhog bumi / Sri Kresna datan kadulu / wus niring kamanungsan / kaprabawan wikramanira Hyang Wisnu / nanging datan saben dina / denyambeg wikrama werdi//
  15. //Yekti naggo kala masa / yen manggunga wikrama nora dadi / pasthi brastha tan kawuwus / tan ana ngarcapada / satemahe jagad palastha linebur / dening krodhaning Bathara / tan pedah gumlaring bumi//
  16. //Sang Wisnu nuksmeng Sro Lresna gung dumadi / mayu rahayu tumuwuh / anjaga jejeging ngrat / Prabu Kresna sapangreh nuksmeng ngaluhur / wasesa panciptanira / nyipta trus manuksmeng gaib//

PUPUH V
D U R M A

  1. //Durmaning kang ngluhuraken gendhing lan akal / pangesthinireng tokit / Hyang Wisnu lan Kresna / muhung Wisnu lan Kresna / muhung Wisnu Kewala / Sri Kresna datan kaliling / nadyan lebura / kang jagad tan marduliu//
  2. //Yen meksiya nyipta loro-loronira / yekti guguring ngesthi / temah tundha bema / araning Hyang Wisesa / sungsun-sungsun kalih-kalih / lan malihira / siyang kahanan yekti//
  3. //Wong lumaku wus prapteng gon kang sinedya / ndadak abali maning / temah moro cipta / tau renggeng gupita / tambuh kang yakining ngesthi /sajatinira / ujar den wolak-walik//
  4. //Awit dene asamar kahananing Hyang / remit sungil tan sipi / gaib tan wus kena / lamun kinaya ngapa / elok tan kena pinikir / wenanging tingkah / tan lyan harjeng ngesthi//
  5. //Esthiningtyas samya awas kawisikan / dene wong kang ngarani / luhur sastranira / tangeh lamun nyiptaa / sungsun-sungsun kalih-kalih / nora mangkana / pangesthinireng tokit//
  6. //Ana iku marganira saking ora / ora sing ana yekti / raseng ana ora / mantep Dating Wisesa / iku jatining sastra di / tan lawan-lawan / tan sungsun kalih-kalih//
  7. //Dene ingaran mableni mentahing lampah / iku mokal sayekti / tan mangkono lirnya / reh mesthinira ana / amot suksma glaring bumi / tinrus ing puja / mujarja dhiri wening//
  8. //Kawenangan manuhara aruming ngrat / trusing ngakal kalingling / nglanguting kalengkan / wali lungiting alam / ngenglenging ngalam / nglela anyar kalingling//
  9. //Marma ngelmu mulet patraping sarengat / maharjaning dumadi / dadya trus rumangsa / tinuduh trus utama / tumameng cipta pamuji / lamun meksiha / salah ciptaning ngesti//
  10. //Satemahe Sri Kresna pan during mulya / ingaran Harimurti / sarira Bathara / tan kewran salirira / kasumbaganing pamusthi / reh ngari loka / madyapada kalingling//
  11. //Pan wus dene pra nabi kang musna lena / tuwin kang para Wali / myang para Suhada / pra Iman kang minulya / kang rorijalla inganhi / kamg tuk nugraha / tan seda saben ari//
  12. //Yen sedaa pra Nabi salaminira / tan kocap aneng wuri / nadyan kang triloka / sayekti tan dumadya / dennya umangsah semedi / pan kala-kala / tebir lan aprang sabil//
  13. //Saben dina tan pegat racketing sukma / tan kewran denira mrih / pangesthining cipta / kaya lapal kang kocap / iya kayun pidareni / murading lapal / uriping desa kalih//
  14. //Desa lair desa batin wus kawangwang / sumbaganing musthi / harjaseng sucipta / trusing kayat wisesa / sarambut datan salisir / lan kawruhana / sagung kang rebut piker//
  15. //Eling ingkang samya ngudi nalar / away nganti nemahi / kerojoging tekad / tuduh ugering gesang / sayekti ambebayani / rungsiting gawat / watgateng trang ing urip//
  16. //Lawan aja asring padudon ing karsa / iku siriking ngelmi / yen during kaduga / luwung kendel kewala / nanging misilna tumuli / marang ngulama / myang para sujaneng ngelmi//
  17. //Salah siji jatining gendhing lan sastra / tuwa nome kang pundi / iku takokena / aywa was kaya-kaya / den trus lan saraking Nabi / dipun pracaya / nglakoni gama suci//
  18. //Titi tamat srat Sastrasandipradangga / kawrat esthining galih / puniku klimahnya / alime kang niyaga / wruh gangsa swara lan uning / myang aranira / gumlar sawiji-wiji//

Terjemahan :

PUPUH I
S I N O M

  1. Raja Agung di nusa Jawa, Baginda Sulta Agung Mataram, yang bertahta di Karta, pada zaman jaya dan mulia, menjadi raja besar di nusa Jawa, Negara di seberang lautan tunduk, Sri Sultan sebagai panglima para ulama, Sayid Panata Agama, kewibawaannya telah diakui oleh Negara Arab.
  2. Berwenang membina kesejahteraan Negara, Sri Sultan Agung Mataram, bijaksana dan awas penglihatannya, seperti pada waktu matahari bersinar terang, dapat mengetahui aturan yang gaib, dan segala kehendak Tuhan, benar-benar diperhatikan dan diusahakan, ia mempersatukan paham Jawa dengan hadist, kemerdekaan Negara benar-benar merupakan mustika di dunia.
  3. Baginda yang luar biasa ini, benar-benar pandai dan tak segan-segan, pergi mengelilingi dunia, hatinya seperti angin yang terjaring, sempurna dalam pengetahuan lahir dan batin, kridanya alam semesta telah dikuasai, dan dalam menjalankan apa saja menurut kepandaiannya, ia tidak melupakan Tuhan Yang Maha Baka, sedangkan kamulyaan rasa diteruskan dengan berdoa.
  4. Kenyataannya kemuliaan ini, di nusa Jawa seorang raja yang agung, kebaikannya perlu dicontoh dalam tingkah laku, dan dahulu naik tahta pada hari Selasa Legi tanggal 10 dalam bulan Sura, tahun Dal dan windu Angkara, kebetulan musin wuku Warigalit, dan berlambang Langkir.
  5. Tahunnya Dal diperingati dengan sengkalan, Marga Siking Tata Aji (tahun 1535 tahun saka), lamanya memerintah ada 34 tahun, wafatnya pada, hari Jumat Legi bulan Sapar, tanggal 20, wuku Wukir berlambang Langkar, musimnya bertepatan pada windu Tirta.
  6. Tahunnya Be dengan sengkalan, Asta Nem Marganing kang Wit (arti : dari delapan indera yang menyebabkan pulang ke asalnya/1568 tahun Jawa Islam), maka Sri Sultan berangkat ke rahmatullah, dan maharsi di alam suci, masuk kea lam kekuasaan agung, karena keimanannya yang tinggi, beliu dicintai banyak pendeta, yang memujanya penuh dengan rasa puas.
  7. Bersikap seperti matahari dan bulan, yaitu suka menolong rakyatnya, beliau biasa berkeliling di samodra kata-kata, berwatak adil dan suka memaafkan, termasyur di permukaan bumu, sebagai wakil Allah, berwibawa besar dalam negaranya, dan dahulu pernah bersabda, kepada semua keturunan Mataram.
  8. Benar-benar tidak akan diakui sebagai keturunan Mataram, jikalau tidak mengerti tembang kawi, yang termuat dalam rahasia tulisan, banyak watak dan arti dalam tulisan, yang pertama bahasa Kawi, tetap susila dalam pembicaraan, untuk memeriksa dalam pemerintahan, susila terus dengan ilmu, dan kawi untuk rahasia sastra.
  9. Seperti urutan bahasa, dan sepuluh macam nama, juga peribahasa yang mengandung rasa, rasa yang bertujuan menguntungkan diri, melihat pedoman yang permulaan, yang disebut “ka”, itu bahasa yang mengandung rasa, dan “wi” itu lepasnya pendapat, sedangkan tulisan itu lepasnya perasaan hati.
  10. Untuk rahasia dalam tembang, terbenam lepas dalam semedi, benar-benar patuh kepada Tuhan, tatkala suksma dan jasmani hilang, menjadi seperti bunga sejati, maka semua keluarga Mataram, supaya sempurna berolah rasa, pertanda dalam rahasianya kawi, dipastikan pula setiap satria berolah sastra.
  11. Adapun yang disebut tembang, itu khusus untuk gending, dan turut indahnya irama, manisnya suara terdengar, yang untuk Negara berperang, laras menisnya pembicaraan, tebal tipisnya bahasa, sebagai petunjuk karya, tidak boleh meninggalkan larasnya suara.
  12. Adapun yang untuk sastra, hiasan iramanya gending, untuk menghimpun bahasa, manisnya harus diperhatikan, sebab kalau rusak iramanya (maknanya), yang untuk pemain gamelan, suaranya diselaraskan dalam batin, terus timbullah cinta kasih yang menunjukkan keindahan akal.
  13. Karenanya suara yang indah, seperangkat (gamelan) harus diperhatikan, memperhatikan keindahan irama, sebagai petunjuk diri untuk memuja, kepada Tuhan Yang Maha Asih, asih memuji kepada-Nya, tak lain kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang dipuji suara raja, nikmatnya gending, terus ke keadaan tunggal.
  14. Maka gending itu kalau rusak, berarti gugur bektinya kepada Tuhan, menjadi batal hakekat sholatnya, tak berguna berolah gending, adapun yang disebut gending, yaitu merupakan suara yang timbul dari gerak hati sanubari, gerak mulia dari cipta dan rasa.
  15. Makna yang di dalam kayat, kayat yang bersifat baka dan kadim, maka mengolah gending, olah tembang dan memukul gamelan, ada yang berebut manis, suara manis dan harum, juga dengan nikmatnya laras, suara terus tekun dalam memuji, kalau rusak pasti kandas tujuannya ke Datullah.
  16. Maka semua keturunan Mataram, harus mengerti tembang kawi, karena wajib menjadi pegangan hidup, mengerti tentang kebenaran ilmu, yang terpakai dalam tata Negara, yang berasal dari tembang kawi, tak lain yaitu tepatnya sastra, dan pedoman bagi segenap manusia, tidak ada petunjuk lain kecuali sastra.

PUPUH II
ASMARADANA

  1. Yang cinta terhadap gending, banyak orang yang cemberut, yang ahli berolah gending bertengkar, dengan yang ahli sastra, berebut keunggulan, yaitu suatu kebodohan dalam dunia ilmu, satu dan lainnya tidak ada yang mau mengalah.
  2. Sesungguhnya manusia hidup itu, apa yang dilakukan
    Itulah yang akan memuliakan derajadnya, ……………………..………., selalu berlagak sombong, pamer kemulian dan kepandaian, malah kehilangan dua-duanya.
  3. Unggulnya sastra dang ending, tanyakanlah kepada para ulama, yang paham akan dalih dan hadis, yang mengatakan unggul gendingnya, dipandang dari kenyataan, pada akal mulainya tumbuh, dan adanya Tuhan dari akal.
  4. Dari gerak hati manusia, gending akal yang menceritakan, tentang gamelan berikut bunyi larasnya, kelihatan ujudnya, hanya suaranya terdengan di telinga, keluarnya suara yang luhur, adlah kesempurnaan ksesatuan.
  5. Suara kemanusian yang menembus, kedalam nikmatnya irama, menunjuk kepada keesaan-Nya, adapun sastra disebut rendah, karena ditopang gending, dan tergambar wujudnya, sastra yang terhampar di kenyataan., dikatan rendah, oleh karena dukuasai akal oleh akal, dan diatur warganya, selama ia merata di dunia.
  6. Entah bagi yang meyakini ilmu, bagi orang yang ahli sastra, mengatakan luhur sastranya, pantas kalau tinta dan kertasnya, dapat dikatakan luhur akalnya, tetapi dalam pemaknaan sastra, artinya benar-benar luhur sastranya.
  7. Kelahirannya saja sudah terbelakang, gamelan tidak jadi bukti, yang termuat dalam perabot tata Negara, akan tetapi surat menjadi perabot Negara, berjalan setiap hari, dan menyelesaikan perkara-perkara hokum, walaupun itu menggunakan akal.
  8. Bukan akal yang menjadi sarinya gending, sebab akal sangat berkaitan dengan sastra, dan menipu gending sebenarnya, penjelasan rahasia sastra, kenyataan ujudnya aksara, sebab alif yang menunjuk, mengusai ghaibul huwiyah.
  9. Dinamakan Dat mutlak, dan disebut Latakyun, itu belum ada kenyataan lahi, masih di dalam cakrawala kosong, di situ adanya sastra yang sejati, adanya menunjuk kebenaran, karena alif sudah nyata berrujud.
  10. Terbukti dengan adanya roh ilapi,tempatnya di alam karajiyah, pada saat ini mulai ada akalnya, adanya mengetahui tentang Dat mutlak, dari situlah jalannya, demikianlah untuk menjadi periksa semuanya, mana yang luhur dan mana yang rendah.
  11. Umpama Dat dengan sifat, sebenarnya yang terdahulu Datnya, akan tetapi setelah ada sifatnya, maka sama-sama tingkat keadaannya, pada awal dan akhirnya, sifat itu masih selalu dikuasai atau dihina, oleh Dat yang sebenarnya.
  12. Umpama rasa dengan perasaan, tentu yang terdahulu adalah rasa, dalam keadaan lahir perasaan;ah yang ada, cipta dengan riptanya, betul-betul terdahulu cipta, ciptalah yang mengatur gending, begitu pula yang memuji dengfan yang dipuji.
  13. Pasti dahulu yang dipuji, keadaan yang memuji, ada dari kodratnya Tuhan, memang sebagai syarat, sebenarnya memuji, itu dukuasai oleh Dat yang baka, memuji kepada pribadinya.
  14. Umpanya orang yang sedang mengandung, anak yang masih di dalam kandungan, jikalau belum kita tiba saatnya lahir, belum tumbuh akalnya, dan masih gaib semuanya, entah akan keluar putrid entah putra, dan entah hidup entah mati.

PUPUH III
S A R K A R A

  1. Ditembangkan dengan lagu sarkara tentang pengetahuan gaib, tidak lain hanya Tuhan Yang Maha Esa, setelah lahir dari gaibnya, sebagai Dat mutlak yang mulia, sehingga kemuliaannya itu sampai kepada hidupp, sedangkan hidup sampai kepada matinya, sikapnya yang luhur, adalah luhurnya kasidan (jalan sempurna kea lam kubur), tidak lain mulai dari syariat sebagai peraturab di bumi, dan sastra sebagai terwujudnya dunia.
  2. Adapun hakekat itu adalah pengetahuan yang diimankan, mengintai pada kesempurnaan, hakekat sudah memadukan (mempersatukan), sedangkan makrifat itu adalah yang sudah menembus ke sanubari, orang yang meluhurkan gending, berkeyakinan pada ikhtikadnya, bahwa cangkring menumbuhkan blending (biji cangkring), dalam arti bahwa antara ayah dan anak, lebih dahulu anak dan adanya ayah itu berasal dari anak, begitulah hal yang demikian.
  3. Sebenarnya dunia akan tidak terjadi, sebab kadim didahului yang baru, jadi letaknya terbalik adanya, meskipun yang mengatakan luhur gendingnya, akan tidak menjadi bayi, pasti akan tetap saja, tangisnya kayatun, dan lafalnya Yabuhana, wujud Allah menguasai Robul alamin, berarti sungguh-sungguh jadi adanya dunia.
  4. Sebagai tanda wujudnya Tuhan, petunjuk supaya memuji kepada yang membuat, sastra alif mana yang sejati, seperti tepinya punglu (bumi), tanpa pucuk tidak ada muka belakangnya, tidak berwujud dan tidak terlihat dengan mata, bukan arah dan tempat, bukan awal dan akhir, tetapi dekat merata bersatu, demikian maka wajiblah adanya.
  5. Adapun hakekat itu asalnya gending, sudah nyata ilmunya Tuhan, dan petunjuknya ada di perasaan, seperti rasanya kemumu (lumut laut), sedangkan pramanalah yang membebani, benar-benar tunggal, kenyataan sejati, dan bersatulah rasa dan perasaan, pilih pengetahuan ada yang diadakan juga, yaitu bina-membina.
  6. Memuji dengan tak hentinya dipuji, jikalau tidak hidup di dunia ini, dan jikalau tak mengetahui bahwa luhurnya gending, karena tidak banyak dibicarakan, keinginan berada di bawah langit, dan diatas bumi, keluar dari air, menjadi restunya ayah, jadi tetap luhur alif sejati, dari pada akal sejati.
  7. Umpama pria dan wanita, di dalam bersetubuh rasa nikmatnya sama, di sini sebenarnya, suatu pengetahuan yang sungguh-sungguh, mengenai berkumpulnya yang baru dan yang ladim, juga dengan sifatnya, sastra dengan gendingnya, yang rasa dengan perasaannya, yang pria dan wanita bersatunya diakhiri oleh keheningan, saling tatap menetapkan.
  8. Maka jamak dua-duanya bersatu, satu rasa dalam kekuasaan, akan tetapi kalau jadi tumbuhnya, prianyalah yang wajib, menjadi akal yang dipurba alif, seperti gambar yang terlihat dalam cermin, begitulah umpamanya, yang melihat dalam cermin itu sastra sejati, sedangkan gambar cermin itu sebagai gending dan hilangnya gambar iotu, masuk ke dalam sastra sejati.
  9. Seperti gema dengan suara umpanya, yang berkembang diumpamakan gending, sedangkan sastra diumpamakan suaranya, dan berkumandang bersamaan, kembali pada suara, seperti ikan di dalam laut, ikan umpamanya gending, dan laut sebagai sastranya, adanya ikan dari laut, begitu juga dengan kehidupannya.
  10. Matinya ikan pun dari laut, dan di dalam laut pasti isi ikan, kedua-duanya tidak bias dipisahkan, lagi ibaratnya, ibarat niyaga (penabuh gamelan) manbuh gending, niyaga bagaikan sastra, dang ending sebagai gendingnya, segala sesuatunya gending dikuasai niyaga, dan niyaga menurutkan purbanya gending, akan panjang sekalai jikalau terus diceritakan.@@@

PUPUH IV
P A N G K U R

  1. Sudah berlalu berimannya kepada Tuhan, dengan petunjuk yang diumpamakan sastra dang ending, syukur jikalau semua sudah menyetujui, meskipun huruf Jawa, juga tidak ketinggalan asalnya pun dari gending, gending yang menguasai waktu, seperti telah diuraikan di atas.
  2. Seperti sastra huruf dua puluh, karena restu petunjuk kehendak puji, memuji pada asalnya semua yang tumbuh, diambilkan dari akhadiyat, maka yang : ha na ca ra ka itu petunjuknya, adapun yang : da ta saw a la, diganti oleh yang dipuji.
  3. Wahdat sejati yang dirunding, yang pa da jay a nya sesungguhnya, yang menunjuk dan yang ditunjuk, sama-sama kuatnya, oleh karena itu itu wakhdiat menjadi akhir keadaannya, dan yang : ma gab a tha nga, itu sudah terbukti adanya yang sir sejati.
  4. Sebagai tanda Hyang Manimaya, sudah nyata tahu akan tujuannya, di situ sudah petunjuk yang terakhir, Manikmaya sekiranya, berkumpulnya hati alam arwah, di sinilah mulainya ada akal, akhirnya menjadi Hyang Mahamanik.
  5. Awalnya Hyang Manikmaya, gaibnya tidak boleh dicampur dengan tulisan ini, tidak berarah dan tak bertempat tinggal, tidak pasti awal akhir, menyembah dan menyatu pada rasa penglihatan, maka tahunya tajam seperti lautan jernih, dan terus hening tanpa ada batas.
  6. Itu adalah titik tengah dari penglihatan, maksudnya huruf dua puluh, sama dengan sifat dua puluh, yang menunjukkan keadaannya Dat, akal belum ada keadaannya, lahirnya gending akal, itu setelah Manikmaya sudah berilmu.
  7. Luasnya arti ripta dan perasaan, seperti halnya Sang Nurcahya dan Nurasa selesai, gantinya Sang Hyang Guru, nyata disebut catur baya, dalam kekuasaan Dat Guru sebagai rajanya yang tumbuh (manusia), awalnya Hyang Manikmaya, lalu Hyang Keneka Resi (narada).
  8. Yang tua menjadi muda, dan yang muda bertindak sebagai yang tua, agar jelas pengetahuannya, tentang keadaan yang berkuasa, dari adanya keadaan, maka sudah jelaslah kenyataan Sang Hyang Wisnu, yang berwenang membawakan bahagia, untuk manusia yang berbudi luhur.
  9. Adapun yang dinamakan watak Nawasanga, itu sudah nyata terbentangnya bumi dan angkasa, hal itu ketahuilah semuanya, mana yang luhur dan mana yangrendah, seumpama papan tulis dengan tulisannya, kenyataannya yang memuji, dengan yang dipuji.
  10. Papan tulis sebagai tempat kekuasaan, Manikmaya adalah yang menguasai adanya papan tulis yang wening, adapun tintanya adalah Sang Hyang Guru, sastra umpama papan, dang ending akal adaikan tinta sudah memerintah, kalau lebih dulu tintanya, di mana tempat tinta jatuh di situ akan tertera tulisannya.
  11. Sungguh terdahulu papan tulisnya, yang mengatakan papan tulis itu adanya dari tulisan, dan lagi umpamanya, dalang dengan wayangnya, dalang sebagai sastra wayang sebagai akal sejati, sungguh benar terdahulu dalangnya, yang menguasai dan membina seluruh wayang.
  12. Seerti wafatnya Resi Bisma, pada waktu dipanah oleh Wara Srikandi, anak panaknya Sang Harjuna, gending akal ibarat Wara Srikandi, sastra ibarat busurnya, Sang Harjuna, gending akal ibarat Wara Srikandi, sastra ibarat busurnya, Sang Harjuna merupakan titisan Dat yang berilmu tinggi.
  13. Seperti Batara Kresna, dengan Sang Hyang Wisnumurti, itu ibarat yang sebenarnya, kedua-duanya dalam keadaan tunggal, menyatu cipta dan rasanya dalam kehidupan, Sang Hyang Wisnu ibarat sastra, dan Sri Kresna ibarat gendingnya.
  14. Goncang dan porak-poranda, seperti Batara Kala akan menelan bumi, Sri Kresna tidak tampak, dan telah musnah kemanusiaannya, terpengaruh oleh wikramanya Sang Hyang Wisnu, akan tetapi tidak setiap hari, wikramanya dilakukan.
  15. Hanya pada saat-saat yang perlu, oleh karena jikalau terus menerus wikrama tidak aka nada barang jadi, semuanya lebur, dunia pun tidak ada, sebabnya dunia lebur, karena kridanya Sang Hyang Wisnumurti, tidak berguna adanya bumi.
  16. Sang Hyang Wisnu manitis pada Sri Kresna, supaya mulia segala sesuatu yang terbentang di atas bumi, melindungi segala yang tumbuh, menjaga tegak berdirinya dunia, tiap pendapat dan perintah Prabu Kresna pasti luhur, kekuasaannya untuk mencipta, mencipta terus menitis secara gaib.@@@

PUPUH V
D U R M A

  1. Tekad mereka yang meluhurkan gending dan akal, pendapatnya dalam tauhid, adalah bahwa Hyang Wisnu dan Kresna, hanya Hyang Wisnu yang ada, Sri Kresnatidak terpadu, walaupun dunia menjadi hancur lebur, tidak dihiraukan.
  2. Jikalau masih mencipta kedua-duanya, tentulah gugur buktinya,telah sia-sia belaka, nama Tuhan Yang Maha Kuasa, bersusun dua-dua, dan lagi, menyatu dengan keadaan yang sejati.
  3. Orang berjalan sudah sampai pada tujuannya, mendadak kembali lagi, berarti ciptanya bercabang dua, dalam merangkai karangan, entah mana yang benar-benar diyakini, yang sebenarnya, hal ini merupakan ungkapan yang dibolak-balik.
  4. Karena samar-samarnya keadaan Ilahi, sangat halus dan susah dijamah, dan gaib sudah tak terkirakan, apabila dikira-kira, elok dan tak terpikirkan, kekuasaan untuk bersikap, tidak lain hanya cipta yang suci.
  5. Dalam pikiran yang awas mendapat bisikan, adapun orang yang mengatakan luhur sastranya, susun dua-dua, tidak begitu, caranya menjalankan tauhid.
  6. Adanya itu berasal dari ketiadaan, sedangkan ketiadaan itu disebabkan dari ada, terasa ada atau tidak itu, kebenaran Datnya Yang Maha Kuasa, itulah sastra sejati, tanpa kawan, dan tidak tersusun dua-dua.
  7. Adapun yang dikatakan mengulangi perjalanannya kembali, itu mustahil benar, bukan demikian maksudnya, yang mestinya ada, dalam sukma terbentangnya bumi, maka terus dalam memuji, mengharap kebahagian agar dirinya wening (bersih, suci).
  8. Kemampuannya menyelami indahnya alam, terus di akal tampak, kesepian dalam kemasyuran, sebagai wakil rahasianya alam, itulah gambaran tentang rumitnya ilmu, terpaku dalam alam itu, maka tampaklah yang baru.
  9. Maka ilmu yang disertai dengan menjalani syareat, sejahteranya mahkluk, menjadi terasa terus utama, merasuk dalam cipta dan pujinya, bilamana masih salah cipta dan tekadnya.
  10. Menurut hematnya Sri Kresna belum mulia, disebut harimurti, maksudnya repot dalam segala hal, dari kemurniannya berfikir itu, keadaan ariloka, dan madyaloka telah dipahami semua.
  11. Adapun para Nabi yang sudah wafat, dan para wali, para syuhada, juga para imam yang mulia, yang rohnya inganhi, yang mendapat wahyu, tidak menjalani mati setiap hari.
  12. Adaikata para Nabi itu mati selama-lamanya, tidak dibicarakan kemudiannya, walaupun yang Triloka, pasti tidak ada, sebab perbuatan semedi, para Nabi dan lainnya itu hanya pada waktu tertentu, waktu takbir dan perang sabil.
  13. Setiap hari tidakpisah dengan Hyang Suksma, ia tidak sukar, menjalankan ciptanya, seperti lafal yang ada, Iya Kayu Pidareni, yang maksudnya, hidup di dalam dua desa (dua tempat).
  14. Desa lahir dan desa batin sudah terang, mengejar kebahagian, dari ciptanya yang suci, terus sampailah pada Kayat Yang Maha Kuasa, serambut saja tidak berbeda keadaannya, ketahuilah semua yang sedang berebut pikir.
  15. Ingatlah semua yang sedang mengolah nalar, jangan sampai mengalami, terlanjur tekadnya, menyimpang dari peraturan hidup, benar-benar berbahaya, gawatnya bukan main, tentang arah terangnya hidup.
  16. Dan jangan sering bertengkar dalam pendapat, itu syirik bagi orang berilmu, jikalau tidak cocok, lebih baik diam saja, akan tetapi lalu tanyakan pada ulama, atau para sarjana ilmu.
  17. Salah satu kebenarannya gending dan sastra, mana yang tua dan mana yang muda, tanyakan itu, jangan was-was (bimbang) dan ragu-ragu, supaya terus sampai saraknya Nabi, dengan penuh kepercayaan, menjalankan agama suci.
  18. Tamatlah serat sastra sandi pradangga, masuk di dalam hati, semua kalimahnya itu, alimnya niyaga, setelah ia mengetahui dan mendengar suara gamelan, tentang nama-namanya, jelas satu persatu. @@@

RANGGAWARSITA

JANGKA RANGGAWARSITAN
.I. JAKA LODANG, II. KALATIDA, III. SABDA TAMA,
IV. SABDA JATI, V. KALITIDA PININGIT,
VI. WEDATAMA PININGIT.

Ingkang ngimpun lan nyukani
Centangan
B.K.

Cap-capan IV – 1961

Penerbit
KELUARGA BRATAKESAWA
Yogyakarta
supaya pada emut
amawasa mbenjang jroning taun
windu kuning kono ana wewe putih
gagamane tebu wulung
arsa angrabaseng wedhon

(“Sabda_Tama” pada 15)

PRASABEN

ANGGEN KULA ngimpun lan ngedalaken serat “jangka” punika, boten jalaran kula rumaos mangertos dateng suraosipun, utawi boten sumedya ajak-ajak dateng para maos supados anggilut, langkung-langkung ajak-ajak gegan-geganen tanpa panimbang lan panglimbang, punika babar pisan boten. Tancebing sedya kula namung ngrecangi memetri ingkang nama kasusatran Jawi.

Kawuningana, para linangkung ingkang yasa jangka sakawit punika saged ugi asalipun saking tampi “ilham” ingkang dipun-alami salebetipun ….. sagebyaring kilat. Amila tangeh lamun sageda jelas jlentreh, destun titi mangsanipun kemawon terkadang mlesed.

Ingkang anggegelani manah punika, dene katah kemawon “jangka” susulan, ingkang asal-asalipun namung saking pangotak-atik utawi pangajeng-ajenging manahipun, terkadang angewahi utawi mewahi jangka ingkang sampun wonten, dipun-akeni damelanipun piyambak utawi dipun awadaken damelanipun tiyang sanes.

Bab nyuraos ungeling “jangka’ punika pancen angel. Para sarjana sujana anggenipun nyuraos jangka punika asring kapirid saking pipindaning kawontenan, tuwin kapirid saking tetembunganipun ingkang sinandi.

Ingkang kapirid saking pipindaning kawontenan, kados ta ungel-ungelan “begjane ula dahulu, cangkem silite anyaplok” (Sabda Tama 12) punika gampil pambatanganipun, inggih punika : tiyang ingkang mangro tinga. Sareng ungel-ungelan “ana wewe putih” (Sabda Tama 15), punika punapa, kula trima jembit.

Ingkang kapirid saking tetembunganipun ingkang sinandi, kados ta : kala 10 – 1 – 1955 wonten satunggaling priyagung atitel Mr. nglahiraken pamanggih wonten ing madyaning papanggihan : ngalembana kawicaksananipun Ki Pujangga Ranggawarsita, awit wontenipun ungel-ungelan “beda-beda ardane wong sanagara” (Katatida 2) tuwin ungel-ungelan “tyas riwut rawat dahuru, korup sinerung ing goroh” (Sabda Tama 4), punika dipun tegesi P.I.R. (Wangsanagara lan Hazairin) kala samanten, punapa dene ngrebdanipun tindak korupsi punika. Apa tumon? Kula trimah jembit, jer sanes bangsanipun sarjana sujana.

Titi mangsa ingkang kasebut ing “jangka” pinika nuwun inggih boten sadaya gampil dipun tegesi. Kados ta tumrap ungel-ungelan ing Jaka Lodang : “sirna tata estining wong” (1850), “nir sad estining urip” (1860, “wiku sapta ngesti ratu” (1877), “nembah nukswa pujangga ji” (1802) punika sadaya gampil dipuntegesi, awit punika sengkalan limrah. Ananging ungel-ungelan ing Sabda Tama : “taun windu kuning” punika tegesipun ingkang boten gagap-gagap : kados pundi?

Tumrap serat : “jangka” ingkang nama Kalatida Piningit tuwin Wedatama Piningit, atur kula dateng para maos perlu kula ambali malih : sampun ngantos anggega lan kuwatos, amargi :

Jangka wau sampun kliwat, tetela boten wonten punapa-punapa.
Snajan redi Merapi kala-kala bade kurda, nanging Pamarintah tansah anjagi lan damel ririgen saperlunipun.
Mirsanana centangan kula tumrap “jangka” wau ing kaca 34-35-36.
Ingkang ngimpun.

Karangbolotan, akhir Juni 1957.

@@@

I. JAKA LODANG

B E B U K A

Ronggh jleg tumiba | gagaran santosa | wartane meh teka | sikara karoda | tatage tan katon | barang-barang ngerong | saguh tanpa raga | katali katawar | dadal amekasi | tanda murang tata.

G A M B U H

Jaka Lodang gumandhul | praptaning pang ngethengkrang sru muwus | eling-eling pasti karsaning Hyang Widhi | gunung mendhak jurang mbrenjul | ingungsir praja prang kasor.
Nanging awya kliru | sumurupa kanda kang tinamtu | nadyan mendak mendaking gunung wis pasti | maksih katon tabetipun | beda lawan jurang gesong.
Nadyan bisa mbarenjul | tanpa tawing enggal jugrugipun | kalakone karsaning Hyang wus pinasti | yen ngidak sangkalanipun | sirna tata estining wong.
S I N O M

Sasedyane tanpa dadya | sacipta-cipta tanpolih | kang reraton-raton rantas | mrih luhur asor pinanggih | bebendu gung nekani | kongas ing kanistanipun | wong agung nis gungira | sudireng wirang jrih lalis | ingkang cilik tan tolih ring cilikira.
Wong alim-alim pulasan | njaba putih njero kuning | ngulama mangsah maksiat | madat madon minum main | kaji-kaji ambataning | dulban kethu putih mamprung | wadon nir wadorina | prabaweng salaka rukmi | kabeh-kabeh mung marono tingalira.
Para sudagar ingargya | jroning jaman keneng sarik | marmane saisiningrat | sangsarane saya mencit | nir sad estining urip | iku ta sengkalanipun | pantoging nandang sudra | yen wus tobat tanpa mosik | sru nalangsa narima ngandel ing suksma.
MEGATRUH

Mbok parawan sangga wang duhkiteng kalbu | jaka Lodang nabda malih | nanging ana marmanipun | ing weca kang wus pinesthi | estinen murih kelakon.
Sangkalane maksih nunggal jamanipun | neng sajroning madya akir | wiku Sapta ngesthi Ratu | ngadil parimarmeng dasih | ing kono kersaning Manon.
Tinemune wong ngantuk anemu kethuk | malenuk samargi-margi | marmane bungah kang nemu | marga jroning kethuk isi | kencana sesotya abyor.
CENTANGAN

(1). Bubukanipun serat “Jaka Lodang” punika mesi sandi-sama. Wiwitaning garis mangadep mungel “Ranggawarsita basa Kadaton”, dening pungkasaning garis mangandap mungel “Basa Kadaton Ranggawarsita”.

(2). Limprahipun serat “Jaka Lodang” inggih namung dumugi sekar Megatruh pada angka 3 punika. Nanging serat “Jaka Lodang” wedalan “Maha Dewa” tanpa bubuka, sarta wewah sekar Asmaradana kados ing ngandap punika :

ASMARADANA

Ingkang bisa nemu iki | nora saben sok uwanga | kudu ana pilihane | kang weruh jangkaning jaman | eling kanti waspada | tindak tuwajuh lan jujur | ingkang antuk kamurahan.
Aywa sira banjur wedi | samar nora kapanduman | elinga marang kodrate | Pangeran luwih kuwasa | adil tanpa upama | sapa angestokna dawuh | sayekti antuk nugraha.
Nugrahanira Hyang Widi | tan kena kinira-kira | margane sewu dadalane | Yogja den sebar darana | aywa kasesa-sesa | grusa-grusu narung binuh | ngrusakke tanceping tekad.
WEWAHAN

Wonten serat Jaka Lodang ingkang sanes yasanipun Ki Pujangga R.Ng. Ranggawarsita, isi sekar : (1) Dandanggula, (2) Pangkur, (3) Maskumambang, (4) Kinanthi, (5) Blabak, (6) Pucung, (7) Mijil, (8) Durma, (9) Asmaradana, (1)) Gambuh, (11) Sinom, (12) Megatruh, (13) Pututgelut, sami nigang pada gunggung 39 pada.

Ing wiwitanipun pupuh Gambuh inggih mungel, “Jaka Lodang gumandul, praptaning pang ngetangkrang sru wuwus sami kados Jaka Lodang hiyasan Ranggawarsitan. Nanging inggih namung 2 pada lingsa ing sekar Gambuh punika kemawon ingkang sami kaliyan “Jaka Lodang” Ranggawarsitan. Sanes-sanesipun boten wonten ingkang sami.

Dene isinipun serat wau ringkesipun kados ing ngandap punika :

Ken Limaran ing Dekah Dadapan nyapu, nanging tansah pulih malih larahanipun. Lajeng ngucapaken pasang giri : sinten ingkang saged nulungi damel resik, yen priya dadosa jatu-krama, yen wanita dadosa saderek sinarawedi.

Jleg, wonten wanara nama Jaka Lodang : dateng tanpa sangkan, sage ngleksanani pasang-giri wau. Ken Limaran lajeng dados simahipun Jaka Lodang. Ing wanci dalu, Jaka Lodang meling dateng simahipun, supados enjingipun ngintun dateng sabin, piyambakipun bade anggaru.

Enjingipun, Ken Limaran ngintun sayektos, nanging Jaka Lodang boten woten ing ngriku. Lajeng katungka Raden Putra (Panji Ino Kartapati) kanti punakawan, Ki Jodehsanto, rawuh ing ngriku, nitih kuda. Ken Limaran katantun bade kapundut garwa : purun. Wusana Jaka Lodang jleg dateng.

Raden putra trangginas bade ngayati jemparing, Jaka Lodang lajeng prasaja, yen piyambakipun punika dutaning Dewa, kinen manggihaken Ken Limaran kaliyan Raden Putra. Sampun pinasti jodo, benjing saged nurunaken ratu salebetipun pitung jaman. Jaka Lodang lajeng medaraken “jangka” salebetipun pitung jaman punika.

Pungkasanipun serat punika wau (sekar pututgelut) ungelipun :

Prapteng kono jangkane wus titi | pama gancaring wayang | carangane kang dinapur | neng jroning rat Jawa | tekeng jaman wekasan | trahira tumaruntun.

Punika ngewrat sandi-asmaning pangriptanipun, manggen wonten ing pungkasaning garis, mungel : “Tiyang Purwasantun” (= Purwasari, Surakarta), inggih punika K.R.T. Tandanagara Bupati Nayaka, pangiketipun nalika taksih asma R.T. Suradipura Buoati Anom.

Panjenenganipun rumiyin asmanipun M.Ng. Reksadipraja inggih Ki Jagawigata.

Serat wau nalika kaecap lan kawedalaken dening pangecapan Mardi Mulya ing Ngayogjakarta (± taun 1922) kanamakaken, serat Jaka Lodang. Sareng kawedalaken dening Toko Buku “Sadu Budi” sarta kaecap ing pangecapan “Marseh” Surakarta, (taun 1940) kanamakaken serat “Jangka Ketek Ogleng”.

Pancen lampahing cariyos ing serat punika wau sairib kaliyan lampahing cariyos tontonan kala jaman alitan kula, ingkang nama tontonan Ketek Ogleng. Bedanipun : Ing tontonan Ketek Ogleng, ingkang dipun kintun punika Raden Putra, ingkang ngintun anama Endang Lara Tompe. Wonten ing margi pun Endang dipun begal dening Ketek Ogleng, salajengipun pun ketek kaprajaya dening Raden Putra.

Wasana nyumanggakake.

@@@

II. K A L A – T I D A

S I N O M

Mangkya dalajating praja | kawuryan wus sunya ruri | rurah pangrehing ukara | karana tanpa palupi | atilar silastuti | sujana sarjana kelu | kalulun kalatida | tidhem tandhaning dumadi | ardayeng rat dene karoban rubeda.
Ratune ratu utama | patihe patih linuwih | pra nayaka tyas raharja | panekare becik-becik | parandene tan dadi | paliyasing Kala Bendu | malah sangkin andadra | rubeda kang ngriribedi | beda-beda ardane wong sanagara.
Katatangi tangisira | sira sang parameng kawi | kawilet ing tyas duhkita | kataman ing ren wirangi | dening upaya sandi | sumaruna anarawung | pangimur manuara | met pamrih melik pakolih | temah suka ing karsa kurang wiweka.
Kasok karoban pawarta | bebaratan ujar lamis | pinudya dadya pangarsa | wekasan malah kawuri | yen pinikir sayekti | mundhak apa aneng ngayun | andhedher kaluputan | siniraman banyu lali | lamun tuwuh dadi kekembanging beka.
Ujaring paniti-sastra | awawarah asung peling | ing jaman keneng musibat | wong ambeg jatmika kontit | mengkono yen niteni | pedah apa amituhu | pawarta lalawara | mundhak angreranta ati | angurbaya ngiketa cariteng kuna.
Keni kinarya darsana | panglimbang ala lan becik | sayekti akeh kewala | lelakon kang dadi tamsil | masalahing ngaurip | wahananira tinemu | temahan anarima | mupus pepesthening takdir | puluh-Puluh anglakoni kaelokan.
Amenangi jaman edan | ewuh aja ing pambudi | milu edan nora tahan | yen tan milu anglakoni | boya kaduman melik | kaliren wekasanipun | ndilalah karsa Allah | begja-begjane kang lali |
luwih begja kang eling lawan waspada.
Semono iku bebasan | padu-padune kepengin | enggih mekoten Man Doblang | bener ingkang angarani | nanging sajroning batin | sajatine nyamut-nyamut | wis tuwa arep apa |
muhung mahas ing asepi | supaya ntuk pangaksamaning Hyang Suksma.
Beda lan kang wus santosa | kinarilan ing Hyang Widhi | satiba malanganeya | tan susah ngupaya kasil | saking mangunah prapti | Allahu paring pitulung | marga samaning titah | rupa sabarang pakolih | parandene maksih taberi ikhtiyar.
Sakadare linakonan | mung tumindak mara ati | angger tan dadi prakara | karana riwayat muni | ikhtiyar iku yekti | pamilihing reh rahayu | sinambi budi daya | kanthi awas lawan eling | kanti kaesthi antuka parmaning Suksma.
Ya Allah ya Rasulullah | kang sipat murah lan asih | mugi-mugi aparinga | pitulung kang anartani | ing alam awal akhir | dumunung ing gesang ulun | mangkya sampun awredha | ing wekasan kadi pundi | mula mugi wontena pitulung tuwan.
Sageda sabar santosa | mati sajroning ngaurip | kalis ing reh aruraha | murka angkara sumingkir | tarlen meleng malat sih |
sanityaseng tyas memasuh | badharing sapu dhendha | antuk mayar sawetawis | borong angga sawarga mesi martaya.
CENTANGAN :

(1) Sasumerep kula serat-serat “Kalatida” cap-capan, ing pada 1 garis 1 punika sami kaserat “Mangkya dreajating praja”, namung “Kalatida” wedalan Pustaka Nasional Surabaya kaliyan serat punika ingkang kaserat “Mangkya dalajatingpraja”. Kinten-kula leres “dalajat”, amargi darajat ateges : ngalamat.

(2) Woten serat “Kalatida” ingkang ing pada 1 garis 5-6-7 punika mungel : “ponang parameng kawi, kawilet ing tyas malat-kung, kongas kasudranira”.

(3) Serat “Kalatida” seratan tangan kagunganipun R.Ng. Dwijawiyata, pensiunan Kepala Sinder pamulangan ing Ngayogyakarta, wonten 13 pada. Inggih punika : saderengipun mungel “Mangkya darajating praja” mungel makaten :

Wahyaning arda rubeda | ki pujangga amengeti | mesu cipta mati raga | medar warananing gaib | ananira sakalir | ruweding sarwa tumuwuh | wiwaling kang warana | dadi badaling Hyang Widi | amedarken pari-bawaning bawana.

Miturut keterangan ingkang kagungan, serat “Kalitida” 13 pada wau ugi sampun nate kaecap ing Surakarta, panjenenganipun asli nurun ingkang sampun cap-capan wau.

(4) Sadaya serat “Kalitida” ing pada pungkasan garis pungkasan, mungel : borong angga suwarga mesi martaya, punika mesi sandi-asmanipun ingkang mangripta (R.Ng. Ranggawarsita).

WEWAHAN :

Woten serat nama “Kalabrasta” nanging dereng nate kawedalaken warni serat mirungan, nalika ± taun 1910 nate kaewratwoten ing ari-warti “Darma Kanda” Surakarta, ± taun1930 nate kaewrat wonten ing ari warti :Sedya Tama” Ngayogyakarta. Ing jaman merdika punika nate kawedalaken awor serat-aerat jangka sanesipun, dados sabuku. Tuwin nate kaewrat wonten ing kala warti “Panyebar Semangat” Surabaya.

Serat “Kalabrasta” punika sekaripun Sinom kados “Kalatida” katahipun inggih 12 pada kados “Kalatida”. Bokmanawi ingkang ngripta dereng nate mrangguli “Kalatida ingkang 13 pada. Dene suraosipun angosok-wangsul serat Kalatida. Ing pada pungkasan mungel makaten :

Ilang kasmalaning nusa | yen minum tirta martani | warsitaning Kalabrasta | sirna sagunging prihatin | pan ing mangkya wus wanci | pambudi kamulyan umum | aywa katungkul pada | ambudi ajining diri | kang amangun dwijaning atmaja tama.

Ing garis pungkasan “kang amangun dwijaning atmaja tama” punika mesi sandi asmaning pangarangipun, inggih punika saderek Mangunatmaja, tilas lurah ing Karangwungu, bawah kabupaten Klaten, panuntunipun paguron “Sarekat Abangan”, kasebut ing serat “Falsafah Sitijenar” wedalan Kulawarga Bratakesawa.

Dados pangarangipun serat “Kalabrasta” punika priyantun jaman sapunika kemawon. Suraosipun : manawi para saderek Jawi sami kersa necep kawruh Sarekat Abangan (+minum tirta martani) bade sirna sadaya prihatos lan bebendu ing tanah Jawi punika. Para necep kawruh wau sinebut atmaja tama. Makaten punika panganggep lan pangajapipun sang dwija ingkang yasa serat “Kalabrasta” kala taun…… ± 1910.

@@@

III. SABDA TAMA

G A M B U H

Rasaning tyas kayungyun | angayomi lukitaning gambuh | nyambi-wara kalawan eninging ati | katenta kudu pitutur | sumingkir ing reh tyas mirong.
Den samya amituhu | ing sajroning jaman Kala-bendu | yogya sami nyunyuda ardaning ati | kang nuntun mring pakewuh | uwohing panggawe awon.
Ngajapa tyas rahayu | ngayomana sasameng tumuwuh | wahanane ngendhak angkara klindhih | ngendhangken pakarti dudu | dinuwa luwar tibeng doh.
Beda kang ngaji mumpung | nir waspada rubedane tutut | akinthilan tan anggop anggung tut-wuri | korup sinerung ing agoroh.
Ilang budayanipun | tanpa bayu weyane ngalumpuk | sakciptaning wardaya ambabayani | ubayane nora payu | kari ketaman pakewoh.
Rong asta wus katekuk | kari ura-ura kang pakantuk | dandanggula lagu palaran sayekti | ngluluri para leluhur | abot ing sihing swami karo.
Galap gangsuling tembung | Ki Pujangga panggupitanipun | rangu-rangu pamanguning reh harjanti | tinanggap prana tumambuh | katenta nawung prihatos.
Wartine para jamhur | pamawasing warsita tanpa wus | wahanane jaman owah angowahi | yeku sangsaya pakewuh | ewuh-aya kang linakon.
Sidining Kala-bendu | saya ndadra ardaning tyas limut | nora kena sinirep limpating budi | lamun durung mangsanipun | malah sumuke angrandon.
Tatanane tumruntun | panutaning tyas angkara antuk | kala-desa wenganing karsa kaeksi | limut kalimput angawut | mawut sangyaning dumados.
Ing antara sapangu | pangungaking kahanan wus mirut | morat-marit panguripane sesami | sirna katentremanipun | wong udrasa sa-nggon-enggon.
Kemat isarat lebur | bubur tanpa daya kabarubuh | paribasan tidhem tandhaning dumadi | begjane ula dahulu | cangkem silite anyaplok.
nDungkari gunung-gunung | kang geneng-geneng padha jinugrug | parandene tan ana kang nanggulangi | wedi kalamun sinembur | upase lir wedang umob.
Kalonganing kaluwung | prabanira kuning abang biru | sumurupa iku mung soroting warih | wawarahe para Rasul | dudu jatining Hyang Manon.
Supaya pada emut | amawasa benjang jroning taun | windu kuning kono ana wewe putih | gagamane tebu wulung | arsa angrebaseng wedhon.
Rasane wes karasuk | kesuk lawan kala mangsanipun | kawisesa kawasanira Hyang Widhi | wahyaning wahyu tumelung | tulus tan kena tinegor.
Karkating tyas katuju | jibar-jibur adus banyu wayu |yuwanane turun-temurun tan enting | liyan praja samya sayuk |keringan saenggon-enggon.
Tatune kabeh tuntunm | lelarane waluya sadarum | tyas prihatin ginantyan suka mepeki | wong ngantuk anemu kathuk | jro mesi dinar sabokor.
Amung padha tinumpuk | nora ana rusuh colong jupuk | raja kaya cinancangan aneng njawi | tan ana nganggo tinunggu | parandene tan cinolong.
Diraning durta katut | anglakoni ing panggawe runtut | tyase katrem kayoman ayuning budi | budyarja marjayeng limut | amawas pangesthi awon.
Ninggal pakarti dudu | kadarpaning parentah ginugu | mring pakaryan saregep temen nastiti | ngisor dhuwur tyase jumbuh | tan ana waon winaon.
Ngratani sapraja agung | keh sarjana sujana ing kewuh | nora kewran ing wicara agal alit | pulih duk jaman rumuhun | tyase teteg teguh tanggon.
CENTANGAN :

(1) Serat “Sabda Tama” sekar Gambuh 22 pada ing nginggil punika wau mesi sandi asmanipun ingkang iyasa, manggon wonten ing wiwitaning pada, mungel : “Raden Ngabehi Ranggawarsita ing Kedung Kol Surakarta-Adiningrat”

(2) Sandi-asma punika pancenipun kenging kangge titikan ingkang permati, nanging emanipun katah sandi asma ingkang gadungan. Boten kirang-kirang serat waosan tembang ingkang wonten sandi asmanipun Ranggawarsitan ananging sanes iyasanipun R.Ng. Ranggawarsita.

Ugi woten “jangka” sekar Gambuh 5 pada mawi sandi asma Ranggawarsitan gadungan, nate kaewrat wonten ing ari warti “Darma Kanda” ing Surakarta taun 1900 langkung welasan, ungelipun makaten :

Rong netra wus tumlakup | merem dipet ngatas mring Hyang Agung | nyuwun uning wahananira ing wuri | byar sumilak katon lugu | bakal ananing lalakon.
Galagate ing pungkur | wahanane jaman saya kisruh | akeh laku kang sungsang bawana balik | wanodya yun ngarah luhur | temah priyane keh asor.
Warnanen tyasing kakung | keh amirib pra wadon satuhu | cupar memet wetuning butuh tinliti | wit samar paparingipun | Hyang Suksma yen tan dumawoh.
Singlaring tyas puniku | nyudakaken tumuruning wahyu | sirna gempang pangandele mring Hyang Widhi | marma jagade barubuh | keh laku ingkang mbesejol.
Tatas katresnanipun | wonge cilik mring bangsa ngaluhur | wit kang ngembat praja yekti kurang adil | akeh raja tinarungku | ngono karsane Hyang Manon.
Makaten ungeling “jangka” wau. Miturt kasumerepan kula, ingkang andamel : salah satunggaling guru Sekolah Rakyat, asli Surakarta.

Wusana nyumanggakaken.

@@@

IV. SABDO JATI

M E G A T R U H

Hawya pegat ngudiya ronging budyayu | margane suka basuki | dimen luwar kang kinayun | kalising panggawe sisip | ingkang taberi prihatos.
Ulatna kang nganti bisane kepangguh | galedehan kang sayekti | talitinen awya kleru | larasen sajroning ati | den tumanggap dimen manggon.
Pamanggone aneng pangesti rahayu | angayomi ing tyas wening | eninging ati kang suwung | nanging sejatining isi | isine cipta kang yektos.
Lakonana klawan sabar ing kalbu | yen obah-obah niniwasi | kasusupan setan gundhul | ambebedung nggawa kandhi | isine rupiah kethon.
Lamun nganti korup mring panggawe dudu | dadi pakuwoning iblis | mlebu ing alam pakewuh | ewuh pananinging ati | temah wuru kabesturon.
Nora kengguh mring pamardi reh budyayu | ayuning tyas sipat kuping | kinepung panggawe rusuh | lali pasihaning Gusti | ginuntingan kaya mranos.
Parandene kabeh kang samya andulu | ulap kalilipen wedhi | akeh wong kang padha sujud | kinira yen Jabarail | kautus dening Hyang Manon.
Yeng kang uning marang sejatining kawruh | kewuhan sajroning ati | yen tan niru nora arus | uripe kaesi-esi | yen niruwa dadi asor.
Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung | anggelar sakalir-kalir | kalamun temen tinemu | kabegjane anekani | kamurahaning Hyang Manon.
Anuhoni kabeh kang duwe panuwun | yen temen-temen sayekti | Allah aparing pitulung | nora kurang sandhang bukti | saciptanira kelakon.
Ki Pujangga nyambi wara weh pitutur | saka mangunahing Widi | ambuka warananipun | aling-aling kang ngalingi | anglingkap temah katon.
Para jalma sajroning jaman pakewuh | kasudranira andadi | dahurune saya ndarung | keh tyas mirong murang margi | kasetyan wus nora katon.
Katuwane winawas dahat matrenyuh | kenyaming sasmita yekti | sanityaseng tyas malat-kung | kongas welase kepati | sulaking jaman prihatos.
Waluyane mbenjang lamun ana wiku | mumuji ngesthi sawiji | sabuk lebu lir majenun | galibedan tudang tuding | anacahken sakehing wong.
Iku lagi sirep jaman Kala-bendu | kala-suba kang gumanti | wong cilik bisa gumuyu | nora kurang sandhang bukti | sedyane kabeh kelakon.
Pandulune Ki Pujangga durung kemput | mulur lir benang tinarik | nanging kaserang ing umur | andungkap kasidan jati | mulih sajatining enggon.
Amung kurang wolung ari kang kadulu | emating pati patitis | wus katon neng lokil makpul | angumpul ing madya ari | amerengi ri Budha Pon.
Tanggal kaping lima antaraning luhur | sela-ning tahun jimakir | talu uma aryang jagur | sengara winduning pati | netepi ngumpul sak enggon.
Cinitra ri Budha kaping wolulikur | sawal ing tahun jimakir | candraning warsa pinetung | sembah mukswa pejangga ji | Ki Pujangga pamit layon.
CENTANGAN (mirsani kaca 25)

Manawi kula kapareng matur bares, sayaktosipun kula dereng yakin manawi serat “Sabda Jati” punika hiyasanipun swargi R.Ng. Ranggawarsita, amargi miturut pangenyam-kula : beda kaliyan serat-serat sanesipun hiyasanipun swargi wau. Kinten kula “Sabda Jati” punika damelipun saderek ingkang mewahi “Kalatida” dados 13 pada (mirsani kaca 14), sedyanipun ngluhuraken Ki Pujangga, dipun gambar-0gambar anggenipun saged miyak warana tuwin lepas pandulunipun “mulur lir benang tinari”. Punapa inggih tampi ilham punika kados makaten gambaranipun?

Dene titikan ingkang gampil kita raosaken, inggih punika bab pamasanging sandi asma ing pada wiwitan, garis 1,2,4,5, punika boten manut patokan. Ingkang sampun-sampun, manawi Ki Pujangga masang sandi asma sapada boten wonten ing wiwitaning garis punika, amesti dawah pedotaning wirama :

Aywa pegat ngudiya ronging baudyayu, manawi manut patokan umpamnipun : aywa mirong ngudiya marang budyayu;

Marganing suka basuki, manawi patokan umpananipun : den wrin marganing basuki;

Dimen luwar kang kinayun, sampun leres.

Kalis ing panggawe sisip, manawi miturut patokan upamanipun : ulah brata myang prihatos.

Ananging sarehning para sarjana sujana sami kagungan panganggep, bilih “Sabda Jati” punika karanganipun swargi, malah pada 14 punika kadamel rerenggan banciking reca Ranggawarsita ing museum Sriwedari Surakarta, jalaran ungel-ungelan “galibedan tudang-tuding, anacahken sakebhing wong” punika kaangep pralambangipun pemilihan umum, kula inggih namung nyumanggakaken.

@@@

V. KALA-TIDA PININGIT

S I N O M

Sinom susulan wirayat | Kala-tida kang piningit | calon kang gumantya nata | maksih sinengker Hyang Widi | ing ura-uru mbenjing | kang sumela dadya ratu | turune ping sadasa | nutuigaken wibawa mukti | pangarange Dyah Behi Ranggawarsita.
Duk kalanira angarang | wonten Landi sing Ustenril | Wenen nenggih kutanira | mlancong mring nagari Jawai | cekak minggah mring wukir | nyuwun premisi Sang Prabu | ningali kawahira | pucaking ardi Merapi | wangsulira pun tuwan asung carita.
Dateng nJeng Gusti kaping pat | enget kula sangkalani | gusti mbenjing ngesti nata | critane kang ardi mbenjing | kobong wit saking agni | slira catur ngesti ratu | pecahing ardi sigar | Yogya Kedu risak sami | yen ing Sala risake mung sawatara.
Nulya nJeng Gusti kaping pat | pangandikanira aris | dumateng Ranggawarsita | dulunen telenging ati | eningna aja gingsir | samdika umatur nuhun | Radyan Ranggawarsita | panca-driya kang kaesti | sapandurat tan antara ntuk wewengan.
Umatur leres pun tuwan mbenjing kalamun marengi | bade pecahing kang arga | lindu rambah kaping katri | punika pan sayekti | kapara dados susungut | kirang pitung ri dina | pitulas dinten marengi | pitulikur punika sampun pungkasan.
Derenging ambles kang arga | model sakit kang nganehi | mung sakedap nuli sirna | ing tanah Jawi meh wrdin | Sala Yogya akeni | lamine amung tri tengsu | wirayate wong wignya | nuju Panjengengan Aji | ping sadasa Nata krama ing Ngyogya.
Pra pangreh ing Surakarta | katah sumelang ing galih | wasana ngupaya mayar | angesti angga pribadi | kirang dwi warsa mbenjing | kalawan pecahing gunung | yen wus praptaning jangka | pecahing ardi Merapai | njeblos mawut sumebar ya banjir lahar.
Yogya karatone ilang | pecahing ardi Merapi | tirta ndut Sala lan Yogya | pisan tan anunggali siti | tengahing ardi dadi | kali agung anjogipun | samodra ingkang wetan | kilen Praja risak sami | ing Madura meg gatuk lan Surabaya.
nJeng Gusti malih ngandika | payo pada den-titeni | pinengetan mbok-manawa | anak putu amenangi | sandika Dyan Ngabehi | ing mbenjing sarenginipun | lawan ardi ing Clacap | ambles sareng ardi Merapi | rawa Pening kabeh kaurugan brama.
Risak tanah kilen Praja | katah jalma ingkang mati | antara mung panca dina | kobong ingkang para ardi | Gupermen anulungi | lawan praja liyanipun | durung kobong kang arga | lindu sadina kaping tri | jamanira sapungkure Jayabaya.
Meksih ratu ping sadasa | iku ingkang amandiri | praja di ing Surakarta | yen wirayat saking Jawi | taun Be ing wingking V sangkalanira pinetung V netra ngesti raja V ing Mangkunagaran mbenjing V kasusahan tan suwe antuk ngapura.
CENTANGAN :

Mirsani centanganipun serat “Wedatama Piningit” ing kaca 34-35-36.

@@@

VI. WEDA-TAMA PININGIT

PANGKUR

Sekar Pangkur pari purna | amedaraken weda-tama (kang) piningit | mirib jangkaning pra jamhur | jamane Jayabaya | iku mbenjang kang jumeneng madeg ratu | maksih putra ping sadasa | ingkang ngrenggani praja di.
Ingkang nutugna wibawa | wus ndilallah karsane Kang Luwih | bareng lan jaman dahuru | keh janma nandang susah | wit kawrattan pranatanireng praja | larang boga miwah sandang | katah kang nandang kaswasih.
Ya ta wonten resi Landa | asalira saking praja Ustentrik | Wanen kita krajanipun | mlancong mring tanah Jawa | sapraptanya nyuwun premisi Sang Prabu | sedya minggah mring aldaka | pucaking wukir Merapi.
Arsa amriksani kawah | dupi sampun terang anggenya ningali | wangsul sowan mring Sang Prabu | prelu atur uninga | praja tanah Jawa mbenjang risakipun | jalaran saking aldaka | wukir Mearapi kang mesti.
Dupi ingkang arga sigar | apan dadi kali Tanggung raneki | njog samodra ingkang kidul | Sang Nata dupi wus trang | sasmitaning dwija Landa gya dadawuh | dumateng Ranggawarsita | lan Gusti Mangkunagari.
Lah ta wa Ranggawarsita | apa nyata tuture swija Landi | Ranggawarsita amesu | ngeningaken panca-driya | anunuwun marang Iangkang Maha Luhur | katrima antuk wewengan | wus luwar saking samadi.
Glis munjuk mring Sri Pamasa | nggih leres aturipun resi Landi | mbenjing bade pecahipun | saderenge arga sigar | mawi gara-gara kalangkung gengipun | lindu sadinten ping tiga | kapareng dados miwiti.
Duk samana sami terang | resi Landa gya pamit mring Sang Aji | amundur pan nedya wangsul | mring Wanen kita raja | nanging mampir redi Clacap ciptanipun | kapriksa sawise terang | bareng bres lang gunung Merapi.
Duk samana sinengkalan | esti catur sabdanireng narpati | dene mbenjing pecahipun | Merapi ponang arga | wulan Sura taun Be sengkalanipun | wsti catur asta nata | Sang Nata ngandika aris.
Payo pada tinitenan | mbok-manawa anak putu menangi | Nata ping sanga ngadatun | kondur (nJeng) Mangkunagara | Raden Ranggawarsita nderek tut pungkur | mring dalem Mangkunagaran | anjujug ing ujung puri.
Nutugna wirayatira | lawan Ranggawarsita Dyan Ngabehi | priye dadine ing mbesuk | matur Ranggawarsita | apan sampun pinasti karseng Hyang Agung | risakipun Surakarta | karatin mbenjing ngalih.
Kacarita wetang bengawan | pan ing wana Ketangga dunung-neki | mangsuli wirayat wau | bade pecah kang arga | apan tirta amili campur lan endut | yogya karaton ilang | tuwin Kedu risak sami.
Rawa Pening ing mBarawa | mubal geni katah jalma ngemasi | kilen praja ugi katut | katah jalma pralaya | nanging, jaman punika mbenjing panuju | Si Narendra ping sadasa | ingkang ngrenggani praja di.
Yen wirayat saking Jawa | dupi woten penyakit nganeh-anehi | lamine tri wulan iku | wrata satanah jawa| pra kawula katah susah manahipun | kataman duhkitaning tyas | bareng lan mangsa paceklik.
Tuwin panjenengan Nata | ping sadasa krama putri linuwih | ngupaya lajering wahyu | daup putri Ngayogya | pun punika timbul lajering karatun | ing tanah Jawa wus sirna | surem sunaring praja di.
Sengkalanira ingetang | netra nenem Narendra nitih esti | neng Gusti ngandika arum | lah kang Ranggawarsita | payo pada pinengetan jroning kalbu | wisiking propesor Landa | kalawan wisiking Jawi.
Apa cocog apa ora | nanging ingsun lan sira pasti tan wrin | marma kawrta ing sastra yu | dimen putra wayah | ingkang mesti bisa menangi sastra wruh | jaman ingkang wus kawedar | supaya dadi pepeling.
Ilang kuwunging nagara | ingkang mengku praja ing wuri mbenjing | ugi anandang wulangun | ananging datan lama | antuk supangatira saking Hyang Agung | risakipun babar pisan | ing Surakarta praja di.
nJeng Gusti malih dawuhnya | marang Ranggawarsita Dyan Ngabehi | lah tutugna wirayatmu | kang kaweca ing jangka | Raden Ranggawarsita alon turipun | yen ing praja tanah Jawa | mulyane kalamun mbenjing.
Jumeneng Narendra | kaping kalih welas ingkang mandiri | bilih Nata ping sapuluh | ngalamat praja rengka | wit candrane narendra si Kala-mrecu | patihe Kala-wasesa |Kala-tida jamaneki.
Wong agung remen mbebahak | marang raja brananira wongcilik | ilang labeting budyayu | kisruh adiling Nata | pra kawula katah kang nandang margiyuh | kawrattan kang sapu-denda | kenging pajeg rupi kalih.
Katah gelaring kawula | kumpul-kumpul ting galubrag ting kacemil | pan wis ilang kemilipun | wit kapidih pranatan | ingkang ngasta pangadilan kwasa ngukum | wis pasrah mring seje bangsa | pan wis makaten kang jangji.
Ing tanah Jawa ketaman | ingkang ngasta nyakra (mang)gilingan (ra)neki | rikala kala jaman rumuhun | swarga eyang paduka | tabe-tabe nJeng Sinuwun Sultan Agung | ketaman pranatanira | Juru-taman kang sayekti.
Puniku pinanggihira | ngantos mbenjing dumugi Nata kaping | sawelas Kangjeng Sinuwun | punika sadaya wrat | pra kawula katah susah manahipun | ananging punika jaman | mung sakedap meh ngengkoki.
Wangsule wahyu Nurbuwah | mulih mulya praja ing tanah Jawi | namung wus pindah kadatun | ing Surakarta risak | apan dadya wana tuwin dados dusun | santun praja ing Ketangga | Nata kalih wlas mandiri.
Pulih gemah sarta harja | tata tentrem suka manahe tyang alit | sirna kang samya laku dur | murah sandang lan pangan | wit wong agung asih mring kawulanipun | gung paring dana tan kendat | murah pajegireng siti.
Sajung pajege satengah | tanpa uba-rampe lan biwit-biwit (?)| sirna ingkang raja pundut | tuwin pra luhur Jawa | pisah nggone saudara lan guprenur | kabeh ingkang bangsa sabrang | samya mulih sirna gusis.
CENTANGAN :

Serat “Kala-tida Piningit” punika anggen kula manggih wonten ing lacinipun redaksi ari warti “Sedya Tama” Ngayogya, kala taun 1930, awor naskah warni-warni ingkang dipun pekir. Wujudipun inggih cekak namung 11 pada sekar Sinan punika.

Dene serat “Weda-tama Piningit” punika anggen kula nurun kangunganipun R. Dibyaharjiya ing Ngayogya, kala taun 1951, seratan latin tik-tikan. Panjenganipun nurun saking pundi, kulo boten nyuwun katrangan, ananging kula saged nginten-inten : asal usulipun saking “Wedda-tama Piningit” aksara Jawi cap-capan. Amargi kala taun ± 1940 kula sampun nate sumerep serat wau ingkang cap-capan kadasaraken wonten sangajengipun Hotel Pasar Pon Surakarta, ananging kula boten nyatitekaken sinten Penerbitipun, kaecap ing pundi, taun pinten ngecapipun.

Serat warni kalih punika wau kula katutaken wonten ing serat “Jangka Ranggawarsitan” amargi wonten ing serat-serat ngriku ugi kasebutaken makaten. Ananging sinten kemawon saged mastani bilih serat-serat wau sanes yasanipun swargi Ranggawarsita. Kirang langkungipun wicalan wanda sekar, ingkang kula sukani tanda, saged dipun awadakane bokmanawi saking lepatipun nurun, ananging miturut pangenyam kula wonten titikanipun makaten :

Pangarangipun dereng kulina ngarang, kacihna wadag wadehing damelanipun.
Pangarangipun boten katah kawruhipun, kacihna anggenipun mastani tiyang Ustentrik : Landi, tuwin gadah panginten bilih Clacap utawi Tlacap (Kt.Pin. pada 9, Wt.Pin. pada 8) wonten redinipun latu. Bokmanawi ingkang dipun kajengaken punika redi Krakatau.
Pun pangarang kirang mangretos kraton Sala, kacihna anggenipun nyebut lan ngrumpaka imbal sabdanipun S.D.I.S. Kangjeng Susuhunan, K.G.P.A.A. Mangkunagara, tuwin R.Ng. Ranggawarsita : boten kantenan.
Pun pangarang gesang salebetipun abad 20 Masehi, kacihna ing Kt.Pin. wonten tembungipun : permisi, model, gipermen (pada 2-6-10); ing Wt.Pin. wonten tembungipun premisi, penyakit, propesor, guprenur (pada 3-14-16-27).
Miturut keterangan kula, sumiyaripun “jangka” punika wau anyarengi sumiyaripun pawartos bilih S.D.I.S. Kangjeng Susuhunan PB X bade daup akaliyan putri dalem S.D.I.S. Kangjeng Sultan HB VII. Pun pangarang ngenta-enta sinten ingkang bade jumeneng PB XI benjing, tuwin ngenta-enta lalampahan manawi pikraman wau saestu kalampahan, ingkang sajakipun pun pangarang boten nyuwaweni. Dene daup dalem PB X akaliyan putri dalem HB VII ingkang lajeng kajumenengaken G.K.R. Emas punika saestu kalaksanan nalika 17 Besar Jimawal 1845 (29-10-‘ 15).

Panginten kula Kt. Pin. punika wedalipun ngrumiyini, lajeng dipun monceraken dening pangarangipun Wt. Pin. mawi kaewahan lan kawewahan miturut sakajengipun piyambak, kados ta :

(1). Kt. Pin. “kali agung” (pada 9) = lepen ageng, ing Wt. Pin. ewah dados “kali Tanggung ranireki” (pada 5) = lepen anama Tanggung.

(2). Kt. Pin. “netra nem ngesti raja” (pada 11) = taun Jawi 1862, ing Wt. Pin. Ewah dados “netra nenem narendra nitih esti” (pada 16) = taun …….(?).

(3). Kt. Pin. Nyariyosaken datengipunsarjana Ustenrik punika kala jamanipun P.B. IX, M.N. IV lan Ranggawarsitan, kala taun Jawi “benjing gusti ngesti nata” (pada 3) = taun ……. (?); sarjana wau ameca panjeblugipun redi Merapi ing taun Jawi “slira catur ngesti ratu” (pada 3) = tahun 1848; ananging manawi miturut wirayat Jawi panjeblugipun ing taun Jawi “netra nem ngesti raja” (pada 3) = taun 1862, pinuju krama dalem P.B. X daup putri Ngayogya. Dene ing Wt. Pin. kacariyosaken bilih datengipun sarjana Ustenrik punika ing taun Jawi “esti catur sabdanireng narpati” (pada 9) = taun 1748, panjeblugipun redi Merapi ing taun Jawi “esti catur asta nata” (pada 9) = taun 1848, manawi miturut wirayat Jawi ing taun Jawi “netra nenem narendra nitih esti” (pada 16) = taun …… (?), ugi wekdal krama dalem P.B. X daup putri Ngayogya. Centangan : Kala taun Jawi 1748 punika dereng jaman P.B. IX, M.N. IV lan Ranggawarsitan, inggih punika jaman P.B. V, M.N. II lan Yasadipura I-II.

(4). Taun Ebe (Be) ingkang kasebut ing Kt. Pin. pada 11 punika sampun terang lepat panuruhipun, leresipun Eje (Je). Dene tembung “kilen praja” (Kt. Pin pada 8 , Wt. Pin pada 13) punika bokmanawi rumiyin mungel “kilen Praga”.

Wusana nyumanggakanen.

KIRIMAN “ALANG_ALANG KUMITIR “

KODE ETIK GURU DAN KARYAWAN

PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMP N 2 SRAGI
Alamat : Jl. Kalijambe-SragiTelp. (0285) 4476161 Kab. Pekalongan 51155

11 ( SEBELAS ) KODE ETIK GURU DAN KARYAWAN
TAHUN PELAJARAN 2012/2013

1. Guru dan karyawan diharapkan tiba di sekolah paling lambat 5 menit sebelum bel mulai pelajaran dimulai
2. Pada setiap hari kerja, guru dan karyawan diharapkan berpakaian seragam lengkap dengan atributnya, sesuai aturan yang digariskan pemerintah serta sekolah
3. Guru dan karyawan diharapkan membiasakan diri bersalaman dengan rekan lain pada waktu bertemu atau akan berpisah
4. Seluruh guru dan karyawan harus menghormati rekan yang lain, baik dalam bentuk sikap maupun pembicaraan
5. Selama interaksi, setiap permasalahan yang timbul antara sesama rekan kerja, sebaiknya diselesaikan dengan cara kekeluargaan
6. Guru dan karyawan adalah sebuah keluarga. Dilarang membicarakan kejelekan keluarga sendiri
7. Jika ada rekan yang sakit atau mempunyai hajat, rekan yang lain wajib memberikan perhatian baik dalam bentuk kunjungan atau bentuk lain.
8. Sesama guru dan karayawan harus saling mengingatkan jika menjumpai rekan lain yang dipandang melakukan sesuatu yang melangggar norma agama, sosial, adat, atau hukum
9. Cara mengingatkan haruslah tetap mempertimbangkan azas kesopanan dan kepatutan.
10. Setiap kebijaksanaan sekolah hendaknya dilakukan secara musyawarah, dengan tak lupa memperhatikan setiap dampak yang bakal timbul
11. Semua kebijaksanaan yang dikeluarkan sekolah adalah kebijaksanaan bersama. Jika ada yang kurang berkenan, sebaiknya didiskusikan langsung dengan pimpinan, dan tidak disebarluaskan ke pihak di luar sekolah.

Sragi, 14 Juli 2012
Kepala Sekolah,

Bangkit Riyowanto, S.Pd
NIP. 196405201989021001

APRESIASI

Sepuluh Pengertian Apresiasi dari Berbagai Referensi

1. Pengertian apresiasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penilaian baik; penghargaan; misalnya –terhadap karya-karya sastra ataupun karya seni.

2. Apresiasi berasal dari bahasa Inggris, appreciation yang berarti penghargaan yang positif. Sedangkan pengertian apresiasi adalah kegiatan mengenali, menilai, dan menghargai bobot seni atau nilai seni. Biasanya apresiasi berupa hal yang positif tetapi juga bisa yang negatif. Sasaran utama dalam kegiatan apresiasi adalah nilai suatu karya seni. Secara umum kritik berarti mengamati, membandingkan, dan mempertimbangkan. Tetapi dalam memberikan apresiasi, tidak boleh mendasarkan pada suatu ikatan teman atau pemaksaan. Pemberian apresiasi harus dengan setulus hati dan menurut penilaian aspek umum.

Dari pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa apresiasi positif dapat diberikan kepada seseorang, atau beberapa individu atau sebuah kelompok yang melakukan karya positif dengan suatu hal yang positif juga, atau sebaliknya.

http://hilman2008.wordpress.com/2009/06/19/apresiasi/

3. Pengertian apresiasi secara umum adalah suatu penghargaan atau penilaian terhadap suatu karya tertentu. Biasanya apresiasi berupa hal yang positif tetapi juga bisa yang negatif. Apresiasi dibagi menjadi tiga, yakni kritik, pujian, dan saran. Sementara itu, orang yang ahli dalam bidang apresiasi secara umum adalah seorang kolektor atau pencinta suatu seni pada umumnya. Tetapi dalam memberikan apresiasi, tidak boleh mendasarkan pada suatu ikatan teman atau pemaksaan. Pemberian apresiasi harus dengan setulus hati dan menurut penilaian aspek umum.
-http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081204221626AAdJoV5-

4. Pengertian apresiasi adalah 1. kesadaran terhadap nilai seni dan budaya; 2. penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu; 3. kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang itu bertambah;
ber•a•pre•si•a•si v mempunyai apresiasi; ada apresiasi;
meng•ap•re•si•a•si v melakukan pengamatan, penilaian, dan penghargaan (misalnya terhadap sebuah karya seni)
-http://www.artikata.com/arti-319466-apresiasi.html-

5. Apresiasi berasal dari bahasa Inggris “appreciation” yang berarti penghargaan, penilaian, pengertian, bentuk ituberasal dari kata kedua “to aprreciate” yang berarti menghargai, menilai, mengerti. Apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin, dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. (Aminuddin, 1987).

6. Secara makna leksikal, apresiasi (appreciation) mengacu pada pengertian pemahaman dan pengenalan yang tepat, pertimbangan, penilaian, dan pernyataan yang memberikan penilaian (Hornby dalam Sayuti, 1985:2002).

7. Apresiasi merupakan kegiatan mengakrabi karya sastra secara bersungguh-sungguh. Sehubungan dengan itu, apresiasi memerlukan kesungguhan penikmat sastra dalam mengenali, menghargai, dan menghayati, sehingga ditemukan penjiwaan yang benar-benar dalam (Elliyati, 2004)

8. Apresiasi adalah menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra (Effendi, 1973).

9. Apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaaan atau kepekaaan batin, dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang (Aminuddin, 1987).

10. Secara leksikografis, kata apresiasi berasal dari bahasa Inggris appreciation, yang berasal dari kata kerja to apreciate, yang menurut kamus Oxford berarti to judge value of understand or enjoyfully in the right way; dan menurut kamus Webstern adalah to estimate the quality of to estimate rightly to be sensitevely aware of. Jadi secara umum mengapresiasi adalah mengerti serta menyadari sepenuhnya, sehingga mampu menilai secara semestinya.
Dalam kaitannya dengan kesenian, apresiai berarti kegiatan mengartikan dan menyadari sepenuhnya seluk beluk karya seni serta menjadi sensitif terhadap gejala estetis dan artistik sehingga mampu menikmati dan manilai karya tersebut secara semestinya. Dalam mengapresiai, seorang penghayat sedang mencari pengalam estetis. Sehingga motivasi yang muncul adalah motivasi pengalaman estetis. Pengalaman estetis menurut Albert R. Candler adalah kepuasan kontemplatif atau kepuasan intuitif.
- http://tjahjo-prabowo.staff.fkip.uns.ac.id/apresiasi-seni/-

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.